MENIKAH

MENIKAH
S2 - Coba


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Nadine melenggang masuk ke dalam ruangan Rayyan dengan senyuman yang lebar. Seperti biasanya, dia tidak menghiraukan keberadaan Zahra yang saat itu masih berada dihadapan meja kerja Rayyan.


"Kemarin sore aku konfirmasi pertemuan hari ini dengan sekertarismu, dia bilang kamu lagi sakit jadi enggak ke kantor. Sayang banget aku baru tau kabar itu sore hari dan aku lagi pergi belanja sama mama, jadinya aku enggak bisa nengokin kamu deh." Nadine meletakkan paper bag berwarna cokelat dimeja Rayyan.


Seolah telah mengetahui apa isi dari paper bag itu, tanpa sengaja Rayyan dan Zahra langsung saling menatap.


"Semalam aku nyoba buat brownies lagi, yang ini jauh lebih enak dari yang kemarin. Ya meskipun belum seenak buatan mama kamu." Nadine mengeluarkan brownies buatannya.


"Aku masih kenyang, Nadine. Aku akan memakannya nanti." Rayyan menyela dengan begitu cepat saat Nadine akan mengambil sepotong brownies untuknya.


"Baiklah, aku akan letakkan disini. Bagaimana kondisimu Rayyan? Apa sakitnya begitu parah sampai kamu harus istirahat?" Nadine bertanya sambil mengelap tangannya dengan tisu.


"Tidak, aku hanya kelelahan dan butuh istirahat. Zahra telah merawatku kemarin."


"Zahra?" Nadine menoleh ke arah Zahra dengan tatapan tidak suka.


"Iya, aku memintanya datang ke rumah untuk membawa beberapa dokumen. Karena mam lagi pergi, jadi Zahra yang bantuin aku ngurus semuanya. Kita duduk di sofa dan mulai pembicaraan proyek sekarang, ayo."


***


"Kenapa cemberut gitu?" tanya bu Meta saat Zahra keluar dari ruangan Rayyan.


Pembahasan proyek berlangsung cukup singkat, hanya empat puluh lima menit. Dan setelahnya Nadine justru sibuk membicarakan hal pribadinya pada Rayyan.


"Kalo tamunya dia, selalu aja aku diusir dari ruangan pak Rayyan, bu." ucap Zahra dengan kesal.


"Biarin, mungkin mereka lagi mau berduaan."


"Berduaan apanya, bu? Dua hari yang lalu pas kak Nadine kesini bawain brownies aja malah browniesnya ditaruh dipot tanaman tante Salma."


Bu Meta yang sedang asik menyedot jusnya pun langsung tersedak. "Ditaruh dipot? Kenapa?"


"Takut kena jampi-jampi kali hahahaha...."

__ADS_1


Belum juga Zahra sempat mendaratkan pantatnya pada kursi ruang kerjanya, pintu ruangan Rayyan terbuka. Nadine menatap Zahra dengan tatapan kesal, sepertinya wanita itu baru saja diusir secara halus oleh Rayyan.


"Zah, tolong ke ruangan sekarang ya. Kita harus bersiap untuk meeting nanti sore."


Tuh kan, Rayyan pasti membohongi Nadine. Seingat Zahra hari ini tidak ada jadwal pertemuan, tetapi baru saja Rayyan mengatakan jika mereka harus bersiap untuk meeting sore nanti.


Oh ya Tuhan! Tiba-tiba Zahra teringat dengan ucapan Rayyan yang mengajaknya nonton dan makan malam bersama sepulang kerja. Apa ini meeting yang dimaksud oleh Rayyan?


Zahra kembali mengambil laptopnya dan masuk ke dalam ruangan Rayyan dengan berdebar. Sejak Rayyan memberikannya bunga tulip diacara wisuda nampaknya Zahra tidak bisa lagi bersikap tenang saat bersama bosnya itu.


"Ada apa, Pak?" ucap Zahra saat telah berdiri di depan meja kerja Rayyan.


"Coba kamu icip, Zah. Enak enggak?" Rayyan dengan santai membukakan kardus berisi brownies buatan Nadine.


"Maksud Bapak saya jadi kelinci percobaan gitu?" Zahra berucap dengan kesal. Bisa-bisanya Rayyan memintanya memakan makanan yang Rayyan sendiri tidak yakin makanan itu layak dikonsumsi atau tidak.


"Aku kemarin udah makan dipercobaan pertamanya, Zah. Kalo itu emang enggak layak dikonsumsi manusia. Nahh, kalo ini udah mendingan tampilannya. Tapi coba liat deh, Zah" Rayyan mengambil sepotong brownies dan menunjukkannya pada Zahra.


