
“Aku akan mengangkatmu, apa tidak apa-apa?”
Judith mengangguk pelan, sedikit gugup akan pengalamannya menaiki kuda. Namun disisi lain tersentuh mendengar nada lembut Jeanno yang meminta ijin padanya. Usai mendapat persetujuan, Jeanno menempatkan kedua tangannya di pinggang Judith dan mengangkatnya perlahan keatas Kobi. Disusul olehnya yang duduk di belakang, seperti ketika bersama Aera tadi.
“Sudah nyaman dengan posisi duduknya?”
Kuduk Judith meremang, suara berat Jeanno begitu dekat dengan telinganya. Sedikit menyamankan posisi, Judith mengangguk. Sementara tangan Jeanno berada di depannya, memegangi tali kendali Kobi.
“Aku jalan pelan, ya?”
Lagi, Judith mengangguk. Jeanno mulai menjalankan Kobi pelan. Namun karena ia membawa Judith yang jelas sudah dewasa, tidak seperti Aera tadi, Jeanno ingin menambah kecepatan sedikit saja. Jadilah ia membawa Kobi berlari, walau tidak dalam kecepatan tinggi. Refleks, Judith memegang lengan Jeanno, merematnya karena ia takut berpegangan pada poni Kobi.
Di belakangnya, Jeanno tertawa kecil. “Maaf, seharusnya aku duduk di depan, bukan malah kau yang di depan”
Jeanno memelankan kembali laju Kobi. Membuat kuda itu berjalan normal seperti semula. Judith menoleh cepat, merengut. “Baru sadar sekarang, huh? Duduk di depan lebih mengerikan. Bagaimana bisa Aera menganggap ini asik”
“Mungkin karena dia putriku pemberani”
Mata Judith memicing. “Aku juga berani. Buktinya aku mau menaiki Kodi”
“Kobi”
Judith mencebik, membuat Jeanno kembali terkekeh. Ia berdehem pelan. “Kau belum menjelaskan maksud ucapanmu semalam”
“Ah itu..” Judith sungguh tak menyangka Jeanno akan menanyakan maksud ucapannya. Ia sendiri merutuki kebodohannya yang asal bicara. Sekarang ia harus menyusun kata-kata untuk memberikan jawaban supaya tidak terjadi salah paham.
“Judith, jawab aku”
“Itu.. maksudku, tuan bisa memelukku jika merindukan Nayara. Bukan karena aku ingin tuan menganggapku Nayara, tapi mungkin saja dengan memeluk sosok yang mirip dengannya, rindu itu bisa sedikit terobati”
“Jadi kau suka kupeluk?”
Sungguh, rona merah itu dengan kurangajar menjalari pipi hingga telinga Judith. Yang tentu saja dapat dilihat dengan jelas oleh Jeanno.
“Aku hanya bisa menjawab pertanyaan tuan yang tadi. Untuk selebihnya, aku tidak ingin menjawab apapun”
Jeanno tersenyum. “Terimakasih untuk penawarannya, Judith”
**
Hannah mengamati punggung lebar Mark yang tengah membelakanginya. Pria itu sedari tadi fokus pada laptop, katanya menyelesaikan pekerjaan. Tumben, karena biasanya hari libur tak pernah Mark lewatkan untuk bergelut pada pekerjaan. Justru akan ia habiskan untuk bermanja padanya.
“Mark”
__ADS_1
“Ya?”
“Mau kubuatkan sesuatu?”
Mark menggeleng tanpa menoleh. “Tidak usah, sayang”
Hannah kembali diam. Memainkan ponsel untuk melihat ada berita apa saja yang sedang ramai di ranah online.
“Hannah”
Gadis itu mengangkat wajahnya. Melihat Mark telah menutup laptop. “Ya?”
“Beberapa waktu belakangan ini aku selalu kehabisan kursi untuk melihatmu, padahal aku sudah menghubungi Johnny jauh-jauh hari. Apa menurutmu itu aneh?”
Hannah berdehem, tentu saja ia bisa mengetahui bahwa itu bagian dari rencana Johnny dan Louis untuk menjauhkan Mark darinya.
“Akhir-akhir ini pengunjung memang menggila, Mark”
“Biasanya juga ramai, tapi aku selalu mendapat kursi. Dan ini terjadi setiap hari ketika aku ingin melihatmu. Apa menurutmu ada yang salah padaku sehingga mereka sengaja memblacklist namaku?”
Hannah menggeleng. “Tidak mungkin, Mark. Untuk apa pula mereka melarangmu masuk. Tidak ada untungnya, justru mereka yang rugi kehilangan pengunjung royal sepertimu”
“Benarkah?”
Mark tersenyum simpul, tangannya mengusak puncak kepala Hannah. “Tidak usah. Aku mau tidur siang sebentar, bangunkan aku satu jam lagi, ya?”
Ada denyutan nyeri menyadari sikap Mark yang terasa berbeda. Pria itu tak bergelung manja atau menghujaninya dengan kata-kata cinta. Ada jarak yang ia ciptakan sejak percakapan mereka di meja makan sewaktu sarapan tadi.
