
Pak Alvin terdiam begitupun dengan Andara yang sampai menunduk dan bersembunyi di belakang tubuh pak Alvin saking terkejutnya mendengar teriakan Danielle yang menggelegar.
"Berteriak tidak baik, tidak bagus untuk tenggorokan, Dani bisa sakit leher, kalau sakit leher nanti tidak bisa bic...
"Sshhhh... ck diam dulu Andara!!" kesal Dani sambil menatapnya dengan berkancah pinggang.
Andara menutup mulutnya dengan kedua tangan, tapi bibirnya masih terus berbicara dan mengoceh tentang banyak hal.
Pria ini memang tidak bisa diam.
"Kalian duduklah, tenang dan duduk, tidak akan terjadi apa-apa, aku datang ke tempat ini membawa solusi bukan masalah, kebetulan saja mereka memancing amarahku,"ucap Dani sambil menghela nafas kesal.
Pak Alvin membawa Andara duduk di depan Dani, Pak Alvin terlihat tenang sedangkan Andara dengan kebiasaannya dia mengamat amati tempat itu.
"Pak, saya datang untuk membantu bapak menangkap pelaku kejahatan pada putri Bapak, Yesi." ucap Dani dengan serius.
"Bapak pernah melapor ke tempat ini kan? setelah mendapatkan undangan anda datang tiga hari yang lalu," Dani memberikan sebuah kartu nama Laundry Happy.
Pak Alvin menatap benda persegi panjang itu, sama halnya dengan Andara, pria itu menatapnya dengan seksama sambil menggerakkan jari jarinya.
"A..anda dari... jadi... kalian..." Pak Alvin tampak terkejut.
" kami sudah mencari tahu semuanya dan kami telah menemukan pelakunya dan bukti yang bisa memberatkan dia," ucap Dani dengan lembut.
"Saya tahu dan paham penderitaan anda pak, oleh sebab itu saya datang ke tempat ini untuk memastikan apakah bapak layak kami bantu atau tidak," ucap Dani sambil mengeluarkan dokumen perjanjian.
"Ja..jadi kalian sudah tahu orangnya!? siapa dia!? siapa bajingan yang melakukan itu pada putriku, apa dia pengusaha itu!? itu dia kan!? dia yang membuat putriku meninggalkan!?"Pak Alvin tampak histeris.
"Sshhtt...." ucap Dani.
"Shhhtt...."Andara menirukan gaya Dani. pria itu selalu membuat Dani tercengang.
"Pak Alvin diam, nanti nenek sihir marah, kalau marah kita kena semprot, Andara tidak suka!!" ucap pria itu sambil menutup mulut Pak Alvin dengan tangannya dan melirik Dani dengan wajah takut.
"Hahah... kau ini ya, sudah lepaskan pak Alvin!" ucap Dani.
"Tapi Pak Alvin mau berteriak lagi, wajahnya merah, dia marah, pasti akan berteriak lagi, dan Dani akan marah lagi, lalu membentak lagi, nanti kalian sama sama marah.. tapi Andara tidak mau marah, marah itu tidak baik..." seloroh Andara mengulang ulang ucapannya.
"Hah aku jadi bingung," ucap Dani mau marah atau tidak, menurutnya Andara sangat menggemaskan.
" Andara juga bingung!" ucapnya sambil menarik tangannya dari wajah Pak Alvin dan duduk dengan tenang.
__ADS_1
Dani hanya bisa geleng-geleng kepala, dia kembali serius," Pak Kami akan melakukannya selama bapak menandatangani dokumen perjanjian ini, bapak baca dan pikirkan dalam dua menit," ucap Dani.
" Hah? 2 menit!? ba.. bagaimana bisa!?" ucap Pak Alvin .
" Sudah berjalan 30 detik, silahkan dibaca pak," ucap Dani.
Pak Alvin mengambil dokumen itu, dan membacanya.
"Saya tidak akan membocorkan rahasia dan menyerahkan semua proses pada pihak yang mengambil tanggung jawab," ucap Andara membaca isi perjanjian yang singkat padat dan jelas itu.
"Jelas sekali bukan? bagaimana pak? sudah menentukan pilihan?" tanya Dani.
Pak Alvin tampak diam, pembunuh putrinya masih berkeliaran di luar sana sedang nama baik putrinya tercemar dan disebut sebagai pengguna obat-obatan terlarang yang stress dan bunuh diri.
Dia ingin nama putrinya bersih, dia ingin orang orang memberikan penghormatan yang layak bagi Yesi dan hukuman yang setimpal atas perbuatan bajingan yang membunuh putrinya.
"Jika setuju," Dani menyematkan pulpen di tangan pria itu.
