
Jeanno terbangun ketika sinar mentari menelusup dari balik jendela, membuatnya menyernyit silau. Tangan satunya meraih kompresan yang nyaris terjatuh, kemudian ia periksa dahinya yang ternyata suhu tubuhnya sudah normal. Lelaki itu tersenyum, lantas menoleh kesamping, mendapati tangannya terasa hangat yang rupanya masih bertautan dengan jemari Judith. Gadis itu masih tertidur dalam posisi duduk beralaskan karpet.
Jeanno tersenyum. Teringat bagaimana Judith merawatnya semalam. Ia memang jarang sakit karena dirinya tau jika ia sakit, maka tak akan ada yang mengurusnya. Bisa saja Mark, tapi Jeanno sudah terlalu sering merepotkannya. Dan mengetahui bahwa semalam ada Judith yang merawatnya dengan telaten, hatinya menghangat. Sudah lama Jeanno tidak merasakan perhatian seseorang. Karena sejauh yang ia ingat, dirinyalah yang lihai merawat orang sakit, yaitu mendiang Nayara.
Pelan-pelan, dilepaskannya tangan mereka. Jeanno mengubah posisi menjadi duduk untuk kemudian bangkit dan mengangkat tubuh Judith dengan hati-hati. Dibaringkan ke ranjangnya. Jeanno tidak tau Judith tidur jam berapa, tapi sepertinya lelapnya pulas sekali. Dan tentu saja tertidur dalam posisi seperti tadi bukanlah posisi yang enak.
“Terimakasih banyak, Judith”
Jeanno melihat jam, sudah sedikit terlambat dari jam berangkatnya. Tapi tak apa, sudah bagus ia sembuh. Tanpa membuang waktu, segera ia bersiap setelah menyelimuti Judith.
**
Judith terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul 9 lebih. Membuatnya kalang-kabut karena ia terlambat mengantar Aera sekolah, untunglah detik berikutnya ia teringat Aera berangkat dan diantar dari tempat Tyona.
Ketika bangun tadi, Judith terheran karena dirinya sudah tak dalam posisi semalam. Pun tubuhnya sudah terbaring berbalut selimut di ranjang Jeanno tanpa ada tanda-tanda kehadiran si empunya kamar. Barulah ketika membuka ponsel, Judith baru menyadari ada pesan dari Jeanno yang dikirim sekitar satu jam yang lalu.
Tuan Jeanno A.– Busy
Suhu tubuhku sudah turun.
Aku berangkat bekerja seperti biasa, terimakasih.
Oh, aku sudah memesan sarapan, jangan lupa dimakan.
Dengan segera Judith bangkit, tak lupa merapikan kembali ranjang tidur Jeanno. Lalu dengan langkah tergesa ia menuruni satu demi satu anak tangga menuju meja makan. Benar saja, disana sudah tertata rapi omelet, nasi goreng, dan segelas susu yang nampak menggiurkan untuk disantap.
Jika semalam Judith terlelap dengan senyuman, kali ini ia terbangunpun dengan senyuman.
**
Kesibukan demi kesibukan dijalani para lakon disini hingga tak terasa sudah dipenghujung minggu. Gosip di rumah sakit masih santer terdengar, bertambah parah ketika mereka yang bergunjing jarang mendapati kesempatan Tyona dan Jeffrey bersama seperti dulu. Ditambah wajah lesu Tyona dan raut murung Jeffrey. Namun bagi mereka yang berada di pihak netral, jarangnya terlihat momen dua dokter itu tak lain karena kesibukan terutama dari sisi Tyona yang memang departemen pediatri terkenal akan padatnya.
Hannah, sejak pertemuan di hotel Jills, mendapatkan instruksi dari Louis untuk melakukan hal yang sama seperti kali terakhir mereka bertemu. Yaitu menari tanpa pakaian. Dalam jangka waktu itupun Louis sama sekali tak menyentuhnya. Membuat Hannah setidaknya lega, walaupun ia harus memutus urat malunya. Setidaknya apa yang seharusnya ia jaga masih menjadi miliknya sendiri. Belum tersentuh siapapun.
Persiapan acara dari Iris Group sudah selesai. Acara peresmian cabang baru yang dibuka di Singapora itu mengundang banyak tamu penting mulai dari pejabat, pers, rekan perusahaan bonafit yang pernah menjalin kerjasama yang baik dengan Iris Group. Acara tersebut diselenggaran di Ballroom Iris Hotel, yang juga merupakan anak perusahaan Iris. Jeanno melirik kearah langit sore yang mendung. Sepertinya akan hujan malam. Beberapa kali kilat menyambar mendahului tetesan hujan. Ia harus bergegas sebelum hujan turun.
__ADS_1
“Nora, apa paketnya sudah dikirimkan ke rumah?”
Sekretarisnya mengangguk sopan. “Sudah, tuan. Sudah diterima oleh Nyonya Alexander”
“Bagus. Kau bisa pulang jika pekerjaanmu sudah selesai. Selamat akhir pekan, Nora”
Nora membungkuk sekilas. “Terimakasih banyak, tuan Jeanno”
Setelah sekretarisnya undur diri, Jeanno meraih ponsel untuk mendial nomor Ibu.
“Halo, Ibu? Ya, bagaimana Aera? Ah sedang bersama paman Sebastian rupanya. Iya, acaranya jam 7 malam, ini aku masih di kantor. Terimakasih sudah mengijinkanku menitipkan Aera lagi”
“Ya, besok akan kujemput pagi. Ibu tinggal menelpon saja jika Aera sudah siap. Ya, sampai jumpa, Bu”
Jeanno memutus sambungan telponnya kepada Ibunda Mark. Kemudian beralih ke kontak lain untuk ditelponnya.
