
Happy reading 😊
***
Setelah berperang dengan pikirannya sendiri untuk beberapa saat, akhirnya Alita keluar dari toilet. Masih dengan dada yang berkecamuk, Alita bahkan harus menahannya sekuat tenaga saat kini manik matanya menangkap sosok Rafa masih berada di tempat yang sama.
Ingin sekali Alita menanyakan kebenaran akan hal itu kepada Rafa, tetapi ia menahannya. Ia tidak ingin semakin membuat Rafa tidak nyaman. Berada di tempat ini saja sudah membuat Rafa mati kutu, apalagi jika ditambah dengan berondongan pertanyaan yang pasti akan meluncur dari bibirnya.
"Lama banget. Kamu enggak apa-apa kan, sayang?" tanya Rafa saat Alita mendekat dan duduk disebelahnya.
"Iya. Maaf, tadi... di toilet rame banget."
Rafa mengangguk paham. Sama seperti Eowyn yang selalu lama jika berada di dalam kamar mandi, mungkin Alita dan mahasiswi lainnya juga tak jauh beda dengan kakaknya. Ada banyak ritual yang harus dilakukan, berbeda dengan kaum lelaki yang selalu secepat kilat.
"Kamu laper? Kok diem aja?" tanya Rafa sambil menatap Alita yang tampak sedang melamun itu.
"Eh? Enggak. Aku... enggak apa-apa kok, sayang. Kamu... mau makan siang sekarang?"
"Terserah kamu aja. Emangnya kamu udah bisa pergi sekarang? Acara selesai jam 2 kan?" pertanyaan Rafa ini langsung mendapat jawaban berupa anggukkan kepala dari Alita.
"Yaudah, ntar aja kalo acara udah selesai baru kita makan. Aku juga belum terlalu laper kok."
Sejak tadi, Alita telah menimbang untuk bertanya kepada Rafa. Setidaknya ia hanya ingin bertanya mengenai sosok mantan kekasih Rafa yang ada di fakultas ini. Memang selama ini Alita seakan tidak peduli dengan masa lalu Rafa, tapi sejak mendengar obrolan di toilet tadi ia jadi ingin menguliknya dengan jelas.
Belum sempat pertanyaan itu terlontar, Rafa menunjukkan ponselnya pada Alita. Menampillan kontak bernama 'Mama ❤️' dan foto dirinya bersama sosok sang mama itu.
"Aku angkat telpon mama sebentar ya, sayang. Disini berisik banget soalnya, takut mama ngomel karena harus ngulang omongan."
Alita mengangguk, dan setelahnya Rafa bergegas menjauh darinya untuk mencari tempat yang tidak terlalu berisik dan mengangkat telpon mamanya.
***
Eowyn menata berkasnya dimeja lalu mematikan laptopnya. Sambil meregangkan ototnya, Eowyn mencuri pandang ke arah ruangan Zach yang sedari pagi tadi tertutup rapat. Biasanya Zach sering keluar masuk dari ruangan, bersantai di pantry atau bahkan sengaja duduk di dekatnya jika sedang senggang. Tapi hari ini berbeda, bahkan lelaki itu seakan melupakannya dan tidak mengiriminya sebuah pesan, selama perjalanan berangkat ke kantor tadi Zach juga lebih banyak diam.
Eowyn meraih ponselnya, megecek beberapa pesan masuk dan lagi-lagi tak menemukan pesan dari Zach. Last seen-nya pun jam enam pagi tadi. Epwyn menghela nafas, merasa kesal karena Zach seolah mengabaikannya. Belum selesai pikirannya memikirkan tentang Zach, pandangan Eowyn teralihkan oleh kedatangan Rio bersama seorang wanita.
__ADS_1
Eowyn mengerutkan keningnya, tidak mungkin kan Rio membawa masuk temannya ke dalam kantor mereka. Keduanya tampak bercakap-cakap, tetapi yang membuat Eowyn heran adalah saat Rio membukakan pintu ruangan Zach untuk wanita tersebut. Dan setelahnya Rio meninggalkan mereka, meninggalkan Zach bersama wanita yang Eowyn tidak tahu siapa. Zach bahkan menutup tirai penghalang di ruangannya.
Dengan gerakan secepat kilat, Eowyn menyambar tangan Rio yang lewat di dekatnya. Membuat Rio tersentak dan menoleh ke arah ruangan Zach sebelum akhirnya menatap Eowyn.
"Apaan sih, Wyn? Ngagetin aja deh." gerutu Rio sambil menarik tangannya.
"Siapa yang kak Rio anter ke ruangan pak Zach?"
"Oohhh...." Rio kembali menoleh ke arah ruangan Zach. "Dia... temennya pak Zach."
"Kak Rio kenal juga? Kok tadi ngobrol?"
"Ya gue kan disuruh pak Zach jemput dia di lobi, ya kali enggak gue ajak ngobrol sih, Wyn?"
"Temen apaan?"
Rio menggelengkan kepalanya. " Ya mana gue tahu, lo kan pacarnya, Wyn. Harusnya lo lebih tahulah daripada gue."
