
Tak pernah terpikirkan dalam benak Tyona sebelumnya bahwa akan ada saat dimana ia mengekori kemana Jeffrey pergi. Sekarang ia harus mengendap-ngendap mengikuti kemana arah mobil suaminya pergi, di dalam taksi yang sudah ia pesan satu hari sebelumnya.
Perkataan Kiran tempo hari, seperti tamparan yang membawa kesadaran Tyona bahwa pernikahannya memang sedang tidak baik-baik saja. Selama ini ia menyangkal, menganggap pertengkarannya dengan Jeffrey akhir-akhir ini hanyalah salah paham yang normal terjadi.
Sekarang Tyona tidak ingin menjalani hari dalam prasangka ataupun sangkalan. Ia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika memang Jeffrey berkhianat. Apapun hasilnya, akan ia terima sekalipun sakit. Sekali lagi, bukankah lebih baik mengetahui satu fakta menyakitkan dibanding hidup berbalut seribu manisnya kebohongan?
Tadi siang, Jeff mengatakan ia akan berkunjung ke rumah mamanya. Tyona hanya mengiyakan, dan berkata bahwa ia ada jadwal jaga malam. Tentu saja ia berbohong, beruntung Jeff tidak bertanya macam-macam.
Benar saja, mobil Jeffrey tidak mengarah ke rumah mertuanya, melainkan memasuki area kompleks perumahan sebelum berhenti di depan salah satu rumah. Taksi yang ditumpangi Tyona berhenti dengan jarak dua rumah, berharap itu tak mengundang kecurigaan Jeffrey.
Tak berselang lama, seorang perempuan muda keluar dari rumah itu dan menyambut Jeffrey. Menyambut disini bukan hanya tersenyum manis, namun juga memeluknya. Jeffrey, membalas pelukan tersebut kemudian mengecup kening wanita tersebut.
Seakan tak cukup menyakitkan, Jeffrey menunduk, mengusap perut lawannya lembut sembari bercakap seakan mengajak bicara.
Cukup, Tyona sudah tidak sanggup lagi.
“Tolong putar balik taksinya” ucapnya dengan suara bergetar.
**
Judith sedang menemani Aera bersepeda mengelilingi taman kota ketika netranya menangkap sosok tak asing yang menduduki salah satu bangku. Wanita itu duduk membelakanginya namun dari figurnya, ia tau bahwa sosok itu adalah orang yang ia kenal.
“Aera, bukankah itu Mommy Anna?”
Aera menghentikan sepedanya. “Oia Mommy Anna. Ayo kita kesana, Mama”
“Mommy!”
Ketika panggilan tersebut diucapkan oleh suara yang tak asing, sosok itu menoleh. Memang betul ia adalah Tyona. Namun ekspresinya tak seperti biasa. Tak ada aura ramah atau bahagia seperti biasanya, matanya sembab dan sendu, hidungnya memerah dan ada bekas airmata yang belum mengering sempurna di pipinya.
“A-aera?” Tyona membalas pelukan Aera yang langsung menghambur kepadanya. Ia bertukar pandang dengan Judith yang nampaknya mengerti bahwa ada yang tak beres dengan dokter itu.
“Mommy sedang apa disini?”
Judith mendekat, menyentuh pundak Aera. “Sayang, boleh Mama minta waktu untuk bicara berdua dengan Mommy Anna? Aera tunggu di kedai es krim bersama Paman Pram, mau?”
__ADS_1
Aera mengangguk tanpa membantah, setelah Judith mengkonfirmasi kepada Pak Pram alias supir Jeanno, pria mengantar serta menunggui Aera di kedai es krim seberang jalan.
Usai kepergian Aera, Judith mengambil tempat di samping Tyona. “Boleh aku duduk disini, dokter?”
Tyona mengangguk lemah. Pandangannya menatap lurus kedepan.
“Dokter… sedang tidak baik-baik saja, ya?”
Semula Judith ingin bertanya bagaimana kabar Tyona, namun siapapun yang melihat rupa wanita itu pasti akan menyadari bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
Tyona tersenyum hambar. “Terlihat ya?”
“Aku ada disini, jika dokter berkenan untuk membagi beban dokter denganku. Aku akan jadi pendengar disini. Tapi jika dokter ingin sendiri, aku bisa per—“
“Suamiku berselingkuh, Judith”
Binar bening itu membulat. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Tyona, namun terlalu kelu lidahnya untuk merespon.
“Suamiku, pria yang kukenal belasan tahun. Yang bersamaku sejak kami masih belum jadi siapa-siapa. Yang mengucap janji suci padaku, telah berkhianat. Sekarang aku harus bagaimana..”
