Istri Untuk Tuan Simon

Istri Untuk Tuan Simon
124


__ADS_3

Gunting bedah menjadi pemicu kecurigaan Zayn terhadap penyebab kambuhnya penyakit gadis itu. Dia merasa aneh karena setiap kali Alexa mengamuk, dia selalu menggunakan gunting bedah yang tajam padahal jelas sekali kalau pasien penyakit jiwa tidak ditempatkan dalam lingkungan dengan benda tajam.


Namun berbeda dengan yang dihadapi Alexa, dia selalu menggunakan alat yang sama untuk melukai dirinya seolah ada yang dengan sengaja memberikannya pada gadis itu.


Zayn menatap wajah Alexa yang sudah sehari semalam berada di ruangan itu dan tak kunjung sadarkan diri.


Dia menatap wajah kurus itu, teringat jelas di kepalanya kenangan indah bersama Alexa dan keluarga gadis itu.


Perlahan tangannya turun dan mengusap pipi Alexa. Dia menyisipkan anak rambut gadis itu dan menatapnya dengan khawatir.


" Kau pasti sangat menderita selama ini, kita harus bertemu kembali dalam keadaan ini, maafkan aku Alexa, tidak menyadari dirimu lebih cepat," ucap Zayn.


Dia mengurus Alexa, menjaga dan merawatnya dengan baik bukan hanya karena permintaan Laura dan yang lainnya tapi juga keinginan hatinya untuk menyelamatkan orang yang dia piutangi nyawa.


"Kau harus sembuh Alexa, kau gadis kuat, kau pasti bisa," ucap Zayn.


Lama dia duduk di sana, menatap wajah Alexa dan mengenang masa kecilnya yang meskipun singkat tapi terasa sangat bahagia dan penuh warna.


Hingga, Alexa membuka kedua matanya.


Gadis itu menyerngitkan keningnya, kedua matanya membuka dan menutup beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan.


Alexa memijit pelipisnya yang terasa sakit. Belum lagi luka tusuk yang ada di tubuhnya membuat dia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.


"Ermkkhhh.... arhhhhkkk... ahhhhhhh


Gadis itu meraung-raung kesakitan dan menyadarkan Zayn yang tengah melamun.


" Alexa!!" Cepat cepat dia berdiri dan memeriksa keadaan Alexa yang baru saja bangun itu.


"Alexa lihat aku!" ucapnya.


Gadis itu terdiam seolah menuruti perintah Zayn. Namun meski menurut, rasa sakit yang dia rasakan teramat sakit dan menyiksa, sampai membuatnya menangis dalam diam. Air matanya mengalir, jelas sekali sarafnya menegang menahan rasa sakit.


Jantung Zayn berdetak kencang, dia tahu ada yang salah dengan Alexa karena dia begitu penurut seolah sedang dalam latihan militer.


"Tenanglah, bernafas dengan baik, jangan tahan rasa sakitnya, tidak apa menangis, aku akan memberimu obat ," ucap Zayn.


Gadis itu menurut dan tak berbicara. Hanya bernafas dengan teratur dan menahan rasa sakit dengan menangis dan merintih di sana.


Zayn menatap dia khawatir, dengan cepat Zayn menyuntikkan obat pereda nyeri pada gadis itu, berharap penderitaan Alexa sedikit berkurang.


Alexa menatap Zayn sambil menangis sesenggukan, tapi dia sama sekali tidak berbicara, hanya merintih dan mengerang sakit.


Zayn melakukan yang terbaik, tak beberapa lama rasa sakit itu mulai tak terasa dan Alexa kembali tenang.


"Huhh... tidak apa, kau akan baik-baik saja!" ucapnya sambil mengusap pucuk kepala Alexa, hal yang sering dia lakukan saya bersama Alexa di masa kecil.

__ADS_1


Zayn duduk di samping Alexa, kondisi gadis itu cukup tenang dan stabil saat ini.


"Apa kau haus? " tanya Zayn.


Tampaknya Alexa saat ini menjadi dirinya sendiri, dia mengangguk saat mendengar pertanyaan Zayn. Pria itu dengan cepat mengambil air mineral dan sedotan lalu memberikannya pada Alexa.


" Minumlah, hisap dari ujungnya," jelas Zayn satu persatu dengan baik.


Alexa melakukan seperti yang diminta Zayn. Dia menenggak minuman itu sampai habis semua. Rasanya sangat lega dan dahaganya telah hilang.


"Beristirahatlah, aku akan merawat mu, jangan takut, aku akan menjagamu," ucap Zayn.


Alexa hanya diam dan terus terusan menatap Zayn. Tak dan yang dia ingat, tak ada yang bisa dia ketahui dari pria itu.


"panggil aku Zayn, dan namamu adalah Alexa," ucap Zayn seperti sedang mengajari anak TK.


