Istri Untuk Tuan Simon

Istri Untuk Tuan Simon
231 The End 2


__ADS_3

Marcel terkejut mendengar suara Simon di sana, dia menoleh dan melihat Simon ternyata telah datang bersama Laura.


"Sayang kenapa secepat ini?" bisik Laura yang terkejut melihat suaminya datang tiba tiba tanpa bilang apa apa padanya. Ini jelas di luar rencana mereka.


" Supaya cepat selesai sayang, aku ingin dia cepat sadar kalau Mike itu anaknya," jelas Simon sambil merangkul istrinya.


"Baiklah, terserah kamu," ucap Laura.


" Ehh sebenarnya sih aku cemburu Laura, ya kali ku biarkan kau berduaan terus dengan dia, nggak boleh, aku cemburu, cemburu buta !!!" batin Simon yang sebenarnya panas sendiri karena semua foto yang dikirim oleh Marcel padanya.


Marcel berdiri dan menatap penuh dendam pada Simon.


"Bajingan!!" batinnya sambil melepaskan Mike dan mengamankan anak itu di atas kursi.


"Marcel kita bertemu lagi!" sapa Simon sambil tersenyum.


" Kau... bajingan yang sudah merebut Mikha dariku!!" geram Marcel. Dia menahan suaranya agar anak anak tak mendengar. jelas sekali dia seorang ayah yang hebat.


"bicara denganku!!" geram Marcel sambil berjalan dan meminta Simon mengikutinya, menjauh dari anak anak.


" Dia bahkan menjaga agar anak anak tidak mendengar, dia ayah yang hebat!" ucap Laura pelan dibalas anggukan kepala oleh Simon.


" Lanang awasi anak-anak!" titah Simon.


" Baik tuan!' balasnya dengan kaku.


Simon dan Laura mengikuti Marcel ke tempat yang lebih tenang, di mana tak ada anak yang mendengar mereka.


"Laura, sebaiknya kau berpisah dari pria itu, dia bermain di belakangmu, dia telah berselingkuh dengan mantan tunanganku dan malah mencampakkan nya!!" ucap Marcel menggebu-gebu.


"Dia ini bajingan Laura, sebaiknya pergi dari dia!' tukas Marcel.


"Hah... Marcel kau masih sama saja ya, pantas saja Mikha memilih pergi darimu!" ucap Simon.


Marcel tersulut emosi.


Dia menarik kerah Simon dan menatapnya dengan tatapan tajam," Apa katamu Bajingan!!! beraninya kau!!!" geram Marcell.


Simon hanya tertawa dan menatapnya dengan tatapan tak gentar.


"Apa kau tahu di mana Mikha sekarang? kenapa kau bicara seenaknya tanpa tahu apa apa!" ucap Simon sambil mendorong Marcel dari hadapannya.


" Mana aku tahu di mana perempuan sialan itu berada, dia meninggalkan ku hanya untuk bersamaku, man ku tahu dia mati atau masih hidup entah di mana!! Dasar keparat!!" pekik Marcel.


"Dia sudah meninggal!" ucap Simon dengan nada datar dan tantangan dingin menatap Marcel.


Degh!!


Jantung Marcel berdegup kencang, darahnya berdesir dan tubuhnya gemetar saat mendengar ucapan Simon tadi.


"A.. a..apa kata mu!? co..coba ulangi!?" ucap Marcel terbata-bata.


Simon menarik nafas dalam dalam,"Mikha sudah meninggal, empat tahun yang lalu," ucap Simon sambil menatap Marcel.


" hah!!" Marcel tertawa.


"Hahahahaha... apa yang kau katakan!!! Hahahaha... ti..tidak mungkin kan!? kau bercanda kan!? kau hanya ingin menghancurkan ku kan!? Mikha tidak mungkin meninggal!!" teriak Marcel sambil menahan rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


" Kau mungkin menolak untuk percaya, tetapi ini adalah kenyataan Marcel, bahwa Mikha telah meninggal dunia, dia.. dia meninggal sambil terus mengingatmu, panggilan telepon nya yang kau abaikan adalah hari terakhir dia ada di muka bumi ini!" ucap Simon dengan tenang.


Marcel terdiam membeku. Air matanya lolos begitu saja dari kedua pelupuk matanya, dia terjatuh ke atas tanah sambil menangis dengan dada yang sangat sesak.


Jelas seperti yang diucapkan oleh Simon, kalau dia mengabaikan panggilan telepon dari Mikha di hari itu.