“Halo, kau sudah terima paketnya? Ya, pakai itu untuk acara. Aku lupa mengatakan kalau dresscodenya hitam, jadi kupikir lebih baik aku membelikanmu gaun supaya kau tidak bingung harus memakai apa”
“Aku? masih di kantor. Mungkin setengah jam lagi sampai rumah. Kau siap-siap saja dulu”
“Ya, sampai jumpa”
Di rumah, Judith yang baru selesai mandi membuka kotak paket yang dikirim supir Jeanno. Paket yang berisi gaun hitam berlabel butik ternama. Gaun dengan model off shoulder dengan aksen renda yang melingkari dadanya, memperlihatkan tulang selangka dan pundak. Gaun yang bagian bawahnya berbahan satin jatuh dengan potongan ala mermaid yang memperlihatkan lekuk pinggang rampingnya. Judith sungguh tak sabar memakai pakaian itu!
Dan benar saja seperti yang ada dalam bayangannya. Gaun itu begitu pas membalut tubuhnya. Terlihat sederhana, namun elegan dan mewah secara bersamaan. Judith tersenyum lebar, tidak sabar ingin menunjukkannya kepada Jeanno. Ia lantas melirik jam, lima belas menit berlalu sementara Jeanno bilang setengah jam lagi sampai. Berarti masih ada sisa waktu untuknya merias wajah.
Benar saja, lima belas menit kemudian, terdengar suara pintu rumah yang terbuka dibarengi dengan langkah kaki yang melewati kamarnya. Sepertinya Jeanno akan bersiap-siap dulu sebelum menemuinya. Baguslah jika seperti itu, karena Judith sendiri belum selesai merias wajah. Riasannya ia hapus beberapa kali, merasa jika ada yang kurang. Entah blush-on yang menurutnya terlalu merah, atau alis yang tidak simetris. Atau warna lipstrik yang terlalu tebal.
Judith tidak mau tau, malam ini harus sempurna dalam segala aspek, termasuk riasannya!
**
“Kau sudah siap, sayang?”
Winona mengangkat wajahnya, mendapati sang suami sudah siap dengan tux yang membalutnya sempurna. Ia mengangguk. “Sudah. Bagaimana penampilanku?”
__ADS_1
Arman tersenyum. Memperhatikan sang istri dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Cantik, seperti biasa. Ah, kau tidak tau bagaimana bangganya aku memiliki istri sepertimu”
“Sepertiku atau seperti Paula Winona?”
“Winona dan Paula Winona yang aktris itu sama saja bagiku. Kau tetap wanita yang kucintai sejak awal kita bersama”
Winona memasang wajah masam. “Sayang sekali, padahal aku menyukaimu sejak awal perkenalan kita”
“Tapi siapa yang menyatakan cinta lebih dulu, dan sempat menolak, hm?”
Winona terkekeh, tak bisa dicegah untuk mencubit lengan suaminya. “Itu karena imejmu dulu sebagai pemain wanita. Tentu saja aku harus menjaga diriku sendiri supaya tidak disakiti. Sudah, jangan bergurau terus. Ayo berangkat, sebelum ayah nanti mengomel”
Arman mengangguk lesu. “Kenapa pula aku yang harus mewakili Lou Group? Biasanya ayah yang datang”
“Jawabannya hanya satu, karena kau, Arman Mahendra Lousandri adalah penerus utama Lou Group. Kalau bukan kau yang datang, siapa lagi?”
“Tapi acara seperti itu sangat membosankan. Aku lebih suka menemanimu ke acara penghargaan televisi. Karena disana banyak aktris cantik”
Untuk kedua kalinya, Winona mencubit lengan suaminya. Kali ini tanpa ampun hingga Arman mengaduh kesakitan.
**
Seperti dejavu ketika mereka hendak makan malam bersama Tyona dulu, kali inipun Jeanno masih sama terpesonanya. Bedanya gaun yang melekat di tubuh Judith adalah gaun pilihannya. Rasa puasnya berkali lipat, melihat bagaimana cantiknya gaun itu membungkus Judith dengan pas. Gadis itu cantik, sangat cantik seperti biasa. Namun satu hal yang mengganjal, rambut coklatnya masih tergerai seperti belum ditata.
“Rambutmu..?”
Judith meringis. “Maaf tuan, aku bingung dengan tatanan rambutku. Eum.. menurut tuan, lebih baik diikat atau digerai?”
“Menurutku lebih cantik jika digerai. Aku suka jika rambutmu jatuh”
Mengabaikan rona hangat di pipinya, Judith mengangguk sambil mengisyaratkan Jeanno untuk menunggu sebentar sementara dirinya menata rambut. Pintu kamarnya ia biarkan terbuka lebar, membuat Jeanno bisa melihat kondisi kamar yang ditinggali perempuan itu.
Rapi, batinnya. Ada plushie berbentuk anjing laut berukuran sedang yang berada di tengah kasur. Menggemaskan.
“Apa begini sudah rapi?”
__ADS_1
Judith kembali sepuluh menit kemudian dengan rambut yang tergerai, namun ia ambil ujung kanan kiri rambutnya untuk diikat ke belakang, membuat telinganya sekilas terlihat. Jeanno mengangguk lugas.
“Sempurna”