
Bizael tampak memasuki ruangan perawatan Andara. Hari ini adik kembarnya itu akan keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama hampir dua bulan sejak kejadian nahas itu terjadi padanya.
Terlihat wajah Bizael berseri-seri. Sambil membawa ensiklopedia antariksa yang sejak lama diinginkan adiknya, dia memasuki ruangan itu .
"Andara, kakak punya hadiah!" ucapnya sambil menyembunyikan buku itu di belakang tubuhnya.
Andara yang sedang bermain dengan dua kembar keluarga Kent menoleh dengan wajah cemong karena digambar oleh kedua anak jahil itu.
"Ya ampun wajah kalian hahahaha.... kenapa cemong cemong begini!!!" Bizael tertawa, adiknya dan kedua anak itu sedang melukis di wajah masing-masing.
"Heheh... hadiah apa kak?" tanya Andara dengan wajah bersemangat sekaligus penasaran.
"Buku!!!" teriak Laksamana Andra yang tak tahunya sudah berlari ke belakang tubuh Bizael.
"Buku Ensiklopedia antariksa paman Bintang!!!" seru Laksamana Andra sambil menunjuk buku yang digenggam oleh Bizael.
"Dasar curang, kenapa diintip, jadi gak kejutan dong!!!" ucap Bizael.
"Ahahahahaha... wleeekkk...." Laksamana Andra hanya tertawa cengengesan.
Andara terdiam dengan mata berbinar-binar menatap sang kakak yang memegang buku kesukaannya.
Sudah sejak lama dia ingin kakaknya membelikan buku itu untuknya. Anehnya dia tidak ingin orang lain yang membeli, haru kakaknya yang membeli dengan tangannya sendiri.
Dan sekarang Bizael ada di depannya, memegang buku tersebut.
"A.. apa itu untuk Andara?" tanya pria itu dengan wajah malu malu kucing. Padahal hatinya sudah sangat senang.
Bizael mengangguk, dia memberikan buku itu pada Andara,"Maaf butuh waktu lama kakak membelikannya untukmu," ucap Bizael sambil tersenyum hangat.
Andara tidak langsung menerima buku itu. Dia menatap Bizael perlahan-lahan, dengan wajah penuh antisipasi.
glek!
Dia sampai menenggak Salivanya hanya untuk melihat wajah kakaknya.
"Kakak..." tangan Andara mendekati wajah pria itu. Dia menyentuh wajah Bizael dengan jari telunjuknya.
"Kakak tersenyum, benar benar tersenyum, bukan senyuman palsu," ucap Andara dengan mata berkaca-kaca.
Deghh...
Bizael menyadari sesuatu, selama ini dia tersenyum pada Andara bahkan pada orang lain dengan senyum palsu. Bibirnya mungkin melengkung ke atas, tetapi matanya sayup dan menunjukkan beban yang sangat berat.
Bizael menatap adiknya, dengan tulus dan hangat dia menepuk pucuk kepala adiknya.
__ADS_1
Andara terhenyak, dia menatap kakaknya dengan wajah bahagia," Kakak tidak sedih lagi!! kakak sudah bahagia!!!" ucapnya sambil berdiri dan bertepuk tangan.
Dira dan Laksamana juga turut bertepuk tangan saking bahagianya.
Mereka telah mendengar cerita Andara, sama sama kembar membuat mereka lebih cepat memahami perasaan sedih di hati pria itu.
" Yeahahhhh.....
Bizael menatap adiknya, dia benar benar bahagia dengan kehadiran Andara di sisinya. Andara sama sekali tidak pernah menyusahkan dirinya, justru dia yang membuat Andara kesusahan karena sifatnya yang kekanakan.
Dia spontan berdiri dan menarik Andara ke dalam pelukannya. Andara adalah satu satunya keluarga yang dia miliki sedangkan Andara sekalipun tidak ada dia, pria itu memiliki banyak orang di sisinya.
Secara tidak langsung, Bizael menyadari kalau dirinya yang bergantung pada adiknya.
"Ahhhh Andara kakak menyayangimu, kakak sangat bersyukur kau ada di hidup kakak!!" ucap Bizael memeluk adiknya dengan erat.
Andar tampak tidak nyaman dengan pelukan. Tetapi karena ini pertama kalinya dia dipeluk oleh sang kakak, dia tidak menolak sama sekali meski harus bertarung dengan kebiasaannya.
"Andara merasa tidak nyaman, tapi ini pertama kali kakak memeluk Andara, Andara merasa seperti ada kembang api meletup-letup, bintang bersinar terang, rasanya sangat nyaman tapi juga tidak nyaman!!" celetuk pria itu.
" Hahahahahah... dasar kau ini!!!" Bizael bahagia. Sadar dengan betapa penting Andara baginya membuat pria itu bergantung pada sang adik.
