
Dengan perlahan Laura membuka Map coklat yang sudah usang dan tua itu. Lembar demi lembar dokumen berisi data Laura di keluarkan. Beberapa Foto juga turut Laura keluarkan dengan tangan gemetaran dan rasa gugup yang membuncah di dadanya.
Simon mengamati perubahan suasana hati istrinya. Dia tahu kalau Laura merasa takut dan gugup untuk mengetahui keluarga kandungnya.
Bahkan Simon yang sudah membaca semua kronologi yang ditulis tangan oleh penculiknya tertegun membaca pernyataan itu. Laura dijadikan sandera selama bertahun tahun untuk menghancurkan sebuah kelompok mafia besar yang merajai bisnis di dunia bawah bersaing dengan adik tuan Raymond.
Keluarga besar Waltz. Sebuah keluarga Mafia yang bergerak di dunia bawah tanpa membahayakan orang yang tak bersalah. Mereka membangun kerajaan bisnis mereka dengan menyerang sesama penggerak di dunia bawah dan berhasil mencapai puncak rantai makanan dan menjadi penguasa di atas semuanya.
Hingga perseteruan besar terjadi dengan kelompok mafia yang tak seberapa dibandingkan dengan Waltz. Mereka menyerang markas dan menyerang keluarga inti Waltz yang kala itu sedang bertamasya merayakan hari ulang tahun putra dan putri kembar tak seiras mereka yang baru menginjak usia 2 tahun.
Tak disangka kejadian ini berakhir dengan hilangnya salah satu penerus kelompok Waltz yang di culik dan dijadikan sandera untuk menghancurkan keluarga dan kelompok mafia itu sampai berkeping keping.
Dan bayi kecil itu adalah Laura. Bayi kecil itu di culik dan dibawa oleh adik tuan Raymond, disembunyikan di rumah keluarga Raymond. Mereka membuat rumor sendiri tentang kelahiran Laura kalau gadis tak berdosa itu dilahirkan dari rahim perempuan malam agar tak seorang pun curiga dengan kehadiran anak yang tiba tiba di rumah keluarga raymond.
Selain itu, keluarga Raymond pada saat itu tidak berhubungan dengan dunia mafia mana pun dan sedang merintis usaha sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pada pihak manapun.
Dengan cepat rumor tersebar kalau ada anak perempuan malam yang dilahirkan dan dibuang ke rumah itu. Meski rumor itu mempengaruhi citra tuan Raymond, dia tetap mengambil risiko karena ancaman dari adiknya yang gila dan bisa memusnahkan keluarganya dalam sekali gerakan.
Oleh karena itu Laura harus terus disembunyikan dan identitasnya dirahasiakan sebelum dia bisa mereka gunakan untuk mengusik kelompok Waltz yang tampaknya tak pernah memunculkan diri di hadapan publik setelah kejadian besar itu.
Bagi Keluarga Waltz, hilangnya putri mereka adalah duka paling mendalam bagi ayah dan ibunya. Bertahun tahun mereka mencarinya hingga informan mereka menemukan pakaian putri mereka serta beberapa helai rambu yang bersimbah darah dan potongan kulit pada cambuk berbahan kulit terletak di jurang tak jauh dari kediaman mereka. Jika dihitung saat itu usia Laura sudah 8 tahun saat dia dinyatakan meninggal.
Dari situ mereka menyimpulkan putri mereka telah mati di tangan adik tuan raymond. Keluarga Waltz perlahan menghilang dari permukaan. Mereka mengubah warna mereka dan mengubah nama mereka menjadi keluarga lain.
Hanya segelintir orang yang tahu hal ini. Mereka yang bergerak di dunia bawah pasti tahu apa yang terjadi dengan keluarga Waltz dan juga adik tuan raymond yang memimpin kelompok Brown.
Setelah hilangnya Laura, perang besar besaran masih terjadi, bahkan saudaranya juga harus diungsikan ke tempat yang jauh bersama Ibunya. Kisah keluarga mereka sangat mengerikan setelah kejadian itu.
Air mata Laura mengalir begitu deras membaca semau kronologi dan kisah keluarganya yang dikenal baik oleh anak anak jalanan. Keluarga Waltz menampung puluhan ribu anak jalanan dan orang yang tak punya rumah di berbagai negara. Meski pekerjaan mereka dianggap buruk tetapi mereka masih punya sisi kemanusiaan.
Dia menatap foto ayah dan ibunya, pemimpin Walt, kelompok mafia yang ditakuti oleh banyak orang tetapi disegani dan dihormati karena kharisma mereka.
Foto seorang bayi kecil lainnya di samping kereta dorong Laura saat bayi adalah saudara kembar Laura. Serta beberapa orang yang berdiri di belakang mereka tampak sangat berkharisma.
