Istri Untuk Tuan Simon

Istri Untuk Tuan Simon
43. Rahasia


__ADS_3

Laura terus menatap rumah itu, dia terdiam sampai dia melihat Zayn keluar dari dalam rumah.


Laura berlari menghadang mobil Zayn dengan wajah takut dan bingung. Sebenarnya, Laura butuh dampingan psikiater untuk menghilangkan gangguan kecemasan dan traumanya yang kadang kadang tidak.


Selama Seminggu ini, Simon tidak menghubungi mereka sama sekali. Tampaknya pria itu sangat sibuk.


Laura juga berusaha menghubungi Simon, tetapi selalu Hendry yang mengangkat teleponnya. Ingin Laura berbicara pada Simon, tapi Simon seperti nya terlalu sibuk di negara luar sana sampai tak sempat berbicara dengan Laura.


"Tuan Zayn!!" teriak Laura.


Zayn berhenti dengan cepat. Sebenarnya dia berniat mengikuti Laura, tak taunya Laura masih di depan rumah.


Pria itu keluar dari dalam mobil, jelas dia lihat Laura berlari menghampirinya dengan wajah takut.


Dengan cepat gadis itu menghampiri Zayn, mau tidak mau dia harus memberitahu hal ini pada orang dekat yang bisa dia percaya.


Melihat Zayn, dia ingin meminta bantuan pria itu karena merasa Zayn orang yang hangat dan peduli padanya.


Setidaknya Laura tidak sebodoh itu bertindak sendirian. Karena dia jelas tahu kalau nyonya Tiara adalah orang yang licik dan picik, tidak ada yang tahu seperti apa isi kepala wanita itu.


"Ada apa? kenapa wajahmu panik seperti itu!?" tanya Zayn yang spontan menepuk bahu Laura dengan pelan.


Laura menggigit bibirnya, dia terlihat takut. Kedua tangannya mencengkram ujung kaosnya, tampak ragu dan khawatir jika dia memberitahukan hal ini dia akan ditertawakan.


"Katakanlah, ada apa?" tanya Zayn sambil menatap Laura dengan lembut. Jujur saja, Zayn tidak bisa bersikap kasar pada Laura, berbeda dengan perempuan lain yang dia temui di sekitarnya.


Entah kenapa hati dan pikirannya selalu memiliki perlakuan dan ruang khusus untuk Laura, hal ini aneh baginya tapi dia tidak yakin mengapa dirinya bisa merasakan hal janggal seperti itu.


"Be...begini, Nyonya Tiara ingin mengajak saya bertemu, tapi saya takut terjadi sesuatu, dia...dia membawa informasi tentang ibu kandung saya, orang yang selama ini saya cari... saya akan pergi ke hotel tempat yang dia minta, bi..bisakah antarkan saya tuan? sa..saya hanya sebentar, ini penting bagi saya, sudah lama saya ingin tahu siapa ibu saya," jelas Laura dengan suara terbata-bata.


" Kalau begitu kenapa kau takut?" tanya Zayn heran.


Laura menatap Zayn dengan mata berkaca-kaca,"Aku takut diejek, karena aku mencari ibuku yang katanya perempuan malam, aku hanya takut ditertawakan, tapi lebih takut kalau sampai tuan Simon marah jika aku tidak bilang pada siapa pun," jelas Laura sambil menunduk


Zayn terdiam. Tentu saja pemikiran seperti itu muncul di pikiran Laura. Bagaimana mungkin dia tidak takut jika sampai orang orang menghina dan merendahkan dirinya lagi hanya karena dia mencari ibunya.

__ADS_1


Trauma yang Laura terima cukup banyak, mentalnya mudah goyah. Tetapi Zayn, sebagai seorang pria yang berpikir logis dan punya hati, merasa Laura mulai melawan traumanya dengan caranya sendiri.


Dia berani mengungkapkan nya meskipun tahu resikonya seperti apa.


Zayn menatap Laura, dia menepuk bahu Perempuan itu," Kenapa harus takut, aku akan menemani dan mengawasimu, tenang saja Simon juga tidak akan marah, dia hanya akan marah jika kau terluka, dan keputusan mu memberitahuku soal ini adalah hal yang benar," ucap Zayn.


Mereka berdua pun berangkat menuju hotel yang dimaksud oleh nyonya Tiara. Lebih tepatnya di restoran sebuah hotel bintang Lima.


Sepanjang perjalanan Laura hanya menatap jalanan, harap harpa cemas dengan apa yang sebenarnya nyonya Tiara inginkan.


Jika tidak dia turuti maka dia tidak akan mendapatkan informasi tentang orangtuanya dan Pak Mandu akan jadi sasaran empuk mereka.


