
Dani berdiri di depn gedung perusahaan bersama ketiga manusia yang berbagi sel otak yang sama denagn segala tingkah absurd mereka.
Sambil bermanja manja di bahu paman mereka yang bidang dan lebar, keduanya menatap ke arah gerbang masuk perusahaan, menantikan kedatangan Andara yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya padahal, sudah 3 jam berlalu sejak terakhir kali dia berbicara dengan mereka melalui sambungan telepon.
Dani berjalan mondar-mandir sambil mengigit ujung jarinya. Entah kenapa dia merasa khawatir akan keadaan Andara. Hatinya mengatkan ada yang tidak beres karena pria itu tak kunjung tiba.
Padahal biasanya 15 menit setelah bicara di telepon memberi kabar kalau dia sudah di jalan, Andara pasti telah tiba di sana. Tetapi kali ini berbeda, mereka menunggu bahkan menghubunginya berkali kali tapi tak kunjung datang.
“ kenapa Andara belum tiba juga?” ucap Dnai .
“ Tenanglah, dia itu pria dewasa, mungkin dia bertemu teman di jalan atau melihat benda benda kesukaannya, jangan terlalu panik,” ucap Kevin.
“Tapi tidak biasanya dia begini Kevin, kau juga tahu kan kalau dia itu pria yang on time,” ucap Dani.
“ Aku tahu, tapi dia pasti melakukan sesuatu, jangan terlalu khawatir, kita tunggu saja,” ucap Kevin.
Dani hanya menghela nafas berat, rasanya dia khawatir dan takut terjadi sesuatu pada Andara. Kevin yang melihat reaksi gadis ini haay bisa terdiam, rasanya sedikit menyesakkan melihat ornagyang kita sukai mengkhawatirkan orang lain.
“ Apa kau sekhawatir itu? Biasanya kau tidak begini pada orang lain,” ucap Kevin.
Dani berhenti melangkah dan menatpa Kevin, dia juga merasa heran dengan dirinya yang tiba tiba begitu memperhatikan Andara.
“ Tentu aku khawatir, dia itu punya kondisi khusus, apa perlu alasan lain untuk khawatir? “ ucap gadis itu.
“ Ahh karena kondisinya ya,” ucap Kevin ,” semoga saja hanya karena kau bersimpati pada Andara, jika kau sampai benar benar suka, maka aku tidak akan bisa bersaing dengan orang yang sudah kuanggap seperti adikku,” batin Kevin dengan rasa sedih di hatinya.
Mereka menunggu Andara dan m menghubunginya, tapi Andara tak kunjung tiba, bahkan sampai malam tiba.
Dani tak bisa tinggal diam, Andara tidak pernah seperti ini. Hari sudah gelap tapi dia tak kunjung memberi kabar. Ini jelas bukan Andara yang mereka kenal.
Kevin pun sama, dia menjadi panik karena Andara tak kunjungmemberi kabar pada mereka.
“ Dani, sebaiknya kita lihat ke rumahnya, aku takut terjadi sesuatu,” usul Kevin yang langsung berjalan menuju parkiran. Malam sudah berkuasa, anak anak Laura juga sudah kembali ke rumah, meski harus kecewa karena tidak bertemu dengan paman bintang mereka yang menggemaskan.
Dani mengangguk, dia dan Kevin mengendarai motor mereka masing-masing.
__ADS_1
“ aku akan melihatnya ke tempat Pak Alvin, periksa di rumahnya,” ucap Dani yang dibalas anggukan kepala oleh Kevin. Mereka berdua tampak sangat khawatir. Belum lagi tadi siang mereka mendengar berita dari stasiun televisi tentang sekelompok orang yang suka merampok dan menghajar korbannya sampai babak belur.
Kevin dan Dani yang sudah sangat dekat dengan Andara, melaju dengan kecepatan tinggi, mengunjungi tempat yang mungkin ditempati pria itu kini.
Kevin mengemudi sambil menatap langit yang penuh dengan bintang, langit yang selalu mengingatkannya pada Andara. Andara, pria penyandang disabilitas itu adalah cahaya bagi mereka di tengah hati mereka yang dingin dan sepi.
“ Andara jangan sampai kau kenapa kenapa,ini tidak seperti dirimu, kenapa kau tidak bialng apa pun,” batin Kevin sambil mempercepat laju sepeda motornya hingga dia tiba di rumah Andara. Pria itu berhenti di depan rumah itu, tampak gelap gulita, tak ada penghuninya.
Pagar depan juga dikunci dari luar pertanda pemiliknya pergi. Kevin turun dari motornya dan menekan bel dari dekat pagar masuk.
