Istri Untuk Tuan Simon

Istri Untuk Tuan Simon
38. Jangan Terluka


__ADS_3

Cintia merasa kalau dia telah melepaskan segudang penuh harta benda demi sekoper emas yang tak seberapa.


Perempuan itu mengeraskan rahangnya, mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Laura dan yang lainnya.


“ Sialan, aku seharusnya menikah dengan Simon, bukan anak haram itu yang menikah dengan dia, aku kehilangan gudang hartaku arrhhhkkkkk...” Cintia berdecak kesal. Dia begitu marah karena Simon ternyata sehat dan sempurna.


“ Jika aku tidak bisa mendapatkan Simon, maka Laura pun tak bisa, hmmm... tak apalah, yang penting perempuan bodoh itu bisa kumanfaatkan, lihat saja Simon aku akan buat kau bertekuk lutut dan kau Laura, kau akan jadi alatku mengeruk seluruh harta Simon,” batin Cintia dengan senyuman licik di wajahnya.


Cintia jelas tahu kepribadian Simon meski tak seluruhnya. Yang dia tahu, ,Simon itu benci dikhianati dan dia juga tahu kalau Laura mudah diancam. Dia akan memanfaatkan semua itu untuk menghancurkan mereka dengan caranya.


Bukan cinta yang Cintia inginkan tapi kekayaan dan kemahsyuran. Dia tidak pernah mencintai Simon yang gila kerja, berbeda dengan Vino, dia memang jatuh hati pada pria itu karena Vino memenuhi segala keinginannya terhadap Cinta.


Cintia perempuan licik yang sama seperti ayah dan ibunya itu akan melakukan apa pun untuk meraih keinginannya sekalipun itu merebut hak orang lain.


“ Cintia, sayang bantu aku, tanganku patah!!!”teriak Vino kesakitan.


Cintia terkejut, dia sadar, suami kesayangannya, tempat fantasinya juga terluka. Cepat cepat perempuan itu menghampiri Vino dan membantu pria itu berdiri,” Sayang wajahmu babak belur, arrhhh perempuan sialan itu, lihat saja akan ku buat dia menyesali perbuatannya...” ucap Cintia sambil menatap khawatir pada suaminya.


“ Aku akan membuat perhitungan dengan mereka, cuihhh sialan, benar benar sial,” umpat Vino.


Sementara itu, Simon dan yang lainnya sudah berada di dalam mobil van hitam besar yang nyaman dan mewah.


Simon menatap Laura dengan tatapan dingin. Laura menunduk dan terdiam sambil mengusap pipinya yang terasa berdenyut. Kejadian tadi masih mengguncang gadis itu sekalipun dia yang memukuli Cintia dan Vino. Seisi mobil hening. Lanang dan Dani juga tidak bicara. Zayn dan Diego yang menumpang di mobil itu pun tampaknya enggan berbicara sebelum Simon mengatakan sesuatu.


Laura benar-benar diam. Tetapi hati dan pikirannya sudah sangat takut jika sampai Simon marah dan mengusirnya dari rumah itu karena dia telah melukai Cintia, perempuan yang menurut Luara pernah mengisi ruang di hati Simon, suaminya.


Dia menunduk, tatapan matanya mengisyaratkan kesedihan .


Melihat wajah Laura yang begitu sedih membuat getaran di hati Simon semakin berkecamuk. Dadanya terasa sesak dan seolah dia merasakan kesedihan saat melihat Laura seperti itu.


“ Siapa yang menyuruhmu bertengkar dengan dua manusia itu Laura? Apa kau tidak tahu mereka orang seperti apa hah?” Simon angkat bicara.


Nada bicaranya terdengar ketus. Jelas dia kesal melihat Laura bertengkar dengan Vino dan Cintia. Bahkan sampai terluka karena pertengkaran tak berguna itu.

__ADS_1


“ Kenapa kau membuat susah orang di dekatmu? Kau perhatikan dirimu, dasar bodoh!!" bentak Simon. Dia benar-benar marah karena kejadian ini.


Kesal dan benci melihat Laura bertengkar dengan orang lain tetapi malah melukai dirinya. Namun kata kata kasarnya membuat Laura berpikir kalau Simon membencinya, membuat Laura berpikir kalau Simon akan membuangnya karena telah membuat keributan di hadapan publik ketika dia diberi kebebasan untuk keluar rumah.


Zayn dan Diego saling menatap, mereka tahu tujuan Simon baik karena dia khawatir tetapi tampaknya kata kata yang Simon ucapkan terlalu tajam seolah menyalahkan Laura atas kejadian yang terjadi.


“ katakan padaku, kenapa kau melakukan keributan di luar hah?” bentak Simon lagi.


“ Tuan... jangan bentak kak Laura, kami yang salah, kami tidak menjaganya dnegan benar, tolong jangan begini, kak Laura juga terguncang,” ucap Dani sambil memeluk Laura dari samping.


