
Obelia menangis sesenggukan, dia mencengkram erat pakaiannya dan tak berani menatap ke arah kepergian Alesha dan Sadrakh. Dada gadis itu terasa sesak, dia menangis terus tanpa suara.
“ Obelia, tenangkan dirimu, ikut aku,” ucap Simon.
Obelia menarik nafas dalam-dalam, dia mengangguk dan mematuhi perintah Simon. Mereka berjalan menuju kamar utama, kamar Simon dan laura. Simon jelas tahu satu satunya yang bisa membuat gadis itu tenang hanyalah istrinya.
Dia membuka pintu, dan mendapati Laura yang sedang membuat beberapa desain baru untuk perlombaan. “ Loh sayang ada apa? Apa ada yang ketinggalan?” tanya wanita itu sambil menatap suaminya yang berwajah kesal.
Simon menggelengkan kepalanya dan duduk di samping istrinya di atas kasur. Lalu Obelia masuk dan menghampiri mereka sambil menunduk dan menangis sesenggukan.
“ Obelia kenapa menangis? Hey ada apa?” Laura langsung khawatir.
“ Sadrakh, pria itu benar benar gila, dia membawa Alesha dan memisahkan mereka,” ucap Simon.
Laura terkejut. Benar feeling-nya kalau Sadrakh akan melakukan hal gila untuk mendapatkan Alesha lagi.
“ lalu Alesha di bawa?” mata Laura membulat sempurna. Simon dan Obelia mengangguk bersamaan.
“ Biarkan saja nyonya hiks hiks hiks... tuan sadrakh sudah berjanji akan menjaga nona Alesha, kami tidak bisa menahan mereka,” ucap Obelia.
Laura menatap Obelia. Dia jelas tahu gadis itu sangat menyayangi Alesha, Laura bangkit dari kasur dan menarik lembut tangan Obelia lalu memeluknya dengan hangat,” tenanglah, jika dia mengatakan hal itu dia pasti sudah bertobat, mudah mudahan saja Alesha bisa menerimanya,” ucap Laura.
Obelia menangis sesenggukan, berat sekali rasanya bagi Obelia untuk berpisah dari Alesha, bahkan tak diperbolehkan bertemu dengannya.
“ Jika sampai terjadi sesuatu dengan Alesha, maka aku benar benar akan membawa Alesha jauh dari negara ini sampai bajingan itu menyesal.” Ucap Simon.
Sementara itu, Sadrakh membawa putrinya berkeliling kota, berharap agar Alesha mulai menyukainya. Tetapi sejak dia ambil gadis itu dari pangkuan simon, Alesha sama sekali tidak berbicara. Dia hanya menatap kosong ke depan dan tidak menjawab ucapan Sadrakh sama sekali.
“ anak kita keliling ya, kita beli perlengkapan kamu, apa pun yang kamu mau...” ucap Sadrakh .
Alesha sama sekali tidak menjawab.
“ Mommy hiks hiks hiks... Alesha mau sama Mommy... tapi kalau kembali.. Daddy akan marah.. Lecha gak mau pisah dari mommy Obelia..” batin Alesha menangis.
Dia tidak berani mengungkapkannya setelah mendengar kata-kata kasar yang Sadrakh lontarkan pada Obelia beberapa saat lalu. Jujur saja, Alesha mengalami tekanan batin saat bersama ayahnya sendiri.
“ Alesha? Kenapa tidak jawab Daddy?” tanya Sadrakh.
Tetapi gadis itu hanya dia membisu sambil bersandar, lalu duduk memiringkan tubuhnya ke arah lain dan menutup kedua matanya untuk tinggal terlelap.
__ADS_1
“ ahh mungkin dia masih mengantuk, aku saja yang beli." batin Sadrakh.
Dia mengeliling kota itu dan membeli semua perlengkapan Alesha, pakaian, boneka, mainan dan semua kebutuhan Alesha yang dia anggap pasti disukai oleh gadis kecilnya itu.
Setelah memesan semuanya, Sadrakh membangunkan Alesha untuk makan siang.
“ Alesha ayo kita makan siang, ini restoran Daddy sayang,” ucapnya.
Alesha bangun dan menurut tapi tak mau berbicara sama sekali. Dia turun sendiri dari dalam mobil dan berdiri seperti patung dengan wajah lesu.
Sadrakh menatap putrinya, dia pikir Alesha mungkin masih marah dan belum terbiasa dengan dia,” hubungan kami pasti akan semakin membaik, tidak [perlu aku harus mendekati pelayan itu untuk mengambil putriku, huh.. saran kalian memang buruk,” batin Sadrakh.
Dia berjalan dengan langkah panjangnya tanpa sadar kalau yang dia ajak melangkah itu anak kecil. Alesha harus berlari mengikuti langkah kaki Sadrakh.
Pria ini hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan kalau putrinya sudah tertinggal jauh .
