
Dani menatap video itu dnegan seksama. Dia tidak lagi heran dnegan kejahatan semacam ini. Ada banyak korban yang mengalami hal mengerikan seperti ini tetapi hanya sedikit dari keluarga korban atau bahkan korban sendiri yang ingin melakukan balas dendam atau bahkan sekedar untuk membuktikan bahwa pelakunya adalah orang yang memang dicurigai.
“ Aku akan menemui Pak tua itu, kirimkan padaku video wawancaranya,” ucap Dani sambil berjalan menuju lift ruangan bawah tanah itu.
“ Kau akan melakukannya sekarang? Jika demikian temui dia di kedai jajanan pinggir jalan di alamat ini, aku akan melihatnya di sana berjualan sendirian,” ucap Lanang memberikan secarik kerta pada Dani.
Gadis itu mengangguk,” baiklah, aku akan berangkat, jika memang dia ingin masalah ini kita tangani, aku harus membicarakan biayanya,” ucap Dani yang selalu bertindak rasional dan bisa memilah antara perasaan iba dengan pekerjaan.
“ hah kita lihat saja, apa kau tahan mendengar cerita pria itu,” ucap Ella sambil menatap kepergian gadis itu.
Dani menaiki lift itu, dia masuk kedalam sebuah parkiran di gedung mewah kent Grup.
Yap!
Ruang bawah tanah itu berada tepat di bawah gedung Kent Grup yang dipimpin oleh Simon. Mereka mengendalikan sistem keamanan Kent grup dan juga melakukan pekerjaan sampingan mereka dari sana. Orang orang yang bekerja dengan mereka di Laundry Happy itu adalah orang orang yang penuh dengan dendam dan ingin mendapatkan keadilan meskipun proses yang mereka lalui itu panjang.
Dani menaiki mobilnya, bukan mobil laundry karena akan aneh jika mobil laundry berkeliaran di malam hari seperti ini. Dani menaiki mobil dalam mode perubahan bentuk, terlihat trendi dan tidak seperti sedang jualan jasa laundry.
“ assahh mari kita berangkat,” ucap gadis itu sambil menyalakan mobilnya dan melaju keluar dari perusahaan itu.
Bahkan kepolisian pun tak akan tahu lorong dari laundry itu akan menuju ke perusahaan milik Simon. Teka teki munculnya para penjahat yang melarikan diri tentu saja membuat pihak kepolisan bahkan pengadilan merasa heran karena para penjahat itu mengaku dengan gamblang tetapi anehnya selalu terlihat mengalami trauma besar setelah mengakui semua perbuatan mereka.
Bahkan ada yang mengaku melihat hantu atau bahkan di paksa mengaku oleh jin. Keterangan mereka membuat kepolisian merasa aneh, belum lagi beberapa dari penjahat itu malah meminta untuk dihukum sekeras kerasnya oleh pengadilan. Selalu ketakutan bahkan mengalami tremor ketika berada di pengadilan.
Tanpa mereka ketahui pelakunya hanyalah seorang gadis bar bar yang tidak suka melihat ketidakadilan. Mereka bekerja untuk menolong orang orang yang ingin membalaskan dendam dan menangkap para penjahat yang membuat para korban hancur.
Mobil Dani melesat menuju ke alamat yang ditujukan oleh lanang. Dia mengemudi dengan tenang, melewati gedung gedung besar ditemani dengan bintang bintang yang bercahaya terang di atas sana. Senyuman tipis terlihat jelas di pipi gadi situ,” malam yang indah untuk membunuh seseorang,” gumamnya sambil tertawa sinis.
Sembari menikmati permen lolipop buatan tangan Laura, dia menikmati semilir angin sembari mendengarkan nyanyian para bocah tengil yang dia rekam untuk dia dengarkan ketika bekerja.
Tak beberapa lama gadis itu tiba di sebuah kedai penjual kudapan malam. Kedai yang sepi, terletak diantara gerai gerai besar yang tentu saja banyak dikunjungi oleh orang orang di kota besar itu.
__ADS_1
Seorang pria paruh baya tengah duduk termenung di depan tokonya yang tidak ada pengunjung. Keriput halus di wajahnya, garis dahi yang semakin terlihat jelas, tubuh dan wajah yang lesu, tak ada semangat hidup. Sungguh menyedihkan melihat pria itu melamun seperti itu.
Seolah dia tidak lagi berusaha memanggil pembeli untuk datang ke gerainya, dia hanya pasrah dengan alam dan menatap sendu ke atas langit tempat putrinya yang malang ini berada.