__ADS_1
Penasaran, rindu dan ingin bertemu orang orang yang dia cari selama ini. Tapi entah mereka bisa menerima Laura atau tidak, entah mereka yakin Laura anak mereka atau tidak. Gadis itu tampak bingung dan sedih di saat yang sama.
Seharusnya dia bisa tumbuh dengan keluarganya tetapi malah dipisahkan setelah kejadian itu.
“ Kau baik-baik saja?” tanya Simon.
Laura menggelengkan kepalanya sambil menangis dalam diam dan mencengkram dokumen itu.
“ Saya takut tuan,” ucap Laura.
Simon terkejut, bukannya Laura mencari keluarganya? Tapi kenapa dia takut? Apakah dia menyesal setelah tahu kalau dia keturunan orang berpengaruh? Keturunan Mafia?
“ Apa kau takut karena identitas keluargamu? Atau karena mereka itu orang orang dari dunia bawah atau karena hal lain?” tanya Simon yang sontak duduk di atas brankar.
Laura menatap Simon dengan bercucuran air mata.
“ Bukan, aku takut mereka tak lagi mengingatku, jelas disebutkan kalau aku sudah mati padahal semua itu tipuan, aku takut mereka tidak menerima dan menolak, aku ingin mencari mereka, aku ingin bertemu mereka, tapi aku takut tuan,” jelas Laura dengan suara terbata bata.
Simon menghela nafas, dia pikir Laura tak terima dengan identitas keluarganya, tahu taunya Laura malah ingin bertemu dengan mereka.
“ Dokumen ini biar aku yang simpan, dan jangan memberitahukannya pada siapa pun, ini rahasia antara kita,” ucap simon.
“ Apa Anda bisa membawa saya menemui mereka tuan? Apa benar?” Tanya laura penuh harap, dia menggenggam lengan Simon dan menatap pria itu dengan penuh harap.
Simon mengangguk sambil tersenyum,” aku bisa, serahkan semua padaku, informasi ini memang benar benar rahasia, beruntung kalian mendapatkannya, beruntung kau selamat, sekarang istirahat dan jangan banyak pikiran, aku akan siapkan semuanya,” Ucap Simon dengan lembut .
“ Tapi Tuan..” Laura menatap Simon.
Kedua netra mereka saling beradu pandang, Laura menatap simon dengan tatapan dalam, tangannya terangkat ke atas. Simon hanya terdiam seperti sedang terhipnotis denan keanggunan Laura.
Tangan laura mendarat di kening Simon dan...
“ Tuan, Anda sakit, Anda demam, kenapa tidak bilang? Wajah andap pucat, apa yang terjadi? Kenapa begini? Apa sejak semalam Anda sakit hmm? Kenapa tidak bilang padaku?” omel Laura sambil menatap pria itu dengan tangannya masih di kening Simon.
__ADS_1
Simon terdiam,” aku juga tidak sadar,” ucap Simon dnegan polosnya.
Pletakk...
Laura menyentil Kening Simon persis seperti yang pria itu lakukan padanya,” dasar bodoh, tubuhmu sakit dan kau sekarang demam, kau juga belum sarapan, kau akan jatuh sakit, bagaimana bisa begini,aku juga sakit siapa yang akan merawatmu, “ omel Laura.
Simon menatap Laura yang terus mengoceh dan mengomeli dirinya, pria itu mengulum bibirnya dan menahan tawanya, ini pertama kalinya Laura mengomeli Simon seperti itu.
“ Pffthhh bwahhahahhahahaa..... hahahhahahaa........ Dasar cerewet, ini hanya demam biasa kenapa kau mengoceh seperti itu hahahahahaha........” Simon tertawa terbahak bahak.
“ Hishhhh... dasar ceroboh, jaga kesehatan Anda dulu tuan Simon,” ucap Laura dengan wajah kesal.
“ kak Zayn... Kak Zayn masuk!!” teriak Laura.
Dengan cepat Simon menyembunyikan dokumen itu.
“ Ada apa?” Zayn masuk ke dalam dengan wajah panik.
“ Tuan Simon sakit, dan belum makan tolong urus dia ,” ucap Laura .
“ Kau sakit lagi? Kau pasti tidak makan dengan teratur dasar bodoh kau ini, sudah ku bilang jangan begadang dan ganti pakaianmu tapi kau ngeyel, dasar si kolot ini arrhkkk membuat kepalaku pening saja!!” Omel Zayn lagi.
Bwahahahhahhahaa...
Simon bukannya marah dia malah tertawa terbahak bahak melihat kedua orang itu mengomelinya bersamaan.
“ Darah memang lebih kental dari pada air, tak heran kalian berdua punya hubungan itu,” Batin Simon menatap Laura dan Zayn bergantian.
"Aku akan menyiapkan pertemuan keluarga kalian dengan baik, tunggu sampai kupastikan kalau Laura benar-benar bagian dari keluargamu Zayn, Ku harap tes DNA ini akan jadi bukti paling kuat, kalian sudah menderita, aku akan membantu kalian!"
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen