
Makan malam yang khusyuk telah selesai. Laura masih canggung untuk berbaur dengan yang lain. Dia memilih menempel pada Obelia, Gretta dan Irvan, tempat ternyaman baginya ditambah dengan Lanang dan Dani.
Kini mereka semua tengah berkumpul di ruang keluarga menunggu acara berikutnya yang disiapkan Simon tanpa ada yang tahu kecuali dirinya dengan Hendry .
Semuanya tampak bahagia. Di tengah bincang-bincang hangat dan ringan antar keluarga itu, Laura yang sedang bermain dengan Alesha yang digendong oleh Gretta didatangi oleh Nyonya Felicia
Wanita cantik dan elegan itu berjalan perlahan dengan tangan disimpan di belakang. Menatap Laura dengan mata berkaca-kaca dan penasaran. Dia merasa wajah Laura tidak asing, dia seketika mengingat mendiang ibu mertuanya saat melihat wajah Laura.
"Nak, kamu... emm... ma..maaf menanyakan ini, apa ka..kamu kebetulan ti...tidak... punya ora...
" Mama!" Tuan Kennedy langsung menarik tangan nyonya Felicia. Dia jelas tahu kalau istrinya penasaran dengan sosok Laura karena tuan Kennedy pun demikian.
Nyonya Felicia terdiam sambil menunduk dan mencengkram gaunnya dengan perasaan kalut. Dia masih berharap putrinya hidup sampai saat ini, entah di mana pun dia entah apa pun yang dia lakukan, setidaknya dia bisa melihatnya .
"Maaf nak, maaf kami mengganggu kamu," ucap Tuan Kennedy dengan senyum getir. Jelas sekali kedua orang ini tak banyak tersenyum bahkan tidak bahagia.
Tuan Kennedy dan Nyonya Felicia berpindah dari sana sambil menahan diri mereka untuk tidak membuat orang lain tidak nyaman.
Rose dan Zayn melihat hal itu. Mereka berdua juga sedih dengan keadaan orangtua mereka yang down bahkan sampai detik ini.
Rose menghampiri Laura dan duduk di samping gadis itu.
" Maaf ya kak, Papa dan Mama jadi begitu ada alasannya, mereka bahkan tidak bisa tidur tenang dan hidup bahagia, mereka sedang menghukum diri mereka atas apa yang terjadi pada masa lalu," ujar Rose.
Sepertinya kejadian di masa lalu memang memiliki efek sebesar dan semenakutkan itu pada kehidupan seseorang.
Laura sudah menghadapi satu yang seperti itu yakni suaminya, yang kedua adalah Sadrakh yang masih belum bisa move on dan sekarang dia melihat jelas efek terbesar adalah pada kedua orang tua Zayn dan Rose.
"Kejadian yang kuceritakan waktu itu penyebabnya La, sejak saat itu mereka jarang tersenyum," ucap Zayn sambil menunduk sedih.
Laura menepuk punggung mereka berdua dengan lembut," Aku paham, karena Simon pun demikian, tapi sekarang suamiku tampaknya mulai banyak tersenyum, " ucap Laura sambil menatap suaminya yang sedang berbincang dengan asik bersama tuan Waltz serta keluarga Waltz yang lain.
"percayalah kalau akan ada waktunya bagi mereka untuk tersenyum, lihat Simon dia dulu sangat menyeramkan sekarang dia malah banyak tersenyum lebih dari apa yang kita harapkan ,' ujar Laura.
" Huhhh... ku harap waktunya segera tiba kak, kasihan mereka, setiap hari mereka menyalahkan diri mereka dan mengutuk diri mereka karena kejadian itu, aku tidak tega, sakit sekali melihat Papa dan Mama tak bisa bahagia bahkan sekedar tersenyum pun sakit bagi mereka," Rose menunduk, air matanya mengalir perlahan.
Sebagai anak bungsu dia merasakan betapa pilunya memiliki orang tua yang bahkan tak bisa lepas dari trauma.
__ADS_1
Rose berkali-kali memohon agar mereka tidak menyiksa diri mereka tapi tak sekalipun digubris.
Zayn menarik Rose dan memeluk adiknya dengan erat. Dia tahu perjuangan Rose sangat berat. Kasih sayang dari kedua orang tua mereka terhadap rose termasuk sedikit karena keduanya bahkan tak fokus menjalani hidup mereka yang suram.
" Husshh kan sudah janji pada kakak biar gak nangis, nanti Papa Mama lihat mereka bisa sedih sayang, benar kata Laura semua ada prosesnya, sabar ya... jangan menangis lagi," ucap Zayn dengan lembut.
Zayn adalah seorang kakak laki-laki yang hebat. Dia menjaga adiknya di saat kedua orangtuanya tak sanggup secara mental. Dia mengasihi dan melimpahkan cinta pada Rose agar gadis itu tidak merasa kesepian.
