Istri Untuk Tuan Simon

Istri Untuk Tuan Simon
148 Season 2 : Stare


__ADS_3

Tiga orang pria berbadan besar berjalan dengan langkah kaki yang arogan begitu melihat gerai kudapan pak Alvin terbuka lebar. Gerai yang mempertahankan konsep tradisional itu adalah gerai yang menjadi saingan terberat toko toko kudapan di sekelilingnya.


Ketiga pria yang terlihat seperti preman itu mendatangi toko pak Alvin. Mereka sering mengganggu dan menghancurkan toko pria itu jika sampai dibuka lebar dan memasang spanduk.


Mereka menindas pak Alvin yang tak bisa apa-apa dan merendahkan pria itu di depan banyak orang. Bukan hanya sekali tetapi berkali kali mereka akan merusak tenda itu bahkan menghancurkannya sampai Pak Alvin tidak bisa bekerja besoknya.


Mereka akan beralasan kalau kue buatan pak Alvin tidak enak, bahkan sampai mengutuk pria itu.


Dani berdiri sambil memainkan ponselnya. Dia melanjutkan pekerjaannya membantu pak Alvin secara sukarela.


tiba-tiba...


Brak!!!


"Siapa bilang kau bisa buka tokomu selebar ini!?! " teriak pria botak dan gendut yang menghancurkan sebuah meja di bagian depan.


"Tu..tuan saya.


"Apa hah!? berapa kali ku bilang geraimu yang busuk ini mengganggu pemandangan langganan kami, kau tidak lihat hah!" teriak pria itu lagi mengecam pak Alvin .


"Tutup toko ini atau ku hancurkan wajahmu sialan!!!" teriak pria itu .


"Lihat spanduk mu dan bau apa ini!? apa ini bau roti bakar busuk itu yang kadaluarsa itu hah!??"


"Jangan mengatakan yang tidak-tidak tentang tokoku!!!" balas Pak Alvin tak terima. Toko itu dia dirikan bersama putrinya, jika dirinya dihina tak apa, tapi jika peninggalan putrinya direndahkan dia juga akan marah.


"Cuihh.. gerai sampah begini kau bangga!?? hah tutup saja tokomu ini untuk selamanya!!' ejek pria itu sambil mengacak-acak tenda si bapak.


"Kepala kau tutup anj!Ng kampung sialan, kau tak lihat di sini ada pelanggan!?" Dani berdiri menatap pria botak itu dengan wajah kesal.


Pekerjaannya yang sudah beres tadi kembali berantakan, yang benar saja dia datang ke sana karena memang lapar sekaligus mengamati situasi, tak tahunya malah berhadapan dengan preman kaleng kaleng saat ini.


"Siapa kau hah!? dasar perempuan sialan, berani kah melawanku!!!" ucap si botak itu.


" Hohoh nona manis, mau tidur denganku, sini ikut ke tokoku, aku akan memuaskan mu!!" ucap rekan pria itu sambil menyentuh rambut Dani.


Dani menoleh dan tersenyum sinis, dia menarik jari pria yang menyentuh rambutnya.


"Heheh... mau memuaskanku? apa kau kuat?" ucap Dani dan...


kretakkk... krakk!!!


" Arkhhhhh patah, jariku patah sialan!!!" orang itu berteriak histeris saat jarinya dipatahkan begitu saja oleh Danielle.


"Sialan beraninya kau!" si botak dan rekannya yang berbadan besar mencoba menarik gadis itu dan lihatlah yang terjadi dua pria berbadan besar tumbang hanya dengan satu pukulan botol minuman di kepalanya.


Brakk.. brak...


"Bajingan sinting!" umpat Dani masih memegang jari pria di depannya.


"Arkhhh lepaskan.. lepaskan aku jal4ng sialan!!!"

__ADS_1


"Jal4ng katamu? Dani mencengkram wajah orang itu, dia mengeraskan rahangnya dan menekan wajah itu sekuat mungkin.


"Arkhh mati kau!" teriak si botak yang hendak menyerang Dani dari belakang. Dia berdiri dan mengayunkan kursi kayu dan...


brakk!!!


kursi itu menghantam kepala rekan si botak sampai dia pingsan tak sadarkan diri.


"A.. apa!? ka... kapan dia bergerak!?" mata pria itu membulat sempurna saat tak melihat Dani didepannya lagi.


" Kau kalah cepat babi gendut!" ucap Dani dan..


bughh.. baghh.. bughh..


Dani menghajar pria itu sampai babak belur. Satu pukulan tangannya sama dengan seribu tinju yang menghancurkan lawannya sampai tumbang.


"Mau mati di tanganku hah!?" umpat Dani menatap dua rekannya yang masih belum pingsan.


Mereka berdua langsung duduk berlutut ," ti..tidak ma..maafkan kami, kami hanya disuruh bos...ma..maafkan kami!!!" ucap mereka memohon maaf.


