
Seluruh Mall itu dibuat tercengang dengan kedatangan tiba-tiba dari Simon Mignolet Kent yang sudah setahun tak pernah muncul di hadapan publik bahkan saat kematian tuan Kent pun dia bersembunyi dan melakukan semua upacara secara private.
Simon menarik perhatian semua orang dengan penampilan perdananya di hadapan publik tanpa cacat fisik dan bukan pria bisu seperti yang orang orang ketahui selama ini.
Ketampanan dan pesonanya yang telah lama disembunyikan berhasil membuat semua orang ketar ketir, belum lagi auranya yang kuat dan tajam berhasil membungkam mulut semua manusia yang pernah menghina dan menjatuhkan dirinya.
Terakhir kali datang ke mall itu dalam kondisi cacat, semua orang yang menatapnya mencibir dan mempermalukan Simon.
Tetapi sekarang keadaan berbalik, semua orang kini memuji ketampanan dan aura kepemimpinan kuat dari pria yang sudah menginjak kepala tiga itu.
Simon datang ke Mall itu karena mendapat laporan kalau Laura bertengkar dengan pasangan Bernardo, musuh bebuyutan dan musuh alami Simon dalam dunia bisnis.
Bajingan Bernardo, begitulah dia menyebut Vino dan keluarganya yang menurutnya munafik bahkan sisi kemanusiaannya telah hilang ditelan ombak.
Simon berjalan dengan cepat, tak ada yang berani menyapa dan menatap matanya secara langsung.
Mereka semua terperangah melihat ketampanan sang tuan Simon yang telah lama menghilang.
Dia menghampiri istrinya, membuat seisi toko terkejut dengan kedatangan pemilik mall itu.
"Hentikan permainan menjijikkan ini!" ucap Simon sambil menarik tangan Laura yang gemetaran.
Laura berbalik, bersimbah air mata dan tatapan kesedihan yang membuat hati Simon terluka.
Deghh...
Seperti disambar petir, jantung pria itu berdetak sangat kencang, hatinya pedih dan dadanya sesak saat melihat istrinya menangis sesenggukan sambil menatapnya.
Semua yang melihat apa yang Laura lakukan terkejut dengan keahlian bertarung gadis itu.
Siapa sangka Laura punya keahlian itu yang bahkan tak bisa membuat Vino membalas serangannya satu kali pun.
Cintia terperangah melihat Simon dan Laura. Apalagi melihat Simon yang sangat tampan dan mempesona membuat debaran lama di jantungnya kembali.
Cintia terdiam, dia syok dengan dua kejutan besar hari ini. Sama halnya dengan Vino yang tidak menyangka kalau Laura ternyata perempuan yang sangat menarik.
Simon dengan keadaannya yang sempurna dan Laura dengan keahlian bela diri yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Tangan Simon menarik Laura dari atas tubuh Vino.
Dia menatap dingin seisi ruangan itu, membuat semuanya sesak nafas seolah pasokan oksigen di bumi ini berkurang.
Simon menatap wajah istrinya yang merah dan bengkak karena dipukul oleh Vino. Seketika wajah Simon menggelap.
__ADS_1
Hendry dan Diego yang mengekor dengannya pun terkejut melihat situasi di sekitar toko itu.
Bahkan Zayn dan Sadrakh juga turut mengecam apa yang terjadi setelah mendengar penjelasan Dani dan Lanang.
Laura menangis sesenggukan sambil menunduk," Maaf tuan, ma..maafkan saya," ucap Laura dengan nada lirih dan tubuh gemetaran.
Simon mengusap pipi Laura, lalu melayangkan pandangan mengerikan pada Vino yang masih terkapar di atas lantai dengan wajahnya yang babak belur akibat ulah Laura, sama dengan Cintia yang masih duduk di atas lantai.
"Zayn jaga Laura!" ucap Simon .
"Ba..baik!'
Zayn merangkul Laura, memberikan jaket untuk gadis itu dan menenangkan Laura yang tampak sangat sedih.
Tangan Laura juga terluka, lagi-lagi Zayn berdegup, saat Laura merasa sakit seolah dia juga merasakannya, ada keinginan untuk melindungi gadis itu, ada keinginan untuk menjaga Laura agar tetap aman.
Sampai saat ini Zayn masih belum mengerti mengapa dia merasa aneh saat melihat Laura.
Ketika melihat lebih dalam ke hatinya, dia sadar bukan rasa suka antara pria dengan wanita yang dia rasakan, tetapi sesuatu yang lain seolah dia terhubung dengan Laura.
Zayn mengamankan Laura, sedang Simon kini sedang mencengkram kerah Vino dan menatapnya dengan tatapan pembunuh.
