Istri Untuk Tuan Simon

Istri Untuk Tuan Simon
196 Season 2: Kasus!


__ADS_3

Seorang gadis berjalan menyusuri jalanan di antara bangunan bangunan yang menjulang tinggi ke atas. Menenteng ranselnya dan berjalan dengan wajah lelah menuju rumahnya yang terletak diantara bangunan tinggi itu.


Name tag bernama "Vanya Lolita" tertempel di rompi SMA yang dipakai gadis berwajah imut dengan sepasang gigi kelinci yang menggemaskan dan rambut hitam panjang yang sudah lusuh.


Sambil mengemut permen yang dia dapat dari toko tempat dia kerja sampingan gadis cantik itu berjalan dengan cepat menenteng plastik kresek berwarna hitam.


Dia berjalan dengan langkah terburu-buru, sesekali melirik jam tangannya.


"ku harap belum terlambat!" gumamnya dengan wajah panik. Dia berlari sekencang-kencangnya, hingga tiba di depan rumah kayu di komplek itu.


"Hufftt!!"


"Aku lelah," Vanya menghela nafas sambil melirik jam tangannya.


"Sudah jam 8 malam, ahhh Nenek pasti kelaparan!!" gumamnya.


Gadis itu berlari dengan cepat sambil membawa pastikan berisi makanan.


Vanya melangkah dengan tergesa-gesa, membuka gerbang besi yang sudah reot dan berkarat.


Dia menatap rumah yang tampak gelap, dengan cepat dia masuk.


" Kenapa lampunya mati!? Nenek.. nenek baik baik saja kan!!" dia berteriak memanggil sang nenek sambil memasuki rumah yang sepi dan gelap.


Klak!.


Lampu dia nyalakan, terlihat sebuah rumah sederhana yang dibuat dari papan.Tampak rapi dan bersih meski beberapa dindingnya harus ditambal dengan papan tambahan.


Sambil melepaskan ranselnya dan meletakkan kresek itu di atas meja dia melepaskan rompinya.


Menggulung lengan pakaiannya dan tampaklah luka lebam di seluruh lengannya. Bekas pukulan yang membiru bahkan beberapa sudah hitam dan tak kunjung sembuh tetapi ditimpa dengan memar lainnya.


Beberapa ember kecil diletakkan di sudut ruangan untuk menampung air hujan yang merembes masuk ketika hujan datang.


Sebuah meja dan dua buah kursi kayu yang sudah tua, dapur sederhana dengan perlengkapannya yang sedikit.


Di dinding ada sebuah foto wajah Vanya dan sang nenek di sebuah studio foto, menatap ke arah kamera dan tersenyum manis sambil berpelukan hangat.


Vanya berjalan dengan wajah panik. Nenek adalah satu satunya keluarga yang dia punya. Dia seorang anak yang dibuang oleh orangtuanya yang tidak bertanggungjawab. Dibuang saat usianya 7 tahun dan harus menghadapi akibat dari perceraian kedua orang tuanya yang egois.


"Nenek.. Nenek di mana!??" suaranya terdengar khawatir.


Gadis itu memasuki kamar neneknya, dia menatap ruangan gelap itu dengan jantung berdegup kencang.

__ADS_1


klak!!


Vanya menyalakan lampu kamar sang nenek dan dia menatap ruangan itu dengan nanar.


Matanya memerangkap sosok sang nenek yang sedang tidur menyamping ke arah berlawanan dengan posisinya saat ini.


"Nenek?" panggil gadis itu, tetapi tidak ada sahutan dari neneknya.


"Nenek?" panggilnya lagi. Dia sekali lagi menatap jamnya. Masih jam 8, ini belum waktunya bagi sang nenek untuk tidur.


"Nenek!!" panggil Vanya sambil mendekat dan duduk di sa.ping sang nenek. Menyentuh punggung wanita tua itu dan...


Degh!!!


Jantung Vanya seolah berhenti, tubuh neneknya dingin dan kaku.


Dia segera menarik tubuh sang nenek, dan mengerikannya, neneknya sudah kaku dan tak bernyawa.


" Nenek! bangun nek, jangan bikin Vanya takut!!!" teriak gadis itu sambil menggoyangkan tubuh sang nenek berkali-kali.


Tapi tak ada respon, tubuhnya sudah kaku, wajahnya pucat dan tangannya sangat dingin. Pertanda bahwa wanita itu sudah tak bernyawa sejak beberapa jam yang lalu.