"Terus sekarang kak Rio mau kemana?"
"Biar aku aja, kak." Eowyn beranjak dari duduknya. "Aku juga mau kesana kok hehehehe...."
"Yaudah, tolong ya. Gue mau lanjutin kerjaan dulu."
Eowyn mengangguk, lalu Rio pergi menuju kubikelnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Berjalan menuju pantry, Eowyn memikirkan cara agar bisa masuk ke ruangan Zach. Ia sungguh penasaran sebenarnya siapa wanita itu dan ada urusan apa sampai dia datang ke kantor Zach. Zach bahkan sampai menutup tirai ruangannya. Benar-benar menyebalkan.
***
Akhirnya Eowyn mendapatkan cara agar dapat masuk ke ruangan Zach. Dia sendirilah yang akan menyuguhkan minuman itu untuk Zach dan tamunya. Bukan mbak Listi seperti biasanya.
Melangkah dengan hati-hati sambil membawa nampan berisi minuman, Eowyn membuat rekan sedepartemennya ini mrmbelalakkan mata. Pasalnya, sebagai anak bos seharusnya Eowyn tidak perlu melakukan hal demikian.
"Wyn, lo ngapain?" seru Rio dengan nada setengah berbisik, takut jika suaranya akan terdengar hingga ke ruangan Zach. "Gue bilang kan mbak Listi yang bikinin minum."
Sebenarnya Rio juga ketakutan. Takut dikira ia yang menyuruh anak bosnya untuk membuat minuman untuk Zach dan tamunya.
__ADS_1
"Udah, kak Rio tenang aja. Mbak Listi lagi mules, jadi akunya yang bantu anterin."
Tentu saja apa yang Eowyn katakan bukanlah sebuah kejujuran. Tadi ia memaksa pada mbak Listi bahwa ia sendiri yang akan membawa minuman itu ke ruangan Zach.
Kembali melangkah menuju ruangan Zach, Eowyn bahkan sempat ragu untuk mengetuk pintu ruangan kekasihnya itu. Tapi akhirnya ia ketuk juga seiring dengan pandangan Rio yang menatapnya dengan tajam.
"Masuk." suara Zach terdengar, dan Eowyn bergegas menarik handle pintu ruangan itu.
Zach membelalakkan matanya saat menangkap sosok Eowyn yang mengantarkan minuman untuknya dan juga temannya itu.
"Mbak Listi kemana?" kalimat itu langsung terlontar saat Eowyn baru saja menutup pintu ruangan Zach.
"Oh, mbak Listi sedang sakit perut, Pak. Jadi saya yang bantu antar, kebetulan tadi saya lagi di pantry." Eowyn menjawab dengan sopan.
Dirinya sedikit terkejut saat Zach membantunya untuk menyuguhkan minuman yang ia bawa.
"Duduk disini." Zach menepuk sisi sofa yang kosong disebelahnya, membuat Eowyn terkejut dengan penawaran Zach. Sementara teman Zach tersenyum ke arah Eowyn.
"Aku tahu mbak Listi enggak lagi sakit perut dan kamu enggak lagi di pantry, kamu cuma curiga aja kan sama aku? Makanya kamu sampai bawain minuman ini kesini?"
Eowyn tersenyum canggung. Apakah rasa penasaran dan curiganya tadi terpancar jelas diraut wajahnya? Bagaimana bisa Zach bisa tepat sasaran menebaknya? Belum lagi Zach mengatakan hal ini di depan temannya, benar-benar memalukan.
"Sini." Zach menarik pergelangan tangan Eowyn dengan perlahan untuk duduk di sebelahnya. "Dia Venny, teman kuliahku saat di Singapore dulu. Dan dia kesini untuk nganterin undangan pernikahannya." Zach menunjukkan sebuah undangan berwarna putih dengan pita emas kepada Eowyn.
"Dan karena suami aku bukan warga negara sini dan tidak punya teman disini, jadi aku meminta Zach untuk menjadi groomsmen-nya. Begitu pula denganmu, kalian bersedia kan?" ucap Venny dengan senyum merekah dibibirnya.
Eowyn benar-benar malu. Zach tidak menghubunginya karena mungkin Zach memang sedang banyak pekerjaan. Dan mencurigai Zach ada hubungan dengan wanita di depan ini, Eowyn benar-benar merasa konyol.
***
*Halo readers, maaf ya kalo sekarang jadi up. Beneran lagi sibuk ngadon saya 😅 Jadinya ini sengaja dikumpulin dulu, lumayanlah ya dapat 3 eps. Kedepannya kalo daku jarang up, mungkin sekalinya keluar juga beberapa eps kayak gini. Gapapa ya? Hehehehe....
Yang belum baca Cupcake's Love, Lean On Me, dan Back to You, yuuukkkk bisa dibaca dulu sambil nungguin yang disini up. Cupcake's Love versi audiobook juga udah komplit ya, bisa didengerin aja kalo lagi malas baca 😆
Votes, likes dan comments-nya jangan lupa. Terima kasih 😘😘*
__ADS_1