
Happy reading 😊
***
Selama perjalanan, keduanya saling diam. Terlebih Zahra yang merasa malu atas kejadian tadi. Bukan hanya malu atas kejadian tadi, dirinya juga merasa malu karena tangannya yang digandeng oleh Rayyan. Kepalanya yang sedikit tertunduk menatap tangan kanannya, hatinya berdesir jika mengingat rasa genggaman tangan Rayyan yang hangat tadi.
"Gila lo, Zah. Cuma digandeng aja bisa sebaper ini. Lemah emang!" Zahra menggerutu dalam hati.
Saat mobil berbelok di hotel tempat mereka menginap, barulah Rayyan membuka suara.
"Mau dipesenin makanan apa, Zah?" tanya Rayyan sambil memarkir mobilnya.
"Apa aja deh, Pak."
"Masih mual?"
Zahra menggelengkan kepalanya. Sesaat setelah mobil terparkir sempurna, Zahra buru-buru melepas seatbelt-nya.
"Saya duluan ya, Pak. Saya kebelet pipis." ucap Zahra sambil membuka pintu mobil.
Setelah berhasil keluar mobil lebih dulu, Zahra berlari kecil menuju ke dalam hotel meninggalkan Rayyan yang masih berada dibelakang kemudi. Zahra hanya tidak ingin berada di dekat Rayyan sekarang ini. Ia ingin menormalkan pikiran dan detak jantungnya yang berdetak dengan cepat setelah kejadian tadi. Dan berada di dekat Rayyan, pasti akan membuatnya menjadi salah tingkah.
Rayyan menengok ke jok belakang, tempat ia menaruh tas kerja dan tas selempang Zahra tadi. Jadi sepertinya Zahra melupakan tasnnya? Benar-benar teledor!
Setelah mengambil dua tas yang tertinggal di jok belakang, Rayyan berjalan memasuki hotel sambil menelpon pak Putra agar membantunya menyiapkan makan siang yang sangat telat ini untuknya dan juga Zahra.
***
Rayyan baru saja keluar kamar mandi sambil menggosok rambutnya dengan handuk saat terdengar suara dering ponsel yang terdengar asing baginya. Lalu, Rayyan menengok ke arah meja tempat ia menaruh tas Zahra dan tas laptop yang ditinggalkan dimobilnya tadi.
Dengan penasaran, Rayyan membuka tas Zahra untuk meraih ponsel yang tak lagi berdering itu. Dilihatnya isi tas itu dan mengeluarkan isinya. Rayyan tersenyum mengetahui isi tas Zahra yang ternyata tidak serempong Nadine dulu atau bahkan Eowyn. Hanya ada dompet, ponsel, sebuah buku agenda, pulpen, bedak, lipstik, tisu kering, dan kartu kamar cadangan.
__ADS_1
Diraihnya ponsel milik Zahra itu, lalu mengusap layarnya dan ternyata ponsel itu tidak memiliki kunci pengaman. Rayyan mengamati foto wallpaper yang memajang foto Zahra bersama keluarganya saat wisuda kemarin. Lalu Rayyan mengecek pop up pesan yang menampilkan beberapa pesan masuk. Ada dari adiknya, sebuah kontak yang diberi nama abang, serta beberapa nama yang tidak ia kenal.
Merasa tidak puas, Rayyan membuka galeri foto dan melihat kumpulan foto Zahra disana. Rayyan sengaja menarik kursi untuk duduk santai sambil melihat isi ponsel Zahra. Sebelum akhirnya sebuah panggilan masuk memaksa Rayyan untuk menghentikan kegiatannya. Diletakkannya ponsel Zahra ke meja, lalu melirik jam yang menunjukkan waktu hampir jam 5 sore.
Rayyan kembali memasukkan ponsel itu ke dalam tas Zahra, Rayyan berniat mengembalikan tas itu kepada pemiliknya. Ia juga merasa aneh, kenapa gadis itu tidak mencarinya dari tadi? Apa Zahra masih belum sadar jika meninggalkan tas miliknya dimobilnya?
***
Tidak mendapat jawaban setelah menekan bel berkali-kali, Rayyan memutuskan untuk mengambil kartu cadangan yang ada ditas Zahra. Setelah menempelkan kartu pada detector yang ada di pintu, Rayyan melangkah masuk dengan pelan.
"Zah..." panggilnya sambil kembali menutup pintu kamar.
