
Malam kian larut, namun Rayyan masih enggak untuk keluar dari kamar Zahra dan berpindah ke kamarnya sendiri. Keduanya masih berbaring diatas ranjang dengan posisi saling memeluk dan menonton acara TV.
"Sayang... aku tidur disini aja ya?" izin Rayyan pada Zahra dengan tangan yang masih mengusap lembut punggung Zahra.
"Hah? Kenapa? Kan cuma pindah ke kamar sebelah aja."
Rayyan menggelengkan kepalanya. "Aku cuma mau tidur disini, sama kamu. Kan jarang-jarang kita dapet kesempatan untuk berduaan kayak gini."
Suara Rayyan terdengar seperti anak yang sedang merengek. Zahra bahkan sampai mendongakkan kepalanya untuk melihat bagaimana raut wajah kekasihnya sekarang ini.
"Besok kita harus meninjau proyek, sayang. Pasti akan memakan waktu seharian dan melelahkan." Zahra mengusap pipi Rayyan dengan lembut, mencoba untuk merayunya agar mau kembali ke kamarnya.
"Dan sekarang udah hampir jam sebelas. Pindah kamar ya? Kita istirahat."
Lagi-lagi Rayyan menggelengkan kepalanya. "Tidur disini juga sama aja, Yang. Kan ranjangnya juga gede, muat kan buat kita tidur berdua."
"Tapi aku kalo tidur banyak gerak, sayang. Kata Eowyn aja nendangin dia mulu. Belum lagi ntar ilerku kemana-mana." jelas Zahra sambil terkekeh, berharap dengan alasannya itu Rayyan akan mengurungkan niatannya untuk bermalam di kamarnya.
"Cuma gitu doang? Aku malah kalo tidur ngorok, belum lagi suka kentut kata mama." penjelasan Rayyan justru memancing tawa bagi keduanya.
"Aku tidur disini ya? Selama di Bali aku akan tidur disini, tidak ada penolakan." ucap Rayyan sambil mengeratkan pelukannya.
"Iiihhh... mana bisa begitu? Gimana kalo nanti om Adit sama tante Salma tau?"
"Ya kan aku yang kena marah. Kalo disuruh tanggung jawab ya dengan senang hati ehehehehe...."
Zahra memutar bola matanya malas. "Aku enggak tau ya gimana dulu mudanya om Adit dan gaya pacarannya sama tante Salma. Cuma aku heran aja kenapa kamu sama Rafa bisa kayak gini sih?"
"Beda ya. Aku lebih kalem daripada Rafa."
"Masa? Tapi sebanyak apapun pacar Rafa, aku yakin dia belum pernah sekamar sama pacarnya kayak gini."
"Kata siapa? Emang kamu liat?"
"Ya enggak sih, tapi aku yakin aja Rafa belum pernah kayak kamu gini."
__ADS_1
"Suruh siapa belum pernah." jawab Rayyan dengan santai yang kemudian mendapat hadiah cubitan diperutnya.
"Udah ah, kita tidur sekarang. Kayaknya aku bakal tidur lebih lelap malam ini karena sambil melukin kamu."
***
Suara alarm dari ponsel Rayyan berdering. Dua anak manusia itu masih terlelap dengan posisi Rayyan yang memeluk Zahra dari belakang. Zahra menggeliat, lalu meraih ponsel Rayyan yang berada di nakas.
"Sayang, bangun." Zahra menggoyang-goyangkan tubuh Rayyan. "Kamu kenapa pasang alarm-nya jam enam sih? Mepet banget tau buat kita siap-siap."
"Enggak apa-apa, biar tidur kita tetep bisa tujuh jam." Rayyan menjawab dengan suara seraknya.
Rayyan mendudukkan dirinya sambil mengucek matanya. "Morning." sapa Rayyan sambil menarik Zahra yang duduk disebelahnya dan sedang mengucir rambutnya.
Ciuman Rayyan pada kening Zahra berangsur turun menuju pipi dan hidung. Dan saat bibir Rayyan akan menyentuh bibir Zahra, dengan gerakan cepat Zahra langsung membekap bibir Rayyan dengan telapak tangannya.
"Ayo buruan bangun! Kalo kamu mau cium aku disitu, yang ada kita bakal telat nanti."
