
aku sempat mengunjungi abyan di rumah sakit beberapa kali, setelah aku memompa ASI ku dan mengirimnya ke rumah sakit tapi saat itu aku berinisiatif untuk terus mengunjunginya bersama mas bram.
aku melihat abyan begitu lahap saat minum ASI, bahkan berat tubuh abyan mulai terlihat naik yang awalnya hanya 1300 gram sekarang menjadi 1500 gram dan sedikit berisi.
setup kali aku melihat abyan, aku selalu menangis dan sedih karena dia harus di rawat secara intensif Tampa aku bisa menyentuhnya langsung.
mas bram terus menguatkan ku agar aku bisa bersabar dan terus memberikan dukungan pada abyan.
"jangan menangis di depan abyan sayang, kalau dia lihat kamu nanti bakalan sedih juga. kamu harus terlihat ceria dan bersemangat, agar abyan bisa cepat membaik dan bisa pulang bersama kita". ucap mas bram.
ucapan mas bram memberikan ku sedikit kekuatan karena aku tahu,bukan hanya aku yang merasa sedih tapi mas bram juga merasakan hal yang sama dengan ku.
***
seminggu kemudian ....
"sayang, kamu ikut ke rumah sakit hari ini?". tanya mas bram.
"gak mas, hari ini aku merasa lemas dan gak enak badan. kamu aja ya yang jenguk abyan dan sekalian bawakan ASI yang sudah aku pompa di Kulkas". jawab ku.
"iya sayang, kamu istirahat aja di rumah ya".
aku dan mas bram turun ke lantai bawah untuk sarapan bareng. seperti biasa ibu yang masih menemaniku telah membuatkan sarapan pagi untuk kami.
"pagi bu". ucapku.
"pagi juga sayang". jawab ibu yang tengah sibuk menyiapkan sarapan.
"bunda". teriak alisya yang lari ke meja makan .
"anak bunda udah siap-siap pergi sekolah ya". aku mencium kening alisya.
"alisya pergi sekolahnya bareng papa aja ya". ucap mas bram.
"iya pa". alisya langsung menyetujuinya.
"nah, ini sarapan dulu nanti keburu dingin nasi gorengnya". ucap ibu.
"terima kasih bu". jawab mas bram.
"kamu harus makan yang banyak karin, lihat tubuh kamu jadi kurus begitu". ibu mengambilkan sarapan untukku.
"iya bu, ibu juga harus makan banyak". jawabku.
setelah selesai sarapan, mas bram dan alisya berpamitan untuk pergi ke kantor dan sekolah .
"sini peluk bunda dulu sayang".
"bunda jangan sedih-sedih lagi ya". ucap alisya sambil memelukku.
"iya sayang".
"aku berangkat dulu ya sayang". mas bram mengecup keningku.
"bye bye bunda". alisya melambaikan tangannya.
"hati-hati di jalan sayang". aku juga melambaikan tanganku pada alisya.
aku masuk ke dalam rumah dan membantu ibu untuk membereskan rumah.
"non istirahat saja, biar bibi yang cuci piringnya". bi nina melihatku mengumpulkan piring kotor dari meja makan.
"gak apa bi".
bi nina menghampiri ku dan mengambil piring kotor dari tanganku.
"udah non istirahat saja".
"iyaa karin, biar mama dan bi nina saja yang beresi rumah". ucap ibu.
karena ibu dan bi nina melarangku untuk membantu mereka, akhirnya aku duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.
tak lama kemudian ibu datang dan membawakan ku segelas teh manis hangat beserta kudapan manis.
"kenapa ibu repot-repot sih". ucapku.
"kamu itu harus banyak makan yang manis, biar ada energinya". jawab ibu sambil tersenyum.
"aahh ibu, terima kasih bu". aku langsung menyeruput teh hangatnya.
saat aku ingin meminum teh, tiba-tiba gelasnya terjatuh ke lantai dan tumpah ruah ke seluruh lantai. aku terkejut dan mataku menatap kosong ke arah gelas yang telah hancur.
