
Seluruh kediaman keluarga Kennedy dibuat panik saat mendengar teriakan Gretta. Mereka semua terperanjat dari tempat tidur mereka masing-masing dan langsung bersiap untuk segera berangkat ke rumah sakit .
Beberapa menit lalu, Gretta se[erti kebiasaan sehari harinya, dia membawakan susu dan vitamin khusu Ibu hamil ke kamar Laura dan Simon. Siapa sangka saat dia tiba di kamar itu, Laura yang hendak berbaring di kasur, tiba tiba meraskan sakit yang teramat sangat di perutnya.
Laura mulai mengalami kontraksi dan tak lama kemudian ketubannya pecah.
Seisi rumah panik dan heboh, Zayn langsung menyiapkan mobil dan menghubungi rumah sakit. Gretta dan Simon menenangkan wanita itu dan terus membantu dia agar rasa sakitnya tidak terlalu membuatnya tersiksa.
"Ayo cepat, aku hanya akan menyetir!!" Teriak Diego yang sudah siap di kemudi mobil, dia yang paling cepat dan ahli soal menyetir dengan cepat dan aman.
Zayn tanpa sadar ternyata dibantu Alexa menyiapkan pembaringan untuk Laura. keduanya bekerja sama dengan cepat sampai Simon dan Gretta tiba bersama Laura yang sudah kesakitan.
"Alexa!?" Gretta terkejut, gadis itu hanya menyapa Laura dengan wajah khawatir.
Simon segera membawa masuk istrinya dan memeluk Laura di dalam mobil. perutnya terasa sangat sakit .
Tuan dan nyonya Kennedy serta Rose juga panik. Apalagi Dani dan Lanang langsung memanggil anak buah untuk berjaga di perjkann dan juga mempersiapkan jalan ke rumah sakit.
Dengan terburu-buru mereka semua berangkat menuju rumah sakit. Zayn sudah mengubungi rekan dokter Obgyn yang sudah sejak lama dipersiapkan untuk menangani persalinan Laura.
"akhh... Sakit... Hahh... Sakit sekali!!!' Laura berteriak kesakitan saat kontraksi terjadi lagi. waktunya sangat mepet, sepertinya wanita itu sudah menuju pembukaan akhir.
Simon mengusap perut Istrinya, rasa khawatir dan takut menyelimuti pikiran dan hati pria itu. Dengan setia dia mendampingi sang istr mengahadapi persalinan pertamanya sebagai seorang ibu.
"La.. atur nafas kamu La, tarik dan buang perlahan lahan, tarik dan buang, ikuti aku..." Gretta membimbing wanita itu dengan tenang, mempraktekkan caranya agar Laura mengikutinya.
Wanita itu mengatur pernafasannya, meski rasanya perutnya terasa begitu sakit bahkan keringat sampai membasahi seluruh tubuhnya.
Karena ketuban yang pecah, mereka tidak boleh terlalu lama, akan bahaya jika sampai Ir ketubannya kering.
Diego mempercepat mobilnya, beruntung jarak rumah dengan rumah sakit itu tidak terlalu jauh hingga dalam hitungan menit dengan kemampuan Diego, akhirnya mereka tiba.
Laura menangis sesenggukan, dia tidak kuat, rasanya sangat sakit.
Suaminya terlihat tetap tenang. Simon menggenggam erat tangan istrinya, tak habis tempat dia mengecup wajah Laura.
"Sayang aku takut..." Ucap Laura sambil menangis sesenggukan.
Simon memeluk Laura, mengusap usap perut istrinya," Aku di sini sayang, aku bersamamu, kita hadapi bersama, kamu perempuan hebat sayang, aku mencintaimu," ucap Simon menenangkan sang istri.
"Tidak lihat ini sudah seperti balon besar yang mau meletus!? Yang ini juga," celetuk Simon seraya mengusap bagian dada Laura dengan senyuman jahilnya, tentu saja dia lakukan saat tak ada yang melihat.
"ahhaha... Sayang kamu benar-benar ya,"Laura terkekeh, berbicara santai seperti ini berhasil membua itu Laura tenang dan tidak merasa takut.
__ADS_1
Dia menahan sejuta mungkin rasa takut dan sakit yang dia rasakan.
"Eh bocil, belum juga brojol dah bikin emaknya nangis, sabar Yee.. entar lagi keluar juga elu, jadi olis stay chill baby stay chill!" Celetuk Diego seraya melirik perut buncit Laura.
Mereka tertawa, dan saat mendengar ucapan Diego, seolah bayi Laura mendengar, peruta wanita itu tak sesakit tadi. Bayinya tenang dan tak banyak bergerak seperti sebelumnya.
"Wahh anak Papa nurut nih sama pamannya, entar kalau udah keluar kamu kerjain paman jelek kamu ya nak!" Ucap Simon sambil mengusap perutnya.
Laura menatap mereka sambil menangis haru, di saat genting seperti ini, mereka masih bisa membuat candaan dan menenangkan dia yang sudah takut dan kesakitan.