Masih tak ada jawaban dari Zahra, Rayyan memberanikan diri untuk semakin masuk ke dalam kamar itu. Menatap pintu kamar mandi yang terbuka, Rayyan mencoba melongok untuk mengecek dan hasilnya nihil. Hingga akhirnya Rayyan menatap ke arah ranjang dan melihat Zahra tidur meringkuk disana dengan pulasnya.
"Zah...." Rayyan memanggil lagi sambil meletakkan kedua tas yang ia bawa dimeja.
Pandangan Rayyan tertuju pada troli hotel berisi makanan yang ia pesan tadi siang masih utuh disana. Nampaknya memang Zahra masih kurang sehat dan lebih memilih tertidur lebih dulu daripada mengisi perutnya. Rayyan berjalan mendekati kasur, lalu menempelkan telapak tangannya pada kening Zahra.
Merogoh ponselnya yang berada disaku celana, Rayyan menghubungi pak Putra untuk meminta bantuan agar karyawannya membelikan obat demam untuknya. Ia juga meminta dua kamar yang ia tempati bersama Zahra akan selesai mereka gunakan esok hari. Padahal seharusnya malam ini mereka akan kembali ke rumah.
Setelah selesai menelpon pak Putra, Rayyan kembali mencari sebuah kontak dan menelponnya.
"Halo, Ma. Rayyan enggak jadi pulang ya malam ini, soalnya... urusannya belum selesai." Rayyan berkata bohong pada Mamanya.
"........."
"Iya Ma, besok pulang kok."
"......."
"Hm, oke Ma. Bye...."
__ADS_1
Selesai dengan urusan menelponnya, Rayyan membangunkan Zahra dengan paksa untuk segera makan. Dengan mata yang masih berat untuk terbuka, Zahra menuruti perintah Rayyan untuk bersandar pada headboard kasur.
"Nanti juga saya makan, Pak. Saya mau tidur dulu bentar, ngantuk banget Pak."
"Tapi kamu demam, Zah. Harus segera minum obat. Makananmu juga udah dingin." jawab Rayyan sambil menyiapkan makanan untuk Zahra.
"Habiskan! Sebentar lagi pegawai hotel akan datang dengan membawakan obat." Rayyan menyerahkan nampan berisi makanan.
"Kita balik besok pagi aja, aku enggak mau balik malam ini dengan kondisi kamu yang kayak sekarang." sambung Rayyan.
"Balik malam ini juga enggak apa-apa kok, Pak. Saya cuma demam."
"Enggak ada bantahan, Zah. Mana mungkin aku nganter kamu balik dalam keadaan sakit kayak begini?"
Zahra hanya terdiam dan mulai menyantap makanannya yang telah dingin itu. Saat mengunyah makanannya, barulah Zahra mengingat sesuatu.
"Terus Bapak bisa masuk kamar saya gimana caranya? Bapak sengaja ya minta kunci lagi ke pihak hotel biar bisa masuk ke kamar saya? Mentang-mentang hotel milik pribadi." tanya Zahra sambil menatap tajam ke arah Rayyan. Lalu tak lama, ia kembali menunduk sambil memperhatikan dirinya yang begitu kusut dengan rambut acak-acakan itu.
Rayyan mendekat, lalu dengan sengaja menyentil kening Zahra.
"Sembarangan aja kalo ngomong. Tadi kamu ninggalin tas kamu tuh dimobil, aku kesini mau balikin tas kamu tapi aku tekan bel berulang-ulang enggak ada jawaban. Jadi aku masuk pake kartu cadangan yang ada ditas kamu."
"Bapak kalo nyentil enggak kira-kira. Saya bukan anak kecil yang kalo salah terus disentil, Pak. Udah dua kali pula Bapak nyentil saya." ucap Zahra sambil mengusap keningnya yang masih terasa sakit akibat sentilan Rayyan.
"Udah buruan dihabisin makannya, aku mau keluar dulu angkat telpon. Aku masuk harus udah habis makannya ya."
"Ya tinggal Bapak telponnya berapa lama?"
"Jangan banyak ngebantah, Zah. Daripada kamu banyak tanya mending kamu mulai makan deh." Rayyan mengambil alih sendok ditangan Zahra lalu menyuapinya sebelum akhirnya keluar kamar untuk mengangkat telpon dari Papanya.
***
__ADS_1
Banyak yang bilang update-annya kurang ya? Duuhhh, maaf. Sehari biaa nulis 1 episode aja udah Alhamdulillah banget karena banyak kerjaan di rumah 😂🙏 Tapi tenang, khusus hari ini saya kasih 2 episode deh ya. Biar agak panjangan dikit hehehehehe....