Tyona mengucapkan isi hatinya dengan nada yang biasa, namun airmata tak berhenti mengalir dari sepasang mata indahnya.
Pundak Tyona bergetar seiring dengan isakannya yang dalam. Judith menggeser duduknya lebih dekat, menepuk lembut punggung tangan Tyona. Ia tak merespon apapun, karena Judith yakin yang Tyona butuhkan sekarang hanyalah pendengar.
“Aku seperti orang bodoh. Berjuang sendiri bagaimana supaya bisa hamil, menyalahkan diriku yang tak bisa memberikan keturunan untuk suamiku. Tak tahu jika diluar sana, suamiku sedang bahagia mengusap perut wanita lain yang sedang mengandung benihnya. Apa aku tidak seberharga itu, Judith?”
Tangan Judith terulur merangkul pundak Tyona, memeluknya erat. Wanita itu menangis di pundaknya, isakan yang pecah hingga pundaknya tersengguk. Tak pernah Judith bayangkan jika Tyona, wanita yang ia pandang dengan segala kesempurnaannya, ternyata menyimpan luka yang disebabkan oleh orang tercintanya.
Well, bukankah dirinya juga sama? terluka oleh orang yang ia cintai? Terluka dengan cara yang berbeda.
**
“Kenapa melamun?”
Judith mengangkat pandangannya dari piring kearah Jeanno yang baru saja selesai makan. “Ya?”
__ADS_1
“Aku bertanya kenapa kau melamun. Makananmu juga tidak dihabiskan. Apa kau sakit?”
Judith menggeleng, memilih untuk melahap makanan hasil masakannya sendiri. Pikirannya masih terfokus pada pertemuan singkatnya dengan Tyona sore tadi. Wanita itu menghabiskan banyak waktu untuk menangis di pelukannya. Sampai ia harus minta maaf berkali-kali karena telah membasahi baju Judith dan membuang waktunya untuk mendengarkan curhatannya. Tapi tentu saja, Judith berkata tidak masalah. Justru menawarkan bantuan jika Tyona membutuhkan teman, atau pendengar.
“Aera bilang tadi kalian bertemu dengan Anna di taman”
“Ya, kami bertemu dengan dokter Tyona”
Jeanno menandaskan airputih di gelasnya. “Apa dia baik-baik saja?”
“Maksud tuan?”
“Tidak, hanya saja aku jarang melihatnya memposting foto bersama suaminya. Sudah lama sekali sejak yang terakhir kali”
Judith berdehem. “Tuan kenal dekat dengan suaminya?”
“Tidak” Jeanno menggeleng. “Faktanya, aku merasa seperti suaminya tidak terlalu menyukaiku”
“Kenapa bisa begitu?”
Pandangan Jeanno mengawang. “Ada dua kemungkinan. Dia cemburu karena aku dan Tyona berteman dekat, atau dia tidak suka Tyona terlalu perhatian dengan Aera”
“Apa salahnya jika dokter Tyona memberikan perhatian kepada Aera? Bukankah itu sama halnya seperti Mark memberikan perhatian kepada keponakannya?”
Jeanno tersenyum tipis. “Tidak sesederhana itu, Judith. Tyona dan suaminya sudah menikah lebih dari lima tahun, tapi belum dikaruniai anak. Dari yang aku tangkap dari Tyona, kurasa pihak yang selalu bersemangat untuk berusaha memiliki keturunan hanya dari pihak Anna. Jadi mungkin suaminya tidak ingin punya anak, atau tidak suka anak kecil. Dan dengan Tyona yang sering membawa Aera menginap, bisa jadi Jeffrey beranggapan kalau istrinya mengurusi anak orang lain”
Judith menghentikan gerakan tangannya menyuap ketika satu nama dilontarkan Jeanno. “Tuan bilang siapa?”
“Jeffrey. Suami Tyona. Dia dokter spesialis kejiwaan yang juga bekerja disatu rumah sakit dengan Tyona”
Seperti layaknya momen flashback, memori dalam otak Judith memutar rangkaian demi rangkaian yang ternyata saling terhubung satu sama lain. Menarik kesimpulan bahwa ternyata..
Kekasih Renatta adalah suami orang, lelaki yang merupakan psikiater di Pelita yang juga dokter yang sama yang menangani traumanya beberapa tahun yang lalu. Psikiater bernama Jeffrey Geraldo.
Tyona yang menangisi kenyataan bahwa suaminya telah menghamili selingkuhannya. Menarik kesimpulan bahwa..
__ADS_1
Renatta adalah orang ketiga dalam pernikahan Tyona dan Jeffrey.
**