
Dani dan Ella menatap kepergian mereka sambil memicingkan mata mereka. Merasa ada yang aneh, Ella berjalan ke tempat di mana Vanya berada tadi.
" kenapa la?" Tanya Dani heran.
"aku agak curiga dengan mereka tadi, rasanya aneh saja, kalau teman kita sedang berduka biasanya pasti akan menangis dan kita ikut menangis kan? Atau seenggaknya wajah kita sedih, tapi anak anak itu tampak tertawa cekikikan, aku jijik melihat wajah mereka!!" Ujar Ella sambil berjalan dengan cepat diikuti Dani menuju makam Nenek di gadis tadi.
Mereka berjalan dengan cepat, mendekayi tempat itu dan memeriksa sekitar dengan mata jeli.
Dani juga merasa aneh, karena yang dia lihat, Vanya tampak meringkuk seperti seseorang yang sedang ketakutan karena diancam.
"tak ada apa apa di sini, apa hanya perasaanku saja?" Ucap Ella. padahal jelas dia tadi melihat seolah gadis malang itu menjatuhkan sesuatu ke atas tanah tetapi sekarang tidak terlihat lagi.
"kau cari apa?" Tanya Dani.
"Dia sepertinya menjatuhkan sesuatu ke atas tanah tadi, tapi tidak ada apa apa di sini!!" Ujar gadis itu dengan wajah heran. Dia merasa aneh karena jelas sekali dia yakin kalau dia melihat Vanau menjatuhkan sesuatu.
"Ella, lihat ini!!!' Dani berseru, dia menunjuk sebuah potongan Kain yang berbercak merah kecokelatan.Jika di lihat dengan sesama, maka bisa dipastikan kalau bercak itu adalah darah yang sudah mengering.
"kain apa ini? Kenapa bisa di sini!??" Tanya Ella terkejut.
Dani menatap benda itu," ahh.. mungkin ada yang sakit, sudah jangan didekati, bisa saja penyakit menular, kita pulang saja " usul Dani yang tidak merasa heran dengan benda itu.
"ahhh... Apa aku sudah mulai pikun? Haihh ku pikir ada apa apa tadi!!" Ucap Ella sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah bingung.
Dani menatap kuburan yang masih basah itu, menganalisis ekspresi Vanya dan anak sekolah yang datang tadi.
Dia menjadi merasa curiga, instingnya mengatakan ada yang tidak beres, tapi mereka semua sudah pergi, tak bisa dia menyimpulkan sesuatu hanya dari sepotong kain berbercak darah.
"ahhh sudahlah, ayo cepat pulang, aku sudah lapar!!!" Ucap Dani yang dibalas anggukan kepala oleh Ella.
keduanya pergi dari tempat itu. Kain berbercak merah itu adalah benda yang dijatuhkan oleh Vanya, berharap seseorang memahami kode yang dia berikan.
tetapi siapa yang akan paham jika petunjukknya hanya sepotong kain berbercak darah? Bahkan tim Aryn pun dibuat ragu dengan benda kecil itu.
Sementara itu, Vanya dibawa ke tempat yang tak berpenghuni di salah satu sisi kota itu. Masih mengenakan pakaian berkabung, gadis malang itu diseret dalam keadaan pingsan.
kedua kakinya diikat dengan tali, tubuhnya diseret seret ke dalam gedung terbengkalai yang tak terjamah oleh manusia.
__ADS_1
"hufftthhh... Cepatlah, kenapa kau lambat sekali bajingan!!" Umpat pria berambut pirang. Masih berseragam SMA, duduk di atas pipa beton sambil merokok dan menatap jengah pada seorang pria yang sedang menarik narik Vanya dengan tali itu.
"Josua hihihi.... Kau sangat setia ya, bagaimana kalau si Vanya tahu kau yang menyeretnya ke sini," ejek Ben, si pirang itu.
" palingan dia menangis tersedu-sedu, huhuhuhu .. meefken Eku.. jengen genggu josueeee... Huweeekkk bwahahahhahaha....
"hahahahhahaha....
Keempat manusia tak berotak itu tertawa terbahak bahak sampai suara mereka menggema di dalam gedung yang tak berpenghuni itu.
"Ben, kita dapat banyak bhahahahahha... Ini menyenangkan, kita bisa berpesta pora malam ini!" Seru Niko, teman mereka yang baru saja menggeledah rumah yang ditinggali Oleh Vanya dan mengambil semua uang yang dia temukan di dalam rumah itu .
"hahahahah... Banyak sekali, pasti isinya tebal, cepat buka, kita hitung semuanya!!!" Ucap Kedua gadis yang ada di sana. Gila uang dan gila kekuasan, masih muda tapi otak ya sudah sakit.
