
Seperti akhir pekan biasanya. Laura dan suaminya akan membawa anak anak mereka bermain ke taman hiburan di kota itu. Meskipun sibuk selama sepekan dengan pekerjaan kantor, waktu keluarga mereka tak bisa ditinggalkan.
Memantau pertumbuhan anak ana mereka adalah hal terindah bagi pasangan muda yang masih terlihat seperti orang pacaran ini.
"Sayang ayo cepat, anak anak sudah tidak sabar!!!" seru Laura yang sedang memegang kedua anak kembarnya yang super aktif, dan tak sabar lagi ingin segera menaiki wahana di taman bermain itu.
" Iya sayang aku datang," balas Simon sambil membawa tas besar berisi cemilan anak anak, dia sama sekali tidak mengijinkan istrinya membawa barang berat.
Mereka masuk ke taman hiburan. Tak banyak yang kenal mereka di sana, bahkan anak anak Simon saja tidak ditunjukkan ke hadapan publik demi alasan keamanan.
Dengan begitu mereka berharap bisa menikmati kehidupan seperti orang biasa pada umumnya.
Seperti hari ini, dia dan Laura memilih tidak membawa pengawal. Tak ingin membuat semua perhatian tertuju pada mereka, keduanya lebih memilih berlibur seperti ini.
" Papa Mama, Laksamana mau naik biang Lala!!" seru Laksamana sambil menunjuk buang Lala besar di tengah area itu.
" Kalau Abang naik, Dia juga mau!!" balas si cantik Dira yang ke mana mana harus ikut abangnya.
" Dira pasti takut, jangan naik yang itu ya, terlalu tinggi, Dira bisa ketakutan kalau naik itu, nanti Dita naik Komidi putar saja, Abang temani ya," bujuk Laksamana.
Pasalnya terakhir kali mereka naik biang Lala, Dira yang takut ketinggian memaksakan dirinya untuk naik sampai akhirnya dia muntah muntah karena syok dan pulang ke rumah dalam keadaan demam tinggi.
" ummm baiklah," balas Dira dengan suara lembutnya yang menggemaskan.
Simon dan Laura sangat bahagia dengan kehadiran anak anak mereka. Keduanya saling menyayangi satu sama lain, dan saling melindungi.
Liburan hari ini dimulai dengan meriah. Laura dan keluarga kecilnya menikmati berbagi jenis permainan di tempat itu.
Semuanya tampak bersenang senang. Bahkan cahaya matahari pun turut mengiringi kebahagiaan mereka .
"Wahhh Abang dapat boneka yeeaaayyy ini buat Dira!!!" seru Laksamana memberikan boneka pada Dira dari mesin capit yang dia mainkan barusan.
" Heheheh terimakasih Abang,'" ucap Dira sambil memeluk boneka cantik berbentuk beruang itu.
"Anak anak lihat Papa Sini, sayang lihat aku!!!" Simon siap dengan kameranya untuk memotret keluarga kecilnya.
"Cheseee!!!" seru mereka sambil tersenyum lebar dengan jari berbentuk V di dekat mata mereka.
__ADS_1
cekrek!!
satu jepretan penuh kenangan tercipta. Hasilnya sangat cantik.
"Wahh Simon, itu kau!!??" suara seorang perempuan yang sangat lembut terdengar.
Laura dan anak-anak nya menatap kedatangan perempuan itu. Seketika mereka merasa tidak suka dengan kehadirannya.
"Dia mirip sekali dengan Sandra!" batin Laura sambil memicingkan mata menatap perempuan yang tak lain adalah Andina, kekasih Lanang dan kakak perempuan Sandra.
Mereka tidak tahu kalau gadis itu berhubungan dengan Lanang.
"Mama.. gak suka Tante itu, mirip ondel ondel di jembatan tadi!!! jelek!!!" ucap Dira langsung bersembunyi takut di belakang tubuh ibunya.
Bahkan Dira yang pendiam saja bisa merasakan hawa dingin dan menyeramkan dari gadis itu. Apalagi Laura yang memiliki insting yang tajam. Dia menggenggam tangan kedua anaknya sambil menatap perempuan itu.
Simon yang melihat Andina, terdiam dengan wajah datar. tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria muda itu meski melihat wajahnya yang tampan.
Simon langsung mendekat ke istrinya dan merangkul Laura juga anak anaknya.
