MENIKAH

MENIKAH
Pantai


__ADS_3

Seminggu kemudian, Salma sedang menyiapkan perlengkapan Rayyan yang akan mereka bawa ke Lombok. Sementara Adit sedang bermain bersama Rayyan di tempat tidur.


"Bawaannya banget sih, Sal" ucap Adit yang sedari tadi mengamati Salma sibuk mondar-mandir.


"Bawa bayi berpergian jauh itu ga kayak kita yang mau pergi, mas. Keperluan Rayyan banyak banget tau. Harus bawa alat makannya, baju gantinya banyak, popok, belum lagi bawain dia mainannya juga"


"Yang bisa kita beli disana, ga usah dibawa dari rumah. Kayak popok kan kita bisa beli di minimarket. Baju Rayyan juga, nanti kan bisa beli disana"


"Iiiiisshhh... gimana nyucinya, mas? Masa mau dipakein langsung sih? Ntar kalo Rayyan gatel-gatel gimana?" Salma berdecak kesal.


"Stroller juga ga usah bawa, Sal. Meskipun cabin size, tapi kan Rayyan udah bisa jalan. Biarin aja dia jalan sendiri disana"


"Kalo gendong-gendong Rayyan mulu capek, mas. Tau sendiri anaknya gembul gitu, udah susah buat digendong-gendong juga" Salma meresletingkan tas baju milik Rayyan.


"Lagian ya mas, semua barang ini ntar juga ditaruh dibagasi pesawat. Ada Asep juga yang bantuin bawa, bisa ditaruh ditrolley jadi tinggal dorong, bukan mas Adit yang bakal ngangkat semua barang ini sendirian kan? Kalo baju-bajuku disuruh ngurangin, aku masih mau. Tapi kalo keperluan Rayyan, big no ya mas" ucap Salma sambil melipat kedua tangannya didada dan menatap Adit.


"Iya, kamu mah bawa baju yang buat jalan aja. Kalo pas di kamar hotel mah ga usah, biar menghemat waktu. Jadi ga capek-capek nyopotinnya" jawab Adit asal sambil terkekeh.


"Mas!" geram Salma.


Adit mengangguk, ia enggan meneruskan perdebatan itu daripada urusannya menjadi panjang. Terlebih ia juga tidak ingin acara packing Salma menjadi lebih lama dan akan menyebabkan mereka ketinggalan pesawat.


🎎


Sesampainya di Lombok, rombongan Adit telah disambut oleh utusan pihak perusahaan yang bekerja sama dengan Adit. Setibanya di hotel, mereka beristirahat sejenak di kamar masing-masing. Asep dan bu Sari menempati kamar yang tak jauh dari kamar Adit dan Salma.


"Untung aja tadi pas di pesawat Rayyan ga rewel" ucap Salma sembari menidurkan Rayyan di ranjang.


"Aku juga takut dia bakal nangis kejer, Sal. Ga taunya dia seneng liatin jendela meskipun ngeliatnya cuma awan doang" jawab Adit yang tengah meletakkan koper dan tas bawaan mereka.

__ADS_1


"Mau nyobain ajak Rayyan jalan-jalan yang lebih jauh ga, Sal? Ke luar negeri gitu? Ke Disneyland? Dia pasti seneng banget" sambung Adit.


Salma mengangguk dengan semangat. "Kapan?"


"Nanti ya, kita rencanain lagi kalo proyek papa yang disini udah kelar. Biar aku bisa banyak luangin waktunya" jawab Adit sambil mengecup kening Salma.


"Mas Adit harus cari orang yang bisa bantuin selain pak Hendra, papa kita udah berencana untuk segera pensiun. Kalo kedua perusahaan jadi dimerger, mas Adit bakal jauh lebih sibuk dari sekarang"


Adit mengangguk. "Aku akan berusaha sekeras mungkin, untuk tidak mengecewakan orangtua kita, kamu dan anak-anak kita nanti"


"Anak-anak?"


"Mau mulai planning adik Rayyan dari sekarang?" Adit tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


Salma memukul bahu Adit. "Rayyan kan baru enam belas bulan, mas"


"Enam belas bulan itu udah gede, sayang. Kalo baru, itu baru dua bulan gitu. Yang masih gendongan terus, ini kan Rayyan udah bisa jalan. Kamu takut bakal kewalahan nantinya? Takut sama babysitter? Kalo takut proses lahirannya?" Adit mengusap punggung tangan Salma.


