Ibu Pengganti

Ibu Pengganti
Chapter 125. Let The Show Begin


__ADS_3

“Sudah lebih baik?”


Judith menempelkan punggung tangannya ke dahi Jeanno. Pria itu benar-benar keras kepala, ketika badannya sedikit demam ia tetap memaksa untuk berangkat kerja. Syukurlah pulang dari kantor suhu tubuhnya sudah tidak setinggi tadi pagi.


“Sudah mendingan. Masih pusing?”


Jeanno menggeleng. “Tidak terlalu. Aku sudah baik-baik saja. Berkat kau”


Judith tersenyum. “Tapi obatnya tetap harus dihabiskan sesuai anjuran dari dokter”


“Iya, itu pasti”


“Aku akan menelpon Nora untuk memastikan tuan meminum obatnya”


Jeanno sebenarnya ingin mendebat, tapi menyadari jika sudah menyangkut kesehatannya dan Aera, Judith berubah menjadi sosok yang sangat protektif. Percuma saja mendebatnya, ia akan kalah.


“Sudah kan? Sini..” Jeanno menepuk sisian kosong di sampingnya. Mengisyaratkan Judith bahwa dirinya ingin cepat terlelap. Sementara Judith yang sedang menyortir obat-obatan untuk Jeanno supaya lebih mudah, mengangkat wajahnya cemberut.


“Kalau tuan mengantuk, tinggal tidur saja”


“Aku tidak bisa kalau tidak memelukmu”


Judith menggelengkan kepalanya. Jeanno yang sekarang tengah merajuk sungguh berbeda dengan Jeanno yang ia temui kali pertama. Dibalik Jeanno Alexander yang mandiri, tegas, berwibawa dan terkesan dingin, Judith menemukan sisi Jeanno yang lain. Yang tidak akan bisa dilihat oleh sembarang orang. Yaitu Jeanno yang manja.


“Haah susahnya memiliki tuan muda yang manja”


Judith merapikan obat-obatan tersebut, untunglah sudah selesai ia sortir di kotak obat sehingga memudahkan Jeanno meminum sesuai jadwalnya. Menuruti kemauan sang tuan tampan, perempuan itu merebahkan tubuhnya membelakangi Jeanno. Membiarkan dada tegap pria itu menempel pada punggungnya. Tangan Jeanno, seperti biasa, melingkari pinggangnya. Memberikan afeksi kecil berupa usapan lembut di perutnya.


Sebetulnya itu hal biasa, namun situasinya sekarang berbeda. Dirinya tengah mengandung, dan afeksi yang diberikan Jeanno membuat perasaannya menghangat. Perutnya geli, seperti ada banyak kupu-kupu berterbangan disana. Didorong oleh rasa senang yang membuncah, Judith meletakkan tangannya diatas punggung tangan Jeanno. Bersama ia mengikuti gerakan tangan pria itu mengusap perutnya.


Dari sisi Jeanno, entah sejak kapan kebiasaan tidur memeluk Judith dimulai. Yang jelas kebiasaan baru itu membuat kualitas tidurnya membaik, menurutnya. Walau ia pulang larut, dan tidur menjelang dini hari, namun esoknya ia tetap segar. Yang bagi Jeanno itu menguntungkan karena fokusnya terjaga. Entah bagi Judith, perempuan itu nampak tidak keberatan. Juga ketika kontak fisik mereka melewati batas. Tidak tahu anggapan Judith terhadapnya seperti apa, tapi yang Jeanno sadari bahwa dirinya nyaman bersama dengan perempuan ini.


**


D-day.




Nayara terlalu bersemangat hari ini sehingga tidak sadar sedari tadi ia bersenandung. Ia sudah ijin dengan Martha untuk pulang lebih awal. Bagaimanapun ini hari istimewa Jeanno, jadi Nayara merasa harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya supaya tidak penampilannya tidak mengecewakan.*

__ADS_1



Gadis itu membuka lemari, memilih satu dari sedikit pakaiannya yang paling bagus, menurutnya. Ada satu terusan berwarna merah bata, yang pernah diberikan oleh Jeanno beberapa waktu lalu yang tentu saja belum sempat Nayara kenakan karena menurutnya dress itu terlalu indah untuk sekedar dipakai sehari-hari.*



‘Mungkin ini saat yang tepat’ batinnya.*



Potongan dress itu sangat pas untuk Nayara. Anggun namun sederhana dan sopan. Dirinya bersyukur ia tidak menolak pemberian Jeanno yang satu ini, karena jika tidak, yang Nayara miliki hanya terusan lusuh yang ia pakai sehari-hari.*