"Tanda tangani di sini, dan segala beban biaya akan dikirim ke ponsel bapak begitu kasus selesai, kami akan menanganinya dengan bersih selama bapak jaga rahasia, jika tidak jaga rahasia...
" Akan di hukum, jika tidak jaga rahasia pasti akan di hukum!!" Andara menyambung ucapan Dani dengan penuh semangat.
Pak Alvin menatap kertas itu, membayangkan penderitaan putrinya dan betapa bebasnya sang pelaku saat ini membuat Pak Alvin membulatkan tekad untuk segera menangkap pelakunya.
Dengan penuh keyakinan dia menandatangani dokumen itu dan menyetujui persyaratan yang sudah tertera di sana.
Dani tersenyum, dia menatap pria tua itu, sedikit lega karena pak Alvin melunak dan menerima tawaran mereka.
Meskipun pak Alvin menolak, dia tetap akan melakukannya karena perbuatan pria itu sangat keji.
Yesi bukan satu satunya korban, dia adalah korban ketiga yang meninggal dan berhubungan dengan pelakunya.
"Bapak mohon," Pak Alvin menggenggam tangan Dani.
"Temukan mereka, temukan pelakunya dan hajar mereka, bapak akan bayar berapa pun yang nona inginkan, bapak ...
Pria itu berdiri lalu tiba-tiba berlutut di depan Dani.
"Pak... ja..jangan begini..
"Bapak tidak punya siapa-siapa lagi, Yesi satu satunya keluarga bapak dan sekarang dia pun pergi menyusul ibunya," Pak Alvin menangis.
__ADS_1
" Bapak mohon, temukan pelakunya dan beri dia ganjaran atas perbuatannya, Bapak ingin nama Yesi tetap bersih, bukan di cap sebagai perempuan tidak benar bahkan kampus nya sampai malu mengakui bahwa dia mahasiswa di sana," ujar Pak Alvin dengan hati yang hancur.
Dia menangis di depan Dani, dadanya terasa sesak, putrinya yang berharga meninggal di tangan orang yang tidak bertanggung jawab.
Dani memapah pria itu dan memeluknya," Pak, serahkan semuanya pada kami!" ucap Dani.
" Pada Andara juga, Andara juga tahu, Andara juga akan bantu!!! penjahat harus dihukum, pembunuh harus di hukum sesuai undang-undang," ucap pria itu sambil menepuk nepuk punggung pak Alvin dengan ragu-ragu.
Dani banyak tersenyum hari ini. Dia memiliki client yang spesial dan bertemu Bintang Andara si manusia unik yang spesial.
"Hohoh... Dani kami sudah datang, mana yang mau dibereskan!?" suara Lanang dan anak buah mereka terdengar. Mereka sudah tiba di lokasi atas permintaan Dani.
"Ahh bereskan semua yang berantakan," teriak Dani.
"Siapa mereka?" tanya Pak Alvin.
"Ahh, mereka orang baik pak, sampai kasus ini selesai, bapak akan kami dampingi," ucap Dani sambil membawa pria itu keluar .
"Selamat malam Pak Alvin!" Sapa mereka sambil membungkuk hormat. Mereka datang dengan pakaian warna-warni, sudah seperti Anggita sirkus.
Andara yang melihat ini terbelalak dengan wajah bahagia," Wahhh. hahaha ada pelangi!!! " seru pria itu sambil berlari mengelilingi mereka, berlari dengan kedua tangannya di atas dan tertawa bahagia.
Lanang dan teman-temannya menatap Dani ketika melihat pria itu. Dani tersenyum saja, dan tak mengatakan apa apa.
"Pak apa Andara tidak punya rumah? kenapa dia berkeliaran malam malam seperti ini?" tanya Dani heran.
Pak Alvin tersenyum sambil menatap Andara," Dia senang keluar malam, menatap bintang bahkan menunggu hujan selesai untuk melihat bintang, dia anak yang unik, Bapak kurang tahu dia tinggal dengan siapa, tetapi setiap ditanya dia hanya diam dan menatap langit," jelas Pak Alvin.
"Andara tak pernah keluar siang, bapak juga tidak tahu kenapa, dia seperti mahluk malam yang mulai beraktivitas di malam hari, itu saja yang bapak tahu," jelasnya lagi.
Dani mengangguk paham, dia menatap Andara, si pria spesial yang unik dan berhasil membuatnya tertawa.
Dari kejauhan, tampak seorang pria menatap mereka dengan tatapan tak biasa. Lebih tepatnya mental Andara yang sedang berlari dan tertawa bahagia. Entah apa arti tatapan matanya, tetapi setelah melihat mereka, pria bermasker dan bertopi itu pergi dari sana.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1