
Dengan erat Simon menggenggam tangan istrinya menuju ruangan besar di rumah Zayn.
" Laura kau data...ehhh" Zayn yang begitu Antusias menyambut mereka dengan suara bahagia yang cukup keras sampai langkah dan bibirnya terhenti saat melihat jari Laura di taruh di depan bibir dengan kedua netranya melirik Alesha yang sedang tidur dengan lelap.
" Wahhh si jago gelud malah tidur, bawa ke sini," Zayn mengarahkan Laura ke tempat pembaringan yang dia siapkan jika sewaktu-waktu sepupu atau teman-teman nya datang membawa anak kecil, dia pria yang suka pada anak-anak sama seperti Laura.
" Baringkan di sini saja," ucap Zayn yang dianggukkan oleh Laura.
Gadis itu membaringkan Alesha dengan pelan dan lembut, mengusap wajahnya yang menggemaskan dan mengecup keningnya dengan hangat," selamat malam sayang," bisiknya sambil memasang selimut kecil yang diberikan Gretta.
Melihat Wajah lugu Alesha yang tak bertemu ibunya sejak dia lahir bahkan ditolak oleh ayahnya membuat hati kecil Laura bergetar. Dia tahu rasanya hidup kesepian tanpa orangtua, tapi dia bertekad agar anak kecil itu tidak merasakan hal yang sama dengan dirinya.
" Kasihan dia, sekecil itu tapi merasakan hal pahit,"
Simon merangkul bahu istrinya dan mengusap nya dengan lembut," jangan memasang wajah sedih, ayo biarkan dia beristirahat, dia kelelahan," ucap Simon.
Laura hanya mengangguk dan mengikuti ucapan suaminya.
Laura, Simon dan yang lainnya berjalan mengikuti arahan Zayn. Sedangkan Gretta tinggal di sana. Dia tak tega membiarkan gadis kecil itu di sana sendirian sekalipun jaraknya dekat dengan ruangan berkumpul.
Gretta mengambil kursi dan duduk di samping Alesha sambil bersandar dan menatap gadis kecil itu dengan senyum tipis di bibirnya, memastikan Alesha tak sendirian di sana.
Diego melirik Gretta, sebuah senyuman tipis tergambar di wajah pria tampan dan maskulin itu.
" Dasar gadis aneh," gumam Diego yang juga mengambil kursi dan duduk di sisi lain Alesha sambil bersandar dan menutup matanya hendak ikut terlelap .
" Tuan ngapain sih, gabung di sana biar saya yang jaga Lecha," ucap Gretta dengan berbisik.
" Hoaaaammm nggak mau, diamlah dasar bebek cerewet, aku juga ngantuk aku mau bobok syantik dulu, jangan diganggu atau aku akan marah!" celetuk Diego sambil membaringkan tubuhnya di kursi goyang itu lalu memejamkan matanya dan berpura pura terlelap.
Gretta hanya menggidikkan bahunya, tak paham dengan sifat aneh pria tersebut.
Sementara itu, Laura dan Simon ditemani Zayn mendekat ke keluarga utama yang sudah duduk di meja makan super panjang, mereka bercengkrama sambil tertawa satu sama lain.
"Wahh keluarga kak Zayn ramai sekali!!" seru Laura sambil menepuk punggung pria itu.
Zayn terkekeh," hmm... kami memang ramai!!' ucap pria itu.
Simon hanya menyaksikan kedekatan mereka sebelum dia benar-benar memberitahu kebenaran tentang keluarga itu.
__ADS_1
"Semuanya, Simon dan Laura sudah tiba, akhir kita bisa makan malam!!" seru Zayn .
Sontak seluruh keluarga menoleh ke arah kedatangan mereka. Tuan Waltz yang sudah tua dan renta menatap dari kursi di barisan depan Laura dan Simon.
Pria itu langsung membingkai sosok Laura dalam pandangannya. Dia termangu dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
Tuan Kennedy dan nyonya Felicia pun sama. Mereka terhenyak melihat paras cantik Laura yang jelas sekali mengingatkan mereka pada sosok yang sudah meninggal dua tahun yang lalu.
" Si...siapa nona muda ini!??" Tuan Waltz sampai berdiri menggunakan tongkatnya dan menatap Laura dengan mata berkaca-kaca.
Laura yang melihat wajah tua itu menatapnya demikian merasa aneh dengan dirinya. Sosok yang sudah berkeriput itu membuat Laura merasa aman ketika menatapnya dan tenang saat mendengar suaranya.
