
Happy reading 😊
***
"Belum pulang?" tanya Zachary, pimpinan department tempat Eowyn bekerja.
"Ehh, pak Zach. Ini lagi beberes, Pak."
"Kamu ada waktu? Saya pengen ngobrol sebentar sama kamu."
Eowyn berpikir sejenak. Selama sebulan bekerja disini, baru kali ini pimpinannya itu ingin mengobrol dengannya.
"Hmm, boleh deh Pak. Mau ngobrol dimana, Pak?"
"Bagaimana kalo di kafe depan kantor? Mobil kita biarin aja disini dulu, kita kesana jalan kaki aja. Naik JPO, kamu mau?"
Eowyn mengangguk, ia segera menyelesaikan beberes barang-barang di meja kerjanya lalu berjalan keluar ruangan beriringan dengan Zach.
"Selamat sore, Pak Adit." sapa Zach sambil membungkukkan badannya.
"Oh, Pak Zach... Eowyn. Kalian baru pulang?"
Zachary menganggukkan kepalanya. "Eee... maaf, Pak. Saya... mau meminta izin untuk pergi ke kafe depan kantor sebentar bersama Eowyn. Ada beberapa hal yang perlu saya bicarakan dengannya. Jadi, mumpung sekarang bertemu dengan bapak, saya meminta izin karena Eowyn akan pulang telat hari ini."
'It's okay, enggak masalah. Nanti pulangnya hati-hati ya." jawab Adit lalu mengusap rambut Eowyn.
"Masuklah, saya mengizinkan kalian untuk naik lift ini." imbuh Adit yang terlebih dulu telah masuk ke dalam lift bersama pak Hendra.
Zachary dan Eowyn segera melangkah masuk ke dalam lift. Eowyn berdiri di sebelah Papanya dan langsung menyenderkan kepalanya pada lengan Adit.
"Papa akan bilang sama Mama nanti, kamu tenang aja ya." Adit kembali mengusap rambut Eowyn.
Eowyn mengangguk. "Sama abang juga, Pa. Abang pasti akan rempong kalo aku baliknya telat."
"Hahahaha... iya, nanti Papa juga akan lapor ke Rayyan."
***
Eowyn dan Zachary telah berada di kafe yang terletak persis di depan kantor mereka. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Zachary mulai membuka obrolan untuk mencairkan suasana.
"Betah kan kerjanya?"
__ADS_1
Eowyn mengangguk. "Awalnya memang berat karena enggak biasa, tapi lama-lama... betah juga, Pak. Orang-orang ditim kita bener-bener asik."
"Syukurlah kalo kamu betah, aku sempet tertekan ketika Pak Adit mengatakan akan menitipkan anaknya di departemenku."
"Maaf kalo saya merepotkan, Pak."
"Emang saya bilang kalo kamu ngrepotin?"
Eowyn tersenyum canggung, sembari mengulurkan minuman yang dipesan Zach.
"Kalo udah wisuda nanti, apa kau masih mau melanjutkan pekerjaanmu?"
"Emang masih boleh, Pak?"
Zach tergelak. "Kamu bisa keluar masuk perusahaan itu dengan sangat mudahnya, Eowyn. Itu kan punya Papamu."
"Eeeee... maksud saya, emang saya masih diterima ditim pak Zach?"
"Tentu! Aku justru mengharapkan kamu tetap berada ditimku untuk seterusnya."
"Aahhh... syukur deh, Pak. Setidaknya saya enggak perlu pusing-pusing lagi untuk dapetin uang jajan dari Papa hehehehe...."
"Papa bos kan kalo di kantor, Pak. Kalo di rumah, ya cuma kepala keluarga biasa."
"Begitukah?"
Eowyn mengangguk. "Mungkin, saya benar-benar menikmati hidup menjadi seorang anak bos itu waktu masih kecil. Begitu masuk SMP, papa sama mama mulai tegas. Segala sesuatu yang kita pengenin, harus kita peroleh dengan hasil kerja keras kita. Mulai dapet tugas pekerjaan rumah tangga, mulai belajar nabung, sampai terkadang aku ngerasa Papa atau sopir di rumah kala itu sengaja enggak jemput aku biar aku ngerasain naik transportasi umum."
Eowyn mengingat kembali masa kecilnya. "Yaahh, meskipun ketika dewasa kita jadi mulai susah diatur sama Papa dan Mama." imbuhnya sambil tertawa geli.
"Mereka mendidik anak-anaknya dengan sangat hebat."
