
Laura dan Simon terlihat memasuki area gedung workshop ilik si tampan dan bar bar Diego Michels. Perabotan unik, ukiran dan desain yang belum jadi terpampang di area itu. Sangat memuaskan melihat mebel cantik dan antik yang jadi ciri khas dari pekerjaan tangan di tukang kayu tampan dan berkharisma itu.
Tentu saja ini bukan kali pertama mereka datang ke tempat itu. Laura dengan baby bumpnya yang sudah mulai terlihat di kandungannya yang menjalani usia 4 bulan tampil elegan dengan sweater dan cardigan panjang sedang suaminya juga tampak sangat berwibawa dengan stelan yang dia pakai.
Keduanya berjalan memasuki area itu.
“ Laura kamu datang...” suara Gretta yang ceria terdengar di telinga mereka. Gadis yang sudah sangat banyak berubah itu keluar dari gedung dan berlari menyambut Laura serta Simon dengan senyuman ceria di wajahnya. Semakin hari Gretta semakin membaik, kesehatan fisik dan mentalnya berubah menjadi lebih baik semakin hari.
Penampilannya juga berubah total setelah di permak habis oleh Ibu muda di depannya itu.
“ Wah Gretta kamu semakin cantik ya, aku jadi iri,” celetuk Laura seraya mencolek lengan gadis itu.
Gretta tertawa dan memeluk Laura dengan hangat,” nyonya muda yang membuat saya begini, selamanya saya akan berhutang pada Anda dan tuan,” ucap Gretta terharu. Setiap melihat Laura, dia tak bisa menahan air mata yang selalu saja merembes keluar tanpa seijinnya.
“ Apaan sih Grett Grett.. sudah di bilang kami gak suka panggilan itu, ngeyel terus dibilangin, ku jitak tahu rasa kamu,” celetuk Simon seraya mengetuk pucuk kepala gadis itu.
“ Ahahhahaa.. maafkan saya tuan simon dan nyonya Laura, akan saya ubah nanti hehehe..” Gretta tersenyum lagi.
Laura dan Simon sudah bisa bernafas lega melihat kepribadian Gretta yang semakin tegar dan mentalnya membaik. Mereka lega melihat Gretta yang semakin lama semakin berani. Kemampuan bela dirinya juga meningkat, tubuhnya tak sekurus dulu dan kini sudah semakin baik dalam berkomunikasi dengan orang baru.
“ bagaimana, apa acara hari ini kalian jadi pergi?” tanya Simon sembari berjalan bersama Laura dan Gretta.
“Jadi kak, kami akan berangkat beberapa jam lagi, Diego sedang ada rapat dengan beberapa kliennya, proyek besar katanya, aku juga tidak tahu proyek apa yang dia maksud,” jelas Gretta.
“ Dia selalu saja punya proyek yang aneh-aneh tapi semuanya berhasil masuk pasar,” ucap Simon.
Sambil berbincang mereka bertiga memasuki area workshop itu. Laura dan Simon juga akan hadir di acara tahunan itu karena Simon adalah alumni dari sekolah itu tetapi jauh sebelum Diego dan Gretta masuk ke sana.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain dengan rencana pesta yang sama, Vera Bruce tampaknya sedang bersenang senang dengan prianya.
Di dalam ruangan kecil di balik ruang ganti terdengar suara sahut menyahut yang sangat liar di antara dua anak manusia yang sedang menikmati indahnya dunia surga. Mengayun ke sana ke mari, melenggak ke sana kemari sampai tercapai kepuasan yang tak habis habisnya. Entah sudah berapa ronde mereka melakukan itu, pakaian berserakan di atas lantai, botol wine juga sudah kosong.
Alkohol memang memiliki efek yang sangat menyeramkan sampai membuat Vera dan pria yang dikenal sebagai pewaris itu melakukan hal tak senonoh yang belum seharusnya mereka lakukan tanpa status yang jelas.
“ Robin ahhh... aku lelah tapi ini menyenangkan..” Vera tertawa sambil berbaring di atas dada Robin, pria yang sama yang telah merusak masa depan Gretta bahkan membunuh anaknya sendiri.