Laura pernah mendengar dari Pak Mandu, kalau tuan Raymond mempunyai informasi rahasia yang disimpan bepuluh tahun. Informasi tentang kelahiran dan asal usul Laura. Jika dia bisa mendapatkan benda itu maka Laura akan tahu siapa keluarganya, hanya saja tuan dan Nyonya Raymond serta Cintia yang tahu letak benda itu di mana.


Laura menghela nafas berkali-kali, ingin rasanya dia menangis. Seolah dia bolak balik antara dunia depresinya dengan dunia bahagianya sekarang.


Dadanya sesak, hatinya pedih memikirkan perlakuan Tuan Raymond yang dia anggap sebagai Ayahnya.


Jika dia memang tidak diharapkan lahir di keluarga itu, kenapa dia harus di biarkan hidup, kenapa tidak sejak awal mereka membunuh dirinya agar setidaknya Laura tidak perlu merasakan dunia yang sakit ini.


Hidup sendirian, kesepian dan terus menerus mendapatkan tekanan batin dan fisik, sungguh Laura cukup kuat untuk tidak menjadi orang gila yang berkeliaran di jalanan.


Hari ini Simon telah kembali ke negara ini dengan selamat, hanya saja belum sampai ke rumah karena ada urusan lain yang harus dia selesaikan.


"Laura, jangan terlalu dipikirkan, tenanglah," ucap Zayn.


"Maaf tuan, saya mengganggu anda ya, maafkan saya," ucap Laura sambil menunduk.


"Hei ayolah, jangan bicara formal padaku, panggil aku kak Zayn, meskipun usia kita sama tapi aku lebih cocok dipanggil begitu!" celetuk Zayn sambil menatap Laura.


"Tapi...


" Tidak ada tapi- tapian, panggil Kakak saja, dan jangan cemberut seperti itu, kau harus tersenyum, coba ikuti aku, senyum seperti ini!!" celetuk Zayn sambil menunjukkan senyumannya yang manis.


Laura tersenyum," baiklah terimakasih kak," ucap Laura sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


Zayn berhasil menghibur hati gadis itu. Sambil membicarakan rencana, mereka melaju menuju tempat yang dimaksud .


Tak beberapa lama mereka tiba di hotel yang dimaksud. Hotel yang dikelolah oleh Raymond grup atas nama Nyonya Tiara. Terkenal dan juga diminati banyak orang.


Laura dan Zayn menatap gedung besar itu, mereka berdua terdiam sejenak.


Terdengar Hela nafas berat dari bibir Laura," Apa kau tidak bisa menolak? kami bisa mencari tahu siapa ibumu," ucap Zayn.


Laura menggelengkan kepalanya," Bukan itu masalahnya kak, tapi mereka punya kelemahanku, aku takut Pak Mandu jadi korban mereka, selain itu menurut pak Mandu, masalah kelahiran ku adalah rahasia, aku juga sudah mencaritahu tapi tidak menemukan apa pun," jelas Laura.


Zayn sedikit terkejut, jika memang Laura hanya anak haram, kenapa kelahirannya sepertinya sangat dirahasiakan? ada apa sebenarnya?


Zayn mengangguk," aku akan mengikuti dari tempat lain, kau turunlah di sini agar mereka tidak curiga," jelas Zayn yang dianggukkan oleh Laura.


Gadis itu keluar dar mobil dan berjalan menuju hotel tersebut.


Zayn sendiri memutar mobilnya dan masuk ke area parkiran. Dia menatap gedung itu sambil memicingkan matanya, ponselnya menghubungi seseorang di sana," Retas sistem keamanan Glory Hotel, kirim anak buah Aryn ke tempat ini, dan Kau Simon cepatlah datang!" ucap Zayn dengan nada datar dan dinginnya.


Pria itu menatap gedung besar itu sambil mengeraskan rahangnya, dia jelas tau keluarga Raymond bukan keluarga baik.


Saat Laura keluar dari mobilnya barusan, jantungnya dibuat bergetar, bukan karena suka tapi karena khawatir akan terjadi sesuatu pada Laura.


Dia melangkah lalu masuk ke dalam hotel itu .


Sementara itu Laura berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri. Belum pernah dia masuk ke hotel semewah ini, dia begitu asing dengan tempat seperti ini.


Dia masuk ke restoran, lalu kedua Netranya menangkap sosok nyonya Tiara yang duduk di salah satu kursi pelanggan.


Mereka saling menatap. Laura semakin mendekat dan dia pun duduk di depan Nyonya Tiara.


" Apa yang sebenarnya anda inginkan Nyonya?? apa benar anda punya informasi tentang ibu saya!?' Laura langsung pada topik inti pembicaraan.


..


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2