MENIKAH

MENIKAH
Nazar


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Sudah hampir sebulan bulan puasa terlewati dengan keadaan Salma yang hamil tua. Meskipun dilarang untuk ikut berpuasa, namun pada akhirnya ia ikut berpuasa juga. Selain untuk menghormati keluarganya yang berpuasa, Salma juga berusaha untuk menekan nafsu makannya yang kian menjadi. Untungnya hal itu mendapat persetujuan dari dokter Vania, asalkan Salma tidak terlalu memaksakan kondisinya.


"Mas... minta tolong Asep buat beliin pisang goreng madu sih, aku pengen" ujar Salma menghampiri Adit yang sedang menonton TV sambil selonjoran disofa.


"Kemarin-kemarin aku sering beli kamunya ga mau makan, katanya kemanisan"


"Tapi sekarang pengen, mas"


"Besok udah lebaran, Sal. Emang masih buka?"


"Ya siapa tau masih, mungkin mau pada dibawa pulang untuk oleh-oleh kan"


Adit beranjak dari duduknya. "Yaudah, aku bilang Asep dulu" Adit berlalu untuk mencari Asep yang mungkin tengah berada di kamar belakang.


"Sep..." panggil Adit.


Asep yang tengah duduk mengobrol dengan ibunya di kamar belakang pun.langsung menghampiri Adit.


"Ya mas, ada apa?"


"Tolong ke Tanjung Duren, Sep. Beliin pisang goreng madu, itu Salma ngidam" ucap Adit sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan.


"Beli yang isi sepuluh aja, sama kalo ada nangka gorengnya saya mau lima biji ya" sambungnya.


"Oke mas" Asep menerima uang yang diserahkan Adit dan bergegas membeli pesanan Salma.


🎎


Tak berapa lama setelah kepergian Asep, orangtua Adit datang berkunjung. Mereka membawa makanan untuk buka puasa nanti.


"Mama udah jadi aja lontongnya" ucap Salma melihat ibu mertuanya yang sibuk memindahkan makanan yang dibawa dibantu bu Sari.


"Mama pesen di orang. Mana pernah bikin sendiri, Sal. Ribet, mama ga bisa. Tapi kalo lauk sama sayurnya masak sendiri"


"Iiiihhh sayur godog-nya baunya enak banget"


"Mama potongin lontongnya ya, kamu makan aja dulu"


"Salma puasa, ma"


"Ehh, masih kuat?"


Salma mengangguk. "Baby-nya mau diajakin puasa kok ma, aman sebulan ini belum pernah bolong"


"Cucu oma emang hebat nih" seru mama Mei sambil mengusap perut Salma.

__ADS_1


"Mama sama papa harusnya ga usah kesini gapapa, kan ntar malem juga mas Adit sama Salma mau ke rumah"


"Papa yang ngajakin kesini, katanya mau buka bersama disini. Mama udah kabarin mama papa kamu juga"


"Oiya? Kok mama papa ga bilang Salma? Pantes aja mama bawa makanannya banyak banget"


"Kan kejutan hehehehe.... Masih belum ngerasa mules-mules gitu, Sal?"


"Belum ma, padahal udah mau 40 minggu ini. Betah banget dia diperut Salma"


"Sabar aja, mungkin emang belum waktunya. Minta Adit sering-sering nengokin aja, katanya itu bisa ngebantu"


"Yeeee... mama kayak ga tau anaknya aja kayak gimana. Enggak disuruh aja udah rajin, apalagi kalo ada alasannya gitu"


🎎


Tak berapa lama Asep datang dan mendatangi Adit yang sedang menonton TV bersama papanya.


"Udah tutup, mas" ucap Asep sambil menyerahkan uang yang diberikan Adit tadi.


"Yaahhh... tutup ya" jawabnya dengan wajah yang berubah bingung. "Ini yang selembar buat kamu. Makasih ya, Sep" sambung Adit sambil mengambil uangnya lalu berjalan menuju dapur menghampiri Salma.


"Kenapa, Sep?" tanya papa Hari.


"Tadi mbak Salma minta dibeliin pisang gore madu, pak. Tapi udah tutup"


🎎


"Sal..." panggil Adit ragu-ragu sambil mendekati Salma yang duduk dimeja makan berbincang dengan ibunya.


Adit menarik kursi disebelah Salma, lalu duduk dengan menatap Salma.


"Kenapa, mas?"


"Pisang goreng madunya... udah tutup"


Salma terdiam, matanya terlihat mencari-cari keberadaan Asep. "Terus, Asepnya mana mas?"


"Lagi ngobrol sama papa kayaknya"


"Oohhh, yaudah. Kirain belum balik"


"Kamu... enggak marah karena enggak dapet pisang goreng madunya?" tanya Adit.


Ia sedikit kebingungan dengan Salma yang nampak begitu tenang. Adit masih ingat betul bagaimana kecewanya Salma saat kue pancong yang didapatkannya tidak sesuai dengan yang diinginkan.


