
Telah siap dibalik pintu, Judith mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki. Menghitung sekon demi sekon hingga tiba saatnya penjemputan. Memasrahkan apapun yang terjadi pada kuasa takdir, karena pada dasarnya Judith sudah lelah secara lahir dan batin. Tapi ia belum ingin menyerah. Kata mereka, badai hanya akan melanda sementara waktu. Ia percaya, masih ada setitik pelangi untuknya. Walau tak tahu kapan datangnya.
Judith meraih ponsel yang ia matikan sejak semalam. Beberapa notifikasi muncul, ada dari Mark, Hannah, juga ada dari Bibi Maria. Tak ada niatan untuk membalas, karena Judith tahu hatinya akan semakin berat jika berhubungan lagi dengan mereka.
Jemarinya menggeser menu galeri, memandangi foto-foto yang sempat diambil pada masa yang indah. Fotonya dengan Aera, juga Jeanno. Rasanya kala itu ia begitu tinggi, begitu sombong. Seolah kebahagiaan tepat berada di depan matanya. Benar kata orang-orang, tidak baik bahagia terlalu dalam.
“Selamat tinggal, semua”
Judith tidak pergi selamanya. Hanya sementara. Jika vonisnya sudah keluar, maka ia akan jalani dibalik jeruji dengan kelapangan hati. Badai pasti berlalu, kan? Setelah itu Judith berjanji pada dirinya sendiri ia akan menjadi pribadi yang lebih baik.
Atensinya kembali pada ponsel dikala benda pipih itu berkedip, menampilkan sebuah notifikasi. Judith memeriksanya, mengira itu dari Mark atau Hannah. Namun dugaannya salah, karena nama Jeanno terpampang disana. Membuat jantungnya berdegup cepat, apakah ini saatnya ia dijemput?
Dengan jari gemetar, Judith memutuskan untuk membuka pesan yang baru masuk.
Tuan Jeanno – busy
Aku kembalikan uang yang sudah kau berikan, uang itu milikmu. Aku tidak berhak mengambilnya kembali. Kau bisa hidup dengan tenang sekarang, Judith.
Aku melepaskanmu..*
-Jeanno-*
Bersamaan dengan datangnya notifikasi berupa sms banking mengenai pemberitahuan masuknya sejumlah uang yang ia berikan kepada Jeanno dulu. Tanpa dikurangi nominalnya. Jeanno benar-benar membuktikan perkataan yang ia tulis dipesannya barusan.
Lega, seakan beban yang menumpuk di pundaknya telah menguap, Judith ambruk. Ia bersyukur, tak hentinya mengucap syukur karena kemurahan hati Jeanno yang mau melepaskannya. Tangisnya pecah, hingga berubah menjadi senggukan yang memilukan. Baru semalam ia merasa ingin mati saja. Tapi pagi ini, entah keajaiban apa yang mampu meluluhkan kerasnya seorang Jeanno Alexander.
__ADS_1
Judith, perempuan itu pada akhirnya jatuh tertidur usai kelelahan menangis.
**
Tiga bulan telah berlalu.
Ada banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu tersebut. Diantaranya perdamaian antara Mark dan Jeanno, walau pria itu harus mendapatkan tamparan keras dari Hannah sebagai balasan karena telah menyakiti sahabatnya, namun Jeanno menerima. Sesungguhnya tamparan hanyalah secuil hukuman kecil baginya, karena yang ia lakukan kepada Judith jauh lebih kejam.
Judith, perempuan itu memutuskan untuk pindah dari apartemen yang ia tempati dulu bersama kawan-kawannya. Memilih untuk menata kembali hidupnya, Judith pindah ke sisi lain ikut kota yang jaraknya lumayan jauh. Berbekal uang yang dikembalikan Jeanno, Judith menggunakannya untuk membuka toko kue sederhana. Berharap kesibukannya mampu membuatnya lupa akan perasaan yang masih ada disana. Judith ingin memadamkannya, tapi masih belum menemukan bagaimana caranya.
Kepindahan Judith tak ia beritahu siapapun, bahkan Hannah.
“Aku ingin waktu sebentar untuk diriku sendiri. Semua yang terjadi belakangan ini terkadang masih sulit dicerna olehku, maka dari itu aku ingin menata kembali hidup dan hatiku. Setelah aku lebih baik, aku berjanji kita akan bertemu lagi”
Begitu alasannya. Hannah, sekali lagi menghormati keputusan sang kawan.
