Istri Untuk Tuan Simon

Istri Untuk Tuan Simon
59. Terimakasih Laura


__ADS_3

Berita sedang panas saat ini. Dani dan tim Aryn berjuang keras meredam rumor dan mengalihkan semuanya kepada berita yang lebih heboh.


Dani si gadis imut tetapi bemuka dua itu mengirim cuplikan video 5 detik Cintia ke portal besar saat sedang siaran langsung. Dia membajak sebuah televisi Nasional dan mengirim video super singkat bersih sebuah suara erotis yang membuat otak traveling ke mana mana.


Dalam sekejap berita tentang Simon dan masa lalunya berhasil diredam dan digantikan dengan cuplikan video singkat seorang wanita yang begitu mirip dengan Cintia.


Seluruh pelosok negeri dibuat tercengang dengan video 5 detik itu.


Apa yang mereka coba lakukan pada Simon dan Laura, cara mereka ingin mempermalukan keduanya dibalaskan berkali kali lipat dengan potongan klip yang akan menjadi awal kehancuran Vino, Cintia dan keluarga mereka masing-masing.


Semua yang ada dalam kamar Laura bernafas lega setelah berita tentang Simon mulai diredam.


" Kerja bagus Dani, kau berkembang pesat!" puji Sadrakh.


Gadis itu hanya mengangguk, dia sangat ingin dekat nyonya mudanya tapi dia masih dalam masa hukuman sehingga dia memilih menghindar daripada dapat hukuman lebih berat.


Melihat keberanian pihak majalah tadi membuat Laura tak habis pikir dengan sifat jahat Vino, dalang dibalik kejadian ini.


Dia berkerjasama dengan tuan Raymond untuk menghancurkan nama baik Simon dengan menggunakan pihak majalah itu dan mencoba mendesak dan membuat trauma Simon muncul saat wawancara.


Mereka sangat ingin Simon dipermalukan di depan publik sampai tak segan menyinggung kasus kecelakaan belasan tahun lalu yang sangat sensitif bagi Simon.


Pembawa acara tersebut dibayar mahal untuk mendesak Simon dan menjadikan karirnya dalam risiko dengan berbagai cara untuk menghasutnya.


Tetapi siapa sangka semua rencana yang mereka susun dengan rapi, dengan sangat cepat terdeteksi oleh Dani dan Tim Aryn.


Itu sebabnya Simon selalu meninggalkan Dani di organisasi atau menempatkan gadis itu di sisi orang yang bisa menjaganya, karena Dani bukan perempuan yang bisa mengontrol dirinya jika sudah terjun ke lapangan.


Laura mengeraskan rahangnya, mengepalkan tangannya saat mengingat semua pertanda sarkas dan segala bentuk sindiran yang dari tatanan bahasanya saja sudah jelas kalau hal itu dikarang oleh Vino dan komplotannya.


" Bahkan Simon pun kalian usik, benar benar manusia jahat!"


Yang Laura khawatirkan sampai sekarang adalah suaminya. Dia takut Simon aka. hancur seperti waktu di Mansion Mignolet.


Dia tak ingin melihat Simon terus menerus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada kedua orangtuanya.

__ADS_1


Saat semua sedang terlarut dalam pikiran mereka, pintu kamar inap Laura dibuka.


Kedua Netral Laura langsung memerangkap sosok Simon yang berdiri dengan ekspresi yang tidak bisa di baca di ujung pintu tersebut.


Deghhh...


Seolah pecah, hati Laura sakit melihat tatapan sedih dan pilu dari kedua mata Simon. Walau dia tak menunjukkan wajah sedihnya, tetapi mata tak bisa bohong.


Tangan Laura gemetaran, dia takut Simon akan jatuh.


"tolong keluar semuanya, bolehkan beri kami ruang?" ucap Nadira sambil menatap suaminya dan tersenyum dengan lembut menyambut Simon.


Melihat situasinya, semua orang langsung paham.Tanoa banyak bicara, mereka keluar dengan tertib.


Bahkan Diego yang biasanya mengoceh malah menutup rapat mulutnya dan keluar tanpa bicara.


Semua orang keluar dari ruangan itu. Hanya tersisa Simon dan Laura yang masih saling bertatapan.


Laura menatap mata suaminya sama halnya dengan tatapan sedih Simon yang menelusuri kedua mata indah sang istri.


Simon tertegun, seolah dia mengalami deja vu. Simon kecil yang berusia 10 tahun diejek karena memiliki freckless di wajahnya sedang berdiri di depan ibunya dengan tatapan sedih.


