
Gretta bahkan semua pelanggan yang sedang duduk menikmati waktu mereka di Kafe butik itu terkejut bukan main ketika melihat dan mendengar secara langsung seluruh karyawan bahkan sampai manager tingkat atas pun berbaris rapi di sana memberikan salam hormat atas kedatangan mereka.
Diego mengangkat tangannya dan sontak mereka kembali bekerja ke posisi mereka masing-masing.
Gretta sangat kaget, di mana dia bisa menemukan hal seperti ini?
"Wahh tuan, kenapa mereka sampai berbaris seperti itu?" tanya Gretta.
"Hal biasa my sweet Angel, mereka harus melakukannya," ucap Diego.
Tanpa gadis itu sadari, Diego adalah pemilik butik dan kafe tersebut. Para pelayan tentu saja langsung mengenal pria yang terlihat lembut di luar itu tetapi sangat kejam dan sadis jika melihat hal yang melenceng dari prinsipnya.
Meskipun jadi tukang kayu yang setiap hari berhadapan dengan serpihan kayu sampai tangannya jadi kasar, dia memiliki jiwa bisnis yang sama seperti Simon.
Bekerja di bidang Fashion tidak merugikannya, bahkan terkadang dia turut membantu Simon dalam urusan tata desain.
Mereka berdua masuk ke gedung itu dengan banyak pasang mata yang menatap mereka dari tempat masing-masing.
"He..hey lihat deh, kau kenal gadis yang dibawa oleh pemilik toko itu tidak!? dia terlihat familiar!" salah seorang pelanggan menunjuk Gretta seraya memicingkan matanya berusaha untuk mengenali Gretta yang dibawa oleh Diego.
"Hmmm bener, wajahnya kayak pernah lihat, ahh..... Gretta!" ucap yang lain.
"Ya Dia terlihat seperti Gretta!" ucap yang lain saat kembali mengingat sosok itu.
"Ehh jangan mengada ada Rina, Loli!" ucap seorang gadis cantik di depan mereka seraya menyeruput minumannya.
"Mana mungkin dia Gretta, dia kan miskin dan hina, anak yatim piatu yang tidak jelas asal usulnya," ucap gadis yang kerap disapa Anna itu.
"Aku yakin kalau Gretta sudah mati entah dimana atau paling tidak dia jadi budak," ucap Anna sambil menatap bekas luka sepanjang 1 inchi di punggung tangannya.
"Hahaha... jika dia masih hidup aku sangat ingin menyiksanya seperti hari itu!" ucap Anna sambil mengusap bekas lukanya seraya tersenyum sinis seperti seorang psiko.
"Kau membuatku merinding, " ucap Rina perempuan dengan potongan rambut Bob yang terlihat sangat kurus.
"Bukankah itu bekas luka tusukan pisau dari jal4ng itu? kenapa kau tidak memperbaiki nya?" tanya Loli.
"Aku ingin terus mengingat wajahnya yang ketakutan itu," Anna tersenyum.
"Wajahnya memohon ampun saat aku menarik kepalanya, air matanya, dan saat dia mencium kakiku untuk memohon supaya dia tetapi hidup hihihi.... itu menyenangkan!!" ucap Anna sambil menghirup udara seolah dia tengah berada di sekolah dan merundung Gretta.
"wahh psiko gila, kau pakai obat lagi ya!? jangan begitu di tempat ini, dasar bodoh!'' ucap Loli sambil bergidik ngeri.
__ADS_1
"Hei ayolah, kalian juga pakai kan? " balas Anna.
" ngomong - ngomong kalian dapat kabar dari jal4ng sinting itu? bukannya dia akan menikah dengan anak konglomerat ya? kenapa tak ada kabarnya?" tanya Anna.
"Entahlah, mungkin dia sedang menggila seperti dia menyiksa Gretta, gadis gila itu hahaha...."
Mereka tertawa bersama. Membicarakan masa lalu mereka yang menurut mereka sangat menyenangkan karena berhasil merundung seorang gadis tak bersalah yang menurut mereka sangat sempurna untuk dijadikan boneka mainan yang bisa disiksa sesuka hati mereka.
Tetapi tanpa mereka sadari karma buruk akan datang menghampiri mereka. Mungkin saat mereka masih tersenyum, tetapi siapa yang tahu besok senyuman itu akan berubah jadi ratapan pilu yang sangat menyiksa.
Diego berdiri di lantai dua gedung itu sambil menatap tepat ke arah ketiga perempuan yang sedang asik menggibah setelah mendapatkan pakaian mereka.
"Tiga..." gumamnya sambil menatap perempuan yang sudah dia tandai.Tak disangka orang-orang itu adalah langganan setia yang sering datang ke tempatnya.
Bibirnya tersungging, dia menatap mereka dengan tatapan sinis.
