
Diego dan Gretta duduk di depan Mamagor yang sedang kesal dan marah. Barusan dia melihat kejadian tak senonoh itu. Bagaimana jadinya kalau dia tidak masuk, mungkin mereka sudah akan membangun pabrik percetakan.
"La kakak..
"Diam!" ketus Laura.
Wanita itu mendengus kesal. Tapi di satu sisi dia bisa sedikit bernafas lega karena Gretta mulai menunjukkan perkembangan yang hebat tentang kesehatan mentalnya.
Namun di sisi lain dia khawatir kalau pasangan ini akan kebablasan dan melakukan hal yang tidak seharusnya.
"Mulai hari ini, Gretta tidak boleh datang ke workshop tanpa pendamping!" tegas Laura.
"Kalian tidak boleh berduaan tidak boleh dibiarkan bersama sampai kalian sadar kalau yang tadi itu salah!" tegas wanita itu sambil menatap mereka berdua dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Ta.. tapi Kau, kami kan pasangan, wajar dong melakukan...
"WAJAR!?! MATA KAU WAJAR!!" wanita itu terbelalak mendengar ucapan Diego. Pria itu awalnya ingin membujuk Laura tapi berakhir salah ucap.
" Arhhh sial, dasar bibir lemes! kenapa sampai salah ngomong sih!?? bodoh bodoh bodoh!!!" kesal Diego sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Kalian belum menikah, takutnya ada setan dan membuat kalian kebablasan, pokoknya mulai hari ini tidak ada yang namanya berduaan dalam satu ruangan!!" tegas Laura.
Diego dan Gretta saling melirik. Ketahuan Mamagor memang resikonya besar, apalagi Laura tidak pernah bermain main dengan ucapannya.
"Yahhh kok gitu sih, kan kami...
" Nggak ada tapi - tapian, aku tahu kau bagaimana Diego!" Simon yang juga sudah mendengar pembicaraan mereka langsung masuk dan menyela ucapan Diego.
Pria itu sama sekali tidak diperbolehkan berbicara. Diego mengerucutkan bibirnya, sedangkan Gretta tersipu malu. Tapi di satu sisi dia bersyukur punya sosok hebat seperti Laura dan Simon yang menganggapnya sebagai keluarga.
"Mulai hari ini, kalian tidak boleh berduaan saja, kalau kau serius,"Simon menatap Diego.
"Segera putuskan pernikahan kalian!" tegasnya.
Diego hanya memanyunkan bibirnya, Gretta menunduk malu sampai tiba-tiba Diego tersadar..
"Lah si kampret!!" ucapnya.
"Kapan kau pulang pret!??" celetuk Diego baru sadar kalau yang masuk itu benar benar Simon.
" Baru beberapa jam lalu, kami datang ke sini karena Laura ingin melihat meja kerja, tapi malah mendapati kalian berduaan disini!" jelas Simon seraya memutar malas kedua bola matanya.
" Heheheh.... ya maaf dah .."
Sadrakh dan keluarga kecilnya juga ikut masuk ke dalam dengan Alesha yang menyeret-nyeret kursi kecil ukuran tangan Diego.
__ADS_1
" Uncle pirang, ini buat Lecha ya!!" seru gadis kecil itu sambil duduk anteng di depan mereka seraya menatap kursi kecil yang sangat cantik tapi belum selesai di semak itu.
"Ummm? Lecha suka?' tanya Diego dan langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Alesha.
Laura tampak duduk dengan tenang di ruangan itu sambil mengamati mereka. Tapi pikirannya terus teralihkan pada gadis tanpa nama yang kini telah dipindahkan ke rumah sakit jiwa oleh Zayn.
Gadis tanpa nama itu akan menjalani perawatan lebih. Tak ada informasi tentang asal usul nya tidak membuat mereka merasa berat merawat perempuan itu.
"Sayang," Laura tiba-tiba memanggil suaminya.
Simon menatap sang istri,"Ada apa? kau mau ke markas Tim Aryn?" tanya Simon dengan serius.
" Ahhhh? bagaimana kau tahu!??" Laura terkejut bukan main saat mendengar pertanyaan suaminya. Bagaimana Simon bisa tahu apa keinginan istrinya.
" Tentu aku tahu, tapi alasan kau ingin ke sana aku nggak tau sayang," balas Simon seraya mencolek hidung mancung istrinya.
"Aku ingin mencari tahu sesuatu, Lanang dan Dani pasti bisa membantuku," ucap Laura.
"Hmmm baiklah, kita berangkat setelah makan siang, aku lapar!" ucap Simon.
Laura sudah memiliki tekad bulat untuk mencari tahu siapa sebenarnya gadis tanpa nama itu. Setidaknya gadis itu aman bersama Zayn saat ini.
