
Simon dan Hendry telah berada di luar negeri untuk dua Minggu lamanya. Sungguh menderita hidup pria itu tak bisa bertemu langsung dengan istrinya dan calon buah hati mereka.
Setiap hari dia uring-uringan, ingin membawa Laura tapi takut kondisi tidak baik. Dia benar benar merindukan sang istri .
Pekerjaannya cukup banyak, dia mengejar semua target sampai dia bisa selesai dan menemani masa masa kehamilan istrinya yang sebentar lagi akan berakhir.
"Hendry Nana lagi pekerjaannya!? ke mana lagi kita harus pergi!?" teriak Simon dari dalam ruangannya. Marah dan kesal bercampur menjadi satu.
Ini ujian yang sangat berat baginya ketika dia harus berpisah jauh dari Laura.
Hendry menghela nafas, dia pun tak ingin memaksa tapi pekerjaan mereka memang banyak dan seluruh pekerjaan tahunan harus dilakukan dengan baik agar apa yang telah direncanakan dalam tahun anggaran terpenuhi.
"Jadwal kita padat tuan, ini rencana tahunan yang harus dikerjakan dengan baik, jika tuan ingin kembali silahkan, biar saya yang selesaikan di sini," ucap Hendry.
Simon menekuk wajahnya sambil menaruh kepalanya di atas meja. Kepalanya sudah mau pecah dengan semua pekerjaan yang tiba tiba saja menumpuk itu.
"Arrkhh diam kau!!!" teriak Simon sambil menatap kesal ke arah Hendry .
"Dasar kurang asam kau!!! arkhhh awas kau nanti Hendry!!!" Simon mengamuk, kesal dan marah bercampur jadi satu. Pria itu keluar dari ruangannya, kepalanya panas dan dirinya gelisah karena tak bertemu kesayangannya.
Hendry duduk lemas di atas kursi sambil menatap bosnya yang jadi suka marah marah tidak jelas,"Hadehhh sindrom kehamilan sangat mengejutkan!" gumam Hendry sambil memijit pelipisnya.
Hendry bangkit dari tempat duduknya, menatap kalender kerja yang sudah 80% terlaksana dengan baik. Die tersenyum bangga pada Simon yang bisa mengendalikan dirinya sampai sekuat ini.
"Anda hebat tuan, Laura pasti bangga dengan anda," gumamnya.
Sementara itu, di negara asal mereka Laura tengah berjalan dengan kakak laki-lakinya Zayn dan juga Diego serta Gretta yang mendampingi nya ke rumah sakit untuk Cek sekaligus menemani ibu hamil itu berkeliling.
"Van segera susul kami, jangan kerja terus, kepalamu bisa pecah nanti!' ucap Laura dengan nada ketus.
"Jangan terlalu serius, kau bukan robot, hidup itu harus santai!!" celetuk Laura.
Mendengar ocehan Laura melalu telepon, Irvan yang tengah bekerja dengan karyawan butik Laura tertawa terbahak bahak di seberang sana.
Dia baru saja mendengar Omelan dari Simon yang memintanya tidak terlalu banyak bekerja dan tak butuh waktu lama Laura juga mengatakan hal yang sama.
"Ya elah si anak singkong kenapa ketawa kamu, gila ya!?" celetuk Laura.
__ADS_1
"Makanya liburan Van, liburan!!" celoteh wanita itu.
" Bahahahhahaha anda dan tuan muda benar benar sepaket ya, Baiklah nyonya muda, saya akan datang ke sana setelah ini beres, sedikit lagi," balas Irvan sambil tertawa bahagia.
Laura menatap ponselnya sambil menyerngitkan keningnya," Dia benar benar butuh healing, sebaiknya di kirim ke Swiss deh, kasihan masih muda sudah gila," Laura geleng-geleng kepala sambil memutus panggilan telepon itu.
" Bhahahaha kamu yang gila Laura, dia kerja fokus kamu suruh libur, entar dia libur kamu suruh kerja, dasar kamu ini!" Diego menertawakan Laura yang menurutnya menggemaskan.
"Heleh, suka suka saya, " balas Laura dengan jawaban nyeleneh.
"Huffthh... capek tau, mau sampai kapan jalannya, ini perut Segede gajah, mana berat lagi, haihhhh... tega banget kalian," celetuk Laura sambil memanyunkan bibirnya.