"A... arkhh.... ti...tidak!! Nenek!! Nenek bangun nek!! huwaa.... arrkhhh nenek!!! hiks hiks hiks..."


Satu kata yang bisa menggambarkan perasaan Vanya saat ini dengan jelas. Rasanya sangat menyesakkan.


Perempuan muda itu syok, dia terduduk gemetaran dengan mata tak percaya kalau neneknya sudah kaku tak bernyawa.


" Nenek... arkhh!!!! tiidaaak!!!!" pekik Vanya sambil menangis sesenggukan di dalam kamar sang nenek.


di saat yang sama, ponselnya berdering. Beberapa pesan masuk dengan kata kata kasar terlihat di layar ponsel gadis malang itu.


Dia tidak peduli dengan panggilan di teleponnya, dia terus menangis sesenggukan saat melihat nenek yang dia sayangi, nenek yang dia perjuangkan tak lagi bernyawa.


...****************...


Nenek gadis malang itu sudah dimakamkan. Kematian sang nenek disebabkan karena usia tua.


Vanya duduk bersimpuh di samping kuburan sang nenek yang basah. Kini tak ada lagi teman hidupnya dan dia benar benar hidup sebatang kara di dunia yang luas ini.


"Kenapa nenek pergi begitu saja? tanpa bilang apa apa padaku? hiks hiks.. hkks... nenek... kenapa cepat sekali...." Lirih gadis itu.


Dia menangis sesenggukan, tak ada yang menemaninya lagi dan tak ada yang menjaganya lagi di dunia yang mengerikan ini.

__ADS_1


Di sisi lain tempa pemakaman itu, ada Dani dan Ella yang sedang berdiri sambil menatap ke arah di mana Vanya duduk.


Kedua gadis itu sedang mengunjungi makam mendiang ibu Ella yang meninggal dua tahun yang lalu.


"Keadaannya mengingatkanku pada aku yang dulu," ujar Ella .


Ella adalah seorang gadis piatu. Ayahnya ada tapi tak pernah menganggapnya anak sedangkan ibunya harus meregang nyawa karena kanker tulang yang dideritanya.


Dani menepuk bahu gadis itu," Tapi sekarang kau punya kami Ella, " ucap Dani menghibur Ella.


Setiap kali berbicara tentang ibunya, Ella pasti akan murung dan menyalahkan dirinya yang tidak bisa apa-apa ketika sang ibu merintih kesakitan di depan matanya dan perlahan lahan mati begitu saja.


"Tapi setidaknya dia punya teman yang menjaganya, itu sangat bagus," ucap Ella yang menatap Banyak di kejauhan ternyata dikunjungi oleh beberapa orang anak sekolah yang masih berseragam.


Tampak memeluknya lalu mengusap wajahnya. Jelas sekali terlihat kalau mereka tampak peduli pada Vanya.


"Kau benar, setidaknya dia punya teman yang bisa dia andalkan, maka hidupnya tak akan terlalu sepi," ujar Dani.


Keduanya masih menatap Vanya yang dibawa oleh sekelompok anak sekolah itu. Jika dihitung jumlah mereka ada empat orang, dua laki laki dan sisanya perempuan.


Mereka pergi membawa Vanya dari sana. Tetapi tampak Vanya menjatuhkan sesuatu dari tangannya. Dia menunduk, bahunya dirangkul dan dia dibawa menuju mobil.


Tak ada rasa curiga, Dani dan Ella berpikir kalau mereka bersahabat dan saling memperhatikan.


Tetapi kenyataan yang dihadapi Vanya berbeda dengan apa yang Ella dan Dani lihat.


"Jangan berteriak, atau aku akan membunuhmu di sini, aku bahkan bisa menggantung kepala Josua jika aku mau," ancam gadis berwajah kecil seperti kucing, sembari meletakkan tangannya yang memegang pisau ke arah perut Vanya.


Gadis itu gemetar ketakutan. Seolah penderitaannya tiada henti, setelah neneknya meninggal, dia dihadapkan dengan para perundung yang menyiksa dan menjadikannya boneka mainannya.


" Hihihi.... dia pasti dapat banyak uang dari tamu yang hadir, aku yakin kau dapat sumbangan, aku tidak sabar hihihi.... kita pesta besar malam ini!!!!" ujar salah satu pria itu sambil tertawa cekikikan.


Vanya meringkuk ketakutan, tak berani mengeluarkan barang sepatah katapun dari bibirnya yang bergetar tak karuan.


" Tolong aku!!!"


.


.


.


Like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2