
Simon mendesis kesal dan menatap tajam ke arah suami Obelia yang baru dia lepaskan karena bukannya memeluk si Mamagor dia malah memeluk gorilanya langsung.
"Sedang apa kau di sini kampret, mengesalkan sekali!!!" ketus Simon .
Sadrakh menghalangi jalan Simon," sedang menjaga Mamagor dari pembawa virus seperti dirimu, sana bersihkan dirimu dahulu baru dekati Laura!" titah Sadrakh.
Dia berubah jadi sepupu galak yang melindungi adik iparnya dari paparan virus.
"Sayang jangan begitu, kamu ada ada saja ihh," tegur Obelia yang tengah duduk bersama Alesha di dalam ruangan itu. Laura juga duduk di sana sambil menatap Sadrakh dan Simon seraya tertawa memperhatikan tingkah mereka.
"Heheheh... ya maaf, habisnya dia pergi kelamaan, gak tega aku tuh lihat Laura kesepian," celetuk Sadrakh sambil memberi jalan pada Simon.
Simon terhenyak, rasa bersalah menyelimuti hatinya, dia menatap istrinya yang semakin mempesona, dia tersenyum dan berjalan dengan cepat," bentar ya, cuci tangan dulu, " ucap Simon.
Sekalipun kangen berat, tapi kehigenisan tampaknya harus selalu di jaga.
Secepat kilat pria itu mengganti pakaiannya dan mencuci tangan bahkan membasuh wajahnya.
Dia keluar dari ruang ganti dan langsung di sambut oleh Laura yang merentangkan kedua tangannya di depan pria itu," Kangen..." ucapnya dengan senyuman manis.
Simon memelas, dia memeluk istrinya dengan lembut sambil memuaskan rasa rindunya pada kekasih hatinya.
"uhhh sayangku, aku merindukanmu, akhirnya aku bisa bernafas, ahhhh.... sangat lega akhirnya pulang ke rumah, aku sangat merindukanmu," ucap Simon seraya mengecup pipi dan bibir wanita itu berkali kali.
Laura menangkupkan kedua tangannya di wajah Simon dan menatapnya, gejolak cinta yang selalu menggebu-gebu di antara mereka membuat hubungan mereka sangat harmonis.
muaahhh...
Laura mengecup bibir suaminya," Akhirnya kamu pulang," ucap Laura.
Simon mengangguk, dia menatap perut besar istrinya dan mengusap buntalan bulat besar yang sebentar lagi menetas itu.
"Anak Bapak gimana di sana? nggak bikin susah emak mu kan nak?" celetuk Simon seraya mengusap perut Laura dan mengecupnya berkali-kali.
Dug.. dug.. dug!
Pertama Laura bergerak sangat aktif, keduanya tertawa saat merasakan gerakan hebat dari anak mereka.
"Isinya jagoan pasti, arhhh papa kangen sayang, maaf papa pulangnya lama," ucap Simon dan lagi-lagi perut wanita itu bergerak merespon ucapan ayahnya.
Sadrakh dan Obelia tersenyum bahagia melihat pasangan ini, keduanya tampak sangat menikmati masa masa bertiga dengan Alesha Sehingga belum ada rencana untuk memiliki anak, bahkan Obelia menggunakan suntik KB untuk mencegah kehamilan sampai dia benar benar siap dan Alesha sudah matang secara mental.
__ADS_1
Kepulangan Simon tentu saja disambut bahagia, tapi pria itu heran, biasanya ada si semprul Diego dan kekasihnya yang bar bar selalu nimbrung di antara mereka.
"Ngomong-ngomong mana Si pirang ? kenapa aku tak melihatnya menempel seperti cicak di sini?" celetuk Simon sambil membawa istrinya duduk di sofa.
"Ahhh dia sedang bermanja manja dengan kekasihnya," ucap Sadrakh dengan wajah jengah membayangkan apa yang sedang dilakukan Diego saat ini.
Di workshop Diego,
"Ahhh sayang ini masih sakit, kau lihat kan bekas lukanya masih sangat sakit, hiks hiks hiks... tolong tiup dong .." rengek Diego yang tengah duduk seper sedang kesakitan padahal bekas luka yang sudah hampir dua Minggu labuh itu sudah lama kering dan sembuh tapi selalu dia merengek menggunakannya untuk mendapatkan perhatian Gretta.
"Jangan berbohong, lukanya sudah sembuh, kamu cari kesempatan dalam kesempatan melulu nih!!" kesal Gretta.
Diego mengerucutkan bibirnya," jadi pacarku nggak sayang padaku lagi? huh..m ya sudah biar aku mati dengan bekas luka ini!" ketus Diego sambil berbaring enggan membuka matanya .
