Istri Untuk Tuan Simon

Istri Untuk Tuan Simon
187 Season 2: Trap!


__ADS_3

Rendra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi begitu mengetahui kalau Simon dan yang lainnya sudah dibebaskan secepat itu.


Rencananya menjebak pria itu ternyata tidak berhasil dan sekarang dia diburu oleh ketakutan akan amukan sang Presdir gila yang akan membuatnya hancur.


Dengan cepat dia melaju menuju rumahnya meninggalkan Rajawali Grup, berusaha untuk tidak tertangkap, karena jika sampai dia tertangkap, dia dan keluarganya mungkin akan dimusnahkan oleh pemilik bandar narkoba yang bekerja sama dengan Rajawali grup.


Orang yang sangat berbahaya ada di balik penyebaran narkoba itu, Thomas bukan ketua sesungguhnya, dia hanya memanfaatkan bandar itu untuk menjebak Kent grup tetapi sekarang malah berakhir di tangan Kelompok Waltz.


Bergegas dia keluar dari dalam mobilnya, mereka akan meninggalkan negara itu hari ini juga. Berusaha untuk tetap tenang, dia membuka pintu rumah itu sembari memasang senyum tanpa memperhatikan ada kendaraan yang mengawasinya di sekitar rumah itu.


"Sayang aku pulang!!" ucapnya dengan tenang. Sangat tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Dia tidak ingin istrinya tahu tapi sialnya perempuan itu sudah tahu sejak awal.


Rendra masuk ke dalam rumah itu lalu melangkah dengan cepat tanpa menunjukkan kalau dia panik.


" Papa!!" suara Boy, putra Rendra terdengar dari balik dinding pembatas menuju ruang tamu.


"Boy di mana mama Kam.... Nyo...nyonya!!!!" mata Rendra membulat sempurna saat melihat Laura sedang menggendong putranya.


Wajah Boy sudah ditempeli beberapa stiker lucu, bukan hanya wajah, di tangan dan kakinya juga ditempeli dengan benda itu.


Deg.. deg . deg!


Rendra terdiam membatu, syok dan panik di saat yang sama saat melihat Laura sedang tersenyum sambil menatap putra pria itu.


"Ahhh Rendra, kau sudah datang? duduk dulu ayo," ucap Laura sambil tersenyum manis, tetapi matanya mengisyaratkan peperangan haus darah yang mengerikan.


Bubur Rendra tercekat, jantungnya berdetak kencang, dasarnya berdesir saat melihat perempuan itu di sana.


"Silahkan duduk, kenapa kau tegang begitu? apa kau melakukan kesalahan Rendra!?" ucap Laura sambil mengambil stiker itu dan menempelkannya di kening Boy, dia tersenyum tetapi sangat menantikan.


Lanang dan Irvan saja sampai ikut terkejut dan tegang karena karakter dan aura Laura yang benar benar berbeda dari biasanya. Kemarahan wanita itu sudah pada ambang batas di titik di mana dia tersenyum tetapi matanya mengisyaratkan pedang kematian.


"Dia benar benar marah, nyonya muda sangat menyeramkan!" batin Lanang.


"Duduk!" titah Laura dengan suara tegas memerintah Rendra sembari menatap pria itu dengan tangannya yang mengusap usap kepala Boy seraya bersiap untuk menjambak rambut bocah itu.


"Stiker apa itu, kenapa anda datang ke rumah saya!? apa yang anda mau nyonya!!!" teriak Rendra tak tahan, apalagi dia jelas lihat putranya bermain dengan stiker yang persis seperti stiker yang hampir diberikan pada putra dan putri Laura.


"Keluar kalian, saya sudah mengundurkan diri dari perusahaan, apa pun urusan kalian, tidak ada hubungannya denganku!!!" teriak Rendra yang berani meninggikan suaranya di depan Laura.


" Papa... huwaaaa!!!!" Boy menangis sesenggukan saat mendengar teriakan melengking ayahnya yang menyeramkan.


Laura langsung memeluk bocah itu tetapi kedua matanya menatap Rendra dengan senyuman licik, tangannya memeluk Boy dengan erat sedangkan kedua matanya mengisyaratkan pria itu agar segera duduk tenang di depannya tanpa bicara.


Rendra terdiam membeku, permainan psikis unah dilakukan Laura berhasil membuatnya lumpuh tak berdaya.

__ADS_1


"Ku rasa stiker ini sebentar lagi akan bekerja hahah, aku penasaran bagaimana jadinya anak ini jika stiker ini mulai bekerja, ' ucap Laura sambil menatap Rendra dengan mata memelas.


"Uhhh kasihan, anak anakku juga dipukul karena menolak memakai benda ini, bagaimana ya, harusnya kan anak ini juga...


" Nyonya apa mau anda.. tolong, tolong jangan lakukan ini pada anakku!!!" teriak Rendra sambil duduk berlutut di atas lantai.


Laura menyerahkan Boy pada Irvan," bawa dia keluar, anak anak tidak boleh menonton film horor!" ucapnya sambil terkekeh .


