
Happy reading 😊
****
"Pergilah kalo kamu mau menemui Eowyn." ucap Rayyan pada Zahra yang masih melongok ke arah luar ruang rapat.
Siang ini, Rayyan dan Zahra datang ke kantor Adit untuk mengikuti rapat bulanan serta membahas beberapa proyek yang tengah dikerjakan. Tadi, Eowyn memang mengikuti rapat bersama pimpinan timnya. Namun keduanya tidak bisa saling mengobrol karena pekerjaan masing-masing.
"Eee... tidak apa-apa, Pak."
"Pergilah. Aku mau ke ruangan Papa, kamu punya waktu tiga puluh menit untuk mengobrol dengan anak itu." Rayyan kemudian bangkit dari kursinya dan keluar ruang rapat, meninggalkan Zahra bersama beberapa dokumennya.
Zahra segera merapikan dokumen dan laptopnya, lalu menyimpannya ditas kerja yang ia bawa. Setelahnya, ia berjalan menuju ruangan Eowyn yang ada di lantai lima. Sesampainya di depan ruangan Eowyn, Zahra segera merogoh ponselnya dan menelpon Eowyn.
"Gue ada di depan ruangan lo, Wyn." ucapnya saat Eowyn mengangkat telponnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Eowyn, Zahra segera mematikan panggilannya. Menunggu Eowyn keluar dari ruangannya dan bertahan dari tatapan karyawan lain yang berlalu-lalang disana.
"Ngapain enggak masuk aja sih?" seru Eowyn begitu melihat Zahra di depan ruangannya.
"Disini kan bukan kantor gue, mana biaa gue keluar masuk seenaknya."
"Mau ngopi?"
"Hmm... boleh."
Eowyn segera menarik tangan Zahra dan membawanya menuju mini bar di dalam ruang kerjanya. Setiap departemen memiliki mini bar sendiri dimana para karyawan bisa rehat sejenak dari pekerjaannya untuk sekedar minum kopi atau minuman ringan lainnya sambil berbincang dengan rekan kerjanya.
Eowyn segera membuatkan kopi untuk Zahra dan mengajaknya duduk agak menjauh dari karyawan yang lain.
"Gimana rasanya pacaran sama temen sekantor?" tanya Zahra tanpa basa-basi.
Semalam, Eowyn telah menceritakan pada dirinya tentang sosok pimpinan departemennya yang menyatakan perasaan padanya.
"Gue belum ngasih jawaban ke dia."
"Laahhh, kenapa?"
"Gue... enggak tau harus bilang gimana ke dia. Gue malu juga, Zah."
Zahra tertawa. Temannya ini benar-benar polos tanpa pengalaman dekat cowok mana pun.
"Kalo lo malu ngomong secara langsung, lewat chat kan bisa."
"Iya, tapi gue bingung kata-katanya gimana." Eowyn mengacak rambutnya.
"Hahahaha... to the point aja, enggak usah panjang lebar."
"Tapi... gue juga bingung ntar setelahnya gue mesti gimana bersikap ke dia."
__ADS_1
"Yaelah, Wyn! Lo kenapa sih cuma pacaran aja bisa setakut ini? Mungkin awalnya bakal canggung, ntar lama-lama juga kebiasa."
"Gue takutnya sama karyawan lainnya, Zah. Ntar dikira gue kerjanya enggak bener, yang ada malah godain pak Zach."
"Ngapain lo ngurusin omongan orang? Toh nyatanya elo enggak godain kan?"
Eowyn mengangguk. "Gue kemarin janji ke dia, mau ngasih jawabannya sambil makan malam. Tapi gue malu, mau ngajakin duluan."
"Lo mah cerewet doang ke Rafa tapi enggak ada nyali sama cowok lain. Apa-apa malu, haduuhhh... lo kayak bukan Eowyn yang gue kenal yang tingkat kepedeannya diatas rata-rata orang normal."
Perbincangan keduanya harus terhenti saat terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Ahhh... disini kau rupanya." ucap Zachary begitu menemukan Eowyn.
"Bapak... mencari saya?"
Zach mengangguk. "Ada beberapa bagian pada laporan tadi yang harus diperbaiki, aku membutuhkannya hari ini juga. Karena besok pagi aku harus berangkat ke Bali."
"B-Bali?"
"Iya. Kamu bisa menyelesaikannya setelah selesai mengobrol dengan temanmu."
Zahra segera memundurkan kursinya, lalu meraih tas kerja di kursi sebelahnya. "Saya sudah selesai kok, Pak. Pak Rayyan pasti telah menunggu saya di ruangan Pak Adit. Saya permisi dulu." Zahra membungkukkan badannya ke arah Zachary.
"Gue balik dulu ya, Wyn. Kapan-kapan kita ngobrol lagi."
Zahra berjalan meninggalkan ruang kerja Eowyn. Zachary segera duduk di depan Eowyn, tempat Zahra duduk sebelumnya.