"karin, ada apa?". ibu berlari ke arah ku saat mendengar pecahan gelas.
"gelasnya terjatuh bu". jawabku
"kamu gak terluka kan". ibu memeriksa tanganku.
"gak bu, aku baik-baik saja". aku langsung bergerak ingin membersihkan pecahan gelas yang berantakan.
"jangan, biar ibu saja yang bersihkan". ibu. menahan tanganku.
anehnya saat gelas terjatuh, aku merasakan hal yang aneh dengan perasaan ku tapi aku tidak bisa mengatakannya.
"ibu, aku masuk ke kamar dulu ya".
"ohh iya, kamu istirahat saja". jawab ibu.
masih dengan pandangan yang kosong dan mencoba memahami perasaan aneh ku, aku melangkah perlahan menaiki satu persatu anak tangga.
sampai di kamar aku merebahkan tubuhku dan mengatur nafas agar perasaan ku terasa nyaman.
tapi tiba-tiba handphone ku berdering dengan nomor yang tidak aku kenal dan aku langsung mengangkatnya.
"hallo". ucapku
__ADS_1
"selamat pagi, apa benar ini ibu karin?".
"iya benar dengan saya sendiri, ada apa ya? ". tanya ku penasaran.
"kami dari rumah sakit Medika bu".
saat mendengar dari rumah sakit, aku langsung tersentak dan terkejut.
"iya, kenapa?".
"maaf ibu, dengan rasa menyesal dan berat hati saya ingin menyampaikan bahwa anak ibu yang bernama abyan baru saja meninggal bu karena mengalami komplikasi pernafasan".
"apa?".
"kami harap ibu dan keluarga segera datang kerumah sakit".
tubuhku terasa bergetar dan pikiran ku kacau seketika, seperti tersambar petir di siang hari. seluruh tubuh ku tidak bisa di gerakkan dan air mataku terus mengalir.
"gak, gak mungkin. mereka bohong, abyan pasti baik-baik saja". aku meracau pada diriku sendiri.
"tidaakkkk.... gak mungkin". aku berteriak sekencang-kencangnya meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya hanya mimpi.
"gak, abyan masih hidup dan kemarin dia baik-baik saja". aku terduduk lemas di lantai kamar.
"karin, ada apa nak". ibu dan bi nina datang ke kamar saat mendengar aku beteriak.
"ibu, katakan kalau semua ini hanya mimpi". aku memeluk ibu.
"ada apa sayang, kenapa kamu menangis dan ceritakan pada ibu".
"abyan bu, mereka bilang abyan udah meninggal. semua itu bohong kan bu, itu gak benar kan bu". aku terus menangis di depan ibu.
ibu dan bi nina terkejut mendengar ucapanku, mereka juga terlihat syok dan tidak percaya apa yang aku katakan.
"siapa yang bilang? apa bram ?". tanya ibu.
"bukan bu, pihak rumah sakit tadi menelpon ku bu". jawab ku dengan terisak-isak.
"bi, bilang sama pak Ahmad siapkan mobil. kita akan kerumah sakit sekarang". ucap ibu.
"baik bu". bi nina langsung pergi mencari pak Ahmad.
"sudah sayang, ayo sekarang kita siap-siap kerumah sakit. ibu akan telpon bram dulu".
saat ibu menelfon mas bram, aku langsung bergegas menganti pakaian ku dan bersiap.
"sudah selesai, ayo kita pergi. ibu sudah kabari bram dan ayah kamu".
aku dan ibu langsung pergi menuju ke rumah sakit, di perjalan aku terus menangis dan gelisah,aku masih tidak percaya dengan semuanya.
"kamu harus sabar dan ikhlas karin". ibu menggenggam tanganku.
***
begitu sampai rumah sakit, aku terus berlari tanpa memikirkan apapun. aku berlari menuju ke ruang anak dimana tempat abyan di rawat.