"Aku pasti akan selalu bantuin kamu, sayang. Aku aja selalu ikut begadang kan kalo Rayyan rewel malem-malem? Nanti kita cari pengasuh sama-sama, biar kamu bisa pilih yang sreg sama kamu. Trus kita juga bisa cari rumah sakit lain yang ngebolehin aku nemenin kamu saat c-section. Gimana?"


"Gencar amat sih mas ngerayunya" Salma tertawa pelan sambil mengusap pipi Adit.


"Umurku udah ga muda lagi kayak kamu, Sal. Aku ga mau ketika anak-anak remaja nanti aku udah keliatan kayak kakek-kakek"


"Tapi kan masih ganteng"


"Akunya yang was-was nanti kamu kegoda sama yang muda dibanding aku"


"Hahahaha... yaa Allah, mas. Mikirnya kok gitu sih?" Salma menjepit hidung Adit dengan jarinya.

__ADS_1


"Makanya, ayo kita nambah satu lagi biar aku ga mikir kayak gitu lagi?"


"Hubungannya apa coba? Aneh deh"


Tanpa menunggu persetujuan Salma, Adit telah melepas kaos polonya dihadapan Salma dan melemparnya ke sembarang arah.


"Disofa aja ya, Rayyan barusan tidur. Ntar kalo bangun malah kita gatot" bisik Adit sambil menarik tangan Salma menuju sofa panjang yang letaknya tak jauh dari ranjang dimana Rayyan tengah tertidur pulas.


🎎


Sepeninggal Adit dan Asep yang pergi beberapa saat yang lalu perihal pekerjaan, Salma mengajak bu Sari untuk ke pantai yang berada tak jauh dari hotel mereka. Ini pertama kalinya Rayyan pergi ke pantai, bocah berbadan gembul itu terlihat begitu antusias ingin segera turun dari gendongan mamanya.


Kakinya terasa aneh saat pertama kali menyentuh pasir pantai, namun Rayyan segera beradaptasi dan memaksa turun untuk bermain disana.


"Bu Sari bisa istirahat dengan nyenyak?" tanya Salma sembari menyerahkan mainan kepada Rayyan.


Bu Sari tersenyum kaku, lalu menggelengkan kepalanya. "Saya ga bisa tidur karena hotelnya deket pantai, mbak. Saya takut kalo tiba-tiba ada air pasang. Saya kan ga bisa berenang"


Salma tersenyum. "Dulu saya juga ga seneng ke pantai kok, bu. Tiap habis dari pantai, pasti selalu mipi buruk. Masih denger banget suara ombaknya, trus perasaan kayak kegulung ombak juga. Seremlah pokoknya"


Salam menjeda perkataannya saat Rayyan terlihat mulai memasukkan tangannya yang berlumur pasir ke mulutnya. "Ini bukan makanan, sayang. Nanti Rayyan sakit perut" ucap Salma sambil membersihkan tangan Rayyan.


"Tapi sejak hidup sama mas Adit, semuanya berubah. Saya malah jadi seneng ke pantai, dan mimpi buruk itu ga lagi datang" sambung Salma dengan senyuman yang terukir dibibirnya.


"Ya itukan karena mbak Salma ada temen tidurnya, kalo saya ya bingung mau peluk siapa" bu Sari tertawa dengan renyahnya.


"Hahahahaha... alasannya ga cuma itu, bu. Kita juga harus merubah mindset, kalo pantai itu ga semenyeramkan yang bu Sari bayangin. Pihak hotel pasti udah memperhitungkan jarak aman hotel mereka dengan pantai. Jadi ketika ada air pasang, hotel mereka akan tetap aman. Kecuali kalo itu bencana besar kayak tsunami, kita ga akan bisa memperkirakannya"


Bu Sari nampak menghela nafasnya, lalu memandangi pemandangan indah yang terhampar di depannya.

__ADS_1


"Mumpung disini, nanti kita sering-sering ke pantai ya bu. Main pasir, main air, liat matahari terbenam, biar bu Sari jadi seneng main ke pantai. Jadi kalo suatu saat kita liburan ke pantai lagi, bu Sari akan dengan senang hati ikut sama kita" sambung Salma sambil mengusap lengan bu Sari.


__ADS_2