Hingga akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Dengan cepat Laura di bawa ke ruang persalinan yang sudah di siapkan. Begitu tiba, perut wanita itu kembali terasa sakit. Segera mereka membawa Laura menuju ruang persalinan.
"Maaf bagi yang tidak berkepentingan tolong tunggu di ruang tunggu," ucap perawat yang menangani persalinan itu.
"Saya ikut ke dalam!" Ucap Simon dengan tegas, dan tanpa menunggu jawaban dia langsung masuk menghampiri irtsrinya. Zayn dan Gretta juga terlibat dalam persalinan itu.
Simon berdiri dengan tenang sembari menatap para dokter dan medis menangani istrinya.
"Apa kalian tidak bisa cepat!? Dia sudah sangat kesakitan!" Teriak Simon mulai panik.
" Tenanglah Simon, kau hanya akan mengacaukan ruangan operasi dengan teriakan mu itu!" Kesal Zayn.
"Sana dampingi Laura, duduk di dekatnya!" Ucap Zayn.
Setelah diberi ijin, Simon duduk di dekat istrinya. Dia mengusap kepal istrinya, setelah mereka tiba di sana Laura ternyata sudah siap untuk melahirkan.
Laura menggenggam tangan suaminya sambil menangis.Dia gugup, takut dan senang di saat yang sama.
"Baiklah semua persiapan sudah selesai, sekarang ibu tolong ikuti instruksi kami, bapak anda beri dorongan pada istri anda," ucap Obgyn yang menangani Laura.
Akhirnya persalinan di mulai.Laura akan melahirkan dengan normal.
Tetapi di saat yang sama sang dokter merasa ada yang aneh. Dia menatap perut Laura, ada raut terkejut di wajah wanita muda itu.
"Dokter Zayn, kapan terakhir dilakukan USG!?" tanya wanita itu sambil menatap mereka.
"Gretta siapkan alat USG!" titah nya dengan tegas.
Seketika semua yang ada di ruangan itu terdiam dengan jantung berdebar kencang. Rasa takut dan khawatir menyelimuti hati dan pikiran mereka.
Zayn, Gretta, Simon bahkan Laura menjadi takut saat melihat reaksi dokter tersebut.
"Sekitar 3 bulan yang lalu, setelahnya tidak lagi dilakukan USG," jelas Zayn.
__ADS_1
Dokter perempuan itu menarik nafas dalam-dalam, wajahnya tampak khawatir melihat kandungan Laura yang lahir lebih cepat sepuluh hari dari yang telah ditentukan.
"Apa yang terjadi dok!? ada apa dengan istri saya!?" teriak Simon khawatir. Laura yang merasakan sakit di perut nya malah semakin panik saat ini.
Dokter itu mengambil alat USG,"Sepertinya kita ditipu oleh bayi bayi anda pak, Bu,"ucapnya sambil menggerakkan alat USG itu ke perut Laura.
"Bayi-bayi!?" mereka terlihat bingung. Bagaimana bisa janin di dalam rahim bisa menipu orang dewasa?
Wanita itu menggerakkan alatnya, dia mengguncang perut Laura," tahan sebentar" ucapnya sambil dengan serius memeriksa bagian perut wanita itu.
Tampak di layar bayi mereka yang sudah siap untuk lahir ke dunia. Wanita itu menggerakkannya lagi dan...
"Hahahah..."dia tertawa dengan nafas lega.
khawatir akan terjadi kelainan atau sungsang pada bayi, ternyata janin yang dikandung Laura ada dua.
"Dok kenapa tertawa, apa yang terjadi dasar menyebalkan!!" teriak Simon tak sabar.
" Benar dugaan saya, kita ditipu, bayi anda bersembunyi di belakang kembarannya selama berbulan-bulan, ahhh... syukurlah ketahuan sekarang, saya hanya khawatir jika ada kondisi tidak tertebak, dia duanya aman, kita lanjutkan persalinan," ucap si dokter dengan wajah lega.
" Kembar!? sayang? isinya ada dua!??" celetuk Simon sambil membelalakkan kedua matanya.
Laura terkekeh tapi juga kesakitan," Dok bisa kita percepat, ini sakit!!!" teriak Laura tak tahan.
"Siap nyonya!!"
Kabar bahagia ini sangat tidak tertebak, Zayn, Gretta, Simon dan Laura tersenyum bahagia saat mendengar ucapan dokter tersebut.
Gretta bergegas ke luar mengambil perlengkapan dan satu lagi inkubator bayi. Dia berjalan dengan semangat sambil tersenyum.
"Semuanya kita dapat dua bayi, Laur hamil anak kembar!!" seru Gretta sat dia melewati yang lainnya.
"Apa!!!'
"Wahhhh dua jagoan!!"
"Ahhh.. mampus aku, sepertinya bayi Laura akan balas dendam padaku!!" celetuk Diego.
"Wahhh..hahaha... sekaligus dua, ini luar biasa!!!" seru mereka sambil bersorak bahagia.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