Berkali Kali dia menekan tombol cokelat itu, tapi tak ada seorangpun yang datang . Kevin menatap rumah bertingkat dua itu, dia berjalan menyeberang ke toserba di depan rumah Andara.
Dengan cepat dia masuk ke toserba itu dan menemui pemiliknya yang merupakan tetangga Andara. Seorang ibu bergaun bunga bunga menyambutnya di sana dengan wajah kaget karena Kevin tampak panik.
“ Ibu, apa ibu melihat Andara atau orang yang tinggal di rumah itu hari ini?” tanya Kevin.
“ Ahh anak yang syndrom itu? Tadi siang dia pergi berjalan kaki, 1 jam kemudian kakak laki lakinya keluar dari rumah, tampak terburu buru karena dia mengemudikan motornya dengan begitu cepat, setelahnya mereka tak pulang ke rumah sama sekali,” ucap Si Ibu yang memang menjaga toko seharian.
“ Tidak pulang?” Kevin menatap rumah Andara.
“ baiklah bu, terimakasih,” ucap pria itu . Kevin dengan langkah yang cepat pergi keluar dari toko itu, dan dengan motornya, dia bernagkat menuju tempat lain yang mungkin dikunjungi oleh Andara.
“ Dani bagaimana apa dia ada di tempat pak Alvin?” tanya Kevin yang terhubung langsung dengan Dani.
“ Tidak ada, hari ini dia tidak datang ke sini, apa dia di rumahnya? “ tanya Dani.
“ di sini juga tidak ada, tapi kakaknya juga pergi dari rumah, ada kemungkinan mereka bersama, Dani sebaiknya kita tunggu sampai besok, jika tak ada kabar, kita cari lagi,” ucap Kevin.
“ tapi... aku khawatir,” ucap Dani.
“ tenanglah, dia sudah dewasa dan punya kehidupannya juga, mungkin dia sedang bersama kakaknya, jangan terlalu khawatir,” ucap Kevin.
Dani hanya bisa menghela nafas,” ahhh baiklah, padahal aku merindukan dia, bintang hari ini juga sangat indah, tapi dia tak disini, dasar si bodoh itu,” ucap Dani.
Wajah Kevin berubah tak senang, ucapan Dani membuat perasaannya terluka, tapi apalah daya, dia hanya bisa mencintai satu sisi, dia tak mau merusak pertemanannya dengan menyatakan cinta pada Dani yang jelas tidak tertarik dengan pria .
__ADS_1
“ Sudahlah, dia juga punya kegiatan sendiri, tak mungkin ada orang yang mau mencelakai dia,” ucap Kevin.
Dani dan Kevin tak melanjutkan pencarian merkea. Keduanya kembali ke markas mereka dengan harapan tidak terjadi apa-apa pada Andara.
Sementara itu,
"Andara!!! Andara jawab aku kau di mana!!!" Suara teriakan Bizael terdengar menggelegar di dalam sebuah terowongan gelap yang jarang dilewati pelintas.
Bizael, saudara sekaligus keluarga satu-satunya milik Andara. Bizael berjalan ke sana kemari, mencari keberadaan sang adik.
Pria itu melangkah semakin cepat, keberadaan adiknya tidak dia ketahui. Siang tadi, seseorang mengiriminya foto Andara yang dibawa oleh sekelompok orang yang mencurigakan.
Bizael pergi ke titik itu, tapi tidak menemukan Andara di sana.
"Andara kau dengar aku!??"teriak pria itu. Dia sudah mencari posisi Andara seharian, tapi tak kunjung menemukan saudaranya.
Langkah kakinya semakin cepat, dia berteriak, dia frustasi.
"Andara kau di mana!!!!" pekik pria itu lagi. Dengan tangan gentar, Bizael di tengah kegelapan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Andara.
"Tolong... jawablah..... Andara.... Jangan begini, aku salah, aku yang salah, maafkan aku... Andara... " Bizael gemetaran, dia menghubungi nomor Andara.
Dia menatap ke arah kegelapan, tiba-tiba suara dering ponsel Andar berbunyi di ujung terowongan itu.
"ANDARA!! " Begitu mendengar suara dering ponsel adiknya, dia berlari menuju tempat itu.
Dia berlari sekuat tenaga. Takut, bingung dan panik bercampur menjadi satu.
Dia menemukan Andara, tergeletak di atas jalanan, dengan tubuh bersimbah darah, dan luka tusuk di mana-mana.
"A...An... Andara!!!! Tidak!!! Andara!!!!!"
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 🤗