Gretta memutar malas kedua bola matanya. Cukup selama seminggu dia habis dikerjai Diego Karena luka kecil itu, kali ini dia tidak mau lagi dijahili kekasihnya itu.
Gretta berjalan sambil membawa sesuatu di belakang tubuhnya.
Klak!
Dia meletakkan sebuah pisau dapur di atas meja dekat Diego berbaring," kalau mau mati lebih cepat pakai ini," celetuk gadis itu sambil tersenyum kesal.
Diego membuka matanya terkejut dengan apa yang kekasihnya ucapkan.
Gretta tersenyum sinis," aku kekasih yang baik kan? aku membantumu mempercepat kematianmu," ucap gadis itu dengan wajah kesal.
Diego tahu, kekasihnya pasti sedang sangat kesal, pria itu mengambil pisau dan menyingkirkannya ke tempat yang jauh.
Lalu menarik Gretta dalam pelukannya sambil tertawa cengengesan.
" Maaf sayang," ucap Diego sambil memeluk Gretta dengan mesra.
Gadis itu hanya mendengus kesal," maaf maaf, dasar tukang caper," celetuk Gretta.
Diego menatap wajah kekasihnya yang sedang kesal, "aku mencintaimu," ucap Diego sambil tersenyum manis.
"Kenapa tiba tiba serius begini?" tanya Gretta terkejut. Dia menyipitkan kedua matanya dan menatap heran kekasihnya yang sedikit bar bar itu.
"Apa tidak boleh hmmm?" tanya Diego seraya mengusap rahang kekasih nya dengan nakal.
Gretta terkejut, alarm darurat langsung berbunyi. Jantungnya berdebar tak karuan," Diego!"
__ADS_1
Pria itu tak sabar, dia langsung mengecup bibir Gretta dengan lembut dan berhasil membuat kekasihnya itu terdiam membatu dengan kedua tangan terangkat ke atas.
"Diego... jangan lakukan ini!!" ucap Gretta dengan suara gemetar.
Diego tersadar, dia melepaskan ciumannya dan menjauh dari Gretta," ma..maafkan aku, aku hanya... aku kehilangan kendali, ma..maaf Gretta, aku pasti menyakitimu," ucap Diego merasa bersalah.
Gretta menarik nafas perlahan-lahan, traumanya teruji lagi. Dia menatap kekasihnya yang merasa bersalah. Padahal bukan pertama kali mereka berciuman, tapi ketika spontan begini traumanya kembali lagi.
"Maafkan aku," ucap Diego merasa bersalah.
"Ahhh... aku yang minta maaf, kita lakukan lagi!!" ucap Gretta yang berjuang melawan traumanya dan pergi menarik Diego memberikan kecupan pada pria itu. Meski takut dan jantungnya berdebar sangat kuat bagai genderang perang dia memberanikan diri melakukannya.
Diego terdiam sejenak, membiarkan Gretta tenang hingga ciuman itu memancingnya lagi.
Keduanya saling bersahutan satu sama lain. Diego memainkan perannya dengan lembut, berusaha membuat Gretta tidak terkejut.
Masa masa romantis keduanya terus berjalan, hingga Diego benar benar hampir kehilangan kendalinya.
Keduanya dimabuk asmara, dan Gretta berhasil melawan traumanya kali ini. Diego masih mengecup Gretta bahkan sampai keduanya berbaring di atas sofa.
Suara decapan terdengar jelas, desiran darah keduanya semakin cepat. Tangan Diego mulai nakal menyentuh bahu gadis itu, meraba ke sana kemari sampai tiba-tiba...
" Lanjut teros.. sampai bibir manyun, moncong dower, lanjut teros!!!!" suara celetukan si Mamagor terdengar di telinga keduanya.
Diego dan Gretta saling menatap tak percaya. Sontak keduanya berhenti dan menoleh ke arah sumber suara.
" Laura!!??" mereka berdua terkejut saat melihat Mama Gorilla sedang berdiri menatap mereka sambil geleng-geleng kepala.
" Dasar kalian berdua, nikah aja sana, jangan begini, belum sah tahu, jangan melakukan sesuatu yang akan kalian sesali nanti, kalau aku gak paksa masuk pasti kebablasan nih dasar kalian berdua!!!" Laura berdecak kesal dan mengomeli mereka berdua sambil menatap kesal.
Diego dan Gretta tersipu malu. Mereka seperti tertangkap basah melakukan hal tak senonoh. Laura mengomeli mereka berdua seperti sosok Ibu yang mengomeli anak anaknya yang nakal.
"Dasar ya kalian, gimana kalau orang lain lihat, kalian sudah gak tahan langsung nikah aja, jangan begini, aku gak suka!!" Tegas Laura.
"Ya maaf maaakkk...
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