"karin, pelan-pelan nak". ibu meneriaki ku tapi aku tidak menghiraukan ucapan ibu.
kaki terhenti saat tiba di depan pintu ruangan, aku melangkahkan kakiku perlahan dan menatap ke ranjang di sudut ruangan.
aku melihat seluruh tubuh abyan telah di tutupi oleh kain putih dan tidak terlihat lagi wajah mungilnya.
"a.. abyan". tangan ku gemetar saat menyentuh ranjangnya.
aku perlahan membuka kain putih itu dan melihat wajah pucat abyan tanpa senyum lagi.
"aaghhhh...... gak mungkin, semua ini gak mungkin ini bukan abyan". teriak ku.
"karin, sadar nak. kamu harus ikhlas, sabar sayang". ibu memelukku.
"aku belum sempat untuk menggendongnya bu, kenapa harus secepat ini". ucapku dengan terisak.
"umur kita gak ada yang tau sayang, Mungkin Tuhan lebih sayang dengan abyan, dengan begitu abyan tidak akan merasakan sakit lagi"jawab ibu.
aku terus menagis sejadi-jadinya, hidup ku seketika runtuh dan sebagian jiwa ku terasa hilang.
"sayang". ucap mas bram yang baru tiba di rumah sakit.
"bram, syukur kamu sudah datang". jawab ibu.
aku tidak sadar bahwa mas bram telah tiba, aku terus-menerus menangis tanpa hentinya.
mas bram memelukku dan mengusap air mataku dengan tangannya.
"sudah sayang, kita harus ikhlasin abyan ya. kamu gak boleh nangis lagi, nanti abyan juga ikutan sedih lihat kamu".
"semua salah ku mas, aku tidak bisa menjaga abyan dengan baik". ucapku.
"bukan salah kamu sayang, jangan nyalahkan diri kamu".
"abyan masih hidup kan mas, abyan gak ninggalin kita kan". aku menarik-narik lengan baju mas bram.
mas bram hanya terdiam dan menatap ku dengan wajah sedihnya, mas bran berusaha menenangkan ku yang terus menerus menangis.
"sayang". mas bram memelukku erat dengan kedua tangannya.
pada saat itu juga dokter yang menangani abyan datang dan memberikan penjelasan pada kami.
"maafkan kami ibu bapak. kami sudah berusaha tapi tidak bisa jadi juga untuk menyelamatkan abyan". dokter itu sedikit membungkuk kan tubuhnya atas permintaan maafnya.
"apa yang terjadi sebenarnya dok?". tanya ibu.
"awalnya abyan masih dalam keadaan baik-baik saja tapi setelah dia minum susu, paru-parunya mengalami masalah dan sulit bernafas. setelah kami periksa abyan mengalami kerusakan pada paru-parunya sehingga membuat dia kejang". jawab dokter.
"gak mas, gak mungkin kan ". air mataku terus mengalir tanpa hentinya.
__ADS_1
"baiklah dokter, kami akan mengurus administrasinya dan akan segera memakamkan jenazahnya". ucap ibu pada dokter.
"baik bu".
ibu berjalan mendekati ku dan mas bram
"kamu harus kuat nak, semua ini sudah di tentukan oleh Tuhan".
"kenapa harus sekarang bu, bahkan tanganku belum menyentuhnya".
"iyaa ibu tau sayang". ibu mengusap kepalaku.
"bram, bawa pulang karin. ibu akan selesaikan masalah di sini". ucap ibu pada mas bram.
"baik bu".
dengan langkah tertatih aku berjalan keluar dari ruangan dengan di gandeng oleh mas bram.
bukannya aku tidak terima kenyataan tapi semua ini terlalu cepat bagi ku. kurang dari sebulan aku harus kehilangan abyan yang baru saja aku lahirkan. bahkan tanganku belum sempat menyentuh tubuh mungilnya.
aku merasa seperti kehilangan separuh dari nyawaku, bahkan aku langsung kehilangan tenaga dan seluruh tubuh ku terasa sulit untuk aku gerakkan.