“ Pak, saya pesan Roti bakarnya 5 porsi, dua makan di sini ya pak sisanya di bungkus,” Dani masuk begitu saja ke dalam tenda gerai pria yang kerap di sapa Pak Alvin itu.
Pria itu terkesiap ketika melihat seorang gadis memasuki tendanya, padahal dari tadi dia duduk tak ada yang mau masuk ke dalam tendanya yang sederhana.
“ Pak?” panggil Dani lagi sambil menatap heran pada pria itu.
Pan Alvin terkejut, segera dia menyadarkan dirinya dan berjalan dengan cepat,” Sebentar saya buatkan non,” ucap si bapak dengan langkah kaki yang gemetar. Terlihat jelas di dalam tenda itu meja yang tidak disusun dengan rapi, beberapa piring sisa pelanggan masih terletak di atas meja.
Biasanya Yesi, putri Pak Alvin yang membantunya membereskan meja, tetapi kini tak ada lagi sosok anak yang membantunya berjualan.
“ Kenapa ini gak diberesin pak? Gimana orang mau masuk kalau berantakan begini?” ucap Dani sambil menunjuk meja di depannya yang masih kotor.
“ Maaf non, bapak kurang fokus tadi, duduk di tempat yang bersih, nanti saya bersihkan meja mejanya,” ucap pak Alvin.
“ a.. maafkan saya non, bapak akan bersihkan ,” ucapnya sambil membungkuk menyesal.
“ tck..” dani berdecak kesal, dia bukan orang yang bisa bersikap romantis bahkan menghibur pria itu seolah dia adalah orang paling pengertian di dunia ini. Tidak, dia memang tidak mau melakukan hal aneh seperti itu.
“ Tetaplah memanggang rotiku, aku akan bersihkan ini,” ucapnya dengan nada ketus sambil mulai membersihkan meja meja itu dengan tangannya sendiri.
“ Tapi non, saya..
“ pak kalau sampai saya selesai roti panggang saya tidak juga selesai saya tidak akan bayar dan minta gaji membersihkan ini semua,” ucap gadis itu sambil menatapnya dengan tatapan tak senang.
“ Tapi non..
“ Ckkk...pak sudah panggang saja rotinya, saya sudah kelaparan!” balas Dani yang mulai bekerja.
__ADS_1
Pak Alvin terpaksa menurut. Dengan langkah kaki tergopoh gopoh pria tua itu memanggang roti bakar pesanan Dani sedangkan gadis itu asik membersikan gerai itu dengan kedua tangannya. Dia bekerja dengan cepat, melihat semua berantakan seperti ini dia teringat dengan rapper handal di rumah utama Kent.
Laura akan terus menerus mengomel sambil membereskan barang yang berantakan di rumah karena ulah suami, anak anak bahkan teman teman laknat mereka yang suka menyerakkan barang.
“ Jadi begini rasanya kesal melihat sesuatu yang berantakan, kak Laura kau hebat” gumam gadis itu sambil membersihkan semuanya sampai kinclong.
“ pak mau pelanggan kan?” ucap gadi situ.
“ ma.. maksudnya non..
“ Kita akan sibuk sampai beberapa jam ke depan , sampai semua jualan bapak habis, “ucap gadis itu membuka tirai penutup yang menutupi logo kudapan makan si bapak. Dia menyalakan lampu kelap kelip dan menyusun kursi di bagian luar.
“ non, gak akan ada yang beli, jangan dibuka semua," ucap Pak Alvin.
“ Sttthhhh jangan bicara pak, biar kita buka dulu, anak bapak pasti akan senang melihat ayahnya kembali bekerja dengan giat seperti dulu,” ucap Dani .
Pria itu terdiam membisu,” ba.. bagaimana kau ta.. tahu?” tanya si bapak.
“ Ck.. diamlah pak, itu ada beberapa pelanggan, mereka akan datang ke sini, cepat panggang rotinya, nanti kita bicara,” ucap Dani dengan senyum tipis di wajahnya.
Benar saja, dari ujung sana, tampak beberapa pria berbadan kekar berjalan ke arah gerai si bapak. Pria berpakaian serba hitam yang tampak berjalan dengan santai sambil tertawa cekikikan menatap gerai pria itu.
“ No.. non.. i.. itu bukan..
“ shhhttt tenanglah pak, aku akan buat mereka bayar mahal kali ini,” ucap Dani sambil tersenyum.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen