Istri Untuk Tuan Simon

Istri Untuk Tuan Simon
115


__ADS_3

Mereka semua menoleh ke arah sumber suara. Sosok pria bertubuh besar dan seorang wanita anggun tengah berjalan menghampiri mereka dengan aura kuat yang begitu berkharisma.


Dengan Cardigan hitam serasi yang mereka kenakan, keduanya menghampiri mereka di taman hotel tempat acara itu berlangsung.


"Papa, Mama?" Laura tampak sangat senang melihat kedua orangtuanya. Dia menghampiri mereka dan segera menggandeng keduanya.


"Jangan jalan terlalu cepat sayang,"


"Hati hati kamu jatuh nanti,"


Perhatian mereka sukses membuat semua orang iri dan terdiam dengan keluarga ini.


Laura tersenyum seperti anak kecil, dia sudah tahu apa yang akan dilakukan kedua orangtuanya dan ini juga adalah keinginan tuan Kennedy dan istrinya.


"Kalian!?" bola mata nyonya Michels hampir saja keluar saat melihat dua legenda dunia mafia ituada di hadapan mereka.


Tanpa memperkenalkan diri pun, dua orang tua ini sudah dikenali oleh orang-orang karena organisasi yang mereka pimpin.


"Jadi kalian menolak putri kami?" nyonya Felicia menarik lengan Gretta dengan lembut dan merangkulnya.


"Nyo..nyonya?" Gretta terkejut.


"Sayang, Papa dan Mama akan bantu kamu. Kami sudah menganggap mu seperti putri kami," bisik nyonya Felicia sambil mengusap lengan gadis itu.


Gretta terdiam membatu, tak pernah dia menyangka akan dianggap anak, tak pernah dia menyangka akan punya orangtua lagi setelah apa yang terjadi padanya.


"Pu.. Putri!?" Tuan Michels terdiam membatu.


"Ya, Gretta adalah putri kami, orang yang berjasa menjaga anak kami Laura saat kami tidak tahu keberadaannya, dan kini atas jasanya dan karena kami menyayanginya," Tuan Kennedy menatap Gretta sambil tersenyum dengan hangat.


" Jika kalian menolaknya Maka kalian pasti...


" Tidak tidak, kami tidak menolaknya, si...silahkan, kami tidak masalah!" Tuan Michels langsung memotong ucapan tuan Kennedy sebelum dia salah bicara karena menolak Gretta Yanga salah anggita penting organisasi hitam yang dikenal keji itu..


"Sialan, lebih baik mengorbankan Diego daripada seluruh Bisnisku hancur karena mereka!" batin tun Michel yang tak ingin bisnisnya rusak karena menolak Gretta.


Jika sudah berhubungan dengan organisasi itu, maka mereka tak bisa berbuat apa-apa selain menerima saja.


Diego tersenyum sinis menatap kedua orangtuanya, mereka sejak awal bahkan sampai sekarang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Bahkan tak pernah menanyakan perasaan Diego yang hancur karen ulah mereka.


"Ka... kalau begitu kami permisi!" ucap Tuan Michels yang langsung ketakutan dan hendak pergi dari sana.

__ADS_1


"Kalian bahkan tidak pernah menanyakan kabarku, yang kalian pikirkan hanya bisnis kalian!" Diego menatap sedih ke arah kedua orangtuanya.


Hancur hatinya saat melihat mereka bersikap cuek seperti itu. Jelas Diego tahu yang mereka harapkan adalah Diego menjadi seperti kedua kakak laki-lakinya yang hebat dan dikenal orang.


Mereka ingin Diego memiliki jabatan tinggi tapi pria itu melawan kehendak mereka.


"Kalau kau jelas tahu, kau pasti bisa membedakan dirimu dengan kedua kakakmu yang bisa diandalkan, kami tidak butuh anak pembangkang seperti dirimu, entahlah dan hidup dengan sesukamu!" ucap nyonya Michels.


Semuanya terkejut mendengar itu secara langsung.Hanya karena tidak berkarir sesuai keinginan orangtuanya, Diego diusir dan tidak dianggap keluarga.


Simon merangkul sahabatnya," Yahhh kita lihat saja bagaimana kedua putra kalian yang sedang berjuang cari muka dengan perusahaan milik sahabat ku ini, aku yakin kalian akan menyesal," ucap Simon .


"A.. apa!??" mata kedua orangtuanya membulat sempurna.


" Sudahlah, kalian tidak menganggapnya, maka jangan pernah mencarinya, dia berharga bagi kami, dan kami akan menjaga nya!" uaco Simon sambil menarik Diego dan berjalan menjauh dari sana meninggalkan mereka.