Gadis itu sangat menyeramkan," Perbaiki semuanya ke tempat semula, atau aku akan membunuh kalian di sini!" ucap Dani.


Keduanya langsung berdiri dengan cepat, meski ketakutan mereka melakukan perkataan Dani.


Sedangkan gadis itu menyeret tubuh gemuk pria botak itu ke luar dan duduk di atas tubuhnya sambil menatap ke dalam gerai.


"Pak lanjut kan saja, biar aku yang urus!" ucap Dani.


"Tenanglah pak, mereka sering mengganggu bapak kan? mulai hari ini mereka tidak akan datang lagi," ucap Dani.


" Woi cepat berengsek, aku masih belum selesai dengan kalian sialan!!" teriak Dani.


" Ba..baik!!" jawab kedua orang itu sambil gemetar ketakutan.


Mereka membereskan tempat itu sampai benar benar rapi dan berkilau.


"Su... sudah nona!!" ucap mereka berdua sambil duduk berlutut lagi.


"Hmm... berdiri di sana, bawa babi gendut ini!" ucap Dani dengan ketus.


Mereka berdua menarik pria gendut itu ke sisi yang ditunjuk Dani dan berdiri tegap di sana.


Setelah suasana cukup tenang, Dani kembali masuk ke dalam tenda.


Pesanannya sudah terletak di atas meja, harum dan terlihat lezat.


"Jangan salah paham pak, saya mau makan tanpa gangguan dan satu lagi saya akan datang setiap malam ke tempat ini untuk makan kudapan, jadi pastikan semuanya rapi dan bersih!" ucap Dani.


"Bain nona, dan terimakasih sudah menghalau orang-orang itu," ucap Pak Alvin.


" Itu bukan untuk bapak, tapi untuk kepentingan saya, apa untungnya coba, kecuali bapak membayar saya," ucap nya dengan ketus sambil memotret roti panggang itu.

__ADS_1


Pak tua itu tersenyum melihat tingkah Dani. Perempuan itu mengingatkannya pada sang putri yang juga sering berkata demikian.


^^^"ihh bapak kepedean, Yesi mah senang makan kalau suasananya rapi dan bersih, capek apanya coba!!"^^^


^^^"Harus rapi, Yesi suka makan di tempat rapi!!"^^^


Pak Alvin menitikkan air mata, dia berbalik dan kembali ke tempat memasak. Memori manis bersama putrinya yang baik dan sabar kembali terputar jelas di ingatan pria itu.


Dani menikmati roti bakar itu sendirian, sembari menatap indahnya bulan di malam ini dia melahap makanannya dengan baik.


Setelah gerainya dibuka, maka sesuai prediksi Dani, para pelanggan mulai bermunculan. Pembeli datang dan memesan roti bakar enak itu.


Dani memposting roti bakar itu ke sosial medianya, tak tahunya banyak yang berpikir toko itu sudah lama tutup.


Akhirnya penggemar roti bakar Pak Alvin berdatangan.


" Wahh Pak tua, kita dapat banyak pelanggan!!" seru Dani sambil mengikat rambutnya. Dia membawa makanannya dan menitipkan pada Pak Alvin.


"Pak saya akan bantu, kurcaci itu juga!" ucap Dani sambil tersenyum.


"Tapi non.. saya..


"Hussss jangan menolak pak!" ucapnya.


Dani berjalan menyambut para pembeli, dia menulis pesanan dan memberikannya pada Pak Alvin.


Ketiga pria tadi malah ikut bekerja dan membantu Dani menyiapkan dan menyajikan hidangan untuk para pelanggan.


Toko roti itu ramai kembali, dan hal ini membuat Pak Alvin terharu. Air matanya mengalir, sembari memanggang roti dia menangis sesenggukan mengenang putrinya.


" Pak tidak ada waktu untuk menangis, cepatlah, para pelanggan kelaparan!!" teriak Dani.


" Benar pak.. benar sekali, kami sudah lelah menatap bintang, ayolah pak.. kami sudah mulai lapar!!!!" teriak para pembeli.


"Ahahah..."untuk pertama kali pria itu tertawa. Rasa sesak bercampur haru memenuhi dadanya. Dia mengusap air matanya dan menatap para pelanggan, dia bisa merasakan putrinya ada di sana.


" Baiklah aku akan cepat!!!' seru si bapak sambil mengangkat pencapit rotinya dengan semangat.


" Wohoooo!!!!"


tepuk tangan meriah terdengar mengiringi semangat Pak Alvin.


Tanpa sepengetahuan mereka, seorang pria berdiri menatap ke arah gerai Pak Alvin dengan penuh dendam.


"Sialan kau pria tua, kau akan habis sama seperti putrimu itu sialan!!!" geram orang itu.


.


.


.Like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2