Jeanno memutar penanya jenuh. Beban pekerjaannya tidak seberapa, namun entah mengapa kepalanya berat, seperti ada banyak permasalahan yang bergelut disana. Hatinya gundah, kekosongan yang pernah ia alami ketika baru ditinggal mendiang istri. Namun kali ini kehampaan itu sedikit berbeda, ia ingin berteriak, ingin marah, tapi entah kenapa siapa. Sementara Jeanno tidak cukup brengsek untuk melampiaskan amarahnya kepada Nora, atau staff lain yang tidak membuat kesalahan.
“Tuan Jeanno, tuan Mark sudah menunggu”
**
“Hannah.. bagaimana kabarnya?”
Mark menahan senyum. “Baik. Kami baru saja memeriksakan kandungan kemarin, syukurlah bayiku dan ibunya sehat-sehat saja”
“Aku senang mendengarnya. Aera sebentar lagi punya adik”
“Maaf ya sampai saat ini aku belum bisa membujuk Hannah untuk bertemu denganmu. Mungkin karena hormon kehamilan, dia menjadi lebih sensitif”
Ditanggapi dengan anggukan ringan, Jeanno tersenyum tipis. “Aku mengerti, Mark. Jangan memaksa Hannah untuk menerimaku. Terlebih akulah yang membuat sahabatnya pergi menjauh, wajar dia sangat marah”
“Tapi kau memang keterlaluan. Kuakui itu, aku masih sering sebal jika mengingat betapa bajingannya kau”
__ADS_1
“Aku tidak membela diri, memang salahku sepenuhnya”
Mark tidak menanggapi, sampai Jeanno kembali menyambung. “Kau.. sudah mendengar kabar tentangnya?”
“Dia menelpon Hannah setiap hari, Jean. Ketika Aera berada di rumahku pun mereka sering melakukan video call. Kabarnya baik, mungkin dua minggu lagi toko kuenya resmi dibuka”
“Apa…” Jeanno berdehem. “Apa dia terlihat.. sehat?”
Mark mengangguk. “Dari yang kulihat ketika video call dengan Hannah, Judith terlihat lebih baik. Lebih segar dan lebih sehat. Tidak sekurus ketika terakhir aku bertemu dengannya”
Jeanno mengangguk kaku sembari menggumamkan kata ‘syukurlah’ sebelum fokus kepada makanannya yang entah mengapa terasa hambar. Ia senang Judith baik-baik saja. Ia senang perempuan itu bangkit dan menata hidupnya yang telah ia hancurkan.
Tapi mengapa sekarang hatinya yang kosong?
Dari pandangan Mark, Jeanno terlihat menyedihkan. Pria itu bahkan lebih sering tidur di kantor dan menitipkan Aera di rumah orangtuanya. Walau dengan alasan kesibukan kantor, namun Mark paham Jeanno ingin Aera lebih sering melakukan panggilan telpon dengan Judith. Karena Judith hanya mau melakukannya melalui nomor pribadi Maria, bukan langsung menghubungi Jeanno.
Perempuan itu menjauhinya, Jeanno paham dan mengerti alasannya. Akan sangat melewati batas jika Jeanno mencegah Judith untuk tidak pergi setelah apa yang terjadi diantara mereka beberapa bulan lalu. Belajar menerima keadaan, Jeanno menjalani harinya penuh dengan kegelisahan yang ia sendiri terlalu bodoh untuk mengetahuinya.
“Kau mencintainya?”
“Ya?”
Mark menaruh peralatan makannya untuk memberikan atensi sepenuhnya kepada Jeanno. “Judith. Apa kau mencintainya?”
Pertanyaan sederhana yang tak pernah dilontarkan oleh siapapun. Lidah Jeanno kelu, kerongkongannya kering dan kepalanya menjadi berat. Pertanyaan Mark sangat sederhana, ia bisa menjawab ‘tidak’ dengan mudah jikalau tak ada perasaan yang menyangkut hati. Tapi mengapa begitu sulit meloloskan kata itu?
Kata ‘tidak’ pada akhirnya digantikan dengan gelengan kepala.
Beruntung, Mark tidak memperpanjang topik ini.
“Tapi aku bersyukur kau tidak membatasi Judith untuk berhubungan dengan Aera. Kau tau kan bagaimana sayangnya mereka satu sama lain”
“Ya, aku tidak akan tega memisahkan putriku dengan Judith. Bagaimanapun ia membantu Aera dalam banyak hal. Justru aku yang berterimakasih karena kebenciannya padaku tidak berimbas pada Aera”
__ADS_1
Mark tersenyum, kali ini senyumnya lebih seperti seringai. “Aku yakin Judith tidak membencimu”
Jeanno tahu. Judith tidak akan pernah membencinya. Padahal menurutnya, jika wanita itu membencinya, hal itu akan mempermudah segalanya. Segalanya yang dimaksud adalah… membantu Jeanno melupakannya.