
Pak Mandu dan Laura duduk di ruangan perawatan saling berhadapan satu sama lain. sepertinya pembicara lagi ini akan jadi pembicaraan yang serius melihat wajah Pak Mandu yang tak seperti biasanya.
" Ada apa pak?" Tanya Laura dengan lembut. dia selalu sama.
"Nona, dokumen yang bapak berikan saat nona keluar dari rumah Raymond, sudah waktunya untuk nona buka," jelas Pak Mandu.
Laura terkejut, jika dilihat sesuai tanggal sepertinya masih butuh sebulan lagi untuk mencapai tanggal tersebut. Laura dan Simon tak terasa sudah menikah selama kurang lebih dua bulan.
"tetapi belum sampai pada tanggal yang ditentukan dalam dokumen, " ucap Laura.
pak Mandu menggenggam tangan gadis itu dan menatapnya dengan lembut.
" Sudah waktunya sayang untuk membongkar kebenaran, bukalah dokumen itu bersama dengan suamimu, kalian akan tahu fakta penting, bapak harap kamu selalu mendampingi tuan Simon apa pun yang terjadi, jangan biarkan dia bertindak sendiri," ucap pria itu dengan lembut.
Bagi Laura Pak Mandu sudah seperti ayahnya sendiri, orang yang paling mengenal dirinya dan paham dengan sifatnya.
"Oh iya nak, Bapak pamit ya, hari ini bapak ada urusan, bapak sudah keluar dari rumah keluarga Raymond, bapak harap kamu sehat sampai kita berjumpa lagi," ucap Pa Mandu.
Laura mengangguk dengan mata berkaca-kaca, dia berdiri dan memeluk pria itu dengan hangat," Bapak kalau mau datang ke rumah datang aja, Laura senang Bapak sering berkunjung, " ucapnya.
" kita makan pagi dulu baru bapak kami antar pulang ya," ucap Laura yang dianggukkan oleh Pak Mandu.
mereka semua melakukan sarapan pagi, namun suasananya kali ini berbeda. tampaknya semua orang berbahagia dan penuh riang gembira sampai acara makan berlangsung hampir satu jam karena diiringi cerita apalagi kelakuan konyol Diego, Zayn di tambah keceriaan Laura dan tiga kurcaci penjaganya.
Alesha duduk nyaman dalam pangkuan Obelia, disuapi dan disayang dengan sepenuh hati oleh gadis itu.
bahkan seisi ruangan sampai dibuat heran dengan kepiawaiannya dalam mengasuh Alesha, mereka sudah seperti ibu dan anak saja.
Diego menatap Obelia sambil senyum-senyum sendiri, seolah ada bunga yang bermekaran di hatinya. Bahkan makanannya masih banyak di atas piringnya.
Dia duduk di samping Gretta yang sedang menikmati makannya tapi malah terganggu karena Diego tidak memberinya ruang untuk bergerak.
Pria itu menempel di lengan Gretta tapi menatap ke arah Obelia.
"tckk... tuan Diego!?!" Bentak Gretta sambil berdiri dengan wajah kesal.
__ADS_1
Gedubbraakk!
"arrkhhh Mak lampir sakit!!!!" Teriak Diego yang terjatuh ke lantai karena Gretta tiba-tiba berdiri.
Seisi ruang makan dibuat tertawa dengan tingkah mereka berdua.
Gretta menghela nafas kasar, dia menaruh kedua tangannya di pinggang dan menatap Diego dengan tatapan pemangsa yang siap menghabisi makanannya.
"Kau kenapa lagi hah!?? PMS ya!?? Sakit tau, kepalaku dicium lantai, kalau dicium kamu mah gak apa apa, ini dicium lantai jijai!!!!" Celetuk Diego sambil berdiri dengan hidung kembang kempis saking terkejutnya dengan apa yang Gretta lakukan.
"Tuan, tolong ya kalau makan itu makan aja, jangan asik liatin dari sini kalau suka sama si Eneng langsung bilang, jangan ganggu makan saya, saya lapar tau!!!" Protes Gretta.
" Idih dasar Mak Lampir, mulut mu ini ngomel aja tiap hari, cemburu ya karena Abang ganteng lihatin Eneng Obelia, tenang my Angel, kamu akan selamanya jadi angelnya Abang ganteng hahahaha...." Celetuk Diego sambil tertawa terbahak bahak.
sama dengan yang lainnya, mereka juga tertawa dengan kelakukan kocak pria tampan. Itu. Belum lagi penampilan konyolnya seperti gembel di pinggir jalan, rambutnya acak-acakan, pakai singlet pink dengan boxer Minni mouse dan sarung hijau kodok melingkar di tubuhnya.