"sayang, harus kuat ya. aku juga seperti kamu, hatiku juga hancur dan sedih". ucap mas bram dengan menggenggam tanganku.
"aku ingin pergi bersama abyan mas". jawabku dengan melamun menatap keluar jendela mobil.
"sayang, kenapa kamu biacara seperti itu. apa kamu tidak memikirkan aku dan alisya". ucap mas bram dengan nada sedikit tinggi.
mungkin ucapan ku sedikit berlebihan tapi itu lah yang aku rasakan, kehilangan anak merupakan kesedihan yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
sesampainya di rumah bi nina menyambutku dengan tangisannya. aku tidak bisa melihat kemanapun, pandangan ku semuanya terasa kosong.
"bunda". ucap alisya yang menatap ku.
"sayang". aku langsung menangis saat mendengar alisya memangilku.
aku memeluk alisya dengan tangisan ku, alisya terlihat memahami apa yang aku alami, dia memelukku dengan eratnya.
"bunda jangan nangis lagi". ucap alisya.
"hmm.. bunda gak akan sedih lagi". jawabku.
hatiku sedikit tenang saat melihat alisya dan memeluknya. aku harus sabar dan kuat agar alisya tidak ikut merasakan kesedihanku.
"bi, tolong jagain alisya ya". ucap mas bram pada bi nina.
"iya tuan".
"sayang, papa antar bunda ke kamar dulu ya".
"iya pa".
***
pemakaman umum....
semua orang termasuk keluarga ku hadir dalam pemakaman abyan. mama dan papa mas bram yang baru tiba dari Singapura juga hadir, serta ayah dan ibu yang menemani di sisiku.
kesedihan berlanjut saat melihat tubuh abyan harus terkubur oleh tanah. kaki ku terasa lemas hingga aku terjatuh ke tanah.
"sayang, kamu baik-baik saja". mas bram dengan tanggap menolongku.
"sabar ya karin, kamu harus tegar". ucap mama.
aku menangis sejadi-jadinya, bahkan aku tidak bisa mendengarkan suara di sekitarku. seluruh tubuhku terasa kebas dan aku menatap makam abyan yang sudah tertimbun tanah.
aku mendekati makam abyan dan memeluknya, aku taburkan bunga dan air di atas makam abyan.
"sudah nak, tidak baik terus-menerus menangis di depan makam". ucap ayah.
"ayo kita pulang". ajak ibu pada ku.
"aku ingin di sini saja bu". jawabku.
"hari sudah sore sayang, ayo kita pulang". mas bram mengangkat tangan ku untuk membantu ku berdiri.
"kasihan abyan mas, dia sendirian". jawab ku.
mas bram terkejut mendengar ucapan ku dan meneteskan air matanya, mas bram memelukku.
dengan berat hati aku meninggalkan makam abyan. mataku terus menatap ke belakang melihat ke arah makam abyan yang masih basah.
****
Rumah...
tiba di rumah semua berkumpul di ruang keluarga, kesedihan masih tampak di wajah mereka. bahkan aku tidak bisa menahan air mataku yang terus mengalir.
aku memandangi foto abyan yang ada di handphone ku, semua tampak seperti mimpi bagiku.
"bram, kamu harus ambil cuti untuk menjaga karin". ucap papa.
"iya pa, aku juga berencana seperti itu". jawab mas bram.
"kamu bawa karin istirahat,agar fikirannya tenang". lanjut mama.
"ayo sayang,kita istirahat". mas bram menggandeng tanganku.
"istirahat ya sayang,jangan nangis lagi". ibu memberikan semangatnya pada ku.
hidup tidak ada yang bisa menebak ataupun menduganya, semua terjadi secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
kapan pun itu kita harus siap dan terima, tapi tidak dengan ku. aku masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa abyan telah meninggalkan ku untuk selamanya.
aku merasa gagal menjadi ibu karena tidak bisa menjaganya dengan baik, bahkan di hari terakhirnya.
__ADS_1