Empat tahun lalu, tepa sebelum Mikha menghembuskan nafas terakhirnya, dia menghubungi Marcel berkali-kali, ingin mendengar suara pria itu untuk terakhir kalinya, tetapi sebanyak dia menghubungi Marcel sebanyak itu juga Marcel menolak panggilan nya.


Marcel menangis menatap Simon," KATAKAN KAU BERCANDA, KATAKAN KALAU KAU BERCANDA BAJINGAN!!!" Pekik Marcel sambil menangis sesenggukan di depan Laura dan Simon.


Simon menggelengkan kepalanya," aku tak bercanda, Mikha meninggal dunia karena sakitnya," ucap Simon.


" Apa yang terjadi padanya, kenapa kau tidak bilang apa apa padaku, lalu untuk apa aku hidup selama ini jika dia sudah pergi, kau.. kau keparat sialan!!" pekik Marcel.


Simon dan Laura menjelaskan apa yang terjadi pada Mikha. Penyakit mematikan yang menggerogoti tubuhnya membuatnya berjuang memakan obat sambil mempertahankan janinnya tetap sehat.


Perjuangan Mikha benar-benar berat, di satu sisi dia harus merelakan hari dan cintanya pada Marcel demi melahirkan Mike buah hatinya dengan pria itu. Di sisi lain dia sangat ingin berlaku egois dan kembali pada Marcel. tetapi dia kenal jelas pria itu, Marcel akan ikut mati dengannya jika melihatnya meninggal.


Pilihan yang dibuat Mikha sangat sulit, dia kali ini egois terhadap Marcel demi membawa anaknya ke dunia ini, bertemu ayah yang pasti akan sangat menyayanginya.


Semuanya dijelaskan dengan tenang oleh Simon dan Laura. Marcel hanya dia mendengar ucapan mereka. Yang membuatnya paling terkejut adalah kenyataan bahwa dia adalah ayah kandung anak kecil yang sangat menggemaskan bahkan menangis dalam pelukannya beberapa menit lalu.


Marcel seperti orang bodoh dia melamun, menatap ke langit setelah mendengar semua penjelasan Simon dan Laura bahkan semua bukti yang telah disiapkan oleh Mikha.


"Di mana makamnya!?" tanya Marcel dengan nada dingin.


"TPU Jeruk Purut, dia di makamkan di sana!' ucap Simon.


Marcel langsung pergi dari hadapan mereka tanpa mengatakan apa pun lagi.


Marcel berhenti sejenak, kedua matanya menerangkan Mike kecil yang sejak tadi terus menatap ke arahnya.


"Aku juga tidak tahu, hal bodoh apa yang akan ku lakukan setelah mendengar semua omong kosong ini!" ucapnya lalu pergi dari sana dengan punggung yang penuh beban dan hati yang hancur berkeping-keping.


" Marcel! Marcel!!" teriak Laura.


" Sayang tenanglah,dia tak akan melakukan apa pun, biarkan dia!" ucap Simon..


"Tapi.. dia...


" Sudah tenang lah!" ucap Simon.


Marcel melaju dengan kecepatan tinggi menuju pemakaman yang disebutkan oleh Simon. Dia pergi ke sana. begitu tiba, dia berlari, mencari lokasi makam Mikha dengan jantung berdebar kencang. Dia menangis sesenggukan dalam setiap langkah nya," Katakan padaku kalau ini tidak benar!! Mikha.. Mikha ini tak benar kan!? Mikha... jangan begini padaku hiks hiks hiks... aku hancur Mikha!" Ucapnya sambil berlari hingga matanya menangkap sebuah makam yang sangat indah, dihiasi dengan banyak bunga, terletak di tengah tengah sebuah taman indah .


Foto Mikha dipajang di makam itu, Simon tampaknya memberikan pemakaman yang sangat layak bagi Mikha.


"Ahahaha... Mi..Mikha.. kau.. kau jahat Mikha.. Kau sangat egois aku bukan apa apa tanpamu Mikha, arrkhh Mikha ... hiks hiks hiks.. Mikha! aku membutuhkanmu!! aku ingin bersamamu, Mikha... arrkhhh!!!"


Marcel menangis lemah, dia duduk berlutut di depan makam Mikha. Menangis dengan dada yang sesak, tubuhnya lemah, hatinya hancur.


Marcel menangis sesenggukan di depan makam itu selama berjam lamanya.


