MENIKAH

MENIKAH
S2 - Andrew


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Rayyan memasuki kamarnya setelah 'persidangan' di ruang kerja papanya. Ia menghela nafasnya saat mendapati Rafa yang telah membaringkan diri di ranjangnya sambil memainkan ponselnya.


Bocah ini, pasti datang untuk mengoloknya!


"Wiiihhh... yang lagi jadi bahan hot gosip hari ini." Rafa langsung menyindir abangnya sambil cengengesan. Ia mendudukkan dirinya sambil memandangi Rayyan yang langsung pura-pura sibuk di meja kerjanya.


"Abang pro juga ternyata. Begitu dapet kesempatan langsung disikat habis. Gimana rasanya tidur sambil melukin pacar, Bang?" goda Rafa sambil memeluk guling Rayyan dengan erat.


"Kalo lo penasaran gimana rasanya, lo coba aja sendiri." jawab Rayyan dengan ketus.


"Hahahahaha... mana bisa gue berbuat kayak gitu, Bang. Gue kan anak baik-baik, Bang. Emangnya abang, baru pacaran udah berani ngelonin anak orang."


Rayyan yang merasa kesal langsung melempar sebuah buku yang cukup tebal ke arah Rafa. Rafa berhasil menghindar dari lemparan buku itu sambil tertawa dengan keras.


"Udah sih Bang, kalo udah pengen nikah aja. Biar kalo pengen ngamar dimana pun dan kapan pun enggak digosipin begini." Rafa tak berhenti untuk menggoda abangnya.


"Lo kalo kesini cuma buat ngomongin hal enggak penting, mending lo keluar aja deh, Fa!" Rayyan kesal. Kali ini ia berucap sambil melotot ke arah Rafa. Yang dipelototin justru bersikap menyebalkan dengan melipat bibirnya sambil menahan tawa.


"Bang... harusnya kalo habis jadian tuh happy, bawaannya senyum mulu. Bukan marah-marah kayak abang gini."


"Kalo gue harus senyumin orang kayak lo ya mending enggak usah. Keluar sana! Gue mau tidur." Rayyan kembali mengusir Rafa yang masih tetap bertahan di ranjangnya dengan masih memeluk gulingnya.


"Yakin nih abang ngusir Rafa?"


"Hm. Buruan keluar!" ucap Rayyan sambil menyingkap selimutnya, seperti akan bersiap untuk tidur.


"Biasanya nih Bang, kalo habis ada gosip enggak enak kayak gini, cewek terus jaga jarak. Abang enggak was-was soal hal itu?" tanya Rafa sambil memutar tubuhnya menghadap ke arah Rayyan.

__ADS_1


Rayyan yang memejamkan matanya kembali membuka matanya, nampak sedang menerawang akan apa yang akan terjadi pada Zahra.


"Jaga jarak kenapa? Gue sama Zahra kan udah resmi jadian."


"Abang ini enggak peka banget sih!" Rafa dengan sengaja memukul paha Rayyan.


"Gosip yang tersebar ini Bang, bukan gosip.biasa. Gosip ini melibatkan Abang sebagai bos dan kak Zahra sebagai PA, belum lagi gosip soal abang tidur bareng sama kak Zahra, terua juga gosip kalo kak Zahra yang sengaja godain abang. Bahkan yang parah gosip kalo semua ini kak Zahra lakuin demi dapet duit lebih dari abang. Ini pasti mempengaruhi kak Zahra, Bang. Gue yakin nih, bentar lagi kak Zahra bakal ngajuin resign ke abang."


Penjelasan Rafa yang panjang lebar itu langsung menarik perhatian Rayyan. Ia segera mendudukkan diri, lalu menatap Rafa dengan cemas.


"Lo yakin akan hal itu?"


Rafa mengangguk dengan cepat. "Yakin banget, Bang. Gosip ini tuh yang diserang cuma kak Zahra, yang diomongin dia, yang dijelek-jelekin dia. Sementara abang? Aman, siapa pula yang berani jelek-jelekin abang?"


Rayyan kembali mengingat isi pesan yang ada diponsel bu Meta. Memang semua isi chat itu menyalahkan dan menjelekkan Zahra, tak ada satu kalimat pun yang menjelekkan dirinya.


"Terus... gue mesti gimana? Gue mau nemuin Nadine tapi enggak dibolehin sama Zahra."


"Abang buat apa ketemu sama kak Nadine? Mau buat kesepakatan?" Rafa tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya.


"Contohnya?"


"Abang beneran pengen tau?"


"Buruan ngomong!" Rayyan sudah tidak sabar mendengar jurus jitu yang akan diucapkan Rafa.


"Bagi duit dulu dong, Ba. Sejuta aja buat Rafa beli kado buat Mama."


Rayyan refleks menendang Rafa karena merasa kesal ujung-ujungnga Rafa memanfaatkan keadaanya, seperti biasanya.


"Pergi sana, gue mau tidur!" Rayyan kembali menendang Rafa dan tidur dengan memunggungi Rafa yang masih bertahan diranjangnya sambil terbahak.

__ADS_1


***


Eowyn dan Zach sedang makan malam bersama saat Andrew datang mendekat pada kursi tempat keduanya menunggu pesanan makanan mereka.


"Hai, Eowyn." sapa Andrew sambil tersenyum lebar pada keduanya.


Eowyn tersenyum canggung, sedangkan Zach tampak menyambut Andrew dengan baik.


"Kak Andrew? D-dengan siapa?"


"Sendiri. Boleh aku gabung duduk disini? Kuharap aku tidak mengganggu acara kencan kalian."


"Tidak. Duduklah." Zach mempersilahkan Andrew untuk duduk di kursi seberangnya. "Kalian saling kenal?" imbuh Zach sambil menatap Andrew dan Eowyn secara bergantian.


Andrew mengangguk. "Dia adik dari temanku, dan... kebetulan orangtua kami berteman baik."


"Ahh, begitu rupanya. Kau sudah memesan makanan?"


"Sudah. Tadinya aku duduk.disana." Andrew menunjuk sebuah meja yang berada di dekat jendela besar. "Aku sudah bilang ke pelayan jika aku pindah duduk disini. Namaku Andrew, dan kau?" Andrew mengulurkan tangannya padanya Zach.


"Aku Zach, senang berkenalan denganmu." Zach menjabat tangan Andrew dan tersenyum.


"Sepertinya Eowyn terlalu terkejut bertemu kembali denganku sampai dia lupa mengenalkan kekasihnya padaku."


Eowyn mengerjapkan matanya, sedari tadi ia hanya diam saja karena kemunculan Andrew yang tiba-tiba ini.


"T-tapi kalian sudah berkenalan kan? Jadi, aku tidak perlu mengenalkan kalian. Kalian bukan anak kecil lagi yang harus dibantu berkenalan."


Andrew dan Zach tertawa mendengar jawaban Eowyn. Zach mengusap puncak kepalanya kekasihnya dengan lembut karena merasa gemas dengan jawaban Eowyn barusan.


"Kalian tampak berbahagia. Bahkan sampai hati bermesraan di depanku seperti ini."

__ADS_1


"Bermesraan apanya?" Eowyn mendengus kesal sambil melirik ke arah Andrew.


"Kau harus jaga dia dengan baik, Zach. Kalo sampai kau menyakitinya, maka aku tak akan segan untuk menghajarmu dan merebut Eowyn darimu." ancam Andrew pada Zach dengan nada bercanda, yang kemudian memancing gelak tawa keduanya. Tidak terkecuali Eowyn yang justru merasa takut jika hal itu benar-benar terjadi.


__ADS_2