
Simon dan rombongannya melaju menuju taman hiburan di mana kencan hari ini akan Simon lakukan.
Taman hiburan tak terlalu ramai karena mereka datang di hari kerja. Simon sengaja memilih hari yang sepi agar mereka bisa menikmati semua permainan sepuas hati.
Tak menunggu lama, mereka akhirnya tiba di taman hiburan yang dimaksud. Suasana ceria dengan gelembung-gelembung transparan yang naik ke atas awan.
Menari dengan lembut bersama burung burung di udara. Kupu-kupu beterbangan ke sana kemari, tampak sangat indah menyambut kedatangan rombongan keluarga mereka.
" Wahhhh.... Besar sekali!!" seru Laura dengan senyuman merekah di wajahnya. Gretta dan Alesha juga menatap dengan tatapan takjub.
Bagi mereka bertiga, ini kali pertama mereka melihat taman hiburan sepanjang hidup mereka.
Laura sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat seperti ini karena larangan ketat keluarga Raymond. Gretta hidup susah sampai memikirkan untuk menghibur dirinya pun dia tak sempat. Sedangkan Alesha, bayi kecil itu tidak pernah menikmati hal seperti ini karena keluarga ibunya pun menganggap Alesha sebagai anak pembawa sial yang mengambil nyawa anak mereka.
Ketiga perempuan itu menatap takjub bahkan sampai terbengong dengan mulut menganga menatap betapa megahnya lokasi itu.
Simon melirik istrinya, dia tersenyum.
Dengan lembut dia ambil tangan istrinya dan genggam dengan erat," Ayo masuk!" ajak Simon.
Laura menatap Simon dan tangan mereka yang saling bergandengan, senyuman manis tampak jelas di wajah gadis itu, dia gugup dan salah tingkah di saat yang sama.
Laura mengangguk, Simon membawa dia dan yang lainnya memasuki area taman hiburan.
Tangan Simon menggenggam erat tangan Laura. Langkah mereka diikuti oleh Gretta yang menenteng tas perlengkapan bayi dan Diego yang berjalan di sampingnya sambil menggendong Alesha dengan posisi menghadap ke depan.
" Uwah... Uwahh... cantik... cantik!!!" Gadis kecil itu berseru kegirangan sambil bertepuk tangan menatap taman hiburan yang sangat indah .
" Lecha suka?" Diego menatap wajah gadis kecil itu. Dia pria yang hangat dan sangat sayang pada anak anak.
Gretta tersenyum kala melihat betapa piawainya pria itu menggendong seorang anak agar anak itu tetap tenang. Tanpa sadar dia malah menatap Diego dan tersenyum terus padanya.
Tangan Diego terangkat dan...
Pletakk!
" Kenapa neng hmm? mulai jatuh cinta pada Abang ganteng!??" celetuk Diego sambil menaikturunkan alisnya menggoda Gretta.
" Tcihhh... Terlalu narsis, dasar tidak tahu malu!" ketus Gretta sambil memasang wajah masam.
Diego terkekeh, sangat menyenangkan mengganggu gadis itu.
Mereka berjalan dengan penuh semangat. Lanang dan Dani terus mengawasi lingkungan mereka.
Tanpa sepengetahuan Laura dan yang lain, Tim Aryn sudah mengawasi di titik tertentu untuk menjaga keamanan mereka. Sejak kejadian berulang yang menimpa Laura, Simon tak lagi berdiam diri.
__ADS_1
Keamanan ditingkatkan tetapi tetap membuat istrinya merasa nyaman.
"Kalian bermainlah sepuasnya, aku akan bawa Laura dulu!" ucap Simon.
" Ashiaaap bos... bye bye ibu negara, benih benih cinta akan tumbuh, Lambo Merah menantiku aseeeekhhh yuhuuu...." Teriak Diego penuh semangat.
Simon dan Laura tertawa geli dengan kelakuan absurd Diego yang tak malu dipandangi orang sekitar karena teriak teriak tidak jelas.
Kedua orang itu berjalan ke arah lain sesuai arahan Simon. Sedangkan Gretta dan Diego dengan Alesha kecil berjalan menuju tempat permainan anak anak.
" Wah kak Diego, kalian berdua sudah cocok!" celetuk Dani sambil menaikkan kedua jempolnya.
" Cocok apanya?" ketus Diego.
" Cocok jadi keluarga bahagia hahahah, Gretta sebagai istri, Alesha anaknya dan kak Diego bapaknya wahahahhahaha... cucok banget kak!!" seloroh gadis itu.