Bahkan bagi Simon saja sangat sulit memaafkan dirinya, sama halnya dengan kedua orangtua itu, sulit bagi mereka menerima kenyataan bahwa putri mereka mati karena kelalaian mereka.
Laura menatap kedua orang tua itu,"Gretta pinjam Lecha sebentar ya,' ucapnya sambil mengambil Alesha dari pangkuan Gretta.
" Tante kita mau ke mana? Mau cama Daddy kah? atau Ama kakek buyut ntuu???" celetuk Alesha sambil menunjuk Sadrakh yang duduk diam bak patung dengan wajah masam karena dimarahi Simon lalu menunjuk tuan Waltz yang disebutnya kakek buyut karena ajaran Diego.
" Ummm... kita mau sama kakek dan nenek yang ini dulu," ucap Laura.
Dengan inisiatif, Laura berjalan mendekati tuan Kennedy dan nyonya Felicia yang lagi- lagi duduk dengan posisi tak nyaman.
"Wahh Alesha suka makan nastar ya sayang???" Laura duduk tepat di depan mereka berdua sambil menggendong Alesha di pangkuannya.
"Tuan, nyonya kami duduk di sini ya," ucap Laura sambil tersenyum manis.
" Sayang apa ini semua hanya perasaanku atau dia memang mirip sekali dengan Mama saat masih muda?" bisik Nyonya Felicia.
Mendengar bisikan istrinya, tuan Kennedy terdiam, dia menoleh nyonya Felicia dengan wajah tertegun," Papa pikir hanya papa yang merasa begitu, Mama juga ternyata, dia memang mirip sekali dengan mendiang Mama," balas Tuan Kennedy.
Entah bagaimana bisa ada dua manusia yang begitu mirip padahal setahu Mereka tidak ada hubungan darah.
"Sayang ayo sapa kakek dan nenek," ucap Laura.
Alesha kecil mengangguk, dengan kedua tangannya yang gemuk dan merah muda, dia mengambil dua buah kue nastar lalu berjalan menuju kedua orang itu.
" Halo kakek, Nenek Senang beltemu kalian, ini hadiah Dali Lecha," Celetuk Alesha sambil menyodorkan dua kue itu pada mereka.
"Ha... halo nak, senang bertemu dengan kamu juga," ucap mereka berdua dengan wajah kaku.
Laura sampai terkekeh," Tuan, Nyonya kenapa tegang begitu, dia hanya seorang anak kecil, emm Alesha senang loh digendong, coba kalian gendong," ucap Laura dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Tuan dan nyonya Kennedy saling menoleh, mereka tampak ragu. Tetapi Laura dengan cepat berdiri dan mengangkat Alesha lalu meletakkan gadis kecil itu di antara mereka berdua.
Wajah Alesha tersenyum sumringah," Heheheh Kakek Nenek.... yeyeyeye....."
"Apa kalian tidak suka anak kecil?" tanya Laura.
" Su...suka kok, mereka menggemaskan," ucap Nyonya Felicia dengan senyum tipis.
Lama tak dekat dengan anak kecil membuat kedua orang itu terdiam dengan tubuh kaku tidak tahu harus berbuat apa.
Laura menatap mereka, dia mendapatkan sebuah ide untuk membuat mereka tersenyum.
" Tuan, Nyonya, Alesha lihat ke kamera!!" seru Laura yang menggunakan ponselnya untuk memotret mereka bertiga.
"Ehh ... mau di foto?"
Laura mengangguk," sebagai kenang kenangan, ayo lihat kamera dan tersenyum," seru Laura sambil menatap mereka dengan senyuman lebar.
Alesha dengan cepat mengikuti Laura tetapi kedua orang itu hanya menatap kaku ke arah depan.
"Tidak begitu, ayo senyum yang lebar!!" seru Laura, tetapi mereka masih saja memasang wajah kakunya.
"Apa tidak boleh seperti ini saja??" tanya tuan Kennedy.
" Benar, kami lebih nyaman seperti ini," tambah nyonya Felicia.
Laura menggelengkan kepalanya," nggak boleh!!" tegas gadis itu. Tentu saja mereka semua jadi bahan perhatian yang lain.
"Ka..kak Zayn, Papa dan Mama... me.. mereka.... bagaimana bisa!??" Rose terkejut melihat kedua orangtuanya yang diam saja kala dibentak oleh Laura.
" Kakak juga bingung Rose, bagaimana bisa mereka menurut pada Laura???"
Yang lain dibuat keheranan tetapi Simon tampaknya sangat bahagia, dia sengaja membiarkan mereka dekat terlebih dahulu sebelum memberitahukan hubungan mereka yang sebenarnya.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 🤗