Robin mengusap tubuh perempuan itu sambil menatapnya dengan senyuman penuh hasrat, sama sama mencari kesenangan dunia, sejak SMA mereka berdua sudah melakukan hal bejat ini berulang kali seperti pasangan suami istri. Padahal status hubungan mereka saat di gantung-gantung bak jemuran kain.
“ Sebentar lagi acaranya akan dimulai, kau istirahatlah, nanti malam kita lanjutkan lagi, aku sedang banyak pikiran,” ucap Robin sambil bangkit dari atas sofa tempat mereka bermain. Tubuhnya tak memakai sehelai benang pun, tampak jelas bekas luka tusuk di punggung pria itu.
“ Kau masih menyimpan bekas luka itu?” tanya Vera sembari memasang kembali pakaiannya.
“ ahh... oleh-oleh dari ibu mendiang anakku, heheh..”jawab Robin sambil tertawa cengengesan.
“ Robin, apa aku sudah memberitahumu tentang gadis itu?” tanya Vera dengan mata membulat sempurna.
“ Gadis mana? Siapa maksudmu?” tanya Robin seraya menyerngitkan keningnya.
“ gretta..” ucapnya sambil berdiri.
Robin terkejut saat mendengar nama itu, nama perempuan yang setahunya pasti sudah menjadi gembel atau mungkin sudah mati setelah keluar dari penjara.
“ Gretta? Perempuan sialan itu?” tanay robin dan dijawab dnegan anggukan kepala oleh Vera.
“ Ada apa dengannya? Kurasa dia pasti sudah mati atau hidup di kolong jembatan,” ucap Robin dengan nada menganggap remeh.
__ADS_1
Vera menggelengkan kepalanya. Beberapa kali dia berusaha memberitahu Robin, tetapi karena sibuk dengan karir dan dunianya dia sampai terlupakan bahkan terkesan takut menyinggung nama perempuan itu.
Dia yang biasanya terus mengejar Diego malah diam dan bekerja dengan fokus agar masalah dengan Gretta bisa dia redam. Takut bertindak gegabah akan memunculkan masalah bagi karirnya dan hubungannya dengan Diego.
“ Dia sudah bebas dan sekarang hidupnya berubah Robin, jika kau melihatnya kau pasti akan jatuh hati dengannya, dia sangat cantik sekarang,” ucap Vera .
“ cantik? Hahahahah percuma cantik, dulu dia juga cantik tapi aku membencinya karena baru sekali ditiduri sudah hamil, dia itu miskin, tidak masuk hitungan.” Ucapnya dengan nada gamblang seolah Gretta adalah barang murahan di matanya.
“ Tchiiiii kau tidka. tahu apa pun, dia hidup dengan berkecukupan, sebulan lalu aku melihatnya memakai pakaian dari brand mewah dan limited edition, dia sepertinya sudah berhasil, kau bisa mendekatinya lagi dan menghancurkannya seperti dulu,” ucap Vera dnegan senyuman licik di wajahnya.
“ Ini aka bagus dengan memanfaatkan Robin aku bisa menghancurkan Gretta bahkan membungkam mulutnya untuk selamanya!" batin Vera.
Robin menatap Vera dengan tatapan menelisik, dia tersenyum sinis dan mendekati perempuan itu sambil menarik rahangnya,” katakan padaku ada apa sebenarnya? Kau tidak akan menyuruh ku mendekati seseorang jika tidak ada alasan yang tepat untuk itu,” ucap Robin yang sudah sangat mengenal Vera.
Vera menenggak salivanya. Kesalahan besar baginya jika menganggap remeh pria di depannya itu. Robin sangat berhati-hati sejak kejadian hamilnya Gretta, sampai sekarang pun dia berusaha untuk menghindar dari berbagai konflik dan terus menjadikan dirinya sebagai seorang putra yang baik demi warisan keluarganya.
"Katakan padaku, apa yang terjadi, dan kenapa kau tiba-tiba saja membahas perempuan itu!? apa ini semua ada hubungan dengan dia!?" tanya pria itu dengan wajah serius yang menyeramkan.
Vera cepat-cepat mengangguk seraya menahan rasa sakit akibat cekikan tangan Robin.
"Benar.. uhuk... uhuk... Gretta sepertinya akan balas dendam pada semua yang terlibat dalam kejadian itu! dia akan menghancurkan kita semua!!!" ucap Vera panik.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