Eowyn mengangguk. Kepalanya tertunduk, merasa tidak memiliki keberanian untuk menatap Zachary.
"Kamu bisa memikirkan jawabanmu dengan tenang selama aku tidak ada di kantor. Aku tau, sekarang kamu merasa canggung ketika bersamaku."
Zachary meraih tangan kiri Eowyn, lalu menggenggam dan mengusap punggung tangannya.
"Pikirkan baik-baik, Eowyn. Aku akan menerima apapun jawaban yang nantinya akan kamu berikan."
Eowyn mendongakkan kepalanya, menatap wajah Zachary dan mengunci pandangan mereka.
"Sebenarnya... aku udah siap dengan jawabannya." Eowyn berucap lirih.
"Benarkah?" tanya Zachary dengan sumringah. "Kamu enggak perlu terburu-buru, Wyn. Kamu bisa pikirkan itu baik-baik."
"Kamu... enggak mau tau jawabanku sekarang?"
Zachary terdiam. Ibu jarinya yang sedari tadi mengusap punggung tangan Eowyn tiba-tiba berhenti.
"Ambil map hitam yang aku letakkan di mejamu, aku tunggu di ruanganku." Zachary bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkan Eowyn.
Setelah membereskan cangkirnya dan Zahra, Eowyn berjalan menuju mejanya. Diambilnya map hitam yang dimaksud oleh Zachary tadi. Setelah meyakinkan dirinya untuk bersikap tenang, Eowyn melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Zachary.
__ADS_1
Ternyata, Zachary telah menunggunya di dekat pintu. Sesaat setelah Eowyn masuk, Zachary mengunci pintu ruangannya.
"Katakanlah, Eowyn. Aku sudah siap untuk mendengar jawaban darimu." ucap Zachary.
"Kamu pasti tau jika semua ini terlalu cepat. Bahkan kamu sama sekali tidak memberiku sinyal sebelumnya."
"Maaf." ucap Zachary lirih.
"Aku rasa... aku akan mengikuti apa kata hatiku. Aku akan mencoba untuk menjalin hubungan denganmu."
Wajah Zachary berubah begitu sumringah. Kakinya melangkah maju beberapa langkah untuk mengikis jaraknya dengan Eowyn.
"Kamu yakin dengan jawabanmu?" tanya Zachary sambil memegang kedua bahu Eowyn.
Tanpa berkata, Eowyn menjawabnya dengan anggukan dan tersenyum. Zachary langsung menarik tubuh Eowyn dan membawanya dalam pelukannya.
"Terima kasih, sayang." ucap Zachary sambil mengecup puncak kepala Eowyn.
"Sayang?" Eowyn mendongakkan kepalanya.
"Mulai sekarang aku akan memanggilmu 'sayang', semoga aku enggak keceplosan dijam kerja. Apa kamu punya nama panggilan lain yang lebih romantis?" tanya Zachary tanpa melepaskan pelukannya.
Eowyn menggelengkan kepalanya. "Aku suka panggilan itu. Sayang."
"Aahhh... rasanya aku begitu berat meninggalkanmu beberapa hari." Zachary mengeratkan pelukannya.
"Apa perlu aku mencari alasan agar kamu bisa ikut denganku ke Bali? Kamu bisa membantu tugas Rio disana."
Eowyn menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Pergilah. Aku akan menunggumu pulang."
"Sabar ya, aku hanya akan pergi tiga hari." Zachary kembali megecup puncak kepala Eowyn.
"Apa perlu nanti kita pergi makan malam berdua untuk merayakannya?" tanya Zachary.
"Tentu! Aku telah merencanakannya. Aku bahkan sengaja enggak bawa mobil biar nanti pulangnya bisa kamu anterin."
"Waahhh... ternyata kekasihku ini telah merencanakannya." Zachary menjawil hidung Eowyn.
"Perlukah aku meminta izin pada Pak Adit jika nanti malam aku akan berkencan dengan anak gadisnya sepulang kerja?"
"Hahahahaha... lakukanlah, Papa pasti sangat mengharapkannya."
Zachary memberanikan diri untuk mengecup bibir Eowyn sekilas. Perlakuan itu sontak membuat Eowyn mematung setelah merasakan bibir Zach mengecup bibirnya dengan lembut.
"Kembalilah bekerja, aku enggak sabar untuk melakukan kencan pertama denganmu." bisik Zachary sambil merapikan rambut Eowyn.
Eowyn mengangguk. "Aku juga enggak enak dengan yang karyawa lain jika aku terlalu lama berada disini."
Sebelum pergi meninggalkan ruangan Zachary, Eowyn memberanikan diri untuk berjinjit dan mencium pipi Zachary. Lalu buru-buru keluar ruangan karena merasa malu.
__ADS_1
***
Vote, likes sama comments-nya jangan lupa ya. Jangan lupa mampir juga baca Cupcake's Love dan Lean On Me. Terima kasih 🤗😘