Namun Hannah sadar, ia turut andil dalam jarak yang tercipta antara dirinya dan sang kekasih. Haruskah ia jujur sekarang? Tapi Hannah belum siap. Ia belum siap jika Mark menghakiminya atau lebih buruk, meninggalkannya.
‘Maafkan aku, Mark. Beri aku waktu sedikit lagi. Aku berjanji akan jujur padamu’
**
Sore itu rumah sakit Pelita sungguh ramai. Hampir semua poli memiliki antrian panjang, kecuali forensik. Hari Minggu nampaknya tak menyurutkan niat pasien untuk berobat. Ada saja keluhannya. Tak terkecuali di poli kejiwaan.
“Sampai saat ini aku mendapati sembilan pasienku dengan self-diagnosed. Hampir membuatku hilang kesabaran ketika menjelaskan pada mereka bahwa mood swing itu berbeda dengan bipolar”
Seorang perawat senior yang tengah mendengarkan keluhan Darren, terkekeh melihat wajah frustasi pria berkacamata itu.
“Setidaknya besok kau libur, dokter”
Baru saja Darren hendak merespon, ia melihat Jeffrey keluar dari ruang periksa, sepertinya pria itu hendak ke kafetaria. Usai memastikan tak ada antrian pasien, Darren berlari pelan menyusul Jeffrey.
__ADS_1
“Bagaimana pasienmu?”
Jeffrey menoleh, mengangkat bahu. “Tidak ada yang istimewa. Anxiety, OCD, bipolar, ADHD, PTSD”
“Wah sama sepertiku. Oia, Jeff, apa mental Tyona aman?”
Jeffrey menghentikan langkahnya, kemudian menoleh kearah sang kawan sejawat. “Maksudmu?”
Darren mengangkat bahunya. “Dia terlihat lelah, bukan lelah fisik yang kumaksud. Kuperhatikan juga tubuhnya semakin kurus”
“Sejak kapan kau memperhatikan istriku?” Dahi Jeffrey mengerut tak suka. Darren refleks terkekeh seraya menepuk pundak pria itu. “Tenang kawan, Tyona kawanku juga. Tentu aku mencemaskannya jika terjadi sesuatu padanya”
“Dia baik-baik saja”
“Dengar, Jeff” Darren membetulkan letak kacamatanya. Semula ia berniat menghentikan topik obrolan mengenai Tyona, tapi melihat bagaimana respon Jeffrey yang dingin dan tak acuh, emosi Darren mendadak naik.
“Aku tidak tau permainan apa yang sedang kau perbuat di belakang Anna dengan perempuan yang beberapa kali kemari. Aku juga tidak ingin mencampuri rumah tanggamu terlalu jauh. Tapi jika itu menyakiti Anna, bisakah kau berhenti?”
Tangan Jeffrey mengepal, Darren tersenyum melihat perubahan gestur kawannya. “Aku peduli pada Tyona, juga padamu. Dia bertahan sejauh ini karena memilikimu, Jeff. Jika dia sampai tau kau bermain api, kau bisa menghancurkannya”
Jeffrey tersenyum sinis. “Kau mengatakan ini, bukan karena peduli pada rumah tanggaku. Tapi karena kau masih mencintainya, bukan?”
Darren tercekat. Bagaimana Jeffrey bisa tau?
“Darren Harison. Kau mungkin melupakan fakta bahwa aku adalah pria, sama sepertimu. Kau melihat istriku dengan cara yang sama seperti bagaimana aku melihatnya”
“Wah, ketahuan juga” Darren tersenyum, paniknya mendadak hilang. Teringat akan perkataan Tyona semalam.
“Karena sudah terlanjur basah, jadi aku konfirmasi saja sekalian. Memang betul aku mencintai Anna bahkan sebelum kau mengenalnya. Aku merelakannya untukmu, Jeff”
Jeffrey melangkah maju. Memberikan tatapan menusuk kepada Darren. “Tidak. Aku mendapatkan Anna atas usahaku sendiri. Kau yang terlalu pengecut sehingga kalah cepat dariku”
“Ya, memang saat itu aku kalah cepat. Tapi Darren yang dulu bukan lagi Darren yang sekarang. Aku pastikan akan merebut Anna darimu, jika memang kau berselingkuh di belakangnya”
Darren segera meralat. “Oh maaf, bukan ‘jika’ karena kau jelas-jelas sudah berselingkuh. Jadi.. kurebut Anna saja, ya? daripada kau tidak becus menjaganya”
“Kau bisa merebutnya setelah aku mati, Darren”
Jeffrey mengambil langkah panjang tanpa menoleh lagi. Niatnya ke kafetaria berubah menuju departemen pediatri tempat dimana istrinya berada.
Sayangnya, niat untuk bertemu Tyona harus ia tahan dulu karena sang istri tengah berada di ruang operasi. Membuatnya undur diri dan kembali ke niat awal, yaitu kafetaria.
**
__ADS_1