" Siapa kakek ini?" Pikir Laura seraya memiringkan kepalanya.
"Kakek, ini Laura istri Simon," Simon memperkenalkan istrinya pada tuan Waltz.
" Istri kamu nak? benarkah? cantik sekali," puji Tuan Waltz sambil tersenyum dengan lembut.
Laura membalas senyumannya sambil menyalami tangan pria tua itu dengan penuh hormat.
" Halo kakek, senang bertemu dengan kakek," ucap Laura .
Tuan Waltz membuat heran seluruh anggota keluarganya. Dia pria yang sulit di dekati, pria yang pemilih bahkan bawahannya saja sulit melakukan pendek padanya, tetapi pada Laura dia bisa menerimanya dengan cepat dan penuh dengan senyum
"Siapa gadis ini? apa yang terjadi padaku? kenapa aku begini saat melihatnya??" batin nyonya Felicia.
Tak ayal tuan Kennedy pun merasakan hal yang sama. Dia gemetar, dan jantungnya bergetar hebat, seolah koneksi yang lama telah putus tersambung kembali.
"Wahhh halo kak Laura, kenalkan i am Ro...Se......" gadis centil itu langsung menghampiri mereka dan menggenggam tangan Laura dengan erat.
Senyuman manis dan cantik di wajahnya membuat Laura terdiam.
" Geser sana, dasar gadis tengil, kau membuat dia takut!!" Zayn mendorong kepala Rose dengan jari telunjuknya.
" hisssh pelit!!!"
" La ini adikku, namanya Rose, namanya cantik tapi minim ahlak, maafin ya kalau otaknya agak lain," celetuk Zayn.
"Apaan sih kak, ngeselin ihhh...".
__ADS_1
"Hai Rose, senang bertemu denganmu," sapa Laura dengan senyuman manis di wajahnya.
Rose tertegun. Ekspresinya sama persis seperti Dani yang pertama kali melihat kecantikan Laura. Bahkan wanita saja dibuat terkagum kagum dengan wajah indah gadis itu.
" Baiklah, sebelum kita berbincang sebaiknya kita makan dulu, perutku sudah lapar, kakek juga pasti sudah lapar!!" ucap Zayn.
Seluruh keluarga setuju. Akhirnya mereka semua bergabung dalam ruang makan, duduk bersama dan melaksanakan makan malam yang hening.
Sepertinya table manner semua orang di dalam ruangan ini adalah makan dengan fokus tanpa ada topik pembicaraan untuk bisa merasakan makanan enak buatan Sadrakh.
Pria itu sendir duduk di kursi paling ujung, tanpa peduli dengan putrinya sendiri.
Diego datang dari ruang di sebelah dan mengambil makanan untuk dirinya.
" Kenapa tidak gabung nak?" tanya Nyonya Felicia," Hendry juga belum datang," ujar wanita itu. Kala dia berbicara kedua mata Laura terus melirik ke arahnya.
"Begini Tante, ada bapak bapak yang menelantarkan putrinya, saya dan Sang Dewi lagi jagain baby Lecha yang sedang tidur, bapaknya gak bisa diharapkan, maaf ya semuanya jadi tidak enak," ujar Diego.
Mereka jelas tahu siapa yang dimaksud, pria bodoh dan berperangai buruk yang diam dengan wajah datar sambil menikmati makanannya tanpa peduli dengan putri kecilnya.
Diego membawakan makanan untuk dirinya dan Gretta, mereka terpaksa makan di sana sambil menunggu Alesha bangun. Takutnya dia akan menangis jika terbangun di tempat asing.
Sementara itu Laura menikmati makanannya dengan Simon yang penuh perhatian di sampingnya.
Gadis itu terus menerus memandangi Tuan Kennedy dan Nyonya Felicia, dia penasaran dan ingin terus menatap mereka.
"Kenapa sayang?" tanya Simon.
Laura berbalik dan menatap suaminya," Emm... nggak apa apa," jawabnya berbohong.
Simon hanya mengangguk paham, dia jelas tahu dan sadar kalau Laura pasti merasakan sesuatu dalam hatinya saat ini.
" Sebentar lagi, tunggu Hendry tiba," batin Simon.
"Siapa mereka? kenapa aku merasakan hal aneh, rasanya seperti ada letupan kembang api di sini," batin Laura seraya mengusap dadanya.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 🤗