"Tanganmu ini ya yang memukul wajah istriku!??" geram Simon sambil menarik tangan Vin.
" Dani tangan mana yang memukul Laura!?" tanya Simon.
Simon menyeringai.
Vino tersadar kalau dia baru saja masuk ke dalam perangkap Singa liar.
"Beraninya kau menyentuh istriku dengan tanganmu yang menjijikkan ini Bangsat!!!!" Teriakan Simon menggelegar.
"Dia menjatuhkan istriku, dan memukul wajahku, Hah... dasar pasangan suami istri psikopat!!!" balas Vino tak kalah marah padahal wajahnya sudah babak belur.
Tanpa aba-aba, Simon menarik tangan pria itu dan memutarnya seperti sedang memutar kemudi mobil hingga....
Kratttakkk....
Lengan Vino patah di tangan Simon.
"Aaarkkhhhhhhh lenganku pataaahhh!!"
" Vino, sayaaang!!!!" teriak Cintia histeris.
__ADS_1
" Simon lepaskan suamiku!!!" Cintia langsung menghampiri mereka sambil menangis histeris seolah dia adalah korban utama dalam hal ini.
Cintia memegang tangan Simon, seolah mereka masih sedekat dulu.
Ptass....
tetapi dengan cepat Simon menepis tangan Perempuan itu.
" Jangan kau sentuh aku jal4ng sialan!!" umpat Simon sambil menjatuhkan tubuh Vino ke Lantai tanpa perasaan sedikit pun, seolah Vino adalah karung beras yang bebas dihempaskan begitu saja.
Cintia berdiri dan menatap Simon," Kenapa Kau lakukan ini!? da....dan sejak kapan kau sembuh Simon!? kenapa tidak bilang padaku!???" teriak Cintia yang bukannya mengurus suaminya tapi malah mencoba menarik perhatian Simon.
Simon tampak diam dan menatap dingin ke arah Cintia, perempuan yang seharusnya akan menikah dengannya tetapi malah digantikan oleh Laura.
Ketika melihat Simon dalam kondisi baik seperti ini, penyesalan besar langsung menyelimuti hati Cintia.
Dia mengutuk dirinya sendiri yang malah memilih menikah dengan Vino padahal Simon jelas lebih unggul dalam segala hal saat ini.
Seorang Presdir muda yang sudah ikut dalam urusan perusahaan saat dia masih remaja. Namanya dikenal orang sebagai rajanya bisnis. Bukan hanya bidang fashion yang dia kuasai, anak perusahaannya juga mengurus berbagai produk makanan, bahkan memiliki perusahaan entertainment di Korea Selatan yang telah mendebutkan banyak artis, aktor dan idola papan atas.
Jika dibandingkan dengan Vino yang hanya modal tampang dan juga kekayaan orangtuanya, jelas Simon jauh berbeda.
Laura menatap Simon dan Cintia, dua orang yang sangat sempurna di mata Laura. Bagi gadis itu memang sangat cocok bagi Simon jika dia menikah dengan Cintia bukan dengan dirinya yang hanya anak haram dan ditolak di mana-mana.
Laura menunduk dengan tangan gemetaran ada sebuah rasa takut di hatinya jika sampai Simon, pria yang dia ketahui dulu berpacaran lama dengan Cintia masih memiliki rasa pada perempuan itu.
Siapa yang tau hati manusia, Laura hanya seorang perempuan biasa yang bahkan tidak diharapkan kehadirannya, dia bisa kapan pun ditendang dari kehidupan Simon.
Zayn mengamati apa yang Laura lihat, seolah dia paham dengan arti tatapan Laura, dengan lembut dia menepuk bahu Gadis itu," Percaya pada Simon, selama apa pun hubungan mereka, dia tak akan pernah kembali pada perempuan yang pernah mengkhianati dia, " ucap Zayn.
Kata-kata Zayn sukses membuat Laura terkejut, bagaiman Zayn bisa tahu apa yang dia sedang pikirkan?
Persis seperti yang Zayn ucapkan, Simon pergi begitu saja tanpa mendengar ocehan dari Cintia.
"Kalian berani menyentuh istriku, maka kalian telah menyatakan perang denganku!" ucap Simon tanpa menatap mereka berdua.
Simon menghampiri Laura, lalu menggenggam tangan perempuan itu," Kita pulang," ucapnya dengan nada dingin.
"Tidak tu...tunggu dulu Simon!! Simon aku mau bicara, tunggu dulu!" teriak Cintia tetapi apalah daya, bagi Simon dia tak lebih dari sekedar sampah.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 🤗