MENIKAH

MENIKAH
S2 - Berduka Part 1


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Sudah beberapa hari ini, Zach dan Eowyn pergi ke kantor bersama. Keduanya bahkan tidak menutup-nutupi lagi hubungan mereka, namun tetap bersikap profesional saat bekerja. Rio yang begitu heboh ketika mengetahui hubungan Zach dan Ewoyn langsung memberondong keduanya dengan banyak pertanyaan. Terlebih ia secara tidak langsung pernah menjadi pengganggu saat Eowyn yang dengan sengaja menjemput Zach di bandara.


Siang ini, Eowyn dan Zach baru saja selesai makan siang di kantin kantor bersama Rio dan beberapa rekan tim kerja mereka. Pekerjaan mereka sedang menumpuk, jarang sekali mereka bisa makan siang di luar ruang kerja mereka seperti ini. Karena beberapa hari kemarin, mereka hanya keluar ruangan saat jam pulang kerja saja.


"Ehh... pak Hendra. Tumben kesini, Pak?" tanya Rio yang berpapasan dengan Pak Hendra di pintu masuk ruang kerja mereka.


"Ohh... saya ada perlu dengan Eowyn. Permisi." jawab pak Hendra yang kemudian beranjak dengan terburu-buru menuju meja kerja Eowyn.


"Permisi, Eowyn."


"Pak Hendra. Ada apa, Pak?"


"Mohon segera berkemas. Pak Adit menunggu Anda di ruangannya, saya akan mengurus izin kepulangan Anda dengan Pak Zach."


"Aku... harus pulang sekarang? Apa yang terjadi, Pak?" tanya Eowyn dengan penuh penasaran.


"Pak Adit baru saja mendapat kabar jika Pak Harry masuk rumah sakit karena terjatuh di kamar mandi. Silahkan berkemas dan menuju ruangan pak Adit segera, Beliau menunggu Anda."


Mata Eowyn langsung berkaca-kaca mendengar penjelasan pak Hendra. Tanpa pikir panjang, ia segera menyambar tas dan ponselnya lalu berlari meninggalkan ruang kerjanya. Hal itu memancing perhatian rekan kerjanya, begitu juga Zach yang bingung melihat Eowyn pergi begitu saja tanpa penjelasan kepadanya.


"Pak Zach, bisa saya bicara sebentar?" ucap Pak Hendra yang telah berada dihadapan Zach.

__ADS_1


"Bisa Pak, silahkan." Zach mempersilahkan pak Hendra masuk ke dalam ruangannya.


***


Eowyn dan Adit baru saja tiba di rumah sakit, sementara Rafa telah tiba beberapa menit yang lalu dengan motornya yang melaju lebih cepat daripada mobil Adit. Salma dan mama Mei berada di depan IGD, ditemani asisten rumah tangga dan sopir orangtua Adit.


"Ma...." ucap Adit sambil menghampiri Mamanya yang terduduk dengan lemas di depan IGD.


Adit yang duduk di sebelah mamanya langsung merengkuh tubuh mamanya. Tak berapa lama terdengar suara isak tangis yang berasal dari mamanya.


"Sabar, Ma. Papa pasti enggak kenapa-napa." Adit mengusap punggung mamanya sambil mengeratkan pelukannya.


Tak berapa lama, terlihat Rayyan yang baru saja datang dan berlari menuju keluarganya yang menunggu di depan IGD. Ia segera memeluk neneknya untuk menenangkannya, lalu duduk di sebelah Rafa dan Eowyn sambil menunggu dokter yang selesai melakukan tindakan.


Pintu ruang IGD terbuka, Adit dan Salma berdiri dan menghampiri dokter tersebut.


"Mama ikut." ucap Mama Mei sambil berdiri dari duduknya.


Salma menatap Adit, meminta Adit untuk membujuk mamanya agar mau menunggu disini bersama ketiga anaknya.


"Mama disini aja ya sama anak-anak, biar Adit yang kesana sama Salma. Nanti pasti Adit jelasin kondisi papa ke mama, oke?" Adit membujuk dengan memegang kedua lengan mamanya.


Dengan terpaksa, mama Mei menuruti permintaan anaknya dan kembali duduk di sebelah Eowyn. Melepaskan Adit dan Salma yang mengikuti dokter Heru ke ruangannya.