"Cepat buka!" ucap Ben.
Mereka membuka amplop itu, dan sialnya...
"Haishh apa ini, hanya surat tagihan listrik, tagihan air dan utang, uangnya hanya segini!!!" kesal Mika.
"Haishhh, siapa juga yang mau menyumbang pada orang miskin!!" ucap Ben sambil meludah ke lantai.
Tubuhnya ditendangi, kepalanya dipukuli bahkan dia dicekik sampai kehabisan nafas.
Bagi mereka, Vanya yang tak selevel dengan mereka hanyalah sampah tidak berguna yang tidak pantas untuk hidup sama dengan mereka.
Vanya yang berprestasi di sekolah dibully habis habisan oleh orang orang ini dan gengnya.
Tidak ada yang berani menegur, karena ayah dari gadis bernama Mika itu adalah pemilik sekolah. jika berani melapor resikonya akan sangat besar, selain diskors, fakta mungkin saja diputarbalikkan dan mereka membuat pelapornya menjadi pelaku.
Mengerikan dan kejam.Itu sebabnya anak-anak di sekolah mereka enggan berbuat macam macam dan tetap tenang saat mereka membuat yang lebih lemah dan miskin menderita.
Vanya anak kelas 11, yang bersekolah dengan beasiswa penuh dari pemerintah harus berjuang demi hidupnya dan menutupi semua luka yang dia alami dari nenek dan teman baiknya Josua.
Tapi sayang, anak anak jahat itu akan melakukan apa pun untuk membuat Vanya hancur.
Josua duduk berlutut dengan tubuh gemetaran. Hanya air mata yang bisa dikeluarkan oleh pria tunarungu ini. Pria yang memiliki trauma berbicara setelah mendapatkan perlakuan kasar dari Ben dan teman temannya.
__ADS_1
"Josua, buka baju gadis itu, sekarang!!!" Titah Mika sambil tersenyum dan mengeluarkan ponselnya.
Josua terbelalak, dia terkejut bukan main dengan perintah Mika yang sudah kelewat batas. Pria itu menggelengkan kepalanya sambil menangis dan memohon mohon agar mereka tidak lagi melakukan hal mengerikan lainnya pada Vanya.
Josua juga sudah lemah, dia dipukuli, dihajar sampai babak belur bahkan beberapa kali pria itu sampai muntah karena dipukul.
"Kau tidak mau!?? Biar aku saja hahahha..." Nike, gadis yang lain tertawa lalu berjalan ke dekat Vanya, menarik pakaian gadis itu dan melucutinya di depan yang lain sedangkan Mika merekam aksi gila Nike yang menelanjangi Vanya di depan mereka semua.
Josua tidak terima, dia menangis, berdiri dan berlari ke arah Nike menyeruduk gadis itu sampai terpental jauh.
"arkhh!!! Arkhh!!!!" Pekik Josua sambil menangis sesenggukan. Mengamuk menatap mereka.
" awhhh sakit!!! Beraninya kau!!!" Pekik Nike merintih kesakitan.
"sialan, pria bangsat ini mulai main-main dengan kami, rasakan ini bajingan!!!" Teriak Ben dan teman-temannya. Akhirnya, Ben dan teman-temannya menendangi pria itu. Josua merintih kesakitan, menutupi tubuh Vanya dan mencoba melindungi gadis malang itu sekuat tenaganya.
Dia menangis sesenggukan menatap Vanya," maaf.. maafkan aku Vanya hiks hiks hiks...."
Josua kehilangan kesadarannya. Pria itu juga hancur lebur di tangan Ben dan yang lainnya.
Kejam dan mengerikan. Mereka adalah gambaran anak anak iblis yang tidak punya hati dan pikiran, hanya bisa menyiksa yang lemah dan menggunakan kekuatan uang mereka untuk menguasai lingkungan.
Mereka melucuti pakaian keduanya, mengambil gambar seolah Vanya dan Josua sedang melakukan hal tidak senonoh. Setelahnya Josua diseret keluar dan dibawa dari sana sedangkan Vanya ditinggalkan di sana dengan kadaaan mengerikan.
Leher gadis itu lebam, tubuhnya penuh dengan bercak luka, mengerikan jika melihatnya langsung, menyakitkan bahkan tak akan mungkin sanggup untuk tetap hidup jika mengalaminya.
Di tengah keheningan malam, Akhirnya Vanya tersadar setelah udara yang sangat dingin menusuk tubuhnya .
"akhhh... Uhuk... Uhuk.. uhuk...
Gadis itu bergetar hebat, dia menangis, merintih kesakitan meraba raba tempat di mana dia tergeletak begitu saja.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