“ benar tuan, mereka yang memulai pertengkaran, nyonya sudah akan pergi tetapi mereka malah memancing amarah nyonya, maafkan kami,” ucap Lanang membela Laura agar tidak terkena amukan dari Simon.


“ Jelas itu salah kalian!” ucap Simon sambil menatap Dani dan Lanang berapi-api.


“ kalian tidak melakukan tugas kalian dengan baik, menjaga seorang perempuan saja kalian tidak bisa, dasar idiot!” lagi lagi Simon membentak dan mengumpat mereka saking kesalnya dengan kejadian ini.


Lanang dan Dani menunduk, tak berani lagi membuka mulut di depan Simon.


Menangis sesenggukan karena berpikir dia akan dihukum dan diusir dari rumah.


Mendengar itu membuat hati Simon bahkan Zayn terasa pedih. Apa Laura selalu diancam akan di usir dari rumah jika dia melakukan kesalahan? Traumanya masih belum pulih sepenuhnya.


Simon menghela nafas berat,” Simon bicara yang lembut, Laura juga terguncang, dari penjelasan lanang dan Dani, Cintia yang memulai pertengkaran,” bisik Zayn yan tak suka melihat Laura menangis.


Simon tahu itu, tapi dia tidak tahu mengungkapkan kekhawatirannya dengan cara yang benar. Dia marah karena Laura terluka dan dia benci jika melihat gadis itu menangis.


“ Lanang, Dani pindah ke belakang, tunggu hukuman kalian,” ucap Simon.


Lanang dan Dani dengan cepat bergerak dan mengganti posisi duduk mereka. Pria itu pindah dan duduk di dekat Laura. Suasana masih hening. Dengan pelan Simon mengambil kotak p3k dan mengeluarkan kompres lebam dari sana.


Dia memutar bahu Laura hingga membuat gadis itu menatap ke arahnya.


Tangan Simon terangkat ke atas membuat Laura menutup kedua matanya dengan gemetaran.

__ADS_1


Kompres dingin tertempel di pipinya yang lebam karena pukulan dari Vino,” ini pasti sakit,” ucap Simon sambil menyingkirkan anak rambut Laura ke belakang.


Dia menatap Laura dengan tatapan khawatir. Laura yang diperlakukan seperti itu terdiam membatu karena tatapan dan suara Simon berubah menjadi sangat lembut dalam hitungan detik.


“ maafkan saya,” ucap Laura yang mencoba memberanikan diri menatap Simon.


Simon mengangguk,” tenanglah,” ucapnya pelan. Dia tahu untuk menghadapi Laura harus bersikap lembut, karena berbicara kasar akan membuat Laura semakin panik, setidaknya itu yang baru saja Simon pelajari tentang istrinya.


“ Aku khawatir, karena itu aku marah. Kau boleh menghajar mereka, kau boleh memukul mereka atau melakukan apa pun untuk membalas perbuatan bejat mereka,” Simon mengusap wajah Laura.


“ Tapi, jangan sampai melukai dirimu, jangan sampai hatimu juga terluka karena ucapan mereka dan jangan sampai tubuhmu terluka karena perbuatan mereka, aku tidak terima istriku di pukul oleh orang, bahkan aku saja menyesali perbuatanku di awal pertemuan kita, jadi jangan sampai terluka, karena aku juga merasa terluka,” ucap Simon dengan serius.


Seketika ruangan mobil itu hening. Kata kata tulus itu terlontar dari bibir Simon. Seolah dia sedang mengungkapkan perasaannya pada Laura.


“ apa tuan tidak marah karena saya memukul Ci.. Cintia? Di.. dia kan...


Simon dengan cepat menggelengkan kepalanya,” aku tidak marah, aku justru senang karena kau bisa melawan mereka, kemampuan mu itu membuatku terkejut, mereka pantas mendapatkan itu, jika aku yang menghajar, mungkin mereka tinggal nama sekarang,” jelas Simon sambil menepuk pucuk kepala Laura dengan lembut.


“ Jadi, apa pun yang kau lakukan jangan sampai terluka, dan... jangan selalu mengatakan kalau aku akan mengusir mu, bagaimana bisa aku mengusir istriku dari rumahku, aku tidak sejahat itu, oleh karena itu dengar ucapanku dengan baik, kau bisa?” tanya Simon.


Laura mengangguk dengan segurat senyum tipis di wajahnya, tangan Simon mengusap air mata Laura . keduanya saling bertatapan dalam balutan perasaan baru yang muncul di hati mereka.


Tanpa mereka sadari kalau para nyamuk sedang menganga menatap Simon yang begitu perhatian dan lembut pada Laura.


“ Inilah akhir dunia... wahhhh... jiwa jombloku meronta ronta Zayn!!"gumam Diego tak tahan dibuat baper dengan romansa dua anak manusia di dekat mereka.


.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2