
Keesokan harinya.
Simon menatap wajah sembab Laura yang menangis semalaman karena perbuatan Sadrakh. Yang disesalkan oleh mereka semua adalah kenapa Sadrakh sampai setega itu pada anak kecil bahkan sampai mencekiknya dan menganggapnya sebagai pembawa sial.
Mereka semua menginap di rumah Zayn. Sadrakh pergi dan entah kapan akan kembali.
"Sayang, bangun yuk sudah pagi," bisik Simon sambil mengusap lembut wajah Laura.
Gadis itu membuka kedua matanya, kepalanya sedikit sakit dan matanya terasa bengkak karena menangis.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Simon sambil menatapnya dengan penuh perhatian.
Laura mengusap wajahnya, dia masih belum tenang karena kejadian semalam. Bayangan apa yang terjadi pada Alesha jelas di ingatan gadis itu.
"sudah sedikit tenang," ucap Laura sambil memeluk Simon dan menelusup kan wajahnya di dada bidang sang suami.
Tangan kekar itu terayun dan mengusap lembut pucuk kepala istrinya," Jangan terlalu dipikirkan, dia akan menyesal saat waktunya tiba sayang, sekarang kita fokus pada kesehatan mental Alesha, aku takut dia punya trauma pada Sadrakh setelah ini," ujar Simon.
Laura mengangguk," Benar kata mu, Hahh... ku harap kak Sadrakh sadar," ujar Laura.
Mereka segera bangun pagi. Laura dengan penuh semangat melupakan kejadian semalam dan menganggapnya tak terjadi. Dia keluar dari kamar setelah bersih-bersih sedang suaminya melakukan briefing pagi di dalam kamar bersama bawahannya karena dia tak ke kantor hari ini.
Mata Laura menatap rumah besar itu. Kedua Netranya menangkap sosok Rose yang berjalan seperti orang sempoyongan dengan rambut acak-acakan seperti sangkar burung.
" Hoaaammm... Kakak...." Rose merentangkan kedua tangannya dan berlari menghamburkan pelukannya pada Laura.
Greepp....
Dengan erat dia memeluk Laura sambil bergumam sebagai kebiasaannya setiap bangun tidur.
“ Selamat pagi Rose, tidurmu nyenyak?” tanya Laura sambil merapikan rambut sarang burung milik rose yang sudah jingkrak ke sana ke mari.
“ Nyenyak sekali sampai aku ingin tidur lagi hoaaammmm...” Rose mengusap sambil mempererat pelukannya pada Laura .
Di sisi Lain, Zayn dengan senyum penuh semangat menghampiri kedua perempuan itu.
“ selamat pagi Laura, Rose, adik adikku yang cantik, tapi lebih ganteng abangnya dong, hahaha” celetuk Zayn yang ikut menimbrung dan memeluk mereka berdua dalam pelukan tangan besarnya.
“ Waaah ini rasanya punya keluarga yang bisa kau sapa setiap pagi, ini benar benar menyenangkan ,” ucap Laura.
__ADS_1
Mereka berdua mengangguk. Segera keduanya turun ke lantai satu. Dan..
Jreng jreengg...
Harum semerbak sarapan lezat di pagi hari tercium begitu jelas di hidung mereka. Aroma masakan yang begitu sedap tercium jelas di ruangan itu.
Rose yang awalnya ngantuk malah langsung melek dan membuka kedua matanya kala aroma makanan favoritnya tercium dengan sangat jelas.
“ Uwaahahh Mama masakkkk...” teriak Rose penuh semangat seolah gadis pemalas yang mengantuk tadi bukan dirinya.
Dia berlari dengan wajah sumringah ke dapur tanpa memakai alsa kaki.
“ Rose hati hati jangan lari..” teriak Zayn dan Laura bersamaan.
tetapi naas, Rose yang berjalan sempoyongan malah menabrak tubuh Hendry .
Bruukkk...
Keduanya terjatuh di lantai, menghantam lantai yang keras sambil mendengus kesal .
“ Nona Rose, kalau jalan pakai mata!!”teriak Hendry kesal.
Hendry menggeram kesal. Rose tak ada bedanya dengan Zayn, sama sama orang yang mengesalkan dan tak mau kalah.
“ nak ayo berdiri jangan di sana, kita akan sarapan,” Tuan Kennedy berdiri di belakang mereka dengan semangkuk sup di tangannya.
“ Selamat pagi sayang, tidurmu nyenyak? “ Sapa Tuan Kennedy dengan senyum cerah di wajahnya.
“ pagi Pa... Laura tidur nyenyak, “ ucapnya sambil membantu Tuan Kennedy membawa mangkuk sup itu.
“ Simon sedang ada rapat dadakan, sebentar lagi dia aka menyusul,” ujar Laura yang dibalas anggukan kepala oleh mereka.