Rambut sepinggangnya ia sisir rapi dan ia ikatkan dua sisi rambutnya ke belakang, menampakkan telinganya. Sementara sisa rambutnya ia gerai begitu saja, seperti yang pernah Jeanno katakan bahwa ia sangat menyukai jika Nayara menggerai rambutnya.*



Sekali lagi gadis manis itu bercermin. Menilik dari ujung rambut hingga ujung kaki, kembali keatas. Menimbang apakah penampilannya sudah sempurna atau belum. Dirasa cukup, ia menarik nafas panjang. Bagaimanapun kegugupan itu ada. Bertemu dengan sang kekasih yang sudah berbulan-bulan ‘menghilang’. Tapi Nayara bahagia bukan main, setidaknya ia akan melihat sosok itu langsung, bukan dari balik kaca seperti yang biasa ia dan Mark lakukan.*



Perihal Mark, Nayara merasa bersalah karena menyembunyikan dua hal dari pria baik hati itu. Apartemen dan undangan ulang tahun Jeanno. Mengenai apartemen, Martha sendiri yang meminta Nayara untuk tidak menceritakan kepada siapapun karena ia takut adanya rasa iri antara karyawannya yang lain. Gadis itu menyetujui, menurutnya itu hal yang masuk akal.*




*



Judith terbangun dengan mual hebat seperti kemarin. Membuatnya lari terbirit menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Butuh waktu sepuluh menit sampai Judith yakin bahwa tak ada lagi yang akan keluar dari mulutnya. Setelah itu dirinya kembali ke kamar, nyaris terjungkal begitu mengingat ada Jeanno dikamarnya. Untunglah pria itu masih terlelap seperti bayi walau tadi Judith menyingkap tangannya lumayan keras.


Perempuan itu melirik jam, pukul lima dini hari. Ia masih mengantuk, namun jika harus tidur lagi pasti nanti bangun-bangun akan mual lagi. Jadi Judith putuskan untuk mandi dan ke dapur, membuatkan sarapan untuk Jeanno dan Aera.


Sebelum turun, Judith membetulkan letak selimut Jeanno sekaligus memeriksa suhu tubuh pria itu. Sudah normal, syukurlah.


“Kau seperti bayi besar jika sedang manja. Kau tau itu, tuan?” Judith terkekeh lirih. “Jangan sakit lagi. Aku sedih jika kau sakit”


Judith menunduk, memberanikan diri untuk mengecup kening Jeanno. Yang dibawah memberikan reaksi berupa kerutan di dahinya, namun setelah itu kembali pulas. Mirip seperti Aera ketika Judith mengecup kening si kecil.

__ADS_1


“Dua minggu lagi. Setelah itu aku akan kehilangan semuanya”


Judith menggelengkan kepala. Mengusir pikiran sedih akan masa kontraknya yang sebentar lagi berakhir. Tidak, ini bukan waktunya untuk bersedih. Jika dua minggu adalah saat terakhirnya, maka Judith akan menjalaninya dengan penuh kebahagiaan. Karena saat terakhir yang berharga akan ia simpan selamanya sebagai memori, gambaran akan keluarga kecil yang harmonis.


Tidak seperti keluarganya dulu.


**


Nayara masih berdiri mematung di pintu Ballroom. Menyaksikan banyaknya orang berlalu-lalang memasuki tempat itu dengan pakaian yang luar biasa indahnya. Nayara bergidik membayangkan berapa total nominal yang melekat pada orang-orang kaya ini dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membuatnya sedikit ciut. Kepercayaan diri yang menemaninya sejak tadi menguap entah kemana.




Ia takut. Nayara takut. Tidak ada satupun yang dikenalnya. Mereka hanya melihatnya aneh, seakan-akan dirinya tamu ‘gelap’ yang datang tanpa diundang. Nayara sempat berpikir untuk pulang saja, tapi sedetik kemudian ia menolak ide dari otaknya. Ini adalah kesempatannya bertemu dengan Jeanno dan bicara mengenai kejelasan hubungan mereka. Ia tak ingin menyia-nyiakan momen ini. Lagipula ayah Jeanno sendiri yang mengundangnya. Akan sangat tidak sopan jika ia memilih untuk tidak datang.*



“Nona Nayara?”*



Nayara kembali pada kesadarannya ketika seorang lelaki berseragam rapi menghampirinya. “Ya?”*



“Tuan Alexander meminta anda untuk masuk. Acara akan segera dimulai”*



Gadis itu tergagap, benar. Sekelilingnya sudah tak ada lagi tamu yang masuk. Menyisakan hanya ia sendiri yang masih terpaku di pintu. “O-oh, maafkan aku. Terimakasih sudah mengingatkan”




Lelaki itu mengangguk sopan, kemudian menghela Nayara untuk memasuki Ballroom.*



*

__ADS_1



__ADS_2