"Aku enggak yakin dia bener waktu nimbang tepungnya." Rayyan sengaja memencet kue itu untuk menunjukkan jika kue itu bertekstur keras.


"Kalo bapak mau menilai suatu makanan, begini baru bener, Pak hehehehe...."


Rayyan bersusah payah untuk mengunyah dan menelan kue itu, lalu buru-buru meraih minum yang telah disediakan oleh bu Meta pagi tadi.


"Masih sama kayak kemarin, Zah. Aku penasaran, emang dia kalo bikin kue jadinya ini doang jadi dia enggak bisa icip gitu?" Rayyan menandaskan minumannya.


"Perasaan mama kalo bikin kue untuk dikasih orang selalu ada sendiri untuk dimakan keluarga."


"Harusnya tadi Bapak tanyain langsung ke kak Nadine, jangan malah tanya ke saya. Ya saya mana ngerti, pak? Bapak mah bisanya komentar doang."


"Aku ngomong apa adanya." Rayyan beranjak dari duduknya, lalu berjalan mendekati Zahra dengan mempersempit jarak diantara mereka.


"Kita persiapkan untuk nanti sore, kamu mau nonton apa?" tanya Rayyan sambil menyelipkan anak rambut Zahra ke belakang telinga.


Zahra gelagapan, jarak ini terlalu dekat. Ia bahkan dapat kembali merasakan hembusan nafas Rayyan menerpa kulit wajahnya.


"H-harus banget sore ini ya, Pak?"

__ADS_1


"Emangnya kenapa?"


"Yaa... e-enggak apa-apa sih, Pak. Tapi... emang bapak nyaman pergi nonton pake baju kerja begini?"


Rayyan tersenyum mendengar alasan yang diutarakan oleh Zahra. "Aku enggak masalah. Ayolah, Zah. Masa cuma karena masalah baju aja kamu enggak mau pergi?" Rayyan merengek. Tidak seperti biasanya yang selalu memasang ekspresi wajah datarnya, kali ini Rayyan terlihat cemberut saat secara tidak langsung Zahra menolak ajakannya.


"Saya lagi haid, Pak. Saya enggak nyaman kalo mau jalan-jalan karena nyerinya." Zahra berucap lirih sambil menunduk.


Setelah mendengar alasan penolakan dari Zahra, Rayyan begitu merasa bersalah.


"Apa... sakit banget, Zah? Kenapa tadi kamu enggak izin aja?" kata Rayyan sambil memegang kedua lengan Zahra.


Zahra menggelengkan kepalanya. "Udah biasa kok, Pak."


"Tapi wajah kamu pucat, Zah. Mau aku mintain bu Meta untuk bikinin teh anget, hm?"


"Seriusan Pak, saya udah biasa nyeri kayak gini tiap bulan. Tanya aja sama Eowyn kalo enggak percaya." Zahra melepaskan kedua tangan Rayyan yang sedari tadi memegang lengannya. Namun dengan gerakan cepat, Rayyan segera meraih kedua telapak tangan Zahra dan menggenggamnya dengan erat.


"Aku enggak masalah kalo hari ini kita enggak jadi pergi, kita bisa menggantinya saat kita ke Bali minggu depan. Oke?"


"Tapi pak...."


"Kamu mau bilang kalo disana ada Nadine? Bisa enggak sih Zah jangan bahas dia? Karena dengan kamu selalu bawa-bawa Nadine diantara kita, yang ada malah kamu semakin menjaga jarak untuk dekat sama aku."


"M-maksud Bapak?"


"Aku pikir aku bakal bisa relain perasaan ini begitu aja, Zah. Ternyata ini enggak mudah. Tolong kasih kesempatan aku untuk deket sama kamu, Zah. Kita bisa mencobanya, anggaplah ini sebagai fase pacaran. Dimana kamu bisa berhenti saat kamu emang enggak sanggup lagi, dan kamu bisa melanjutkannya ke hubungan yang lebih serius begitu kamu ngerasa nyaman sama aku. Aku tau kalo sebenernya kamu juga ada rasa sama aku kan?"


Zahra terdiam, sambil memandangi wajah Rayyan yang berjarak sejengkal darinya.


"Baiklah, Pak. Mari kita coba."


***


Beuuhhh... minyak kayu putih aja enggak boleh coba-coba, ini berdua malah coba-coba. Awas ketagihan loh ntar! Hehehehe....


Votes, likes dan comments-nya jangan lupa ya. Terima kasih banyak 😘

__ADS_1


__ADS_2