Semua orang berkumpul di ruangan makan, Laura, Gretta, Irvan, Rose dan yang lainnya membantu menghidangkan makanan di atas meja makan. Semuanya dimasak oleh nyonya Felicia dengan bantuan Diego yang sedang nangkring di dapur sambil mengintip kue yang dia buat.
Duduk dengan wajah cemong, tepung berantakan di mana mana dan gula yang berserakan, dengan tenang menatap Oven dengan mata membulat berharap benda di depannya selesai dengan cepat.
“ Tuan jangan duduk di situ, saya mau bersih bersih,” omel Gretta.
“ Bebek liar diam, abang ganteng lagi tunggu kue nya menetas, diam atau ku cium kau tahu rasa,” celetuk Diego.
__ADS_1
Gretta hanya memutar malas kedua bola matanya, dengan cepat dia lanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan pria yang duduk dalam posisi boker itu sambil garuk garuk ketombe dan menciumi jarinya satu persatu.
Sementara itu, Setelah memastikan semua hidangan siap, Laura berjalan menuju ruang perawatan bersama Gretta. Ingin mengecek kondisi Alesha dan Obelia yang tidur bersama sepanjang malam di ruangan itu.
Mereka berjalan perlahan hingga di sepanjang lorong itu terdengar senandung merdu dari Obelia yang sedang mengayun Alesha dalam pangkuannya.
“ Suara Obelia sangat indah, dia penyanyi yang baik,” bisik Laura.
Gretta mengangguk setuju" benar nyonya, dia memang hebat dalam urusan bernyanyi,” ucap Gretta.
Perlahan lahan kedua orang itu berjalan dan membuka pintu ruangan perawatan dengan perlahan.
Tampaklah Obelia yang menggendong Alesha kecil yang sedang berbaring dalam pelukannya sambil terlelap dengan wajah menggemaskannya. Kening Obelia dibalut perban karena terluka akibat ulah sadrakh bahkan kaki dan tangannya juga memar karena dilempar Sadrakh.
Tetapi dia tidak membenci Alesha karena perbuatan Sadrakh, dia merawat gadis malang itu dengan sepenuh hati karena dia pun pernah merasakan hal yang sama. Dibuang ibunya dan disiksa oleh ayahnya sampai Obelia memilih melarikan diri dari rumah penuh sesak di mana dia hanya dijadikan sapi perah dan keluarganya jadi parasit yang menggerogoti seluruh kehidupannya.
Laura dan Gretta menatap dari luar dengan tatapan terharu. Obelia sangat sungguh-sungguh, dia memiliki aura seorang ibu yang sangat bagus. Hati siapa yang tidak hangat melihat Obelia demikian peduli pada Alesha ketika ayah gadis itu bahkan tak menganggapnya ada.
“ Obelia,” panggil Laura.
Sontak pelayan itu berbalik dengan wajah terkejut,” ehh nyonya, maaf Alesha tadi bangun saya tidurkan kembali, kasihan dia masih syok,” ujar Obelia dengan suara lembut.
Luara menepuk bahu Obelia, dia tersenyum dan menatap gadis itu dengan lembut,” kamu melakukan hal yang baik, aku salut padamu,” ucap Laura.
Obelia menunduk, jelas dia turut sedih dengan apa yang Sadrakh lakukan pad Alesha kemarin malam,” Nyonya maaf saya buat kekacauan di hari penting nyonya, tapi saya benar benar tidak tega dengan nona Alesha yang ditolak ayahnya sendiri, saya sudah mengalaminya, hidup sendirian padahal jelas orangtua saya ada, mereka bahkan tak peduli dengan saya. Ayah dan ibu saya menikah dan memiliki keluarga masing ,masing dan saya dibuang begitu saja, saya tidak ingin Nona Alesha merasakan hal yang sama,” ujar Obelia sambil menangis pelan.
Laura dan Gretta terenyuh. Mereka bertiga sama sama memiliki masa lalu pahit yang berhubungan dnegan keluarga.
“ jangan menangis, kamu gadis kuat, aku dan gretta selalu bersamamu, kamu melakukan hal yang benar Obelia,” ucap Laura sambil mengusap air mata Obelia dengan lembut dan menatapnya dengan tatapan bangga.
Di saat yang sama, Pak Mandu yang juga menginap di rumah itu mendatangi Laura,” Nona boleh kita bicara sebentar? Hanya berdua?” ucap pak mandu dengan wajah serius.
Laura menatap pria itu , dia paham ada hal urgen yang harus mereka bicarakan, “ kalian pergilah dahulu, aku bicara dulu dengan pak Mandu,” ucap Laura yang dianggukkan oleh mereka berdua.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen.