
Hannah melempar sorot matanya pada pintu yang dibuka secara mendadak oleh Johnny. Ia hanya memandang datar kearah manajernya, kemudian melanjutkan kegiatannya memoles riasan.
“Apa kau lupa cara mengetuk pintu?”
Johnny berdehem. “Maaf”
“Apa lagi sekarang?”
Rasanya Hannah sudah muak dengan perintah Louis yang diamanahkan melalui Johnny. Mengapa pria asing itu tidak mengatakan langsung padanya?
Johnny meletakkan paperbag yang tak perlu Hannah tebak lagi, yang pastinya berisi pakaian laknat yang harus ia kenakan untuk menari di hadapan bosnya.
“Mulai malam ini, kau tidak perlu menari di panggung”
Gerakan tangan Hannah yang mengoles lipgloss, seketika terhenti. “Maksudmu?”
“Mr Louis memerintahkan padaku, untuk menjadikanmu penari khusus untuknya. Dan yang dimaksud khusus adalah, kau hanya boleh menari untuknya. Tidak oleh orang lain, termasuk di panggung yang biasa”
“Tapi apa itu artinya penghasilanku akan dipotong?”
Johnny menggeleng. “Untuk pemasukan, kau tidak perlu cemas. Tidak ada yang berubah, malah mungkin justru penghasilanmu akan bertambah. Terutama jika Mr Louis semakin menyukai tarianmu”
Hannah membuang nafas kasar. Antara senang karena tidak perlu menari di hadapan puluhan pasang mata, tapi juga sedih karena menjadi penari khusus untuk Mr Louis. Yang itu artinya durasi menarinya akan bertambah, dan semakin lama berada di ruangan tertutup dengan pria itu membuatnya takut.
“Dengar, Hannah. Aku tau kau tidak suka dengan situasi seperti ini. Tapi kau harus bertahan sebentar lagi. Sisa hutangmu akan semakin berkurang jika Louis memberimu bonus. Dan jika itu terjadi secara berkala, maka akan semakin cepat kau bebas dari Victoire. Jadi saranku.. lakukan yang terbaik, berikan yang terbaik untuk Mr Louis”
Hannah memandang Johnny, pria jangkung yang sebetulnya memiliki hati baik itu sudah ia anggap seperti kakak lelaki yang tak pernah ia miliki. Namun sejak berada di bawah kungkungan Mr Louis, Johnny menjadi sosok asing yang menyebalkan.
“Apa dia memerintahkanmu untuk melarang Mark masuk?”
“Kurasa kau tau jawabannya”
Hannah mengangguk. “Aku akan berikan yang terbaik, tapi tolong jangan sampai Mark tau. Biar aku yang menceritakan padanya sendiri”
__ADS_1
“Akan kulakukan semampuku. Bergantilah, Hannah. Kau sudah ditunggu”
Johnny keluar meninggalkan Hannah yang telah pasrah. Hannah menutup wajahnya, disaat seperti ini ia merindukan Judith dan Renatta. Jika saja mereka masih ada dan menemaninya seperti dulu, setidaknya ia tak begitu merasa sendiri. Memang benar dirinya sekarang memiliki Mark, dan ia bersyukur setiap hari dicintai oleh pria sebaik Mark. Namun Hannah masih belum siap membuka dirinya, menceritakan setiap detail kehidupannya kepada Mark. Ia takut, takut jika respon yang didapat bukan tanggapan baik. Ia takut jika Mark akan pergi, yang nantinya akan meninggalkannya dalam kesendirian.
**
Jeffrey sudah mendengar gosip itu. Bukan dari perkataan orang lain yang langsung bicara padanya, namun dari hasil curi dengar orang-orang. Jeffrey tidak tau bagaimana awalnya, seketika rumor perselingkuhan antara istrinya dan Darren menyebar luas seantero rumah sakit. Menjadi bahan obrolan hangat antar tenaga medis yang kemudian mereka memandangnya sebagai suami yang tersakiti, sementara mencibir Tyona dan Darren sebagai pengkhianat.
Ia tau semalam Tyona dan Darren memang pulang dan mampir makan bersama, karena istrinya mengirimnya pesan yang tak sempat ia balas. Namun perkara berangkat pagi tadi, ia tak tau sama sekali. Jeffrey tau keduanya dekat, pun tau Darren memiliki perasaan lebih terhadap istrinya. Tapi Jeffrey yakin jika Tyona tak akan berani bermain di belakangnya.
Jeffrey tak bisa menahan senyum, menyadari semua terasa begitu mudah tanpa ia harus repot mengotori tangan. Jika semua pasang mata mengarah kepada Tyona dan Darren, maka ia bisa menjadikan mereka sebagai kambing hitam, sementara ia mencuri waktu bertemu dengan Renatta dan calon bayi mereka.
Lamunan Jeff terusik ketika pintu apartemennya terbuka, menampakkan wajah lelah istrinya yang tengah melepas sepatu. Dirinya memang pulang terlebih dulu, sementara Tyona masih sibuk di poli anak.
“Kau sudah makan? Kalau belum kita pesan saja ya, aku lelah sekali”
Tyona melewati ruang tengah tempat Jeffrey duduk, melihat gelagatnya, Jeffrey jamin Tyona belum mendengar gosip itu. Segera ia bangkit mengikuti sang istri ke kamar mereka.
