Istri Untuk Tuan Simon

Istri Untuk Tuan Simon
36. Kau Pikir Kau Siapa!?


__ADS_3

Dani tampak tidak suka dan jijik saat melihat Vino dan Cintia, pasangan pengantin baru yang namanya sampai saat ini dipuja puja oleh semua orang karena pernikahan mereka yang spektakuler.


Sepertinya Dani mengenal mereka, dan tatapannya menunjukkan kebencian serta dendam yang begitu besar pada Vino Bernardo.


“ Kita pergi saja,” ucap Laura yang terlalu malas untuk berpapasan dengan dua manusia sampah yang tidak berguna seperti mereka berdua.


Vino, pria yang memanfaatkan siapa pun untuk mencapai keinginannya sama seperti Cintia yang selalu berlaku semena mena pada siapa pun.


Merendahkan orang lain adalah keahlian mereka, tidak punya hati dan tidak punya perikemanusiaan , begitulah sifat kedua manusia yang sedang bercanda tawa di dalam toko dengan merek mahal itu.


“ Sayang lihat itu,” bisik Cintia sambil menunjuk Laura yang berdiri di depan pintu masuk toko, tampaknya sedang berbincang dengan Lanang dan Dani.


“ Eh... perempuan lusuh itu? Mau apa anak haram itu di sana? Merusak pemandangan saja, lihat pakaiannya itu, sangat kampungan, jangan lihat lihat nanti kamu ketularan kampungan, dia bukan level kita,” ucap Vino merendahkan.


Cintia tertawa cekikikan, baginya siapa pun yang menghina Laura sangat dia sukai. Melihat Laura diejek dan direndahkan adalah sebuah kepuasan tersendiri bagi Cintia. Bahkan dia ingin melihat perempuan itu benar benar hancur sepenuhnya.


“ Ku rasa dia masih menyukaimu,” bisik Cintia.


“ Najis sayang, manusia hina seperti itu tidak pantas bersanding denganku, menjijikkan,” ketus Vino.


Cintia tersenyum. Tatapan matanya yang licik mengisyaratkan sesuatu yang besar di dalam sana. Dia menatap toko itu lalu kembali melihat ke arah Laura.


“ Sayang aku ingin mempermalukan perempuan itu, kita buat dia dan suami lumpuhnya itu malu sampai ke ubun ubun,” bisik Cintia.


“ Mau apa?” tanya Vino.


“ Lihat saja,” ucap Cintia sambil berjalan melenggak lenggok ke arah pintu keluar di mana Laura dengan wajah syok berdiri di depan sana setelah mendengar penjelasan Dani dan Lanang.


“ Hai Laura, adikku yang malang, lama tidak berjumpa, hidupmu pasti sangat menderita karena harus hidup dengan pria lumpuh dan bisu, haduh kasihan sekali, lihatlah bajumu ini, pakaian gembel mau masuk ke toko berkelas, kau hanya akan merusak nama keluargaku,” Cintia langsung blak blakan mengejek Laura di depan umum.


Semua orang yang melihat mereka langsung berbisik-bisik karena jelas mereka mengenali Cintia. Dan rumor tentang Simon yang berselingkuh karena adik Cintia merayu calon suaminya.


Yang mengedarkan rumor ini tentu saja tuan Raymond sendiri. Dia benar benar menggunakan semua kesempatan untuk menjatuhkan Simon dan perusahaan yang dipimpin pria itu.


“ Kita pergi saja,” ucap Laura pada rekannya.


“ mau ke mana?” Cintia menarik tangan Laura dengan kasar.


“ lepaskan aku!" kesal Laura sambil menghempaskan tangan Cintia yang menariknya menjauh dari Lanang dan Dani.


Laura menghempaskan tangan Cintia tapi tiba-tiba...


Brukkk...


Cintia terjatuh ke atas lantai sambil menangis sesenggukan.


“ Laura, apa yang kau lakukan... kenapa kau mendorong kakakmu!??” teriak Cintia sambil menangis seolah dia kesakitan, sungguh perempuan ini sangat pintar bersandiwara.


Laura dan yang lainnya tentu saja terkejut, melihat dari cara Laura melepaskan tangan Cintia tak akan langsung membuat tubuh Cintia terhempas ke lantai.

__ADS_1


“ Dasar anak haram sialan, beraninya kau mendorong istriku!!” Vino melangkah dengan cepat dan menghampiri Laura lalu menarik tangan perempuan itu dan.


Plakkk...


Dengan kasar dan seman-mena Vino memukul wajah Laura sampai pipi gadis itu membengkak.


Semua orang terkejut dengan apa yang terjadi.


Laura terdiam dengan wajah Syok, pipinya panas dan wajahnya memerah karena ulah Vino yang memukulnya dengan begitu kasar . padahal Laura tidak melakukan apa pun pada Cintia.


Semua orang di tempat itu mencibir Laura, mengatakan kalau Laura pantas mendapatkan itu, mengatakan kalau Laura memang pantas dibuang oleh keluarga Raymond.


Mereka mengatakan kalau Laura memang perempuan sial yang dipersatukan dengan pria lumpuh dan bisu.