Eowyn mengangguk. "Bahkan sekelas Rafa yang diluar banyak tingkah pun di rumah sama sekali enggak ada nyalinya. Papa sama Mama enggak pernah main tangan ke kami, tapi kami begitu tunduk dengan aturan mereka. Kelak, aku juga ingin menjadi orangtua seperti mereka."
Zachary hanya tersenyum.
"Lain kali, jika kita pergi bersama seperti atau ketemu diluar, kamu enggak perlu seformal ini. Kamu hanya perlu bersikap sopan selama di kantor. Kamu bisa memanggil namaku saja, dan enggak perlu pakai bahasa yang formal. Itu... membuatku canggung. Dan aku... merasa tua jika kau terus-terusan memanggilku 'Pak'. Usia kita hanya selisih 2 tahun, Eowyn. Kau tau kan usiaku sama dengan Rayyan?"
Eowyn mengangguk. "Apa... itu tidak masalah?"
"Tentu aja enggak. Aku yang memintamu untuk melakukannya. Kamu bisa panggil aku sama dengan kamu manggil Rayyan."
__ADS_1
Eowyn menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Panggilan itu cuma buat abang Rayyan, selain dia... aku enggak pernah manggil orang lain dengan sebutan abang. Mau itu tukang bakso, tukang sayur, aku lebih sering manggil mereka dengan sebutan 'pak'."
"Jadi... Rayyan dapat panggilan spesial?" Zachary menyandarkan punggungnya pada kursi sambil bersedekap.
"Tentu. Abang yang selalu melindungi sejak kecil. Mungkin... abang masuk dalam hitungan laki-laki kedua yang membuatku jatuh cinta setelah Papa."
"Bagaimana denganku?"
"M-maksudnya?"
"Eowyn... tujuanku mengajakmu keluar adalah untuk membicarakan masalah pribadi. Sejak awal, aku tertarik padamu. Bukan karena kamu anak dari pemilik perusahaan tempatku bekerja, tapi lebih kepada dirimu tanpa embel-embel lain. Meskipun kamu bukan anak Pak Adit pun, aku tetap akan jatuh cinta kepadamu. Jadi... apa kau memperbolehkanku untuk dekat denganmu?"
Eowyn masih terpaku. Ia tidak menyangka jika atasannya itu menyimpan perasaan untuknya. Sejak awal bergabung di tim marketing, Zachary terlihat begitu akrab dengan semua orang ditimnya. Pengakuan yang baru saja diucapkan Zachary, tentu saja mengagetkannya.
"Aku tau ini mengagetkanmu. Aku cuma ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan. Kamu... sangat berhak untuk menolaknya."
"Apa... setelah ini kita... langsung pacaran gitu, Pak?" tanya Eowyn dengan sedikit ragu.
Zachary tersenyum. "Sudah kubilang jangan memanggilku 'Pak'."
Zachary melipat kedua tangannya di meja, menatap wajah Eowyn dengan seksama.
"Jika kamu menginginkan kita langsung pacaran, aku enggak masalah. Aku bahkan enggak keberatan jika kamu memintaku untuk langsung melamar dan menikahimu saja." sambungnya dengan senyuman lebar yang terkembang dibibirnya.
"Menikah enggak semudah itu." ucap Eowyn dengan lirih.
"Aku tau, itu sebabnya kita butuh waktu untuk mengenal karakter masing-masing. Jadi, apakah kau menerimaku?"
Eowyn terdiam. Sebelumnya ia belum pernah berada dalam situasi seperti ini. Ia butuh waktu, setidaknya ia harus meminta pertimbangan Mamanya atau bahkan sang Abang tercinta.
"Bisa... beri aku waktu untuk memikirkannya, ini terlalu mendadak."
"Tentu. Aku akan menunggu." Zachary melihat ke arah jam tangannya. "Ini belum jam makan malam. Kamu mau langsung pulang atau... mungkin kita bisa makan malam bersama?"
"Boleh aku pulang dan makan malam di rumah? Mungkin... kita bisa makan malam bersama ketika aku sudah siap dengan jawabanku."
"Baiklah, Eowyn. Aku tidak bisa melarangmu. Habiskan minuman dan kuemu, setelah itu kita akan kembali ke parkiran kantor dan pulang."
***
Selamat Idul Fitri, readers semua. Mohon maaf lahir dan batin ya dan semoga kalian semua sehat selalu. Aamiin.... 🤗
__ADS_1