“Kau pikir aku masih bisa memikirkan makanan setelah mendengar gosip itu?”
“Oh, kau tidak tau? padahal ramai sekali sampai sampai aku mendengarnya. Gosip bahwa kau bermain api dengan Darren di belakangku”
Tyona menggeleng tak acuh. “Gosip murahan macam apa itu”
Jeffrey menyandarkan tubuhnya pada pintu, tangannya terlipat di depan dada. “Kau tadi pagi berangkat dengannya? Kenapa tidak bilang padaku?”
“Aku lupa. Niatku untuk berangkat dengan taksi tapi operatornya sibuk, aku nyaris terlambat jika saja tidak berpapasan dengan Darren”
“Mereka bilang kalian berciuman di mobil Darren”
Kegiatan Tyona yang tengah menaruh aksesorisnya di tempat semula, terhenti. Memandang sang suami dari pantulan kaca meja rias. “Dia hanya membantuku melepas seatbelt. Bagi orang lain mungkin posisi itu terlihat aneh, terlebih jika dilihat melalui angle yang berlawanan”
“Tapi kuperhatikan kalian memang akhir-akhir ini dekat ya?”
__ADS_1
Tyona menghela nafas. “Kita bertiga saling mengenal sejak awal masuk kuliah. Tentu saja aku dekat dengannya, sama seperti aku dekat dengan Jeanno Alexander”
“Haruskah aku percaya padamu, Anna?”
Wanita itu berbalik, melangkah hingga berhadapan dengan Jeffrey. “Bukankah aku yang seharusnya mengatakan hal yang sama padamu, Jeff?”
“Maksudmu?”
“Cincin pernikahan kita, kenapa bisa berada di saku snellimu? Lalu kenapa ada aroma parfum asing disana? Semalam, apa benar kau menginap di rumah mama?”
Rahang Jeffrey mengeras. Ia sungguh lupa memakai kembali cincinnya yang ia lepas ketika mengunjungi Renatta kemarin. “Cincinnya kulepas karena sempat terjatuh sewaktu aku sedang mencuci tangan. Dan parfum yang kau cium adalah parfum pasien remaja yang menangis dipelukanku, dia penderita PTSD”
Tyona membuang muka, menyadari semua jawaban Jeffrey yang tidak masuk akal. Dipikirnya memang ukuran cincin pernikahan mereka tidak pas di jari lelaki itu? bukankah selama ini Jeffrey tidak pernah melepasnya bahkan ketika mandi? Dan mengenai parfum pasien, Tyona mengenal Jeffrey bukan satu atau dua tahun. Ia paham bagaimana suaminya sangat menjaga jarak dengan pasien, apalagi untuk menerima seorang pasien jatuh kedalam dekapannya.
Tyona ingin mendebat, tapi terlalu lelah untuk ia lakukan. Sebagai gantinya, ia ulurkan tangannya membingkai wajah tampan Jeffrey. Mengusap pipinya pelan supaya rahang kerasnya mengendur.
“Jeff, kita.. masih baik-baik saja, kan?”
Mulut Jeffrey terbungkam. Melihat bagaimana wajah cantik itu memandangnya lembut dan tatapan penuh cinta yang tak pernah berubah. Perlahan, tangannya terangkat, meraih jemari Tyona yang membingkai wajahnya. Dikecupnya beberapa kali. Ingin sekali ia mengatakan ‘Ya’. Tapi nyatanya, mereka memang sedang goyah. Rumah yang ia bangun sedang retak pondasinya, yang ironisnya, ia sendirilah yang merusak.
Tyona tersenyum sedih. Membawa bibirnya untuk mengecup ujung bibir sang suami. Hatinya ngilu melihat bagaimana Jeffrey serasa sulit sekali hanya untuk sekedar mengatakan mereka baik-baik saja. Tyona menjauhkan wajahnya, mendapati Jeffrey masih menatapnya dengan pandangan yang tak bisa ia artikan. Seperti ingin memastikan, ia kembali mencium suaminya. Kini ranum merah muda yang ia targetkan. Bibir yang menciumnya ketika mereka selesai mengucap janji suci. Bibir yang selalu ia rindukan, yang entah sekarang masih menjadi miliknya, atau sudah dibagi oleh orang lain.
Tyona bergerak, memancing Jeffrey untuk membalas setiap gerakannya. Namun yang Jeffrey lakukan hanya diam mematung. Membuat Tyona tak ubahnya seperti mencumbu benda mati. Merasa tak diharapkan, Tyona menjauhkan wajahnya.
“Aku mandi dulu, nanti kita makan bersama”
Tyona menjauhkan tubuhnya dan berbalik menuju kamar mandi. Sementara Jeffrey di tempatnya tak kalah kacau. Pikirannya terbagi dan perasaannya gamang. Di tengah kekalutan, ponselnya berbunyi. Menampakkan nama dokter William, yang sengaja ia namai begitu sebagai bentuk samaran akan nomor Renatta.
“Ya?”
“Jeff, aku pendarahan!”
Tak butuh waktu berpikir untuk membuat Jeffrey kalang kabut meraih jaket dan kunci mobilnya, meninggalkan Tyona yang pasti akan kebingungan mencari keberadaannya.
__ADS_1
**