“ Dasar anak haram sialan, kau berselingkuh dengan tunangan kakakmu dan sekarang kau memukul kakak perempuanmu? Di mana otakmu?” teriak vino dengan lantang sambil memapah Cintia.


“ Hiks hiks hiks.. sudahlah sayang, aku sudah ikhlas, padahal keluarga kami selama ini menjaga dan merawat dia, perempuan ini memang tidak tahu terimakasih,” ucap Cintia sambil memeluk Vino menunjukkan kemesraan agar Laura panas.


Tetapi Laura benar benar geram saat ini. Dia mengepalkan kedua tangannya, mengeraskan rahangnya dan menatap tajam ke arah Cintia dan Vino.


“ kak Laura... biar ku hajar mereka,” Dani dan Lanang sudah tidak tahan, mereka mendekati Laura.


“ Biar aku saja,” ucap laura yang berjalan lalu mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas lusuh yang dia bawa ke gedung itu.


“ kau menyentuh wajahku bajingan, kau pikir kau siapa berani memukulku seperti itu, aku tidak peduli dengan citra yang kalian katakan itu, apa salahnya kalau aku dilahirkan dari rahim perempuan malam, aku justru berterimakasih padanya karena melahirkan ku ke dunia ini.” Ucap Laura sambil menatap mereka berdua.


Cintia melepaskan pelukannya dari Vino dan menatap sinis ke arah Laura,” dasar tidak tahu diri, kau sudah merusak nama keluarga ini dan keluarga suamimu, mau kemana lagi kau akan hidup, uruslah suamimu yang lumpuh dan tidak berguna itu!!" teriak Cintia mengamuk.


“ mau apa kau!!!??"


“Arrrhkkhhh lepaskan aku!!!


“ apa yang kau lakukan pada Cintia!!” teriak Vino tetapi dia langsung dicegat oleh Lanang. Mereka masuk ke dalam toko itu. Dengan cara Lanang dan Dani mengamankan situasi.


“ Lepaskan aku...” teriak Cintia.


Laura menatap Vino dan Cintia sambil tersenyum menyeringai,” kalian salah langkah, kalian melepaskan aku maka terima nasib kalian,” ucap Laura dan..


Plakkk.. plakkk... plakkk...


Buku itu Laura pukulkan ke wajah Cintia berkali-kali sampai pipi dan hidung Cintia terluka.


“ kau yang memulai ini Cintia, maka jangan salahkan aku membalasnya, “ ucap Laura tak gentar.


“ arrkhhhh hiks hiks hiks... Vino tolong aku....” Cintia menangis kesakitan.


“ beraninya kau anak haram sialan!!" teriak Vino hendak memukul Laura.


“ lepaskan dia,” ucap Laura .

__ADS_1


“ Tapi nyonya..”


“ LEPASKAN!!!" teriak Laura.


Vino dilepaskan, benar saja pria itu menerjang dan hendak memukul Laura tetapi keadaan berbalik.


Laura menarik tangan Vino dan membanting pria itu sampai punggungnya terbentur dengan kasar ke lantai.


“Arrkhhh....


Laura menyiram mata Vino dengan spray dalam tasnya, lalu duduk di atas tubuh pria itu .


Bughh... bughhh... bughhhh


Laura melayangkan tinjunya ke wajah Vino berkali-kali.


“ kau pikir apa hakmu memukul wajahku, apa hak mu menghinaku, apa hakmu menghina suamiku manusia jahanam, kau mendekatiku hanya untuk mendapatkan Cintia, kau memperalatku dan sekarang kau menghinaku suamiku, kau siapa bangsat!!!?" pekik Laura yang sudah benar benar mengamuk.


Benar kata orang, sabarnya orang pendiam jika diuji akan membawa malapetaka bagi yang mengujinya.


Glleek...


Dani, Lanang dan para anak buah serta semua yang ada di dalam sana menenggak saliva mereka dengan kasar saat melihat Laura menghajar Vino yang memang manja dan tidak tahu bergelut.


“ beraninya kau merendahkan suamiku, kau pikir kau berhak hah? Kau menghancurkan hidupku, kalau kau memilih Cintia jangan dekati aku dulu bajingan!!” teriak Laura sambil menangis.


Hidupnya seolah menjadi permainan bagi mereka. Apa karena statusnya? Atau karena dia dilahirkan dari perempuan malam, atau karena dia tidak berpendidikan tinggi? Apa alasan mereka selalu merendahkan Laura?


Laura memukuli Vino, wajahnya babak belur, sangat hancur.


Hati Laura sakit, dia benar benar marah.


Tiba-tiba tangannya di tahan oleh seseorang.


“Lepaskan aku!!" teriak Laura sambil menangis sesenggukan.


“ Hentikan permainan menjijikkan ini!" Simon menahan tangan Laura dan menatap perempuan itu dengan tatapan dingin menusuk.


Seketika semua orang terdiam, hawa dingin mencekam menusuk tulang tulang mereka.


Vino dan Cintia dibuat terkejut saat melihat Simon dalam kondisi sempurna, berdiri dan bisa berbicara.


“ Si.... Simon?” mata Cintia membulat sempurna.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen


__ADS_2