Sampai matahari bersembunyi, dia masih duduk di depan makam Mikha, mengingat semua kenangan manis yang dia lalui bersama kekasihnya.


" Babe.. i Miss you so much, please come back, aku butuh kamu sayang, arrhhh bodohnya aku.. bodohnya aku membiarkanmu sendirian melalui semua ini!!'" ucap Marcel


langit sudah berubah jadi malam, dia duduk di sana sambil menatap makam Mikha, tak peduli cuaca dingin menusuk kulitnya. Banyak yang dia ungkapkan di sana sampai suara penggilan telepon dari Laura membuyarkan lamunannya..

__ADS_1


" Ada apa?" tanya pria itu dengan suara lemah.


"Mike demam tinggi, cepat ke rumah sakit, dia mencarimu!!".


Degh!!


Marcel tersadar, dia adalah seorang ayah, dan anaknya menunggu dia pulang saat ini.


"Tunggu di sana!" ucap Marcel segera berdiri dan memperbaiki penampilannya,"Sayang aku ke tempat anak kita dulu, besok kamu ke sini, aku.. aku berjanji akan menjaganya, seumur hidupku aku akan menjaganya, sama seperti kau mempertaruhkan nyawa untuknya, aku pun demikian sayang, akan ku lakukan!!" ucap Marcel.


Dia mengusap air matanya lalu berlari dari tempat itu menuju mobilnya.


" Nak, tunggu Papa sayang, tunggu Papa!" gumam Marcel.


Pria itu melaju menuju rumah sakit sesuai alamat yang dikirimkan Laura. Jantungnya berdebar kencang, semuanya telah jelas, Mikha melahirkan anaknya dan kini gilirannya berjuang menjaga Mike seumur hidupnya.


" Sayang aku akan menjaga putra kita, aku akan membuatmu bangga Mikha," gumamnya. Sepanjang perjalanan dia tak berhenti mengucap syukur, meski terlambat, dia sadar betapa kekasihnya mencintai dirinya.


Hingga dia tiba di rumah sakit, dengan cepat di berlari ke dalam ruang sakit, Lanang juga telah menunggunya di sana.


Dia membawa pria itu ke ruangan di mana Mike berada. di mana anak kecil itu menangis sesenggukan karena takut dan khawatir ayahnya akan menolaknya.


Marcel berdiri di depan pintu, merapikan pakaiannya ," Simon apa aku sudah rapi!? " tanya pria pada Simon yang menunggunya di depan ruangan Mike.


Simon menatapnya," sudah, masuklah, dia mencarimu, dia takut kau pergi. Saking paniknya dia sampai demam, dia sudah tahu kau ayahnya, sejak kalian bertemu di pesta pernikahan waktu itu dia tahu !" ucap Simon.


Marcel menarik nafas dan menenangkan dirinya.


" Baiklah. terimakasih dan Maafkan aku Simon!' ucap Marcel yang dibalas senyuman dan anggukan kepala oleh Simon.


Marcel masuk ke dalam ruangan itu, dia menatap ruangan di mana putranya di rawat karena demam tinggi.


"Nak..." panggilnya.


Laura yang menggendong Mike menoleh dengan Mike di pangkuannya sedang menangis


" Anakku... anak Papa!!" Marcel menghampiri mereka sambil menangis.


" Pa.. Papa!! Papa... huwaaaa... Papa... hiks hiks hiks... Papa!!!" Mike berteriak histeri sambil menangis begitu dia melihat sang ayah.


"Peluk dia, dia putramu, dia sudah menantikan mu sejak lama, jangan tinggalkan dia!' ucap Laura sambil menahan tangisannya.


Marcel memeluk putranya sambil menangis. Mike juga menumpahkan tangisannya dalam pelukan Marcel, dia menangis sesenggukan, sambil memeluk erat Marcel.


" Papa... Papa.. hiks hiks hiks... Papa!!!"


"husshh anak Papa, tenang sayang, Papa di sini nak, tenang Nak, Papa di sini!" Marcel menenangkan dan memeluk putranya.


Laura keluar dan memberikan ruang bagi mereka, semuanya menangis haru. Marcel dan Mike telah bertemu. Hidup bahagia yang baru akan mereka mulai.


Semuanya berakhir bahagia, meski akan banyak tantang ke depannya, tetapi jika di jalani maka semua akan berjalan dengan baik.


"Aku mencintaimu Laura,"


"Aku mencintaimu tuan muda Simon,"


......-THE END-......

__ADS_1


__ADS_2