
Andara terdiam membeku saat mendengar ucapan Loey yang masuk akal. Jika bukan dia, maka akan ada orang lain yang akan merebut Dani, bahkan dia pun tidak akan bisa dekat perempuan itu nantinya.
Ella melirik Loey sambil tertawa cekikikan,sedang pria itu mengedipkan sebelah matanya," Hihihi hanya ini yang bisa ku lakukan untuk membalas kebaikanmu Dani, kau harus bahagia dengan orang yang membuatmu tersenyum!" Batin Loey.
"Ahh biarkan saja dia menikahi pria jahat, dia akan dipukul tiap hari, disiksa, dimarahi bahkan diceraikan dan ditinggalkan!" ucap Ella.
Andara semakin syok, mulutnya menganga lebar, matanya membulat, tidak bisa dia biarkan Dani hidup menderita karena perbuatan pria jahat.
" Tidak boleh, Tidak boleh terjadi!! apa yang harus Andara lakukan, Dani tidak boleh menderita, dia harus bahagia!!!" ucap Andara panik sambil memukuli kepalanya lagi.
Pria itu semakin panik, membayangkan kekerasan rumah tangga terjadi pada perempuan yang dia cintai.
Loey terkekeh, dia menarik kedua tangan pria itu dan menatapnya," Kalau kau tidak mau, segera lamar dia, ajak dia menikah dan jaga dia seumur hidupmu, hanya kau yang bisa membuat dia tertawa dan hidup bahagia!' ucap Loey.
Loey dan Dani sudah kenal lama. Pria itu juga punya trauma yang sama dengan Dani, karena dia adalah salah satu saudara angkat Dani saat mereka hidup dalam kegelapan paling ngeri di hidup mereka.
Dani menemukan Loey beberapa tahun setelah bergabung dengan tim Aryn dan mengajak pria itu bangkit dari keterpurukan.
Loey sangat mengenal Dani, sejak bertemu Laura dia perlahan berubah jadi perempuan manis dan sabar dan semakin dikuatkan ketika bertemu dengan Andara yang membuat Dani tersenyum tanpa beban bahkan merasakan yang namanya cinta dan percaya pada pria .
Dia tahu adiknya itu, dia akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan Dani termasuk membantu masalah percintaan gadis itu.
"Menikah!? Baiklah, Andara akan melakukannya, tapi Andara harus bekerja supaya bisa menjadi sosok pelindung Dani, Andara pasti bisa, Andara akan melakukan apa pun!!!" ucapnya dengan semangat.
...****************...
Sementara itu, Laura bersama Lanang dan Irvan sedang melaju menuju kediaman seseorang yang sangat ingin dijadikan rempeyek oleh Laura.
Sedangkan suaminya sedang dalam perjalanan menuju markas utama bandar narkoba itu bersama Dani dan kelompoknya.
Laura dikawal oleh Lanang dan Irvan, wanita itu tampak membawa sebuah paper bag berisi berlusin lusin stiker yang sama seperti yang berusaha diberikan pada anak kembarnya.
Laura tampak Badas, wajahnya lembut tapi menyimpan amarah menggebu-gebu karena perbuatan tak terpuji Rendra pemilik rumah itu.
Dia berjalan dengan langkah elegan memasuki area rumah itu dan berdiri di depan pintunya.
Ting.... nong!!
__ADS_1
Suara bel yang ditekan terdengar bersamaan langkah kaki dari dalam. Pintu dibuka perlahan dan tampaklah seorang wanita, Rani istri Rendra yang tampaknya sedang memasak terlihat dari Celemek yang dia pakai.
" Nyo... nyo... nyonya Laura!?" Mata Rani membulat sempurna saat melihat Laura ada di depannya, berdiri sambil tersenyum ramah di depannya.
"Selamat siang Rani, lama tidak bertemu, ayo masuk!" ucap Laura sambil menggandeng tangan Rani.
Tetapi perempuan itu tampak ketakutan," ma... maaf nyonya tapi suami saya belum pulang, saya tidak boleh sembarang mengajar orang ke dalam rumah," ucap Rani ketakutan.
Dia tahu kalau ada masalah dengan suaminya yang tiba-tiba keluar dari perusahaan bahkan memilih meninggalkan negara itu, karena dia menemukan stiker narkoba itu di dalam tas kerja suaminya, dan sama persis dengan yang beredar di pasaran.