" Nggak cocok!!!" Sontak Gretta dan Diego berteriak bersamaan seraya mendengus kesal tidak terima.
" Cihh dasar kakek tua jelek!!!" ejek Gretta.
"Apa kau Mak lampir, jangan dekat dekat syuhh syuhh sana!!!" ketus Diego.
Dani dan Lanang juga Alesha tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan dua manusia gesrek itu.
Sementara itu, suasana kencan pasangan muda yang tak sadar sedang dimabuk asmara ini tampak sangat tenang.
Simon membawa istrinya menikmati beberapa jenis permainan yang belum pernah di coba oleh gadis itu.
Mereka bermain di arena tembak, arena menari dan banyak lagi.
"Wahh ini sangat menyenangkan!!" seru Laura yang sedang bermain lempar bola dengan Simon.
" Kau suka? " tanya Simon yang segera dijawab dengan anggukan kepala oleh gadis itu.
Mereka bermain sambil tertawa hingga mereka puas dengan permainan menyenangkan itu.
" wohhh kau hebat, pasti sudah sering ke sini ya," ucap Laura sambil menyeka keringatnya.
Simon tersenyum," dulu saat Papa dan Mama masih ada setiap Minggu kami datang ke tempat ini," jelas Simon.
Laura mengangguk paham," wahh pasti menyenangkan datang bersama orangtua, kalau aku ini yang pertama kali seumur hidup, ini ternyata sangat menyenangkan!" seru Laura dengan senyuman manisnya.
Simon menepuk pucuk kepala istrinya, dia tidak ingin membahas hal menyedihkan. Tempat itu juga penuh dengan kenangan bersama kedua orangtuanya. Tempat yang jadi arena memuaskan kerinduan Simon pada kedua orangtuanya.
"Kamu suka es krim?" tanya Simon.
__ADS_1
" Es krim, Wahhh suka suka... apa di sini ada jual es krim??" tanya Laura yang spontan memeluk lengan Simon dari samping.
Pria itu tampak sangat senang," Ada, ayo ikut aku!" seru Simon .
Mereka berdua berjalan menuju gerai penjual es krim. Dengan antusias Simon menggandeng tangan istrinya.
Gadis itu merasa sangat nyaman, hingga tiba-tiba kedua netranya menangkap sosok tak asing yang sedang menatapnya dari kejauhan .
" Vino bajingan itu!? mau apa dia!??" batin Laura .
Di salah satu sudut tempat itu, tampak Vino sedang bersembunyi dalam penyamaran dengan sebuah kamera di tangannya.
Dia menguntit Laura dan Simon.
" Jika dia ada di sini, maka pasti Cintia atau salah satu dari keluarga Raymond juga ada di tempat ini!!!" batin Laura sambil menatap ke sana kemari.
"Sayang, ini es krim cokelat, Vanila dan anggur aku tidak tau yang mana yang kau suka, aku pilih masing-masing ras," Simon menatap Laura.
" Ehh... Wahhh... aku suka semua!!" ucap Laura dengan senyum sumringah sambil menerima es krim itu.
Dia kembali menatap ke arah lain, ke arah di mana dia melihat Vino.
" ada apa?" tanya Simon.
"Vino, dia di sini, sepertinya mengikuti kita, gelagatnya aneh, jika dia ada di sini maka pasti istrinya atau mertuanya ikut, mereka spesies manusia yang harus dimusnahkan!" bisik Laura .
Simon terdiam, dia pikir Laura tidak menyadari ada yang membuntuti mereka. Tetapi pria itu tak ambil pusing, " Biarkan saja dia melakukan apa pun yang dia mau, mungkin dia sedang stress karena perusahaan nya hancur," ucap Simon.
"Tapi... bagaimana dengan Kak Diego, Gretta dan Alesha, mereka itu orang gila, mereka bisa melakukan apa pun untuk mengusik mu apalagi setelah kejadian itu," jelas Laura yang mulai panik.
Simon menggenggam tangan Istrinya," tenang saja, semua akan aman, mereka diawasi oleh Lanang dan Dani, Tom Aryn juga ada di sini, kita bahkan tak tahu di mana mereka," jelas Simon.
" Jangan khawatir, sebaiknya kita nikmati kencan pertama kita Laura," ucap Simon berusaha meyakinkan Laura.
Gadis itu hanya menghela nafas," baiklah," ucapnya.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, raut wajah Simon mengatakan dia benar benar mengamuk sekarang," Mau coba cara apa pun, kau akan tetap hancur di tanganku!!!!" batin pria itu.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1