Salma menggelengkan kepalanya. "Ya orang udah tutup mau gimana lagi, mas?"


Adit menghela nafasnya lega, tangannya langsung mengusap perut Salma dan mengecupnya. "Aku udah takut aja kamu ngambek karena ga dapet pisang goreng madunya"

__ADS_1


"Mungkin kalo tadi mama enggak kesini bawa makanan segini banyaknya juga pasti bakal ngambek, mas"


"Udah mama atasin tuh Dit pake sayur godog-nya mama, dari tadi Salma udah ngeliatin itu mulu" jawab mama Mei sambil menutup mangkok berisi sayur godog itu.


"Hahahahaha mama bisa aja"


"Jadi, lebaran ini kalian ga kemana-mana kan?" tanya mama Mei.


"Gimana mau pergi-pergi, ma. Ini aja kita udah dag dig dug takut-takut bakal lebaran di rumah sakit" jawab Adit.


"Ya gapapa, ke rumah sakitnya kan karena buat lahiran. Bakal nambah senengnya kita kan. Seneng karena lebaran, seneng karena anaknya lahir juga" mama Mei beranjak dari duduknya. "Kita pindah aja yuk ngobrolnya, ngobrol ngadepin makanan pas puasa gini mah beneran bikin ngiler"


🎎


Malam harinya setelah berbuka puasa bersama dan kedua orangtua mereka pulang, Salma dan Adit memanggil bu Sari dan Asep untuk mengobrol di ruang keluarga.


"Jadi bu Sari sama Asep enggak mau mudik?" tanya Salma.


"Mau mudik juga kemana, mbak. Orang sodaranya ya disini semua. Paling besok habis sholat ied kita mau ijin bentar buat ke rumah sodara, sore atau malamnya baru balik kesini" jawab bu Sari.


"Mau nginep juga gapapa kok bu, barang kali mau ngumpul sama keluarga"


"Enggak ada tempatnya, mbak. Kalo boleh, kita mau lebaran disini aja"


"Ya bolehlah bu, masa ga boleh. Malah kita yang mau nitip rumah sama bu Sari dan Asep, kita mau mudik ke rumah orangtua kita. Ya mudiknya disini-sini juga sih, tapi kita mau nginep"


"Berapa lama, mbak? Apa... gapapa kalo saya sama Asep disini?"


"Enggak apa-apa, bu. Emangnya kenapa? Selama ini kan bu Sari sama Asep juga disini, anggep aja kayak rumah sendiri"


Adit mengangguk. "Bahan makanan yang di kulkas dimasak aja, bu. Jangan sungkan, kita lebih seneng itu habis dimasak daripada dibuang"


"Baik, mas"


"Oiya Sep, udah cari-cari info besok mau kuliah dimana? Udah mau mulai pendaftaran kan ya?" tanya Salma.


"Udah mbak, udah nemu sih satu. Yang lokasinya enggak jauh dari sini, jadi kalo saya dibutuhkan untuk nganter sewaktu-waktu masih bisa pulang. Biayanya juga ga mahal"


Salma menyodorkan sebuah amplop cokelat dimeja ke arah Asep. "Ini nazar saya. Sebenernya udah lama, waktu itu pengennya kalo udah positif hamil pengen bantu orang untuk sekolah, siapa aja karena waktu itu belum kenal kamu juga. Dulu pas kita ngobrol soal rencana kamu kuliah, saya janji sama diri saya sendiri mau bantuin kamu bayar uang masuknya. Saya ga bisa bantu banyak, seenggaknya kamu ga usah mikirin untuk biaya masuknya yang cukup banyak itu. Simpan aja tabunganmu untuk kebutuhan kuliah lainnya. Kalo kurang, kamu bisa ngomong ke saya atau mas Adit. Kita pasti bantu kok, Sep"


Asep dan bu Sari langsung berkaca-kaca. "Enggak usah, mbak. Tabungan saya cukup kok. Dengan saya dan ibu diterima tinggal dan bekerja disini aja saya sudah bersyukur banget" tolak Asep dengan halus.


Salma menggelengkan kepalanya. "Ini nazar saya, Sep. Ini juga rejeki kamu, ga baik loh nolak rejeki"


"Terima aja, Sep. Kamu dan bu Sari udah banyak bantuin kita, kalian juga tanggung jawab saya" imbuh Adit.


Asep dan bu Sari terlihat bimbang. Salma meraih amplop cokelat itu dan meletakkannya dalam genggaman tangan bu Sari.


"Doakan saja yang terbaik untuk saya, mas Adit dan keluarga saya. Doakan juga biar proses lahiran saya nanti lancar ya bu, saya ga mau kalo ini ditolak. Saya cuma pengen Asep bisa kuliah, biar bisa lebih sukses nantinya"

__ADS_1


__ADS_2