"Hmm... udah pinter godain sekarang." Rayyan tersenyum sambil menjawil hidung Zahra.
"Ponselmu?"
"Tolong cas-in ya, kalo ada telpon enggak usah diangkat. Nanti ketahuan hehehehe...."
Zahra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, memandangi tubuh kekasihnya yang keluar dari kamarnya.
Nadine yang baru saja selesai jogging di sekitaran hotel melihat Rayyan yang baru saja keluar dari sebuah kamar. Yang membuat Nadine penasaran adalah tampilan Rayyan yang seperti baru saja bangun tidur serta kakinya yang telanjang tanpa alas kaki. Ditangan kanannya tampak Rayyan menenteng sepatunya.
Nadine semakin penasaran karena nampaknya Rayyan tidak berganti baju setelah acara jalan-jalan mereka kemarin. Rayyan bahkan tampak tersenyum bahagia saat keluar dari kamar itu.
Setelah memastikan Rayyan masuk ke dalam kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar tempat Rayyan keluar tadi, Nadine memperhatikan pintu kamar itu denga tatapan tajam.
"Dasar perempuan murahan!" gumamnya sambil memandangi pintu kamar tempat Zahra menginap.
***
__ADS_1
Rayyan dan Zahra masuk ke dalam restoran yang berada di hotel. Nadine telah lebih dulu berada disana dan kini sedang menikmati sarapannya.
"Telat banget, kamu aku telponin juga enggak diangkat." ucap Nadine pada Rayyan yang menghampirinya di meja.
"Maaf, hapenya aku cas. Apa enggak masalah kalo jadwal kita mundur?"
Nadine tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu bosnya, Rayyan. Bahkan kalo kamu telat empat jam atau membatalkan kunjungan dilast minute juga enggak ada yang berani komplain."
Rayyan mengangguk. "Baiklah, kami akan ambil sarapan dulu."
Rayyan dan Zahra berjalan menuju deretan meja yang menyajikan beragai menu sarapan. Setelah memilih makanan yang mereka inginkan, Rayyan mengambil alih piring milik Zahra.
"Tolong ambilin aku kopi ya, Yang." bisik Rayyan pada Zahra.
Zahra mengangguk, lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah meja untuk membuatkan kopi pesanan Rayyan.
"Nampaknya perjalanan ke Bali ini begitu menyenangkan untukmu." terdengar sebuah suara yang tiba-tiba terdengar disamping Zahra. Nadine, telah berdiri disana untuk membuat kopi juga untuk dirinya sendiri.
"Bali memang selalu menyenangkan bukan?" Zahra memasang senyum lebarnya meskipun terlihat kaku.
"Bukan itu. Maksudku... nampaknya kamu telah berhasil untuk menggoda Rayyan untuk naik ke atas ranjangmu." Nadine mulai mengamati Zahra dari atas hingga ke bawah.
"Aku tau kamu memang cantik, tapi sayang sekali kau begitu murahan hingga menjual tubuhmu dengan berkedok sebagai asisten Rayyan. Apa ekonomi keluargamu benar-benar kekurangan sampai kau harus melakukan hal seperti itu?"
Kalimat Nadine barusan benar-benar membuat Zahra naik darah. Zahra mengepalkan tangannya, bisa-bisanya mulut Nadine dengan mudah memfitnahnya dan membicarakan keluarganya.
"Lalu kenapa? Kau iri karena tidak bisa membawa pak Rayyan naik ke ranjangmu?" alih-alih meluapkan emosinya, Zahra justru sengaja memancing emosi Nadine dengan karangan indahnya.
"Asal kamu tahu ya, aku sama sekali tidak pernah merayu pak Rayyan. Jika kau melihat pak Rayyan keluar dari kamarku atau bahkan melihat pak Rayyan mencumbuku, itu karena pak Rayyan yang menginginkanku. Kami berdua berpacaran, bukan menjalani hubungan gelap dan hina seperti yang kau bicarakan tadi. Permisi." Zahra mengambil secangkir kopi yang telah ia buat untuk Rayyan, lalu menghampiri Rayyan yang telah menunggunya di meja.
***
Vote-nya jangan lupa ya, biar authornya semangat ehehehehe....
Terima kasih 😘😘
__ADS_1