Tuan dan Nyonya Michels tak percaya dengan apa yang Simon katakan. Mereka hanya tertawa meremehkan pria itu dan tak akan pernah percaya bahwa kedua anak yang mereka banggakan sedang berusaha mati-matian untuk bekerja sama dengan perusahaan mebel yang tak tahunya adalah milik adik mereka.


Entah bagaimana nanti kalau sampai kedua orang tua itu tahu jika Diego berhasil meraih cita-citanya dan melampaui kedua kakaknya.


Diego menunduk sedih. Tak pernah dia rasakan yang namanya kasih sayang orang tua yang tulus. Melihat Zayn dan Laura yang diperlakukan begitu baik oleh orangtua mereka berhasil membuat dia iri.


Nyonya Felicia memeluk putrinya dan juga Gretta," Dia akan belajar jadi dewasa, kita hanya perlu mendukung nya sayang, jangan khawatir, Papa dan Mama akan membantunya," ucap Nyonya Felicia.


"Terimakasih nyonya, telah membantu kami," ucap Gretta.


"Ummm? nyonya!??" Wanita itu memicingkan matanya menatap Gretta.


" Huffthh!"


"Diego Gretta sini lihat Mama!" senggak wanita itu sambil berkancah pinggang menatap mereka berdua.


Simon, Laura dan Tuan Kennedy sudah senyum senyum sendiri melihat tingkah nyonya Felicia.


Diego dan Gretta sama sama terkejut. Keduanya menatap wanita itu dengan wajah heran.


"Ada apa Tan?" tanya Diego penasaran.


"Kenapa nyonya?" tambah Gretta lagi.


Wajah nyonya Felicia terlihat kesal, dia menatap mereka dan berkata," Kalian harus panggil Mama dan Papa, bukan om Tante atau tuan nyonya, mulai hari ini kalian panggil Papa dan Mama, Titik sebesar Monas!" tegas wanita itu.

__ADS_1


Nyonya Felicia terlihat seperti seorang ibu yang sedang mengomeli dua anaknya yang nakal. Gretta dan Diego sama sama anak yang kehilangan sosok orang tua sejak mereka hadir di dunia ini.


Mendengar hal itu membuat hati mereka bergetar. Di tegur dan diomeli orang tua adalah hal yang sangat mereka inginkan. Selema beberapa bulan belakangan, hubungan mereka memang terjalin baik dengan keluarga Waltz Kennedy.


Tuan dan Nyonya Kennedy juga sudah menganggap mereka sebagai keluarga.


"Kalian dengar tidak!?" ketus nyonya Felicia dengan nada memaksa.


Diego dan Gretta melirik Laura yang memeluk sang ayah sambil tersenyum lembut.


"Jangan lihat aku ihhh, kan Mama tanya sama kalian," celetuk Laura sambil menahan tawanya.


"Ba..baik nyonya/ Tante..." ucap keduanya bersamaan.


Duk! Duk!


Nyonya Felicia mengetuk pucuk kepala mereka berdua.


"Dasar anak nakal, kan tadi Mama sudah bilang Ganti panggilannya," ucapnya lagi memaksa. Dia tahu kalau keduanya menyukainya, hanya saja mereka pasti merasa segan dan kecil hati seolah ini hanya bercandaan.


Tiba-tiba wanita itu berjalan dan menarik keduanya lalu memeluk mereka.


"Dasar kalian ini, mulai sekarang anggap kami orangtua kalian nak, kami sudah menganggap kalian seperti anak kami, jangan sungkan, jangan takut Karena kami akan mendukung kalian sekalipun kami bukan orangtua kandung, tapi kami tahu rasanya dicampakkan keluarga sendiri!" jelas nyonya Felicia.


"Mama berharap, Gretta bisa merasa bahagia dan hubungan Diego dengan orangtua kandung perlahan membaik, kalian bisa berkeluh kesah pada kami, jangan takut mengadu, jangan takut merengek, kami Kan ada untuk kalian nak," ucap nyonya Felicia yang sangat paham rasa sakit dibuang orang tua sendiri.


Diego dan Gretta tak kuasa menahan tangis mereka. Gretta menangis sesenggukan dan Diego kini berlinang air mata.


Memeluk dan mendekap wanita itu penuh haru karena mereka diperlakukan layaknya manusia, layaknya anak yang butuh sosok orangtua.


."Terimakasih Mama...." ucap keduanya menangis haru.


"Kami mungkin bukan orangtua yang sempurna, bahkan jauh dari kata itu, tapi kami menyayangi kalian. Papa dan Mama harap, semua membaik seiring waktu berjalan, anggap kami sebagai orangtua kalian,"


.


.


.


Like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2