"Ciee ada yang mulai pdkt nihh..." Goda Laura.
" Nyonya siapa yang mau sama kanebo kering begini, idiihhh najis, mending saya sama Irvan daripada sama dia, bikin saya cepat tua!!!" Balas Gretta sambil mendengus kesal .
" Ekhmm....ekhmmm . Jadi berhubung seperti nya semua orang merestui kita, nona Gretta yang cantiknya secantik Dewi surgawi tapi cerewetnya nauzubillah," Diego menarik tangan Gretta dan membuat gadis itu berdiri di depannya.
" ma..mau apa sih tuan!??" mata Gretta membulat sempurna.
Diego terkekeh, lucu saja melihat Gretta kesal seperti itu. Dia mengambil daun selada dan berlutut di depan Gretta.
" mau gak makan makan naik Lamborghini bareng Abang ganteng!?? Entar Abang suapin deh, mau gak jadi pacar bang Diego,gimana hmm??" Celetuk Diego sambil menaikkan sebelah alisnya.
Bukannya menjawab, Gretta mengambil daun selada itu dan mengisi daging dengan banyak cabai dan ...
jlubbb.
" Makan tuh cabe, dasar ngawur, tuan Diego ini gila ya, makanya tuan, otaknya diaktifkan dulu biar gak salah lihat, bisa bisanya ngajak kencan seorang pelayan, saya ini Mantan napi loh..." Ucap Gretta sambil duduk di kursi dan dengan cuek melanjutkan makan paginya.
" pffthh bwahahhahha......
__ADS_1
Semua orang tertawa dengan kelakukan mereka yang selalu menghibur. tetapi Laura, Simon dan Diego yang mendengar hal itu malah hanya diam dengan ucapan Gretta.
"Cihhh.... Kalau gak mau gak apa apa, jangan bawa masalahmu, dasar Mak lampir!" Ketus Diego sambil duduk di kursi dan melanjutkan makan paginya.
Gretta tak peduli, dia melanjutkan makanannya dengan lahap. Sedangkan Diego melirik gadis itu dari ekor matanya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Makan pagi mereka lewati dengan banyak cerita baru. Laura dan saudara saudara nya tampak akrab, apalagi dengan tuan dan nyonya Kennedy serta kakek tua Waltz yang tampak bahagia dengan hari ini.
Jam terus berjalan, mereka menikmati waktu mereka. Sedangkan di markas Tim Aryn, Dani dan Lanang sedang sibuk melacak pergerakan Vino, Cintia dan nyonya Tiara.
Namun ada yang aneh dengan pekerjaan mereka kali ini. Tuan Raymond dan seisi rumahnya tak bisa dilacak sama sekali. Keberadaan tuan Raymond tak diketahui, mereka berusaha menembus sistem pertahanan keamanan rumah besar Raymond yang tidak lagi ditinggali nyonya Tiara dan Cintia tetapi seolah ada penghalang besar, mereka cukup kesulitan menembus sistem pertahanan mereka.
" apa kalian menemukan tanda-tanda di mana bajingan Raymond itu berada?? Aku kesulitan melacaknya!" Teriak Dani pada anggota tim ya.
" kami juga kesulitan Dani, ada yang menghalangi mereka, sepertinya hacker besar juga, sulit melawannya!" Ucap mereka.
Dani menggeretakkan giginya, dia menatap layar dengan tatapan kesal dan marah. belum pernah ada yang berhasil melawannya, tetapi kali ini ada yang lain dengan sistem itu.
"Mereka balik menyerang Dani, siapkan dirimu!!" Teriak Lanang saat serangan bertubi-tubi dilayangkan dari musuh. Belum pernah serangan sekuat ini mereka dapatkan, namun jangan pernah menyepelekan gadis gila itu," heh mau bermain main denganku!?? Lihat apa yang akan kulakukan!!!"
Sementara itu di tempat lain.
Sallkkk... Slaakkk... Slaakkk...
Suara Cambukan demi cambukan terdengar tajam, seorang gadis berkacamata sedang duduk di depan komputer dengan tubuhnya yang Beberapa kali dicambuk oleh Tuan Brown. Kedua kakinya diikat dengan rantai dan tubuhnya babak belur.
" Jika sampai mereka berhasil meretas sistemku, kau akan ku buat melihat kematian orangtuamu!!" Ancam tuan Brown.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1