
Happy reading 😊
***
Adit mengerjapkan matanya saat gorden di jendela kamarnya dibuka oleh seseorang dan membuat cahaya matahari masuk dengan tiba-tiba. Ia menggeliatkan tubuhnya, sambil menutup mulutnya karena menguap.
"Jam berapa, Sal?" tanya Adit seraya mendudukkan dirinya.
"Hampir setengah tujuh. Terlalu nyenyak ya tidurnya setelah subuh sampai lupa waktu?" Salma berjalan mendekat, lalu duduk dipinggir ranjang.
"Maaf." jawab Adit dengan tersenyum. "Anak-anak udah pada bangun?"
Salma mengangguk. "Sekarang... justru aku baru merasa mereka telah dewasa. Mereka udah pada bangun saat aku masuk ke kamarnya untuk membangunkan tidurnya, padahal biasanya mereka masih pada tidur kayak mas Adit."
"Mereka emang udah gede, Sal. Kamu aja yang terlalu memanjakan mereka."
"Sampai kapan pun mereka akan tetep jadi bayi-bayiku, mas hehehehe...." Salma beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju lemari baju Adit.
"Aku akan siapkan baju ganti, mas Adit mandi sana. Rayyan bahkan udah rapi saat aku masuk ke kamarnya."
"Dia udah sehat?"
"Iya, obatnya udah datang kemarin."
"Emangnya pesen obat dimana?" Adit berhenti diambang pintu kamar mandi untuk mendengarkan penjelasan istrinya.
Salma terkekeh melihat suaminya yang begitu kebingungan dengan maksud perkataannya tadi.
"Zahra. Kemarin dia datang kesini bawa kerjaan yang diminta Rayyan, tapi kata Rafa itu cuma alasan Rayyan aja biar Zahra kesini. Rayyan bahkan enggak nyentuh kerjaannya sedikit pun, mungkin itu sebabnya tadi dia keliatan sibuk pas aku masuk kamarnya."
"Rayyan... suka sama Zahra?" Adit mendekati istrinya. Topik pembicaraan dengan Salma mengenai anak sulungnya ini begitu menarik perhatiannya. Pasalnya sudah lama sekali Rayyan tidak terlibat kisah percintaan dengan seseorang, berbeda dengan Rafa yang dulu sering berganti pacar.
"Rafa bilang begitu. Cuma Rayyan masih terlalu kaku untuk mengungkapkannya." Salma berucap sambil memilah pakaian kerja untuk Adit.
"Rafa bilang dia mengajukan diri jadi konsultan cinta buat Rayyan." imbuh Salma sambil terkekeh mengingat bagaimana tadi Rafa bercerita tentang abangnya.
"Ceh, konsultan cinta." Adit tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi kita emang harus mengakui kehebatan Rafa, dia banyak pengalaman dibanding Rayyan bahkan mas Adit dulu."
"Kenapa jadi bawa-bawa aku?" Adit mendengkus kesal, tidak terima jika Salma selalu membandingkan dirinya dengan Rafa yang selalu berhasil mencuri perhatian Salma sejak kecil.
"Mas Adit kan mantan cuma dua, Rafa tuh udah mau sekodi mungkin hahahahaha...."
"Cuma mantan doang." Adit menggelengkan kepalanya. "Terus, Rafa bilang apalagi soal Rayyan."
"Dia bilang udah sepakat sama Rayyan kalo dia mau bantuin, dia minta imbalan motornya balik lagi ke dia." Salma menutup pintu lemari bajunya. "Anakmu tuh, dari dulu paling jago kalo soal timbal balik begini." Salma mencubit perut Adit yang berdiri dihadapannya.
"Tapi dia enggak bisa jaga privasi klien, Sal. Mana bisa dia menyebut dirinya konsultan cinta tapi malah ngebocorin segala informasinya ke orang lain?"
"Dia bukan bermaksud untuk ngebocorin, mas. Awalnya Rafa cuma tanya soal calon mantu, kagetlah dia baru melek udah ngomongin soal calon mantu. Aku pikir dia bakal minta nikah sama Alita, taunya dia tanya aku keberatan enggak kalo dapet calon mantu dari keluarga yang biasa aja. Aku desak kenapa, taunya dia bilang Rayyan suka sama Zahra. Rafa cuma takut kalo nanti pas usaha dia buat nyatuin mereka berhasil, ternyata kita nolak hubungan mereka."