Dia akan cari tahu dan bila saatnya tiba nanti dia akan membantu perempuan itu.
"Arkhhhh... toooloong!!!!"
suara teriakan histeris dan panik menggelegar di ruangan pasien ruangan akut itu. Para pasien ODGJ berlari berhamburan keluar kamar karena panik mendengar suara teriakan dan tangisan dari ujung lorong rumah sakit.
Para medis berlari menuju area itu. Tampak di ujung sana, gadis tanpa nama itu berlari sekencang-kencangnya sambil membawa sebuah gunting dan menusuk dirinya sendiri berkali-kali.
Gadis itu mengamuk seperti sedang kerasukan setan. Dia menyakiti dirinya sendiri dan membuat semua pasien bahkan pengunjung panik.
Di saat yang sama, Zayn yang ada di sana langsung dengan cepat mengambil suntikan penenang.
" Kalian amankan pasien lain, biar aku tangani perempuan itu!" ucap Zayn yang langsung berlari dengan cepat menuju ujung lorong di mana gadis itu mengamuk.
Para medis langsung mengamankan pasien yang mengalami ketakutan dan membawa mereka ke tempat yang aman. Rumah sakit sangat kacau, ada yang menangis, ada yang tertawa seolah sedang menonton komedi, ada yang melompat lompat bahkan sampai manjat ke tembok.
Semuanya terjadi karena teriakan gadis tanpa nama yang lagi-lagi kambuh itu.
Zayn Berlari dan mendekati gadis itu dengan berani.
Dia menarik tangannya dan menatapnya tajam.
Arkhh.... arkh!! arkhh!!! grakhhhh!!!
__ADS_1
Dia hanya menyalak seperti anjing, tak berbicara sama sekali dan berteriak marah. Zayn menatap mata itu, dia sepertinya mengalami gangguan jiwa setelah kejadian dengan tun Brown beberapa waktu lalu.
Segurat sorot kesedihan terlihat jelas di kedua matanya yang mengeluarkan air mata. Tatapan yang kosong dan tubuh yang gemetar berusaha untuk melukai dirinya sendiri.
"Tenanglah!" hardik Zayn
Tiba-tiba gadis malang itu terdiam di depan Zayn dengan tangan dan kaki yang lemas. Menunduk ke bawah seolah setelah bentakan itu dia mendapatkan kesadarannya kembali.
Tapi tak lama kemudian, dia tiba-tiba terjatuh!
"Arhkk.... hiks hiks hiks arrhhhkkkk.... arkhhhhh....
Dia menatap tangannya sendiri dan memeriksa tubuhnya sendiri, lalu melihat ke sekelilingnya yang kacau Karena ulahhnya.
Gadis itu menangis histeris, dia terkejut saat melihat dirinya bersimbah darah. Benar saja dia tersadar atas perbuatannya barusan.
Zayn menatap miris pada gadis itu. Kehidupannya yang malang membuat hati Zayn sakit melihatnya.
"Ahhh kau akan tenang setelah ini, maafkan aku," ucap Zayn sambil menarik lengan gadis itu dan memberikan suntikan penenang untuknya.
Gadis tanpa nama itu mulai lemas dan mengantuk, Zayn merangkulnya. Gadis Itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tatapan penuh harap agar diselamatkan, tatapan penuh luka itu menguasai seluruh pandangan Zayn.
Gadis itu lemas, dia menatap Zayn seolah sedang berteriak meminta tolong agar dikeluarkan dari siksaan yang menyakitkan ini.
Hidupnya selama ini hanya sebuah manipulasi dari tuan Brown yang tak berwujud lagi. Dia ditipu, dikurung, disiksa dan dijadikan sebagai tameng manusia untuk mendapatkan keinginan organisasi yang dipimpin tuan Brown.
Di mata Gadis itu, mereka adalah monster jahat yang merenggut seluruh kehidupannya. Dia lupa identitasnya, siapa namanya saja dia tidak tahu.
"Kau akan aman, tenanglah," ucap Zayn sambil memapah tubuh gadis itu dalam pelukannya.
Perempuan itu menatap Zayn, air matanya mengalir. Dia jelas mengingat bagaimana Zayn melindungi Laura beberapa hari lalu. bagaimana semua orang melindungi perempuan yang lama dia perhatikan itu.
Ingin rasanya dia juga mendapatkan perhatian seperti itu, tapi kesadarannya yang timbul dan tenggelam membuatnya tak bisa berperilaku normal.
"To.... to... lllo..Ng... ak... ak...aku...." ucapnya terbata-bata tepat sebelum dia kehilangan kesadarannya.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1