***

__ADS_1


"Kondisi pak Harry bisa dibilang sangat kritis sekarang ini. Ketidaksadarannya dipicu oleh serangan stroke dan adanya pendarahan pada otak karena benturan."


"Papa... terkena stroke?" Adit berucap lirih.


Dokter Heru mengangguk. "Jatuh di kamar mandi bisa berakibat fatal untuk orang dengan obesitas dan lansia, Pak. Nah, masalahnya pak Harry ini memiliki tekanan darah yang tinggi. Pak Harry terkena stroke hemoragik, adalah kondisi pecahnya salah satu arteri dalam otak yang memicu perdarahan di sekitar organ tersebut sehingga aliran darah pada sebagian otak berkurang atau terputus. Penyebabnya karena darah tinggi itu dan cedera berat di kepala karena benturan kepala pada bath up. Kita sudah melakukan pemindaian untuk mengetahui seberapa besar kerusakan jaringan pada otak, serta angiografi otak untuk mengetahui perkembangan perdarahan yang terjadi. Untuk mencegah perkembangan perdarahan yang lebih parah, kita sudah memberi obat seperti antagonis kalsium. Pengobatan ini bertujuan untuk menjaga tekanan darah tetap rendah dan tidak terjadi perdarahan kembali. Saya juga harus meminta persetujuan keluarga untuk tindakan operasi guna memperbaiki pembuluh darah dan menghentikan perdarahan. Namun demikian, tindakan ini perlu diperhitungkan baik-baik karena operasi sendiri dapat menyebabkan kerusakan otak lebih lanjut."


Bahu Adit merosot mendengar penjelasan dokter Heru, Salma hanya bisa mengusap punggung suaminya untuk menenangkannya. Belum juga Adit sempat bertanya lebih lanjut, seorang perawat membuka pintu ruang dokter dengan tergesa-gesa.


"Pasien makin kritis, dok!" seru perawat itu.


Dokter Heru, Adit dan Salma segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju IGD. Wajah cemass langsung menyelimuti wajah mama Mei dan ketiga anak Adit dan Salma yang sedari tadi menunggu disana.


"Papa kenapa, Dit?" tanya mama Mei sambil berdiri, meminta penjelasan Adit yang baru tiba di depan IGD.


Bibir Adit terasa kelu untuk menjelaskan keadaan papanya pada sang Mama. Adit meraih tubuh ibunya dan memeluknya dengan erat tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan Salma pun tidak berani untuk mendekat pada mama Mei. Ia berdiri di sebelah Rayyan sambil mengusap air matanya yang tak bisa dibendung lagi. Rafa yang berada di dekat Salma langsung memeluknya, mencoba untuk menenangkan mamanya.


Kedua orangtua Salma datang saat mereka masih berharap-harap cemas di depan IGD. Setelah panggilan perawat yang memberitahukan bahwa keadaan papa Harry semakin kritis, dokter Heru belum juga keluar. Semuanya hening, bahkan Adit dan Rayyan yang selalu disibukkan dengan pekerjaan kali ini sama sekali tak mempedulikan ponselnya yang sesekali berbunyi tanda adanya pesan masuk. Begitu juga dengan Rafa dan Eowyn yang juga larut dalam kesedihan ini, hingga mereka lupa mengabari kekasih mereka.


Perhatian mereka langsung teralihkan saat pintu ruang IGD terbuka. Dokter Heru muncul disana, berjalan pelan menuju keluarga papa Harry yang telah menunggunya dari tadi. Dokter Heru mendekati Adit, yang berdiri berdampingan dengan papa Bagas. Sementara mama Mei, duduk dikursi sambil memeluk mama Tari.


"Pendarahan intraserebralnya sangat parah dan kondisi organ vitalnya terus menurun. Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan pak Harry."


Ucapan dokter Heru barusan langsung membuat mama Mei histeris dan menangis dengan kencang. Salma dan mama Tari langsung berusaha menenangkannya. Sementara Adit masih terpaku ditempatnya berdiri sambil menatap ke arah pintu IGD yang terbuka itu.


***

__ADS_1


Alhamdulillah hari ini bisa nulis karena kerjaan tukang yang ngetok-ngetok enggak seheboh kemarin. Insya Allah hari ini up 2 sekaligus ya, mumpung lagi semangat nulis cerita sedihnya hehehehe.... Tapi yang satunya agak maleman.


Vote, likes dan comments-nya jangan pada lupa ya, terima kasih 😘


__ADS_2