
Happy reading 😊
***
Zahra memasuki ruangan Rayyan dengan wajah yang terlihat kesal. Bukan hanya karena sentilan Rayyan ditelinganya barusan, namun entah mengapa ia merasa kesal dengan kedatangan Nadine. Zahra ingat betul bagaimana Rayyan melarangnya untuk mengungkit soal mantan kekasihnya itu, namun sekarang dengan terang-terangan Rayyan justru menerima kedatangan Nadine. Mereka berdua bahkan berdua di ruangan Rayyan dalam waktu yang cukup lama, entah apa yang mereka lakukan. Belum lagi sikap Rayyan yang terlihat biasa saja setelah bertemu dengan Nadie. Padahal dijamuan makan malam beberapa waktu lalu, Rayyan terlihat begitu enggan berlama-lama berhadapan dengan Nadine.
"Persiapan rapat udah beres, Zah?" tanya Rayyan sambil mengecek dokumen yang baru saja diserahkan oleh Zahra.
"Udah, Pak."
"Nanti duduk di sebelah saya, kamu harus bener-bener dengerin apa aja pembahasan rapatnya. Catat hal-hal yang penting, barang kali saya butuh data itu sewaktu-waktu. Gampang kan? Ini kayak kamu kuliah dan dengerin pemaparan materi dari dosen." ucap Rayyan sambil menyerahkan dokumen yang baru saja selesai ia tanda tangani.
"Kenapa Bapak enggak catet sendiri aja? Jadi kalo butuh datanya enggak perlu nyari-nyari saya. Gimana kalo misal nanti saya udah enggak kerja disini trus buku agendanya udah saya buang?"
Rayyan menatap Zahra dengan tatapan tajam. "Jadi kamu udah enggak mau lanjut kerja disini?"
"Bukankah Bapak yang bilang sendiri kalo posisi saya belum tentu aman disini. Jadi, emang ada kemungkinan saya enggak lanjut kerja disini kan Pak? Bahkan mungkin setelah saya wisuda nanti, kerjaan saya disini juga selesai."
"Dengan sikapmu yang seperti ini, kamu bisa langsung dipecat jika bekerja di perusahaan lain. Meskipun kinerjamu bagus, itu enggak akan lagi bahan pertimbangan mereka." jawab Rayyan sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan masih menatap Zahra dengan tatapan tajam.
"Kalo begitu Bapak bisa pecat saya sekarang. Jangan karena saya temennya Eowyn maka Bapak mengecualikan saya." Zahra tersenyum sinis ke arah Rayyan.
"Rapat akan dimulai lima belas menit lagi, Pak. Saya akan menyiapkan segala keperluannya, permisi."
"Cangkirnya tolong bawa keluar sekalian ya, Zah."
"Nanti saya suruh OB, Pak."
Zahra keluar ruangan Rayyan begitu saja, meninggalkan Rayyan yang masih terperangah tidak percaya dengan apa yang Zahra ucapkan barusan.
"Dia kenapa? Apa lagi mens? Ngomel mulu dari tadi." gumam Rayyan saat pintu ruangannya tertutup.
***
__ADS_1
Setelah selesai melakukan meeting dan pertemuan dengan pihak periklanan selesai, Rayyan mengemudikan mobilnya menuju rumah Zahra. Mengantar Zahra pulang sudah bagai rutinitas baginya, hampir setiap hari kerja dia lakukan. Ini merupakan permintaan adiknya yang begitu mengkhawatirkan Zahra.
Jika sebelumnya perjalanan mereka selalu dihiasi dengan perbincangan yang menyangkut pekerjaan, untuk kali ini keduanya sama-sama diam. Setelah beberapa saat mereka terjebak kemacetan dijam pulang kerja, Rayyan memutuskan untuk membelokkan mobilnya ke sebuah mini market.
"Turun dan duduk disana." ucap Rayyan sambil menunjuk bangku kosong di depan mini market. "Aku mau ke dalam sebentar beli sesuatu."
Zahra mengikuti perintah Rayyan, ia duduk di bangku sambil menatap Rayyan yang memasuki mini market. Sambil menunggu, Zahra memainkan ponselnya. Membalas beberapa pesan dari temannya dan mengecek akun sosialnya.
Tak berapa lama, Rayyan keluar. Menyodorkan beberapa jenis cokelat, yogurt dan minuman berperasa greentea pada Zahra. Sedangkan Rayyan terlihat membeli keripik kentang dan sekotak teh.
"Buat saya, Pak?" tanya Zahra kebingungan.
Rayyan mengangguk. "Eowyn selalu makan itu kalo mood-nya lagi jelek. Seharian ini kamu gampang ngomel, bahkan aku sering jadi sasaranmu. Aku pikir mood-mu sedang hancur, atau mungkin sedang kedatangan tamu." Rayyan menjawab dengan santai sambil membuka dan memakan keripik kentangnya.