Ibunya menyambutnya dengan tangan lebar sambil berkata," kemarilah, tidak apa apa Simon,"


Rasanya seperti deja vu, Simon merindukan masa itu. Kedua kakinya dengan ringan melangkah dan berlari menghamburkan pelukannya pada Laura.


Tangan kecil Laura menepuk lembut punggung suaminya sambil mengusap usap punggung pria itu.


Simon terdiam, dia memeluk Laura, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.


" Tidak apa-apa, tenanglah," ucap Laura dengan penuh kelembutan.


Simon masih diam. Dia memeluknya dengan begitu erat. Tubuh kecil itu seolah tenggelam dalam pelukan sang suami.


"La..Aku membunuh ayah dan ibuku, apakah karena diriku juga Kakek meninggal? apa aku memang pembawa sial seperti yang mereka ucapkan? aku mendatangkan kedukaan bagi mereka, harusnya hari itu aku yang mati La, harusnya aku... bukan Papa dan Mama..." ucap Simon yang mengadu seperti seorang anak pada ibunya.

__ADS_1


" Semua orang yang kusayangi pergi, aku hancur Laura, aku tidak berguna, semua itu salahku... aku memang jahat... semua itu salahku!!!" Simon mulai meracau. Dalam tahap ini traumanya mulai bangkit kembali dan perlahan lahan akan menghancurkan dirinya.


" Aku membuat ayah dan ibuku mati... aku tidak berguna... semua salahku, aaarkkhhhhhhh.....


Laura hampir saja menangis, yang dia lihat hari itu persis seperti ini. Simon menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Simon, itu bukan salahmu, apa yang terjadi di masa lalu di luar batas kita, kematian, kecelakaan dan kehidupan bukan kita yang menentukan. Kamu harus kuat, bukankah kedua orangtuamu menyelamatkan dirimu meski nyawa mereka melayang?" Laura menangkupkan kedua tangannya di pipi Simon sambil menatap wajah Simon.


Dia mengangguk,


" justru karena menyelamatkan anak seperti diriku, nyawa mereka yang berharga jadi hilang, aku membenci diriku Laura, aku pembunuhnya!" ucap Simon sambil mengusap wajahnya.


"Simon, tidak ada orang tua yang ingin anaknya mati di depan mereka. Bahkan sampai akhir hayat pun mereka pasti akan berjuang, seperti yang kamu alami, kamu hidup sekarang karena kedua orangtuamu berkorban untukmu jadi gunakan kesempatan itu untuk hidup lebih bahagia!" ucap Laura dengan senyuman setenang lembayung senja.


Perempuan itu bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua, tapi berkat pak Mandu dia tahu rasanya dipedulikan dan dianggap ada. Baginya Pak Mandu sudah sama seperti orangtuanya.


"Aku tidak merasakan kasih sayang dari orangtuaku, kau tahu aku bahkan tidak tahu siapa mereka, tapi aku tahu satu yang pasti, mereka pasti mencariku juga dulu, mereka juga pasti merasa kehilangan atau bahkan menyalahkan diri mereka, tapi kamu spesial, meskipun singkat tapi kamu tahu rasanya, jangan menyalahkan dirimu, kumohon," ucap Laura.


Simon hanya menunduk sedih, hatinya yang dingin dihangatkan oleh kelembutan dan kekuatan yang Laura berikan.


Simon sadar kalau orangtuanya ingin dia hidup bahagia, bahkan sampai di akhir hayat mereka masih mengatakan mereka bahagia memiliki anak seperti Simon.


Dengan pelan dia menarik Laura dan memeluk istrinya lagi, membuang semua kegundahan di dalam hatinya. Secercah sinar terang mulai terlihat, memimpin jalan Simon dan membuat pria itu merasa hidup.


"Terimakasih Laura, terimakasih banyak telah hadir dalam hidupku," ucap Simon. Tanpa sadar air matanya menetes, kenangan bersama orangtuanya akan selalu ada dalam ruang khusus di hatinya, dia tidak akan melupakan kedua orang tuanya, dan akan berusaha untuk hidup lebih bahagia.


" Ternyata dia yang kalian maksud Pa, Ma, terimakasih selalu menjagaku dan mengirim seorang malaikat padaku," batin Simon sambil menatap ke arah dinding di mana bayangan orangtuanya bayang tersenyum bahagia semakin lama semakin memudar sambil melambaikan tangan pada Simon.


.


.


.


like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2