"Tuan, saya sudah selesai, tapi sepertinya ada yang salah dengan pakaiannya," Suara Gretta terdengar.
Sontak pria itu berbalik den menatap gadis itu sambil tersenyum,"Apanya yang sa.... lah!??"
"Gretta!??" Mata Diego membulat sempurna saat melihat pakaian yang dipakai oleh Gretta.
Pakaian yang cukup terbuka, panjangnya hanya sampai selutut tetapi memiliki robekan sampai sebatas panggul yang membuat tubuh Gretta malah seperti hanya memakai pakaian dalam.
Diego benar benar salah ambil pakaian . Saking fokus dengan target balas dendamnya dia malah memilih pakaian kurang bahan yang memang terlihat cantik dan menggoda tapi tidak untuk dipakai.
Diego sampai panas dingin, lekukan indah tubuh Gretta masih jelas di ingatannya. Siapa sangka gadis itu memiliki tubuh yang indah.
Otaknya mulai traveling ke mana mana, pipinya bersemu merah dan dia membayangkan Gretta dengan gaun itu.
"Tuan, mikirin apa!!! mana pakaian yang mau saya coba!?" teriak Gretta sambil menyembulkan kepalanya dari balik tirai ruang ganti.
Diego tersadar dengan otak kotornya yang suka traveling ke nirwana indah.
" Mwehehhehe... maaf neng geulis permata hati akang ganteng, bentar ya beb," balas Diego sambil tertawa cekikikan dengan otaknya yang terlalu kreatif.
" uhhh she is so hot!!! jangan sampai terong panggang bangun bhahahhaha...." Diego melirik pusaka nakalnya ybgbhanya beraksi pada Gretta.
"Adududh otakku kotor, bersihkan bersihkan, jangan jadi berengsek dasar tolol," Diego sibuk merutuki dirinya sambil tertawa cekikikan sembari memilih beberapa pakaian yang menurutnya akan cocok untuk Sanga kekasih hati.
Kali ini tentu saja dia pilih dengan serius dan benar. Pria itu membawa beberapa pakaian lalu mendekati ruangan ganti.
__ADS_1
"Neng geulis ini pakaiannya, nggak kayak yang tadi lagi, kurang bahan heheheh...." Celetuk Diego.
Tangan Gretta menarik tirai dan kepalanya muncul dari sana dengan wajah cemberut," ishhh sengaja ya!?" ketus gadis itu.
" Jangan dibayangkan tuan, malu tau!!!" gerutu Gretta sambil mengambil pakaian pakaian itu.
Diego terkekeh," iya iya, udah sana ganti bajunya," ucap Diego.
Gretta menurut dan mengganti pakaiannya dengan yang diberikan oleh Diego.
Dia menggunakan pakaian itu tanpa bantuan pelayan karena enggan tubuhnya dilihat orang lain.
Diego menatap beberapa pakaian lain sambil melirik ke arah lantai satu. Gedung miliknya telah menjadi tempat berkumpulnya para sampah yang siap untuk dia hancurkan.
Sembari berjalan kesana kemari dia menunggu sang pujaan hati. Hingga tak lama kemudian, Gretta keluar dari dalam ruang ganti.
" Tuan!" panggil Gretta lagi lagi dengan kepala yang menyembul keluar.
Diego berbalik dengan senyuman di wajahnya," sudah selesai? coba aku lihat," ucap Diego.
Gretta tampak tersipu malu, dia terlihat ragu namun perlahan dia keluar dari balik tirai itu dengan pipi yang bersemu merah.
Gretta keluar dengan gaun merah muda berbahan sifon, corak bunga bunga yang indah dengan rok bak kembang dihiasi motif bunga bunga kecil di bagian roknya dan ikatan bak kemben pita di dadanya. Cantik dan berkelas seperti seorang putri yang keluar dari negeri dongen.
Diego terdiam, dia menatap gadis itu dengan wajah takjub. Mulutnya terbuka dan matanya membulat seolah tak sanggup mengatakan apa pun lagi.
" Ca..Cantiknya... wahhhh cantiknya pacarku!!!" seru Diego tak percaya sambil tersenyum sempurna menatap Gretta.
Gretta tersipu malu, dia sedikit ragu tetapi ternyata reaksi Diego di luar pikiran nya.
" Apa cocok?" tanya Gretta.
" Cocok sekali Gretta, sangat cocok wahhhh kau cantik sayang!!!" teriak Diego dengan begitu lantang sementara ekor matanya melirik seseorang yang menatap ke tempat mereka dengan tatapan menyelidik.
"Bukannya dia Diego!? aku terus menghubungi nya tapi ternyata dia ada di sini!? bersama siapa dia!?" seorang gadis berdiri di lantai satu sambil menatap kesal ke lantai atas.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