Alesha terus berjalan, hanya dari hal ini saja sudah bisa dinilai kalau Sadrakh tak seperti Obelia.
Setiap kali mereka pergi keluar atau bermain, Obelia selalu menemani nya bahkan berjalan dengan sangat pelan untuk menyesuaikan langkahnya dengan Alesha atau malah menggendong gadis itu dengan erat.
"Jika berjalan dengan mommy pasti Lecha diperhatikan, Lecha mau sama mommy," batin Alesha sambil berjalan dengan cepat.
Sadrakh berjalan dengan cepat, tetapi seisi restoran itu menatap pria itu dengan tatapan aneh.
"Hmm.... Segera siapkan dapur!" Titah pria itu.
Dia adalah bos yang kejam dan dingin, semua orang takut dan taat padanya.
" Ehh tuan apa gadis kecil itu anak anda?? Sejak tadi dia berlari berusaha mengejar kaki panjang anda yang berjalan terlalu cepat!!! Kalau anda seorang ayah, anda pasti tahu langkah anak kecil lebih pendek!" Teriak seorang ibu-ibu yang tak tega melihat Alesha terengah-engah mengikuti Sadrakh...
Cttaaarr.r..
Sadrakh terkejut bukan main dia baru sadar, saking senangnya dia membawa putrinya untuk pertama kali ke restorannya, dia sampai melupakan kalau Alesha tak bisa mengimbangi langkah kakinya.
"Ayah macam apa kau Sadrakh!!"
Sontak pria itu menghampiri Alesha yang untuk kesekian kalinya, dia hanya menatap kosong ke sembarang arah sambil berjalan dengan pelan.
Sadrakh menggendong putrinya," maafkan Daddy, Daddy terlalu senang," ucap ya sambil tersenyum kikuk.
__ADS_1
" Cihh... Ayah macam apa sih? Lihat anaknya seperti terkena tekanan mental saja,"
Orang-orang mencibir kelakuan Sadrakh yang tidak terlihat seperti seorang ayah.
Sadrakh hanya diam, dia jelas sadar kalau dia juga salah. Dia menggendong putrinya dan membawa Alesha ke ruang VVIP miliknya dan mendudukkannya di dalam sana.
Ruangan yang cukup luas jika digunakan untuk pertemuan antara keluarga.
"Alesha duduk di sini, Daddy akan masak dahulu," ucap Sadrakh yang tanpa mendengar pendapat Alesha langsung pergi begitu saja .
Pria dewasa ini tidak sadar kalau baru saja dia memperlakukan putrinya sama seperti orang dewasa pada umumnya. Perbedaanya dia hanya tersenyum selebihnya sama saja dengan cara dia memperlakukan orang lain.
Alesha terdiam, dia menatap ruangan besar yang tidak terlalu terang itu. Wajah Alesha berubah menjadi ketakutan. Dia menaikkan kedua kakinya, meringkuk ketakutan dengan ruang besar di mana dia duduk sendiri.
Seolah ada monster besar yang ingin melahapnya, Alesha memeluk dirinya sambil menangis sesenggukan.
" Mommy hiks hiks hiks.... mommy Lecha takut... mommy Lecha takut monster... Tolong Lechaa.... Lecha kangen mommy...." Dia menangis sesenggukan sambil memeluk dirinya sendiri.
Sadrakh tak peka, dia yang untuk pertama kalinya mencoba dekat dengan putrinya malah tidak tahu apa-apa tentang dasar menjadi orangtua.
Sementara itu, di rumah keluarga Kent, Obelia sama sekali tidak bisa tenang. Sejak tadi dia mondar-mandir di hadapan Laura sambil menggigit jarinya. Mereka berada di ruang kerja Laura di rumah itu.Berkeluh kesah dan menghela nafas kesal karena kelakuan Sadrakh.
" Obelia, aku tidak bisa fokus kalau kau bolak balik seperti itu, kalau mau langsung temui tuan Sadrakh sana!!" Ketus Irvan yang tidak bisa konsentrasi karena ulah Obelia.
"Sigghhh..... Aku hanya khawatir Irvan, bagaimana kalau tuan Sadrakh meninggalkan Alesha sendirian di ruang besar? Dia takut sendirian!! Bagaimana kalau langkahnya terlalu besar, nona itu masih anak anak, bagaimana kalau dipaksa arhhh ini membuatku gila!!!" Teriak Obelia tiba-tiba.
Sontak Laura dan Irvan terkejut mendengar keluh kesah gadis manis itu.
"Tenanglah Obelia, dia kan ayahnya, dia akan melakukannya dengan baik, ku harap, " ucap Laura.
" Tapi nyonya...
"Tenanglah, kau harus tenang, biarkan mereka mendekat dengan alami, jika tidak bisa pasti akan terjadi sesuatu," ucap Laura.
"nyonya jangan katakan itu arrhhh aku semakin frustasi!!!"
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 🤗