Alexa mendengarnya dengan baik, dia menatap Zayn lalu tiba-tiba berbicara.


"Zza...Za.. i..iinnnn!" ucapnya perlahan. Meski terbata-bata dia bisa melakukannya dengan baik.


Zayn cukup terkejut, Alexa langsung mengeja namanya dengan baik.


"A...a... all...alle...lek...saa....


ucapnya lagi dengan perlahan.


Zayn bertepuk tangan meriah sambil tersenyum dengan kemampuan Alexa yang mencoba memanggil dan mengeja nama mereka.


"Wahh kau hebat Alexa, " puji Zayn.


Alexa menatap Zayn yang sangat senang tersenyum. Melihat senyuman itu membuatnya tenang dan nyaman.


Zayn merawat gadis itu sepenuh hati.


"Kak Zayn??" suara Laura terdengar diantara celah pintu yang dibuka pelan. Wanita itu tengah berdiri di balik pintu sambil mengintip dengan sebuah nampan berisi makanan yang dia pegang.


Zayn berdiri," La, masuklah," ucap nya sambil membantu menarik daun pintu agar adiknya tidak kesulitan masuk.


Wanita berjalan perlahan dan masuk ke sana. Dia menatap Alexa yang juga tengah menatap dirinya. Entah kenapa Laura merasa sedikit gugup tapi juga bersemangat ingin menemui gadis itu.


"Bagaimana keadaannya kak?" tanya Laura sambil meletakkan nampan di atas meja yang terletak di sebelah tempat tidur Alexa.


"Dia baru sadarkan diri, cukup tenang sampai kakak mengizinkanmu masuk ke ruangan ini," jelas Zayn.


Laura mengangguk, dia duduk dengan berani di samping tempat pembaringan Alexa yang masih dalam kondisi diikat karena khawatir sewaktu-waktu dia mengamuk dan melukai dirinya lagi.


"Hay," sapa wanita itu.

__ADS_1


Alexa menoleh dan menatap Laura dengan perut besarnya yang sebentar lagi akan segera meletus. Waktu persalinan wanita itu semakin dekat, dan tentu saja semua orang sangat bersemangat menantikan kehadiran buah hati Laura dan Simon


Mata Alexa terus menatap wajah Laura, bahkan tatapannya sangat dalam seolah dia sedang mempelajari wajah wanita itu.


Laura tersenyum lalu mengambil makanan yang dimasak oleh Obelia untuk gadis itu.


"Kamu pasti lapar kan? ayo makan dulu, oh iya kenalkan aku Laura," ucap wanita itu .


Alexa tampak bersemangat, dia mencoba untuk duduk, Zayn dengan cepat membantunya duduk tetapi terlihat jelas kalau dia menjaga jarak aman antara Alexa dengan Laura.


"La...u... u... rr..Ra??" ucapnya terbata-bata. Suaranya serak dan bergetar, tapi bagi Zayn ini perkembangan yang cukup baik mengingat wanita itu Sam sekali tidak mau berbicara sejak di bawa ke rumah sakit.


Laura mengangguk lalu menyendok bubur hangat yang dimasak khusus untuknya.


"Makan dulu yuk," ucap Laura sambil menyendok bubur itu ke mulut Alexa. perempuan itu mencium aroma yang sangat lezat, cepat cepat dia buka mulutnya dan melahap bubur yang diberikan Laura padanya.


Alexa terkejut dengan rasanya, setelah belasan tahun lamanya, untuk pertama kali dia merasakan bubur yang begitu enak. Selama ini dia makan makanan hambar, bahkan tak selera makan Samapi harus diinfus berkali kali oleh Zayn.


Alexa spontan mengambil mangkuk bubur itu dari tangan Laura dan melahapnya dengan kedua tangannya seolah dia sedang makan nasi.


"Eh... haahhh...


Laura dan Zayn cukup terkejut, tapi mereka paham, kejiwaan gadis itu masih belum bisa dibilang pulih.


" Makannya pelan-pelan," ucap Laura.


Mendengar ucapan itu, Alexa memperlambat gerakan tangannya. Responnya sangat baik.


Perlahan lahan dia melahap bubur enak itu.


"Kak, aku yakin dia kan segera pulih," Ucap Laura yang dibalas anggukan kepala oleh Zayn.


" Benar La, tapi kakak memiliki firasat buruk tentang gunting bedah yang selalu dia pakai melukai dirinya, ada yang aneh!" bisik Zayn.


"Sepertinya ada yang mengunjungi dia di rumah sakit dan dengan sengaja memberikan gunting itu padanya," jelas Zayn.


" Bagaimana kakak bisa tahu?" tanya Laura.


"Kakak menemukan jejak rekaman ini di rumah sakit!"


.


.


.


Like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2