Laura tersenyum," Ahhh kalau begitu kamu saja yang keluar, toh rumah ini pamberian kantor," ucap Laura sambil tersenyum tetapi kata katanya sangat pedas dan menusuk.
Tak segan dia masuk menyelonong begitu saja ke dalam rumah itu. Berjalan berkeliling sambil menatap foto keluarga Rendra.
"Wahh keluarga kecil yang bahagia," ucap Laura masih dengan senyuman manis tetapi kedua matanya mengisyaratkan lampu merah berbahaya.
Jantung Rani bagaikan diuji oleh Laura saat ini. Dia takut sekaligus merasa gugup saat melihat Laura di depannya.
"Hemmm....putramu sudah besar ya, biar ku tebak usianya," Laura mengangkat foto putra mereka sambil mengusap piguranya dengan senyuman aneh di wajahnya.
"Pasti dia sudah 4 tahun ya kan!?" ucap Laura sambil tersenyum menatap Rani.
"Nyo.. Nyonya apa yang anda cari tidak ada di sini, suami saya tidak tahu apa-apa, to...tolong pergi!!" ucap Dani dengan tubuh gemetaran.
Tiba-tiba saja...
"Tante Laula?" suara bocah kecil yang baru bangun dari tidurnya membuat mereka berbalik.
Laura Tersenyum dan langsung menghampiri bocah itu lalu menggendong nya," Waahhh Boy, kamu ingat Tante sayang? lama tidak bertemu hahah...semakin tampan saja!!!" ucap Laura sambil memeluk bocah itu tetapi matanya menatap sinis Rani.
"Nyonya ,turunkan putra...
"Ohh Rani, tamu datang bukannya diberi minum, apa kau melakukan kesalahan sampai kau ketakutan begitu, jangan berisik, nanti Boy tahu, hahah...." ucap Laura sambil mengusap kepala Boy tetapi di mata Rani dia seolah sedang menjambak kepala putranya.
" Nyonya saya...
" Rani, aku sangat haus, " ucap Laura sambil membawa Boy ke ruang tamu dan duduk di sana dengan nyaman bersama Lanang dan Irvan.
__ADS_1
"Aku mau jus jeruk ya," ucapnya sambil tersenyum dan melingkar kan tangannya di leher Boy sambil tersenyum manis, sangat mengerikan jika ibu dua anak itu sudah diuji kesabaran dan kepercayaan nya.
Jantung Rani berdebar kencang, ancaman psikis yang dibuat Laura berhasil membuat wanita itu terdiam dan menurut.
Dengan langkah cepat dia berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Ahh aku tidak mau ada panggilan ya Rani, aku akan menunggunya di sini, jika dia tidak datang juga, Boy akan ku bawa bermain, kau mau kan Boy?" ucap Laura sambil mengusap wajah Putra Rani dan Rendra.
" Hahah mau ante.. Boy mau beltemu kakak dan Abang!!!" ucap anak itu sambil tertawa girang seraya bertepuk tangan di pangkuan Laura.
Laura tak tega menyakiti anak-anak tetapi Laura harpa suatu saat nanti, putra kedua orang itu akan sadar perbuatan jahat orangtuanya terhadap Laura dan anak-anak nya.
Rani tak bisa menangis, tak bisa berteriak, Laura memang sangat baik tetapi wanita itu adalah perempuan paling mengerikan jika sudah marah. Saat ini Rani tidak bisa menghubungi suaminya, jika dia lakukan entah apa yang akan Laura lakukan pada Boy.
Suasananya sangat menegangkan, bahkan Lanang dan Irvan terkejut dengan sosok lain dari Laura yang jarang terlihat.
"Laura benar benar berubah!" batin Irvan.
"Saat anak-anak disakiti maka ibunya pasti akan berubah seperti Laura, menyeramkan, dia bahkan lebih menyeramkan ketika hanya berbicara dan bergerak, wanita itu di level berbeda!" batin Lanang.
Laura tersenyum sambil mengeluarkan stiker warna warni itu dari tasnya.
Dia meletakkannya dan menjejerkan di atas meja.
" Wahh stiker cantik, seperti punya Papa, Tante dapat dari mana!?" tanya Boy dengan polosnya.
Laura mendudukkan anak kecil itu dia atas sofa," Dapat dari papa kamu sayang," ucap Laura sambil menempelkan satu stiker beruang kecil di wajah Boy.
"Sayang aku pulang!!" suara Rendra terdengar.
"Show time!" ucap Laura sambil tersenyum licik.
.
.
.
__ADS_1
Like, Vote dan komen