Irvan menggendong Boy dan keluar dari ruang tamu meninggalkan Laura, Lanang dan Rendra yang duduk berlutut di sana.


Rendra terdiam gemetaran, nyonya muda grup Kent sangat menyeramkan, dia mungkin tersenyum tetapi di mata Rendra dia sedang mengamuk besar besaran dan siap mencabik dirinya.


Glek!


Lanang menelan salivanya saat melihat Laura berdiri sambil mengeraskan rahangnya dan perlahan berjalan mendekati Rendra.


Di saat yang sama Rani masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa teh.


"I.. ini minumnya nyonya!" ucap Rani dengan wajah takut sembari melirik suaminya yang duduk berlutut di depan perempuan itu.


Laura menoleh dan tersenyum lalu dengan cepat menyambar segelas teh manis panas itu dia...


Byurr!!!!


Dia melempar teh itu ke wajah Rendra sampai pria itu berteriak kesakitan karena rasa panas yang begitu membakar membasahi wajahnya.


"Arkrhhh pa..nas!!!!" teriak Rendra kesakitan. Rani terkejut bukan main, uap air minum itu masih mengepul, tubuh suaminya langsung memerah.


Dia sengaja melakukan itu karena kesal pada Laura, tapi tak tahunya malah senjata makan tuan yang dia rasakan.


"Re..Rendra, Nyonya apa yang Anda lakukan, kenapa anda begitu kejam hiks hiks hiks... anda jahat sekali nyonya!!!!" teriak Rani sambil menangis sesenggukan.


Laura mengangkat tangannya dan...


syuuuttt!


dia melemparkan gelas itu ke arah dinding dan...


Prang!


Gelas kaca itu pecah berkeping-keping di depan mata mereka.


"Kau dan suamimu tak ada bedanya Rani, kau mau membunuh kami dengan memberikan minuman mendidih itu!? apa kau tidak punya otak!? " ucap Laura dengan nada sarkas.


Rani gemetar ketakutan, begitu juga dengan Rendra.

__ADS_1


"Anak-anak ku hampir jadi korban penyalahgunaan narkoba sialan yang mau bawa ke perusahaan kami bangsat!!!" pekik Laura.


Plak!?!!


Laura menampar wajah Rendra dengan lembaran stiker yang dia bawa.


Menampar pria itu sampai dia terhuyung ke belakang.


"Itu semua karena keserakahan kalian, kalian pantas mendapatkan itu!!" teriak Rendra.


"Karena kalian merebut apa yang seharusnya jadi proyekku, gara gara kalian hidupku terancam di Rajawali grup, proyek pembangunan jembatan layang itu harusnya jadi milikku sialan!!!" Rendra berteriak kesal dan marah.


Semua masalah ini di mulai dari sakit hati karena kekalahan proyek, padahal memang mereka yang tidak bisa menawarkan layanan yang lebih dari yang ditawarkan Kent grup.


Bugh!!


"Berani kau berteriak di sini!? kau sadar kesalahan mu apa bajingan, kau hampir membunuh anak anak itu!!!" Lanang tak tahan, dia memukuli Rendra dengan tangannya sendiri.


Rani, istri pria itu syok mendengar penuturan Laura dan Lanang serta kebenaran mengapa dia sampai semarak itu.


Rani juga seorang ibu, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka dia juga pasti akan marah sama sepe yang dilakukan oleh Laura saat ini.


"Rendra, kau tidak tahu malu, kau.. kau membuat kami kecewa!? kau melukai anak anak!? bagaimana kalau hal itu terjadi pada putra kita bodoh!!!" Rani menangis histeris sambil memukuli suaminya.


"Hah... sekarang katakan padaku siapa otak di balik semua ini, aku tahu kalian pasti akan mati di tangan orang itu, jika kau ingin selamat maka katakan padaku siapa mereka!" titah Laura.


"Kalian sudah diincar sejak kami datang ke sini, apa kau tidak memperhatikan mobil di depan sana? kalian pasti akan mati Rendra!" ucap Laura sambil menunjuk mobil truk di depan sana, sudah sejak pagi berada di sana dengan plat mobil luar kota.


Glek...


Rendra terdiam membeku, tidak dia sangka bos besar itu secepat ini.


"Di.. dia adalah bos besar Big Foot, dia yang menjadi dalang di balik semua ini, Ka.. kalian bisa mencarinya di toko stiker, markas rahasia ada di sana!!" ucap Rendra.


" Tapi apa kalian benar benar bisa menyelamatkan kami!? tolong kami!!!" pinta Rendra sambil menangis.


Laura mengangguk," Baiklah, kalau begitu kalian bersembunyi lah ke tempat paling aman, jangan ke luar negeri, mereka pasti sudah tahu, apa kalian punya tempat persembunyian?" tanya Laura.


" Ada! kami akan ke sana, tidak ada yang tahu tempat itu!" ucap Rendra dengan cepat.


"Baiklah segera berangkat!" ucap Laura.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen 🤗


__ADS_2