Adit tersenyum lalu menarik tubuh Salma dalam pelukannya. "Anak itu dewasa juga ternyata, sampai kepikiran kayak gitu."
"Mas Adit enggak keberatan kan kalo memang Rayyan bakal sama Zahra?"
Adit melepaskan pelukannya, lalu menatap istrinya dengan tersenyum. "Kalo aku keberatan, dari awal dia temenan sama Eowyn pasti udah aku larang."
***
"Pak Rayyan udah dateng, Bu?" tanya Zahra dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Udah, pak Rayyan datang pagi banget hari ini. Kamu tumben telat?" jawab bu Meta sambil menyodorkan botol minumnya pada Zahra.
"Telat bangun, bu. Semalem enggak bisa tidur karena nyeri haid."
"Duduk dulu, kalo udah enggak ngos-ngosan baru ngadep pak Rayyan."
Zahra mengangguk lalu duduk disamping bu Meta sambil mencari-cari sesuatu dimejanya.
"Nyari apaan, Zah?"
"Bu Meta liat buku agendaku enggak yang warna cokelat? Dari semalem aku cari-cari enggak ada, kayaknya ketinggalan disini deh."
"Enggak, dari kemarin mejamu ya kayak gitu Zah. Ketinggalan kali di rumah pak Rayyan. Kemarin kan kamu kesana sambil bawa setumpuk dokumen kan?"
__ADS_1
Zahra membelalakkan matanya? Bisa bahaya jika Rayyan yang menemukan buku agendanya lalu membacanya. Dan seketika itu juga, Zahra tidak hanya merasa ngos-ngosan tali juga lemas diseluruh tubuhnya.
"Zah, tolong masuk ke ruanganku bentar." suara Rayyan terdengar pada intercom dimeja bu Meta. Zahra menghela nafasnya, mencoba menenangkan dirinya dan mengatur nafasnya. Sebelum akhirnya masuk ke ruangan Rayyan dengan perasaan yang entah bagaimana penggambarannya.
"Maaf, Pak. Saya terlambat datang." ucap Zahra begitu mendekat pada meja kerja Rayyan.
Lelaki itu terlihat sibuk dengan tumpukan dokumen di depannya. Mata Zahra menelusuri wajah Rayyan yang entah kenapa sekarang begitu menarik perhatiannya.
Rayyan hanya menganggukkan kepalanya. "Kamu sakit?" tanya Rayyan dengan kepala yang telah diangkat untuk bertatapan dengan Zahra.
"Hanya... nyeri haid, Pak."
"Sekarang udah mendingan?" tanya Rayyan dan Zahra menjawabnya dengan anggukkan kepala.
Rayyan mengambil tas kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah benda yang dari semalam dicari-cari oleh Zahra.
"Buku agendamu ketinggalan di kamarku, aku enggak tau itu kamu sengaja atau enggak." Rayyan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil mengamati buku agenda milik Zahra itu.
"Enggak sengaja, Pak. Masa iya saya sengaja?"
Rayyan mengendikkan bahunya. "Kalo kamu mau buku agenda ini kembali, sore nanti kamu harus pergi nonton dan makan malam dulu sama aku. Setelahnya, baru aku kembalikan."
"T-tapi, Pak...."
"Semua pekerjaan kamu ada disini kan?" Rayyan menyela dengan cepat. Ia melakukan semua saran yang dikatakan oleh Rafa tadi pagi.
Rafa bilang dalam kondisi terdesak, jangan memberikan waktu untuk Zahra berpikir dan beradu argumen. Karena hal itu pasti akan membuat Rayyan menyerah dan gagal pada akhirnya.
Zahra terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Belum sempat ia menjawab, pintu ruangan Rayyan telah terbuka dan menampilkan sosok Nadine disana.
"Aku anggap itu sebagai jawaban 'iya', Zah. You have no choice anymore." bisik Rayyan sambil memasukkan buku agenda Zahra kembali ke dalam tasnya, dan menyambut Nadine untuk membahas tentang pekerjaan.
***
Votes-nya jangan lupa ya hehehehe....
Yang tanya kapan abang Rayyan sama Zahra jadian atau nikah? Sabar dulu karena semuanya harus melewati proses, biarkan sang konsultan cinta mengeluarkan jurusnya terlebih dulu 😆😆😆
__ADS_1