"Kau... siapa!?" tanya Simon sambil menaikkan sebelah alisnya seolah dia tak kenal dengan Dina.
"Ini aku Andina, kakaknya Sandra!" ucap perempuan itu.
" kita sekampus, masa iya kamu gak ingat, " ucapnya sambil tersenyum terus menerus menatao Simon.
Laura membaca alarm merah dari gadis itu," persis seperti yang dikatakan oleh Sandra, pantas saja dia memperingatkan ku dengan keras, apa rencana perempuan ini!?" batin Laura.
"Ahh... aku tidak ingat, kalau Sandra aku ingat, setahuku dia tidak punya kakak!" ucap Simon dengan nada ketus.
" Papa... Mama ayo pulang, Dira gak suka!!!' teriak gadis itu menatap penuh kebencian pada Andina, padahal dia bereaksi berbeda ketika bertemu dengan rekan kerja ibunya Sandra.
"Ohh anak Papa, iya kita pulang sayang ya, " ucap Simon segera menggendong kedua buah hatinya.
" Tunggu dulu, kita teman lama seharusnya basa basi sedikit kan bisa," ucap Dina mencegah mereka pergi.
"Ahh sekarang aku ingat, kau adalah Dina yang pernah mengejarku bukan? wahh kau sama sekali tidak berubah ya? selalu berusaha keras, maaf tapi ini adalah waktu dengan keluargaku, istri dan anak-anakku, bukan waktunya reuni, semoga kita tidak pernah bertemu lagi!" ucap Simon dengan sarkas.
__ADS_1
"Ayo sayang, kita pulang,'" ucap Simon sambil membawa keluarganya dari sana.
Dina menarik nafas," tunggu dulu, ini tentang Sandra!" ucapnya.
"Ada apa dengan Sandra!?" kali ini Laura yang membalas.
" Aku tidak bicara padamu, tapi Simon!" ucap perempuan itu sambil memandang rendah Laura.
"Ahh ya sudah, tapi bagaimana ya, Simon itu milikku, kalau berbicara dengannya harus melalui diriku dulu, jangan seperti Linda! ahh mana mungkin kau kenal Linda!" celetuk Laura dengan sarkas.
Simon terkejut, bagaiman istrinya bisa tahu tentang Linda dan hubungan perempuan itu dengan Dina sementara dia berusaha Keras menutupi semuanya dari Laura
"Ha.. hahaha.. Linda siapa ya? kau ini bicara apa? pokoknya aku hanya ingin memperingatkan kalian, jangan percaya dengan apa pun yang disebutkan oleh Sandra, dia baru saja keluar dari rumah sakit jiwa sekitar dua tahun lalu. " ucap Andina.
"Dia memiliki perilaku aneh, sering mengungkapkan sesuatu yang tidak berguna, dan lagi, dia terobsesi padamu Simon, aku sebagai teman lama ingin memperingatkan mu, kebetulan kita bertemu di sini!" ucap Dina dengan serius.
" Dia tergila gila padamu karena kau menolongnya saat kuliah dulu, jangan sampai terkecoh, dia meniru semua yang ku lakukan, meniru gaya pakaianku, cara bicaraku dan semuanya, kalian mungkin jelas melihat kalau kami sangat mirip, jadi berhati-hati lah, terutama kau Laura!" ucap perempuan itu dengan serius.
Laura dan Simon terdiam sejenak. Entah apa maksud dibalik semua ini, tapi rasa curiga semakin membesar, mereka merasakan ada yang aneh dengan ucapan dua bersaudara yang bertolak belakang itu.
"Sandra pernah masuk rumah sakit jiwa?" tanya Laura sambil menatap Dina.
Gadis itu mengangguk," benar, dia pernah dirawat di rumah sakit jiwa selama tiga tahun. Dia tergila gila pada Simon, itu sebabnya dia mendekatimu untuk mendapatkan Simon, dia pasti menceritakan sesuatu tentang aku, jangan percaya, karena dia pembohong!!" ucap Dina dengan nada serius.
Jelas mereka melihat kejujuran di mata Dina, tetapi ada keraguan entah mana yang benar dan mana yang salah di sini.
"Sayang, sudahlah, ayo kita pulang!' ucap Simon.
Laura dan keluarganya pulang dari tempat itu.
Sementara itu Dina menatap mereka dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
"Lihat saja, aku pasti akan mendapatkan mu Simon!"
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