"Tapi... saya enggak lagi datang bulan, Pak." Zahra berucap lirih, merasa malu untuk membicarakan hal sepribadi ini dengan Rayyan. Terlebih Rayyan adalah bosnya.
"Kalo begitu mood-mu yang lagi jelek."
"Kamu enggak suka? Kamu masuk aja ke dalam terus beli yang kamu pengen." Rayyan dengan susah payah mengambil dompetnya dengan tangannya yang masih bersih, dan mengambil selembar uang seratus ribuan.
Zahra mendorong uang tersebut ke arah Rayyan. "Udah terlanjur kebeli, Pak. Sayang kalo dianggurin aja, pemborosan itu namanya. Lagian Bapak bukannya tanya sama yang bersangkutan dulu." jawab Zahra sambil membuka bungkusan cokelat.
"Aku bisa bawa pulang, terus aku kasih Eowyn. Enggak akan terbuang percuma kan? Emang kamu pengennya apa?"
"Duitlah, Pak hahahaha...." Zahra tertawa sambil menikmati cokelatnya. "Dimana-mana, orang yang mood-nya hancur sekali pun bakal langsung seneng kalo dikasih duit."
"Ceh! Mata duitan itu namanya."
"Bercanda, Pak. Saya cuma enggak pernah melakukan hal seperti ini kalo mood lagi jelek. Marah itu satu-satunya pelampiasan yang bisa bikin emosi itu mereda."
"Jadi... aku jadi pelampiasan amarahmu seharian ini?"
"Hahahaha... enggak gitu, Pak. Kebetulan aja Pak Rayyan yang berulah, jadi bapak yang kena."
__ADS_1
Rayyan diam sejenak sambil menyedot minumannya. "Aku berulah apaan?"
"Bapak itu plin-plan. Bapak pernah bilang ke saya kan yang habis acara makan malam itu, katanya jangan bahas soal mantan lagi. Saya pikir karena bapak mau move on, ehhh... enggak taunya pagi ini malah berduaan lagi. Mana lama banget pula, saya kira bapak enggak inget kalo ada meeting karena saking asiknya berduaan."
"Berduaan?" Rayyan menautkan kedua alisnya, dan Zahra tampak mengangguk mengiyakan pertanyaan Rayyan.
"Saya jadi penasaran tadi itu bapak ngapain aja sama mantan pacarnya di ruangan bapak. Aahh, atau mungkin statusnya udah berubah ya Pak? Bukan mantan lagi gitu. Siapa tau bapak udah balikan kan, makanya tadi di ruangan bisa betah banget. Saya kan jadi suudzon ke Bapak."
"Emangnya apa yang kamu pikirin?"
"Yaahh, cowok cewek dalam satu ruangan tertutup, apalagi dulu pernah sedekat itu, ya Bapak bisa ngira-ngira sendiri lah kejadiannya kayak gimana."
Rayyan mengetatkan rahangnya, ia lantas mengambil bungkusan tisu basah kecil yang tadi ia beli untuk mengelap tangannya yang terkena bumbu keripik.
"Enggak ada sesuatu hal yang terjadi kayak dipikiranmu itu, Zah. Aku enggak nyangka kamu bakal berpikiran kayak gitu ke aku." ucap Rayyan dengan nada dingin sambil mengelap jemarinya dengan tisu basah.
"Lagian... aku enggak akan segila itu sampai berbuat mesum kayak yang kamu bayangin itu di kantor." imbuh Rayyan.
Zahra terdiam, ia memandangi wajah Rayyan yang terlihat tanpa ekspresi namun menakutkan baginya.
"Maaf Pak, saya salah ngomong." Zahra menunduk sambil meremas botol minumannya.
"Jadi kamu ngomel seharian karena itu?" tanya Rayyan yang dijawab Zahra dengan anggukan pelan. Namun Rayyan justru tertawa dengan respon Zahra barusan.
"Kamu itu kayak lagi cemburu tau, Zah." senyuman itu belum hilang dari bibir Rayyan.
"Eh? Enggak! Bukan gitu maksud saya, Pak." Zahra mengibaskan kedua telapak tangannya dihadapan Rayyan.
"Terus kalo bukan cemburu, ngapain kamu uring-uringan ke aku mulu seharian ini? Tadi kamu bilang itu karena aku berulah kan? Itu berarti kamu cemburu sama aku, Zah." Rayyan kian gencar menggoda Zahra yang terlihat makin terlihat menahan malu itu.
Zahra terpojok, ia tak lagi bisa melawan perkataan Rayyan. Jadi perasaannya sedari pagi itu karena cemburu? Tapi kan dirinya dan Rayyan tidak memiliki hubungan yang spesial? Bagaimana bisa itu disebut cemburu?
"Bapak ngaco! Ayo pulang sekarang Pak, ntar keburu macet." ucap Zahra sambil mengemasi snack yang tadi Rayyan beli.
__ADS_1