Di luar kamar itu, Kevin dan Dani tersenyum menatap hubungan baik Andara dan kakaknya kembali terjalin.
Di saat yang sama, Detektif Gabriel, pria yang sangat antusias dan penuh dengan tekad itu mengunjungi rumah sakit di mana Andara di rawat.
Dengan langkah kaki yang besar dan panjang, dia menyusuri lorong rumah sakit itu dengan gayanya yang angkuh.
Kali ini dia akan menemukan orang-orang yang menangkap para pelaku kejahatan. Baginya mereka juga melakukan hal jahat karena semua penjahat yang dikirim ke kantor kepolisian rata-rata mengalami kekerasan bahkan ada beberapa yang cacat.
Dia tidak peduli apakah para penjahat itu datang dengan sendirinya. Karena dia sebagai seorang detektif merasa terluka harga dirinya karena para penjahat itu tidak bisa dia tangkap dengan tangannya sendiri.
Rasanya dia sangat kesal karena tak satu pun dari para tersangka mau memberikan kesaksian tentang siapa yang mengantarkan mereka ke kantor polisi.
"kejahatan cyber lebih buruk, mereka mungkin saja sengaja melakukan ini untuk menutupi kasus yang lebih besar, sialan aku tidak boleh kecolongan lagi!" batin pria itu penuh tekad hingga dia tiba di lantai VVIP di mana Andara di rawat.
Dia menatap ke arah ruangan di mana Kevin dan Dani berdiri.
Kevin, pria itu dia kenal sebagai mantan anggota Mafia. Gabriel cukup banyak mengenali anggota mafia yang tidak bisa dia tangkap, dan ini salah satu kegagalan terbesarnya.
Dia berjalan dan di saat yang sama Dani yang sangat cantik hari ini menatap ke arahnya dengan tatapannya yang dingin dan datar.
Deg... deg.. deg!
Jantung Gabriel seolah di uji. Dia berdebar saat melihat perempuan cantik yang di matanya sedang tersenyum lembut ke arahnya, padahal jelas Dani menatapnya dengan tatapan pembunuh.
__ADS_1
"Siapa dia? cantik sekali!" batin Gabriel sambil berjalan ke arah mereka.
"Selamat Siang," ucap Gabriel yang terlihat jelas mengatur gaya bahasanya bahkan aksennya agar terlihat keren di mata seorang gadis cantik yang membuatnya berdebar. Dia menunjukkan tanda namanya sebagai seorang detektif.
Dani menatap sinis, "Uruslah, aku benci melihat hama ini," bisik Dani sambil memasuki ruangan Andara.
Dani sangat benci dengan pihak kepolisian. Dia dendam dan kesal dengan mereka karena masa lalunya yang buruk dengan pihak kepolisian yang bahkan tidak bisa memutus rantai penyiksa Anak dan kekerasan dalam rumah tangga.
Dia yang masih kecil, difitnah sebagai anak yang mengalami depresi hingga membunuh orangtua asuhnya sendiri.
Dani masuk ke dalam dan menutup pintu itu tanpa menanggapi Gabriel.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Kevin.
Gabriel masih menatap pintu itu, penasaran dengan Danielle gadis cantik yang sebenarnya sosok di balik semua kejadian janggal yang dialami oleh para penjahat.
"Ahh.. Andara Harlem, saya ingin berbicara dengan dia, ini terkait penusukan yang terjadi padanya dan beberapa korban lainnya," ucap Gabriel.
"Saya akan masuk!" ucap Gabriel tanpa basa-basi.
Tetapi Kevin menghalangi langkahnya sambil menahan pintu," Saya rasa..."
Kevin menatap tajam pria itu.
"Anda tidak perlu bertemu dengan korban, jika hanya ingin menyudutkan nya," ucap Kevin dengan nada sinis.
"Menyudutkan!? yang benar saja, jangan menghalangi penyelidikan, aku bahkan bisa menangkapmu dasar mafia berengsek!!" ancam Gabriel.
Wajah Kevin berubah total, dia membuka pintu ruangan itu," Jika kau masuk ke sini, maka jangan salahkan aku aku akan jadi target mafia ini," ucap Kevin dengan seringai menyeramkan di wajah tampannya.
Gabriel tidak peduli, dia masuk tanpa ragu ke dalam ruangan itu.
Andara, Bizael, Dani dan anak anak yang tengah membereskan barang Andara sedikit terkejut dengan Gabriel yang tiba-tiba masuk.
Andara terlihat kesal. Dia bersembunyi di belakang tubuh kembarannya tak ingin melihat Gabriel.
"Kenapa orang bodoh masuk ke ruangan ini!!!"
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1