"La, jalan jalan ringan itu bagus untuk bantu persalinan kamu nanti, kita baru jalan 10 meter udah capek aja, dasar kamu malas!" ejek Zayn.
"Hehehhee ketahuan deh, iya deh iya ini jalan," ucapnya sambil tersenyum lembut.
Saat mereka sedang berjalan bersama, tiba-tiba ponsel Gretta dan Zayn berbunyi pertanda pesan darurat dari pusat darurat rumah sakit yang artinya ada pasien baru yang butuh pertolongan segera, tak hanya satu tapi sampai beberapa pasien.
"Wahh ada pesan darurat, kami pergi dulu, Diego jagain Laura, jangan sampai kenapa-kenapa!!" Gretta berpamitan pada mereka.
Mereka berdua melanjutkan pekerjaannya, sedang Laura dan Diego lanjut berkeliling sambil berceloteh.
Sadrakh dan keluarga kecilnya lebih sering bersama di rumah mereka. Obelia ingin meluangkan waktu sebanyak mungkin dengan Alesha, agar gadis kecil itu benar benar merasa puas dengan masa kecilnya.
Mereka sering berkunjung ke kediaman keluarga Kent, dan memiliki program keluarga Nyang akan mereka lakukan sebelum Alesha mulai masuk sekolah.
Diego merangkul Gretta dan menemani wanita itu berjalan perlahan lahan.
"Kau pasti merindukan Simon ya kan?"
"Jelas iya kak, aku sangat merindukan suamiku, ahhhhh kapan dia akan pulang,'' ucap Laura dengan wajah sedih seraya mengusap perutnya.
"Sabar La, Simon juga kalang kabut gak ada kamu di sana, Hendry selalu bilang kalau Simon sudah seperti orang gila yang kehilangan pawangnya, dia uring-uringan ingin pulang tapi pekerjaan nya masih banyak," jelas Diego.
"Kalian berdua harus kuat, terkadang ada masa seperti ini, dan itu akan sangat berguna membangun hubungan kalian, "Diego menasehati Laura.
Wanita itu mengangguk setuju sambil menatap ke arah langit," ku harap Papanya baby Key tetap aman di sana, ahhh kita harus kuat sayang, Papa lagi cari banyak uang," celetuk Laura seraya mengusap perutnya.
__ADS_1
dug! dug!
Bayinya merespon ucapan Laura, tampaknya janin itu tampak begitu senang. Senyuman indah tergambar di wajah Laura.
Diego bersyukur wanita itu yang jadi pendamping hidup Simon, karena Simon sudah bisa hidup jadi manusia yang benar.
Sementara mereka berkeliling di sana, Zayn dan Gretta sedang dibuat panik dengan seorang pasien yang kabur dari kamar perawatan di saat rumah sakit sedang penuh dengan pasien akibat kecelakaan mobil.
" Ya ampun!!! Gretta kau dan perawat lain segera bantu pasien yang baru datang, biar aku yang mengejar gadis itu!!' teriak Zayn panik saat melihat pasien yang dijaga ketat di dalam ruma sakit itu kabur dan membuat kekacauan dengan memukul beberapa petugas medis.
Gretta paham, dia membantu perawat dan dokter lain mengurus pasien yang baru tiba, sedangkan Zayn pergi mengejar gadis tanpa nama yang mereka selamatkan beberapa bulan lalu saat kejadian yang melibatkan keluarga tiri Laura.
Perempuan yang dikurung bak hewan itu lepas dari dalam kamar dan melukai beberapa orang saat traumanya kambuh.
"Awas atau kalian akan ditusuk!!!" pekik Zayn mengejar perempuan yang berlari ke arah taman di mana Laura dan Diego berada.
Semua orang berteriak ketakutan saat melihat gadis tanpa nama itu berlari dengan telanjang kaki sambil memegang gunting yang bersimbah darah .
Berlarian sekencang-kencangnya seperti orang yang kerasukan. Tatapan matanya mengisyaratkan kesedihan dan trauma, perutnya sendiri terluka karena menusuk dirinya sendiri.
"Arrkhhhhhh... arkhhhhh.... arkhhhh....
"Diego Laura AWAS!!!!!" pekik Zayn panik saat melihat perempuan tanpa nama itu berlari ke arah Laura dengan gunting yang terarah ke tubuh wanita itu hingga...
sruuuukkk...
Jleb!!!
" Laura!!!"
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1